<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>/Essays Archives - ⌂ arianidarmawan</title>
	<atom:link href="https://arianidarmawan.net/category/texts/essays-words/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://arianidarmawan.net/category/texts/essays-words/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 04 Jan 2026 15:41:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2026/01/favicon-150x150.png</url>
	<title>/Essays Archives - ⌂ arianidarmawan</title>
	<link>https://arianidarmawan.net/category/texts/essays-words/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Selamat Jalan, Cim Masnah&#8230;</title>
		<link>https://arianidarmawan.net/selamat-jalan-cim-masnah/</link>
					<comments>https://arianidarmawan.net/selamat-jalan-cim-masnah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ariani]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jan 2014 06:18:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[/Essays]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arianidarmawan.net/?p=180</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dua minggu sebelum saya menikah dengan Budi, tiba-tiba ayah saya berkata, “Kamu undang aja Cim Masnah nyanyi gambang kromong di kawinan kamu, dia pasti juga seneng.” Sebenarnya ide itu pernah terbersit juga di pikiran saya, apalagi Cim Masnah pernah wanti-wanti saya, “Nanti kalau Dek Yani kawin, Encim pengen datang”. Ide itu akhirnya tidak terlaksana, bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/selamat-jalan-cim-masnah/">Selamat Jalan, Cim Masnah&#8230;</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dua minggu sebelum saya menikah dengan Budi, tiba-tiba ayah saya berkata, “Kamu undang aja Cim Masnah nyanyi gambang kromong di kawinan kamu, dia pasti juga seneng.” Sebenarnya ide itu pernah terbersit juga di pikiran saya, apalagi Cim Masnah pernah wanti-wanti saya, “Nanti kalau Dek Yani kawin, Encim pengen datang”. Ide itu akhirnya tidak terlaksana, bukan hanya karena ibu saya merasa bahwa lagu-lagu gambang kromong terlalu&nbsp;<em>ngelangut</em>&nbsp;untuk sebuah perayaan pernikahan, tapi juga saya takut merepotkan Cim Masnah. Saya bahkan tidak mengundangnya datang ke pernikahan saya, karena saya terlalu sedih membayangkan betapa susah payahnya ia harus naik angkutan umum dari Tangerang ke Bandung. Biarlah nanti, saya pikir, saya dan Budi yang akan bertandang ke rumahnya.</p>



<p>Cim Masnah, yang selalu salah memanggil saya “Yani” dan saya biarkan, meninggal tiga hari yang lalu di rumahnya di Sewan, Tangerang, di usia 88 tahun. Ketika Ocit, anaknya, menelepon saya kemarin lusa dan menyebutkan angka 88, saya langsung berpikir, itu angka yang bagus. Cim Masnah sebenarnya tidak pernah ingat berapa umurnya, tapi ia selalu bilang bahwa ia lahir di tahun Macan. Cim Masnah juga pernah cerita, bahwa hingga umurnya yang ke-tujuh-puluh-sekian, ia masih melakukan tradisi menyantap kue onde sejumlah umurnya. Setelah ia semakin lemah dan merasa tak mampu lagi ia pun berhenti.</p>



<p>Kini, ia tidak hanya berhenti makan onde tapi juga berhenti hidup dan menyanyi. Setiap kali saya mengingat Cim Masnah, suaranya yang magis masih saja terngiang-ngiang, menyayat sekaligus menenangkan hati saya. Suara itu pula yang membuat saya terhenyak di Chicago pada 2001, ketika pertama kali mendengarkan lagu-lagu dalam CD&nbsp;<em>Gambang Kromong: Music from the Outskirt of Jakarta</em>&nbsp;rilisan Smithsonian/Folkways. Momen itu menjadi awal perkenalan saya dengan Cim Masnah dan musik Gambang Kromong (versi Tangerang, yang cukup berbeda dengan versi Benyamin S.), yang kemudian saya dokumentasikan menjadi film&nbsp;<a href="https://kineruku.com/anak-naga-beranak-naga/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><em><strong>Anak Naga Beranak Naga</strong></em></a>&nbsp;(2006). Budi yang rajin berburu piringan hitam tua dan kaset-kaset lama selalu berharap menemukan foto-foto Cim Masnah semasa muda di salah satu&nbsp;<em>sleeve&nbsp;</em>hasil perburuannya. Hingga kini baru dua kaset gambang kromong (tahun produksi tak diketahui, diperkirakan akhir 1970-an) yang berhasil Budi temukan dengan Cim Masnah berpose sebagai foto sampulnya. Berdiri memakai kebaya putih, rambutnya ikal mengembang, raut mukanya keras.</p>



<p>Saya mengenal Cim Masnah hanya di sepersepuluh akhir masa hidupnya, di saat ia sudah menjanda, tua dan lemah. Ia galak, dan sering terserang asma kambuhan juga hipertensi. Kadang saya berpikir, andai saya mengenalnya ketika ia masih muda dan bergairah, mungkin ia akan lebih bersemangat menceritakan perjalanan hidupnya. Tapi mungkin juga jika Cim Masnah tidak sesepuh ini saya tidak akan berhasil menangkap pancaran kharisma sekaligus kegigihan seorang nenek tua yang berjuang seumur hidupnya: menyanyi untuk mencari nafkah.</p>



<p>Tiba-tiba saya merinding teringat kembali suaranya melantunkan cuplikan lagu “Poa Si Li Tan” (lagu klasik gambang kromong yang menurut Cim Masnah, terdiri dari 55 bait, dan ketika muda ia yang buta huruf hapal semua liriknya!) di pentas teater&nbsp;<em>Diaspora</em>&nbsp;di Esplanade Singapore, pada akhir 2006.&nbsp;<em>Diaspora</em>&nbsp;adalah pertunjukan teater kontemporer yang disutradarai Ong Keng Sen dari TheatreWorks bersama 5 seniman visual (termasuk saya) yang menggambarkan penyebaran manusia dan budaya di Asia. Untuk acara yang digelar selama 3 malam berturut-turut ini, grup gambang kromong diboyong khusus dari Tangerang, dan ditempatkan tepat di tengah-tengah panggung, di pertengahan acara. Cim Masnah, yang tiap malamnya saya tuntun dengan bangga menuju tempat duduk kayu serupa singgasana untuk menyanyikan lagu klasik gambang kromong tersebut, tampak cantik dan elegan, lengkap dengan kebaya dan kain berwarna emas kemerahan. “<em>The Old Lady and the gambang kromong troupe</em>,” kata seorang penonton, “<em>was definitely the gem of the show!</em>” Meski sempat masuk angin dan flu akibat AC di gedung-gedung Singapura yang sungguh sialan dinginnya, seluruh tim gambang kromong tampak sumringah. Mereka mendapat honor yang pantas, sorotan yang tepat, dan mungkin tepuk tangan yang paling meriah sepanjang hidup mereka.</p>



<p>Beberapa kali setelah acara tersebut, saya bertandang ke Tangerang menjenguk Cim Masnah dan para pemain gambang kromongnya. Kehidupan mereka yang serba kekurangan tetap tidak berubah, bahkan Cim Masnah lebih sering terserang asma. Meski tampak ceria menyambut kedatangan saya, Cim Masnah di obrolannya selalu menyelipkan keinginannya untuk cepat mati. Dia bilang, “Encim udah tua. Capek.” Kata-kata semacam itu membuat saya sedih. Saya selalu berpikir keras mencari cara agar ia bisa hidup lebih baik di hari tuanya. Apalagi sejak 2007 ia berhenti menyanyi gambang kromong sehingga pendapatan keluarganya berkurang. Kadang saya memberinya uang. Tapi uang itu kemudian habis. Lalu saya kasih lagi. Lalu pasti habis lagi. Karena begitulah hidup,&nbsp;<em>it goes on</em>.</p>



<p>Hingga datang hari kematian. Cim Masnah menghembuskan napas terakhirnya pada hari Minggu, 26 Januari 2014. Karena Cim Masnah adalah orang terakhir yang mampu melantunkan lagu-lagu klasik gambang kromong, maka separuh hidup gambang kromong pun turut mati bersamanya. Sebuah sejarah panjang terkubur bersama seorang perempuan luar biasa.</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/selamat-jalan-cim-masnah/">Selamat Jalan, Cim Masnah&#8230;</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arianidarmawan.net/selamat-jalan-cim-masnah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik</title>
		<link>https://arianidarmawan.net/dicari-sampul-asyik-sastra-klasik/</link>
					<comments>https://arianidarmawan.net/dicari-sampul-asyik-sastra-klasik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ariani]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 09:28:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[/Essays]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arianidarmawan.net/?p=235</guid>

					<description><![CDATA[<p>April 7, 2012 Artikel ini dibuat setelah saya melihat sampul buku-buku sastra klasik Indonesia yang dirancang kembali di dekade 2000-an, yang banyak salah interpretasi dan hanya menonjolkan efek dramatis. Saya pikir, hal ini disebabkan ketidakpedulian para penerbit (dan kita semua) terhadap profesi desainer grafis, yang masih dianggap pekerjaan ecek-ecek: yang penting informatif dan enak dipandang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/dicari-sampul-asyik-sastra-klasik/">Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>April 7, 2012</p>



<p>Artikel ini dibuat setelah saya melihat sampul buku-buku sastra klasik Indonesia yang dirancang kembali di dekade 2000-an, yang banyak salah interpretasi dan hanya menonjolkan efek dramatis. Saya pikir, hal ini disebabkan ketidakpedulian para penerbit (dan kita semua) terhadap profesi desainer grafis, yang masih dianggap pekerjaan ecek-ecek: yang penting informatif dan enak dipandang. Padahal, kotak kue yang baik tidak hanya dirancang untuk memuat dan menginformasikan apa yang ada di dalamnya, tapi juga memberi impresi tepat akan cita rasanya. Buku, lain dengan kue, sekali dibaca tidak habis, tapi mengendap dan menciptakan nilai-nilai baru. Karena itu, merancang buku sering dianggap sebagai tugas paling menantang bagi desainer grafis. Tidak seperti kotak kue, buku akan terus ada ketika stoknya habis dijual: disimpan, berpindah kepemilikan, atau diwariskan ke anak cucu.<br><br>Fakta pertama, jika kita perhatikan metamorfosis yang terjadi pada rancangan sampul-sampul buku yang diangkat di artikel ini, keempatnya berubah semakin <em>njlimet</em> dan dekoratif. Untuk masalah dekoratif ini mungkin penerbit punya alasan: bagaimana kami bisa bertahan jika tidak mengikuti arus tren sampul? Ya, coba kita tengok buku-buku <em>chicklit</em>, resep, atau pengembangan diri: semua sampulnya beradu ramai satu sama lain hingga tidak satu pun yang justru tampak menonjol. Sebenarnya, tidak ada alasan kenapa desain sampul buku sastra klasik harus turut tenggelam dalam gempuran buku popular lainnya. Fakta kedua, hampir semua sampul rancangan ulang justru mengurangi daya imaji dan greget buku. Ini yang saya sebut hilangnya impresi. Layaknya aura, impresi harus mampu membuat penasaran dan melayangkan imajinasi calon pembaca, menutupi sekaligus membocorkan konten buku.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized wp-duotone-unset-1"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="689" src="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul1A-1024x689.png" alt="" class="wp-image-243" style="aspect-ratio:1.486211901306241;width:752px;height:auto" srcset="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul1A-1024x689.png 1024w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul1A-300x202.png 300w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul1A-768x516.png 768w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul1A.png 1035w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Melihat sampul lama&nbsp;<em>Olenka</em>&nbsp;(Balai Pustaka, 1983), kita dibuat berkerut melihat dua wajah perempuan yang sama persis diletakkan berhadapan. Siapa perempuan cantik itu? Kenapa ada dua? Dan semakin diamati, semakin misteriuslah gambar itu karena menghasilkan sosok hitam di antaranya. Seperti itulah konten&nbsp;<em>Olenka</em>, sebuah perjalanan seorang pria yang jatuh cinta pada perempuan yang ia amati dari kejauhan. Siapa Olenka sebenarnya, tidak ada yang tahu, bahkan mungkin si penulis pun. Tema ‘kemisteriusan’ rupanya juga ingin diangkat oleh desainer baru&nbsp;<em>Olenka</em>&nbsp;(Balai Pustaka, 2009). Namun secara teknis sampul tersebut tampak terlalu njlimet karena berusaha menggabungkan banyak elemen, termasuk empat jenis&nbsp;<em>font</em>&nbsp;yang sungguh berlebihan. Secara konsep pun patut dipertanyakan: kenapa harus menggunakan jenis&nbsp;<em>font</em>&nbsp;gothic, di saat tidak ada satu pun elemen cerita yang berhubungan dengan jaman gothic? Kemisteriusan pun meluap bersama kebingungan kita dalam mempertanyakan ketidaknyambungan elemen-elemennya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized wp-duotone-unset-2"><img decoding="async" width="1024" height="689" src="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul2-1024x689.png" alt="" class="wp-image-247" style="width:750px" srcset="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul2-1024x689.png 1024w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul2-300x202.png 300w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul2-768x516.png 768w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul2.png 1035w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Hal serupa terjadi pada sampul&nbsp;<em>Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck</em>. Melihat rancangan barunya (Pustaka Dini Malaysia, 2002), calon pembaca yang disuguhkan ilustrasi kapal terombang-ambing berpikir bahwa cerita ini berlatar sebuah kapal, layaknya&nbsp;<em>Titanic</em>. Belum lagi penulisan judul yang dibuat dengan efek tiga dimensi, dan KAPAL dituliskan dengan huruf kapital. Faktanya, Kapal Van Der Wijck hanya muncul sekali, itu pun di penghujung cerita. Berbeda jika kita melihat desain sampul terdahulu (Penerbit Bulan Bintang, 1976), imajinasi kita dibawa pada sesuatu yang ‘tidak ada’, membingungkan, sekaligus mengerikan: seakan keberadaan manusia dan benda-benda dihilangkan seketika oleh semesta. Kesan ini sesuai dengan cerita di dalamnya, yaitu kisah kasih tak sampai karena permasalahan keluarga dan perbedaan adat, yang akhirnya pupus setelah lama terombang-ambing. Desainer versi awal berhasil menangkap semua itu hanya dengan gambar riak laut berwarna gelap dan permainan tipografi sederhana pada judul (huruf ‘mn’ yang ‘tenggelam’).</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized wp-duotone-unset-3"><img decoding="async" width="981" height="696" src="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul3.png" alt="" class="wp-image-248" style="width:750px" srcset="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul3.png 981w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul3-300x213.png 300w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul3-768x545.png 768w" sizes="(max-width: 981px) 100vw, 981px" /></figure>



<p>Mereka yang pernah membaca kumpulan&nbsp;<em>Seribu Kunang-kunang di Manhattan</em>&nbsp;pasti terngiang-ngiang dengan spontanitas dan kesantaian Umar Kayam bercerita. Membacanya seperti mendengarkan seorang paman paruh baya yang sedang duduk di hadapan kita, bertutur sambil sesekali melamun. Mungkin karena itu, saya menganggap sampul awal&nbsp;<em>Seribu Kunang-kunang di Manhattan</em>&nbsp;(Pustaka Jaya, 1972) sangat sesuai dengan isi buku. Melihat sketsa pena satu warna (digambar oleh seniman Zaini), saya bisa membayangkan Umar Kayam sendiri yang menggambarnya ketika duduk termenung di Central Park menghadap bangunan-bangunan tinggi Manhattan. Sederhana, namun mampu membuat kita membayangkan suasana hatinya yang gundah ingin terus bercerita. Seperti buku-buku terbitan Pustaka Jaya pada era yang sama, penggunaan tipografi terasa pas, tidak neko-neko dan informatif. Lalu kita lihat rancangan ulang sampul buku tersebut (Grafiti Press, 2003). Walaupun secara komposisi tidak se-<em>njlimet&nbsp;</em>sampul-sampul rancangan baru yang sudah kita bahas, tapi agak sulit melihat keterhubungan ilustrasi sampul tersebut dengan nuansa cerita di dalamnya. Belum lagi jenis&nbsp;<em>font&nbsp;</em>yang dipilih sebagai judul, rasanya tidak tepat menggambarkan cerita Umar Kayam yang tegas dan spontan. Sampul baru ini tampak feminin, dan romantik. Mungkin karena itu, ketika ilustrasi serupa (digambar oleh seniman Rusli) digunakan pada sampul&nbsp;<em>Pada Sebuah Kapal&nbsp;</em>(Pustaka Jaya, 1973) karya NH Dini, takarannya menjadi pas.</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized wp-duotone-unset-4"><img loading="lazy" decoding="async" width="981" height="696" src="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul4.png" alt="" class="wp-image-250" style="width:750px" srcset="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul4.png 981w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul4-300x213.png 300w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/dicarisampul4-768x545.png 768w" sizes="auto, (max-width: 981px) 100vw, 981px" /></figure>



<p>Setelah mengamati sekian banyak sampul buku sastra klasik Indonesia dari dekade ke dekade, sampul <em>Belenggu</em> terbitan awal (Pustaka Rakjat, 1964) tampak menonjol karena menjadi satu-satunya rancangan yang menggunakan tipografi sebagai elemen informatif sekaligus ilustrasi, sesuatu yang sangat jarang dilakukan perancang sampul buku di Indonesia, bahkan hingga saat ini. Gambar tangan yang keluar dari huruf ‘B’ mengingatkan kita pada belenggu borgol, membuat pembaca dapat membayangkan bagaimana kisah cinta manusia yang seharusnya membebaskan justru mengekang dan berakhir tragis. Ketika sampul buku tersebut dirancang ulang (Dian Rakyat, 1976, 1999), dimunculkanlah sosok perempuan berkonde yang dengan pandangan mata dan gerakan tangannya, seolah adalah korban. Ini membingungkan, karena saya merasa bahwa ketiga karakter utama (dr. Tono, Tini, dan Yah), sama-sama terbelenggu oleh hasrat masing-masing, bukan salah satu tokoh perempuan saja. Huruf ‘B’ digambarkan berbentuk borgol, seakan ilustrasi perempuan tersebut kurang tampak nelangsa. Jangan-jangan, di rancangan ulang sampul berikutnya, tangan perempuan itu akan diborgol pula. Tidak semestinya interpretasi menjadi begitu harafiah. <br><br>Ketidaktepatan penggunaan elemen desain dan interpretasi dalam contoh-contoh di atas sebenarnya adalah kesalahan mendasar yang bisa dihindari apabila penerbit mau meluangkan waktu (dan uang) untuk mengajak desainer grafis yang kompeten bekerja sama. Tidak perlu lagi<em> </em>para editor atau pekerja admin adu jagoan <em>multi-tasking </em>di kantor. Ada baiknya kita belajar dari Penguin Classics sebagai penerbit buku yang terus mengusahakan cetak ulang buku sastra klasiknya dengan desain segar, tanpa meninggalkan esensi klasik. Mereka mengundang seniman, bahkan komikus muda untuk menggarap sampul sastra klasik seperti <em>Dharma Bums</em> karya Jack Kerouac (digambar oleh kartunis Norwegia, Jason) dan <em>Candide </em>karya Voltaire (digambar oleh Chris Ware). Hal serupa pernah dilakukan penerbit-penerbit Yogyakarta, salah satunya adalah Bentang, yang mengundang para seniman untuk menggarap sampul buku mereka, seperti Ong Harry Wahyu, R. E. Hartanto, Agung Kurniawan. Kolaborasi semacam ini juga sebenarnya dilakukan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya di era 1950-1970-an.<br><br>Tugas desainer grafis menyangkut begitu banyak bidang kehidupan: mulai dari seni, ekonomi, sosial, dan politik. Bahkan sastra klasik bersinggungan langsung dengan pendidikan. Bukankah karya sastra klasik Indonesia, telah berjasa menggambarkan perkembangan budaya dan perjuangan negeri ini? Maka dalam merancang sampulnya, sudah sepatutnyalah kita merias wajah terbaik yang bisa ditampilkan. [  ]</p>



<h6 class="wp-block-heading" style="font-size:clamp(14px, 0.875rem + ((1vw - 3.2px) * 0.313), 16px);"><em>Tulisan ini dimuat di Majalah Bung! #2, edisi Desember 2011</em></h6>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/dicari-sampul-asyik-sastra-klasik/">Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arianidarmawan.net/dicari-sampul-asyik-sastra-klasik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membaca Kota Lewat Festival Film</title>
		<link>https://arianidarmawan.net/membaca-kota-lewat-festival-film/</link>
					<comments>https://arianidarmawan.net/membaca-kota-lewat-festival-film/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ariani]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:19:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[/Essays]]></category>
		<category><![CDATA[On Films]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arianidarmawan.net/?p=104</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 11-21 Februari 2010 yang lalu, berkenaan dengan diadakannya&#160;Berlin International Film Festival&#160;(Internationale Filmfestpiele Berlin –atau sering disingkat: Berlinale) di Jerman, saya diundang oleh Goethe Institut/Federasi Jerman bersama 25 teman dari 23 negara di seluruh dunia. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru dan berguna. Saya salut pada program yang dibuat oleh Simon Haag dari Goethe Institut Jerman. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/membaca-kota-lewat-festival-film/">Membaca Kota Lewat Festival Film</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p>Tanggal 11-21 Februari 2010 yang lalu, berkenaan dengan diadakannya&nbsp;<strong>Berlin International Film Festival</strong>&nbsp;(Internationale Filmfestpiele Berlin –atau sering disingkat: Berlinale) di Jerman, saya diundang oleh Goethe Institut/Federasi Jerman bersama 25 teman dari 23 negara di seluruh dunia. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru dan berguna.</p>



<p>Saya salut pada program yang dibuat oleh Simon Haag dari Goethe Institut Jerman. Sebelum berangkat, saya cukup kaget melihat daftar program yang padat, ah kapan pula saya bisa menyempatkan diri menonton film. Bukankah Berlinale identik dengan menonton film? Tapi ternyata semua program yang dibuat tersebut optional, alias, boleh diikuti, juga dibolosi. Hanya ada satu hari ‘wajib’ di mana kita bertemu dengan orang-orang penting, yaitu para&nbsp;<em>programmer</em>&nbsp;utama Berlinale (yang akan saya bahas lebih lanjut), dan orang penting film dalam pemerintahan Jerman (mungkin ekuivalen dengan Dirjen Budpar di sini). Hari-hari sisanya, kami dibiarkan bebas berkelana, boleh menonton, boleh jalan-jalan, tidur berlama-lama di kamar hotel pun silakan (biasanya berakhir dengan penyesalan).</p>



<p>Saya, memilih untuk sebisa mungkin terus mengikuti program Goethe. Berkali-kali mereka mengatakan, betapa beruntungnya kita. Bahwa tidak semua orang bisa mengikuti program ini, mendatangi tempat-tempat dan bertemu orang-orang penting (yang mayoritas tentunya berhubungan dengan perfilman Jerman).</p>



<p><strong>Halo, nama saya..</strong><br>Saya terbang dari Jakarta bersama Alex Sihar dari Konfiden (yang sama-sama baru sekali mengunjungi Berlin). Layaknya baru brojol, kami mendarat dengan mata agak ‘berkabut’. Selain udara dingin yang lumayan bikin kaget, badan saya juga masih penat oleh duduk-terus-sungkan-berdiri-karena-dapet-<em>window-seat</em>. Layaknya hari pertama bertemu teman-teman baru, kami habiskan dengan percakapan basa-basi perkenalan, bertukar-tukar kartu nama. Teman-teman baru saya ini berasal dari: Korea Selatan, India, Pakistan, Mongolia, Mesir, Sudan, Togo, Afrika Selatan, Pantai Gading, Algeria, Tunisia, Beirut, Iran, Yordania, Estonia, Belarus, Rusia, Bolivia, Peru, Chile. Dengan begitu beragamnya teman-teman baru yang pastinya pintar-pintar ini, saya hanya berpikir “Aha, inilah kesempatan mengelilingi dunia dalam 11 hari!”</p>



<p>Di hari pertama orientasi, kami diberi penjelasan detail akan keseluruhan program, mulai isi program hingga penjelasan tentang sistem&nbsp;<em>ticketing</em>&nbsp;Berlinale. Kami semua diberi akreditasi khusus hingga berhak untuk menonton semua film di Berlinale dengan gratis (kecuali film undangan khusus), namun kami tetap harus memesan tiket terlebih dahulu, di mana minimal pengantrian adalah satu hari&nbsp;<em>in advance</em>&nbsp;(contoh: untuk film-film hari Selasa, kami bisa mengantri di hari Senin).</p>



<p>Di hari yang sama kami juga memperkenalkan diri masing-masing secara profesional; rata-rata para undangan berprofesi sebagai pembuat film,&nbsp;<em>programmer&nbsp;</em>film festival, pemilik ruang eksibisi film (bioskop, ruang seni/budaya), akademisi film, dan jurnalis film. Dua orang teman yang perlente dan anggun, (tentunya) adalah aktor film. Selain para tamu, ada 4 orang&nbsp;<em>escort&nbsp;</em>yang luar biasa sigap, ramah, dan seru: Martin dan Anna yang asli Jerman, Nicolas yang keturunan Argentina, dan Natalija asal Ukraine. Kesemuanya lancar berbahasa Inggris dan Jerman, bahkan masing-masing bisa berbicara dalam 2-3 bahasa lainnya. Sayangnya orang seperti saya, hanya bisa menggunakan satu fitur bahasa selain bahasa Ibu.</p>



<p><strong>Potsdamer Platz</strong><br>Petualangan kami dimulai dengan mendatangi pusat Berlinale yaitu Potsdamer Platz. Sulit dibayangkan bahwa area yang sekarang penuh sesak (terutama ketika Berlinale berlangsung), 20 tahun lalu masih kosong melompong. Potsdamer Platz sendiri berada di jalur utama Tembok Berlin pernah berdiri, di mana diameter 100 meter di sekitarnya diharuskan kosong. Dan ketika akhirnya pada 1989 Tembok Berlin diruntuhkan, pemerintah segera merencanakan pembangunan area terpadu, mengingat bahwa sebelum didirikannya tembok yang memisahkan Jerman Barat dan Timur setelah Perang Dunia II tersebut, Potsdamer Platz pernah menjadi pusat kegiatan kota Berlin.</p>



<p>Melihat kembali adegan-adegan dalam film&nbsp;<em>Wings of Desire</em>&nbsp;(Wim Wenders, 1987) di mana Tembok Berlin masih berdiri tepat di atas Potsdamer Platz yang wajahnya lebih mirip Tempat Pembuangan Sementara (ketika sampahnya baru saja diangkut), saya hanya bisa terkagum-kagum. Area Potsdamer Platz kini terbangun layaknya&nbsp;<em>downtown&nbsp;</em>sebuah kota baru: denyut nadi utamanya adalah Berlinaleplatz (gedung pertunjukan yang disulap jadi bioskop utama ketika Berlinale berlangsung) dan stasiun utama (Postadamer Bahnhof) yang menghubungkan seluruh Berlin lewat jalur U dan S-nya. Di sekitarnya ada 3 buah bioskop lainnya (Cinemaxx, Cinestar, dan Kino Arsenal), gedung modern berlabel Sony Centre tempat salah satu sekolah film terbaik di Jerman berada, juga Deutsche Kinematek, sebuah museum film yang mengarsip perfilman Jerman dengan sangat komprehensif. Area ini dikeliling hotel, tempat perbelanjaan, dan restoran juga&nbsp;<em>coffeeshop</em>&nbsp;tempat orang rehat dan menghabiskan makan siangnya.</p>



<p>Sepuluh menit berjalan kaki dari Berlinaleplatz, kita sampai di area yang dinamakan Kulturforum Berlin. Tiga bangunan terpenting di area tersebut adalah Chamber Music Hall atau markas besar Berlin Philaharmonic Orchestra, yang konon adalah&nbsp;<em>philaharmonic&nbsp;</em>terbesar di dunia (ya, Vienna pun mengatakan hal yang sama untuk&nbsp;<em>philaharmonic</em>-nya). Di seberangnya, Neue Staatsbibliothek, perpustakaan kota berarsitektur a la sosialis namun berinterior super canggih. Dan di seberang perpustakaan tersebut, Neue Nationalgalerie, arsitektur mahakarya Mies Van der Rohe yang ia rancang di tahun 1966 setelah sempat hengkang ke Amerika di tahun 1933 karena tekanan Nazi.</p>



<p>Kembali ke film. Di hari orientasi kami dibawa simulasi oleh empat&nbsp;<em>escort&nbsp;</em>kami untuk membeli tiket Berlinale. Sistem pemesanan sangat sederhana dan mudah. Semua data film, beserta jam tayangnya tertera baik dalam lembar jadwal harian berwarna hitam putih. Berdasarkan jadwal tersebut kami bisa memilih film apa pun untuk hari itu dan hari esok, hanya dengan menunjukkan&nbsp;<em>badge&nbsp;</em>akreditasi kami. Namun masalah utamanya adalah: kebanyakan film hari itu bahkan hari esok telah habis. Terlebih untuk film-film In Competition yang pastinya paling popular dikejar sana-sini. Saya cek lagi dan lagi.&nbsp;<em>Waste Land</em>, (Lucy Walker, 2010), film dalam program Panorama yang paling ingin saya tonton, tiketnya ludes sudah. Dan besok-besoknya, sama saja.</p>



<p><strong>Berlinale, Rotterdam, Cannes, Venice, Pusan</strong><br>Walaupun tidak berhasil mendapatkan tiket atas beberapa film incaran, saya tetap semangat. Memang, bisa saja saya bangun pukul 7 pagi setiap harinya untuk cepat-cepat mengantri tiket ke Potsdamer Platz, tapi tubuh saya tidak dirancang sebagai manusia pagi hari. Toh saya datang ke Berlin tidak untuk melihat Waste Land, tapi Wonder Land (halah!).</p>



<p>Perlahan-lahan saya jadi tahu apa sebenarnya yang membedakan lima film festival yang saya sebut sebagai sub judul di atas. Berlinale, yang tahun ini merayakan ultahnya yang ke-60, dirancang sebagai sebuah film festival berorientasi publik. Ketidakberhasilan saya sebagai pemegang&nbsp;<em>badge</em>&nbsp;akreditasi untuk mendapatkan beberapa film adalah bagian dari usaha Berlinale mendahulukan publik. Saya dengar, hanya maksimum 30 persen tiket film dialokasikan bagi pemegang&nbsp;<em>badge&nbsp;</em>(undangan khusus seperti kami, atau para pembuat film, distributor). Sedangkan orang-orang media memiliki&nbsp;<em>badge&nbsp;</em>tipe lain, yang dapat dipakai untuk menonton pemutaran khusus. Saya sempat tersenyum geli ketika Martin, salah satu&nbsp;<em>escort&nbsp;</em>kami mengatakan bahwa ibunya lebih sukses mendapatkan tiket (dengan mengantri dan membayar di loket umum) ketimbang dirinya yang memegang badge akreditasi. Di Berlinale, pemegang badge pun harus sungguh-sungguh berusaha (baca: bangun pagi) untuk menonton film yang benar-benar ingin ia tonton.</p>



<p>Dari segi keberpihakan pada publik, Berlinale mirip dengan Rotterdam dan Pusan International Film Festival. Untuk membuktikannya, silakan cari saja di internet, foto-foto festival Berlinale, Rotterdam dan Pusan memperlihatkan bagaimana publik mengantri mengular layaknya masuk ke Taman Impian Jaya Ancol di hari Idul Fitri. Sedangkan Cannes dan Venice adalah dua festival film yang lebih eksklusif dengan mengutamakan kehadiran media dan&nbsp;<em>sales</em>/distributor ketimbang publik. Namun, satu perbedaan Berlinale dengan Rotterdam adalah kehadiran selebiriti dan orang-orang penting. Berlinale cukup peduli dalam memajang wajah-wajah rupawan dan sohor ketimbang Rotterdam yang tampaknya sama sekali tidak peduli akan hal ini.</p>



<p>Di luar masalah imej selebritas, jelas bahwa Berlinale dan Rotterdam berusaha untuk membumikan film, sedangkan Cannes dan Venice mengagungkan film. Apa pun jalur yang diambil, saya pikir film festival sah adanya asal mereka konsisten terhadap konsep yang mereka usung, dan selama mereka melakukan pemutaran film-film terpilih mereka. Academy Award yang tidak memiliki agenda pemutaran film menjadi sah karena mereka tidak menggunakan kata ‘film festival’. Sudut pandang inilah yang membuat saya menganggap Festival Film Indonesia tidak sah dan banci. Sebuah festival film harus berani mengedepankan program dan mempertontonkan program tersebut pada khalayak ramai sebagai bentuk pertanggungjawaban.</p>



<p><strong>Program Berlinale</strong><br>Berbicara tentang program, kami sangat beruntung mendapatkan waktu khusus untuk berbincang dengan programmer Berlinale, Wieland Speck dan Dorothee Wenner. Acara formal yang berlangsung di sebuah ruangan kecil Goethe Institut, cukup menjawab rasa penasaran kami atas dasar rancangan program yang dilakukan oleh Berlinale. Secara general, terdapat 4 program utama pemutaran film:<br>1. In Competition 2. Panorama 3. Forum 4. Generation (dan Generation 14Plus), dengan tambahan program:<br>5. Perspektive Deutsches Kino (Pemutaran film-film Produksi Jerman) 6. Hommage (tahun ini menampilkan film-film Hanna Schygulla dan Wofgang Kohlhaase).<br>Dan dalam ulang tahunnya yang ke-60, Berlinale menampilkan beberapa program khusus pemutaran film yaitu: 7. Play It Again (pemutaran kembali film-film lama), beserta: 8. Pameran-pameran karya seni yang berhubungan dengan gambar bergerak di beberapa galeri.</p>



<p>Di luar acara film, program khusus Berlinale meliputi:<br>9. Berlinale Talent Campus (yang setiap tahunnya mengundang produser/sutradara/penulis script/programmer muda untuk berkumpul, belajar, dan berbagi pengalaman bersama), 10. European Film Market (di mana distributor/sales/filmmaker berkumpul mengolah potensi distribusi film mereka) 11. Berlinale Co-production Market dan World Cinema Fund (alias pendanaan film dengan basis co-produksi Jerman –saya akan membahas ini lebih lanjut).</p>



<p>Saya pikir, program Berlinale telah berhasil menyentuh hampir seluruh aspek dalam proses karya film. Kita tahu bahwa film bukan hanya sebuah karya produksi, tapi juga penggelontoran ide (penulisan skenario), dan pendistribusian (sosialisasi). Berlinale, adalah sebuah festival film raksasa yang mampu mencoba untuk terus menjangkarkan dirinya pada dasar-dasar penting proses ini. Berlinale Talent Campus yang tahun ini masuk tahun ke-delapan, menjadi pangkal festival (saya menganalogikannya sebagai peletakkan pondasi luncur). Di sini orang-orang muda berbakat dikumpulkan dan diajak berproses bersama.&nbsp;<em>Core</em>&nbsp;Berlinale sendiri yaitu pemutaran film (tahun ini berjumlah 400 film) berlaku sebagai bagian dari upaya pengsosialisasian (atau upaya peluncuran). Usaha itu tidak berhenti begitu saja di festival ini, namun dilanjutkan di dalam Market, di mana sebuah film diberi kesempatan untuk bisa hidup lebih lama melalui kemungkinan distribusi dan penjualan di seluruh penjuru dunia (yang telah meluncur agar tetap meluncur di jalur yang tepat).</p>



<p>Selain itu, untuk mengisi pundi-pundi produksi film, Co-Production Market dan World Cinema Fund yang didukung oleh pemerintah Jerman memberi kesempatan dua kali setahun bagi para filmmaker untuk menyelesaikan produksi mereka (dengan bantuan dana). Namun produksi ini memiliki syarat: mereka harus bekerja sama dengan co-producer yang berbasis di Jerman.</p>



<p>Dorothee dan Wieland menjelaskan keseluruhan program utama dengan jelas dan tegas. Hingga tahun 1960 awal, ternyata Berlinale hanya memiliki program In Competition (yang secara tradisi, pemilihannya dilakukan oleh direktur festival). Hingga menjelang dekade ’70-an ketika perang Vietnam berkecamuk dan terjadi pemberontakan sosialis di Perancis, timbul silang pendapat antar tim festival ketika banyak orang mengeluhkan bahwa jalur pandang Berlinale kian condong ke arah kiri. Padahal, pada kenyataannya, film-film bagus yang beredar saat itu memang banyak berhaluan kiri.</p>



<p>Dengan pertimbangan arah festival yang ingin lebih bercitra netral (dari segi sudut pandang politik), dirancanglah sebuah program bernama lengkap The International Forum of New Cinema, atau pendeknya: Forum. Dalam program ini, kita bisa melihat film-film yang secara politis maupun secara bentuk kekiri-kirian, nyeleneh, eksperimental. Pendeknya, di sinilah segala genre film bersatu, atau film-film tanpa genre yang jelas bisa unjuk gigi, mulai dari dokumenter, seni video, hingga gabungan seni pertunjukan. Dorothee mengatakan bahwa baginya, Forum adalah program terpenting dalam Berlinale. Ia ingin menekankan bahwa di luar film-film glamor Hollywood dan papan atas Eropa, denyut sinema sebenarnya digerakkan oleh semangat anak-anak muda dari seluruh pelosok dunia. Tahun 2010 ini, Forum banyak menampilkan film-film Afrika dengan estetiknya yang mentah, namun berani dalam bertutur.</p>



<p>Maka wajar saja jika kita melihat begitu jauhnya perbedaan antara film-film dalam program In Competition dan Forum. Sejak awal didirikan, In Competition lebih mengutamakan film-film yang memiliki nilai komersil tinggi (untuk kepentingan meraup publik luas), sedangkan Forum sebaliknya. Nah, di tengah keduanya inilah, Panorama berada. Wieland Speck yang telah mengepalai program Panorama sejak 1992 bercerita bahwa Panorama adalah layaknya etalase utama Berlinale. Dari keseluruhan 400 film, 60 film panjang masuk ke dalam program ini. Panorama, layaknya sebuah kapal pesiar besar, membawa penumpangnya mengitari seluruh dunia, berkenalan dengan problematika kemanusiaan dari masing-masing tempat. Panorama sendiri terdiri dari film-film panjang fiksi dan dokumenter (<em>feature length</em>).</p>



<p>Dari sisi pemutaran program film utama, Berlinale saya anggap jeli dalam memasukkan program khusus film-film anak (dan beberapa tahun kebelakang ini, film-film remaja) dalam program Generation dan Generation 14plus-nya. Dorothee mengatakan bahwa regenerasi tidak hanya harus terjadi pada pembuat film tersebut sendiri, tetapi juga pada penikmat filmnya.</p>



<p>Saya membayangkan, dengan umur dan reputasi papan atas,&nbsp;<em>programming</em>&nbsp;pastilah bukan pekerjaan yang mudah bagi Berlinale. Dorothee dan Wieland mengatakan bahwa setiap tahunnya mereka menerima hampir 6000 pendaftaran film. Seluruh film tentunya harus ditonton, dan tim&nbsp;<em>programming</em>&nbsp;biasanya memiliki beberapa orang staf yang salah satu tugasnya adalah menyeleksi film-film di tingkat awal. Selain menunggu datangnya pendaftaran film, Dorothee dan Wieland biasanya menghabiskan waktu 3-4 bulan untuk berkeliling dunia mencari film yang cocok ditayangkan di Berlinale. Kegiatan tersebut biasanya telah dimulai di bulan Juni. Ketika salah seorang teman saya bertanya, apa gak pusing menonton begitu banyak film? Wieland menjawab, karena itulah, selama tiga bulan setelah festival saya menolak melihat tidak hanya TV atau film, tapi apapun yang bergerak!</p>



<p><strong>Haluan Program Berlinale</strong><br>Menonton film-film yang terseleksi dalam Berlinale tentunya jauh berbeda dari film-film pilihan Cannes atau Venice. Sesuai haluan, saya pikir Berlinale sangat konsisten dalam mempertahankan program yang humanis, dan cenderung politis. Secara selera pribadi saya akan lebih memilih film-film pilihan Cannes sebagai tontonan ketimbang film-film pilihan Berlinale. Namun saya menghargai haluan yang diusung Berlinale sepenuhnya, yang sebenarnya sangat berakar pada keadaan politik Eropa, Jerman, dan terutama kota Berlin itu sendiri. Semakin saya mendalami sejarah kota Berlin, semakin saya mengerti haluan program Berlinale.</p>



<p>Dalam kata sambutannya, sang direktur festival Dieter Kosslick mengatakan bahwa Berlinale adalah sebuah film festival yang tidak akan pernah melupakan cangkangnya, yaitu Berlin. Kota yang baginya adalah sebuah simbol rasa bersalah dan keterbelahan sistem. Maka Berlinale, masih menurut Dieter Kosslick, adalah ruang bagi sinema intelektual yang diperuntukkan untuk nalar, sekaligus rasa. Dan memang begitulah seharusnya sebuah film dimaknai.</p>



<p><strong>Co-Production dan World Cinema Fund</strong><br>Di pertengahan kunjungan, kami sempat dipertemukan dengan Sonja Heinen dan Vincenzo Bugno, dua orang dengan jabatan tertinggi di World Cinema Fund, yang sejak 2004 membantu memproduksi film-film dari negara berkembang. Awalnya WCF hanya mendukung negara-negara dalam cakupan Amerika Latin, Timur Tengah, Asia Tengah. Namun sejak 2007 mereka memperluan bantuan ini ke negara-negara Asia Tenggara (termasuk Indonesia).</p>



<p>Sonja dan Vincenzo yang luar biasa ramah ini dengan penuh semangat bercerita bagaimana setiap tahunnya mereka selalu berharap mendapatkan naskah-naskah film terbaik dari negara-negara berkembang. Dana yang mereka kucurkan cukup jelas:<br>1. Dana Produksi hingga 100,000 Euro (1,3 miliar rupiah) dalam proyek film yang berbujet 200,000 – 1,000,000 Euro (2,6 miliar – 13 miliar rupiah), dengan catatan bahwa seluruh biaya produksi harus dihabiskan di negara tempat kita memproduksi film tersebut.<br>2. Dana Distribusi hingga 15,000 Euro (190 juta rupiah), dengan catatan bahwa dana tersebut dipakai untuk mendistribusikan film kita di Jerman.</p>



<p>Namun syarat utama yang seringkali membuat pembuat film dua kali berpikir adalah, WCF mengharuskan kita untuk memiliki partner usaha produksi (co-producer) yang berbasis di Jerman. Alasannya sangat masuk akal, yaitu untuk mempermudah dan menjamin administrasi, mengingat jumlah dana yang mereka kucurkan tidaklah kecil. Sonja menambahkan bahwa terkadang WCF dengan senang hati membantu kita mencarikan partner yang cocok di Jerman (bila kita tidak berhasil mendapatkannya sendiri), dengan syarat utama: WCF harus cinta setengah mati pada proyek yang kita ajukan.</p>



<p>Mengenai kriteria naskah atau tipe proyek yang mereka prioritaskan, Sonja dan Vincenzio menekankan bahwa mereka mengutamakan film-film yang ‘<em>extreme art house</em>‘, alias tipe-tipe film yang berani, ber<em>statement</em>&nbsp;jelas, sama sekali tidak memperhitungkan nilai komersil, namun tetap dalam jalur formatif. Ingatlah, bahwa semua uang yang mereka berikan ini tidak perlu kita kembalikan, dan oleh karenanya dalam proposal kita hanya perlu melampirkan&nbsp;<em>Financial Plan</em>, tapi bukan&nbsp;<em>Business Plan&nbsp;</em>(karena toh mereka tidak melihat film-film ini memiliki nilai jual).</p>



<p>Proyek-proyek tabu dalam WCF adalah tipe proyek yang dibuat oleh/dengan mata ‘orang luar’ (dalam melihat sebuah topik/permasalahan). Mereka menginginkan cerita yang tulus, dan dibuat dengan sedekat mungkin. Apabila kita tilik film-film peraih WCF sejauh ini, sebenarnya tidak jauh berbeda dari jenis-jenis film yang ditayangkan di Berlinale: humanis, politis. Mereka mengambil contoh salah satu film yang memenangkan Golden Bear tahun 2009 yaitu&nbsp;<em>The Milk of Sorrow</em>&nbsp;(<em>La Teta Asustada</em>, Claudia Llosa), sebuah film yang bercerita tentang mitos trauma para perempuan Peru yang diakibatkan oleh rentetan kejadian pemerkosaan oleh militer di dekade 1980-an.</p>



<p>Contoh film lain yang mendapatkan bantuan dari WCF adalah&nbsp;<em>Ajami</em>&nbsp;(Scandar Copti &amp; Yaron Shani, 2009 –ditayangkan perdana di Cannes Film Festival 2009) yang berkisah tentang kehidupan bertetangga penuh konflik agama, ras, dan antar generasi di kota Jaffa, perbatasan antara Palestina dan Israel. Kedua film di atas memang dianggap memiliki pernyataan yang sangat kuat dan jelas. Dan bukanlah kebetulan bila keduanya masuk dalam nominasi Best Foreign Film dalam ajang Academy Awards 2010 ini; sebuah prestasi yang luar biasa bagi tim World Cinema Fund.</p>



<p>Mengakhiri perbincangan kami, Sonja dan Vincenzo memberikan wejangan-wejangan khusus. Bagi mereka yang ingin mengirimkan proposal (tenggat waktu setahun dua kali yaitu Maret dan Agustus setiap tahunnya), secara teknis perlu diingat dua hal:<br>1. Kirim kami skenario selengkap-lengkapnya, bukan&nbsp;<em>treatment</em>&nbsp;atau ide proyek<br>2. Berikan kami gambaran secara detail, seperti apakah film yang akan kami tonton nanti? Dengan kata lain, kirimkan selengkap-lengkapnya&nbsp;<em>treatment</em>&nbsp;visual dari sang sutradara. Karena kami akan lebih mendahulukan sebuah film dengan visi sutradara yang kuat, jelas.<br>Sonja dan Vincenzo juga menganjurkan siapa pun untuk tidak sungkan-sungkan bertanya dan meng-email mereka, karena tanpa partisipasi kita, mereka akan segera putus kerja! Untuk informasi lebih lanjut silakan kunjungi&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20221006235201/https://web.archive.org/web/20110919004111/http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=10150129314955381&amp;h=c0e4f1a2d2ea389ab473fe99cad16ccc&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.berlinale.de%2Fen%2Fdas_festival%2Fworld_cinema_fund%2Fwcf_profil%2Findex.html">ini</a>.</p>



<p><strong>Film, Pengarsipan, Pariwisata</strong><br>Bagi saya, hanya ada dua alasan kenapa sebuah negara tidak bisa melihat potensi pariwisata dari perfilman negerinya: yaitu karena mereka miskin, atau bodoh. Beberapa orang bilang masalah utamanya adalah ketidakpedulian, bagi saya tidak peduli itu adalah buah utama kebodohan. Hal termudah yang dapat dilakukan oleh suatu pemerintahan untuk mulai menggali dua hal tersebut sebenarnya sangat sederhana, yaitu pengarsipan yang rapi dan menyeluruh. Jika pengarsipan telah ditangani dengan benar, tunjuklah seorang ahli pemasaran yang mengerti benar seni dan budaya kontemporer. Kontemporer ini penting, karena film bagaimanapun tidak bisa disamakan dengan seni tradisi yang berakar dari budaya masyarakat setempat. Kedua hal ini tentunya membutuhkan pengolahan yang berbeda.</p>



<p>Di Senin pagi yang dingin, kami dibawa dalam sebuah acara jalan-jalan: Video Bus Tour. Dan benar saja kata Nicholas, salah satu escort kami,&nbsp;<em>don’t miss it, it’s fun!</em>&nbsp;Selama dua jam kami dibawa jalan-jalan berkeliling Berlin, berangkat dari depan hotel kami di Friedrichstrasse, dan berakhir di Potsdamer Platz. Semua tur dilakukan dalam bus (cocok untuk cuaca yang saat itu kurang bersahabat) dengan tim seorang supir dan pemandu tur yang ternyata bergelar master dalam bidang sejarah Jerman. Petualangan kami dibantu beberapa set televisi.</p>



<p>Teknis bus tour ini sangat sederhana: bus berjalan, sang pemandu bermonolog tentang cuplikan sejarah area kami berada. Lalu bus berhenti di suatu tempat. Pemandu kembali bercerita, kali ini sambil menayangkan cuplikan film tertentu, di mana&nbsp;<em>set&nbsp;</em>yang dipakai berada di sekitar kami. Sebagai contoh, kami berhenti di depan sebuah hotel tempat salah satu pengambilan gambar&nbsp;<em>Run Lola Run</em>&nbsp;(1998), di mana di dalam film tersebut, hotel digubah menjadi bank. Kita dibawa mengitari gedung pemerintahan (<em>Valkyrie</em>, 2008), area-area semi publik seperti bioskop dan restoran (<em>Bourne Supremacy</em>, 2004), stasiun kereta (<em>The International</em>, 2009), hingga apartemen-apartemen di daerah bekas Jerman Timur (<em>Good Bye Lenin!</em>, 2003 dan&nbsp;<em>The Lives of Others</em>, 2006).</p>



<p>Salah satu tayangan mencengangkan adalah cuplikan&nbsp;<em>footage</em>&nbsp;kota Berlin yang habis digempur tentara saat Perang Dunia II.&nbsp;<em>Footage</em>&nbsp;itu diambil Billy Wilder ketika ia sedang terbang dari AS menuju Berlin untuk pembuatan filmnya bersama Marlene Dietrich (<em>A Foreign Affair</em>, 1948). Melihat&nbsp;<em>footage</em>&nbsp;tersebut, lalu kembali melihat ke luar jendela, saya hanya bisa bergumam sendiri, beginilah itikad dan usaha sebuah kota untuk bisa bangkit dari keadaan mental hampir nol. Bagi saya, kota Berlin masa kini mengenal dan mengerti benar siapa penduduknya, apa kebutuhan mereka. Hasilnya adalah sebuah kota yang mengutamakan kenyamanan publik: transportasi (salah satu moda transportasi ternyaman yang pernah saya gunakan), akomodasi (apartemen sederhana yang tertata rapi), dan ruang bagi aspirasi rakyat (taman kota, gedung seni dan budaya, hingga ruang-ruang rekreasi).</p>



<p>Berlin bukanlah kota pariwisata. Ia lebih mirip kota nostalgik yang begitu bersemangat mempermuda dirinya. Pemerintah daerah mengerti benar celah-celah yang bisa dipakai untuk terus mempromosikan kota bersejarah ini, tidak hanya untuk meningkatkan potensi digunakannya Berlin sebagai&nbsp;<em>setting&nbsp;</em>film-film internasional, tapi penanaman pentingnya pemahaman sejarah bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di atasnya. Dan film berperan sangat besar.</p>



<p>Kami juga berkesempatan untuk mendatangi Deutsche Kinematek yang berlokasi di gedung Sony Centre, Potsdamer Platz. Siapa pun yang masuk ke dalamnya pasti akan tercengang dengan interior mutakhir yang setengah melayangkan kita ke dimensi lain. Namun kecanggihan interior tersebut bukanlah apa-apa ketimbang isi museum itu sendiri. Deutsche Kinematek memfokuskan diri pada pengarsipan dan eksibisi film-film Jerman, khususnya sebelum PD II. Bahkan Marlene Dietrich menyumbangkan seluruh atribut dan dokumentasi kariernya ke musem tersebut. Hanya beberapa ruang sekilas bercerita tentang film-film German New Wave, seperti film-film Werner Herzog, Alexander Kluge, Rainer Fassbinder, dan Wim Wenders. Sebagian besar isi museum bercerita tentang masa awal perfilman Jerman, yaitu German Expressionism.</p>



<p>Di dalam museum saya kembali mempelajari sejarah Jerman yang menyesakkan. Dalam suatu ruangan khusus, dokumentasi film-film propaganda Nazi memenuhi laci-laci yang harus kita buka satu per satunya. Di sudut ruangan tersebut, foto-foto film&nbsp;<em>Olympia</em>&nbsp;karya Leni Riefenstahl (berisi dokumentasi Olimpiade 1936) terpampang lengkap dengan&nbsp;<em>mock up</em>&nbsp;stadium-nya. Ruangan tersebut agaknya ingin cepat-cepat dilalui oleh pemandu kami. Ia bercerita singkat saja tentang film&nbsp;<em>Olympia</em>&nbsp;yang baginya tidak lebih dari sekadar propaganda. Dua orang teman saya yang sama-sama orang Estonia kompak berujar, “<em>But Olympia is a great film. It is a propaganda, but still, a very good film</em>“. Perbincangan berlanjut beberapa menit, dengan adu pendapat yang terus berkutat pada hal yang sama. Memang tidak mudah, saya pikir, melupakan masa lalu. Terutama jika masa lalu itu begitu kelam.</p>



<p><strong>Jerman, Masa Lalu, Masa Kini</strong><br>Sebelum mengunjungi Berlin, saya memang tidak pernah berpikir (atau bahkan menduga) bahwa sebuah negara sekokoh Jerman masih saja menyimpan trauma akan masa lalu. Walau jika dipikir-pikir, saya mengakui bahwa saya pun masih memiliki stereotip negatif tertentu atas orang Jerman. Tapi saya selalu menganggap bahwa pikiran stereotip itu hadir sebagai bahan tawa belaka (bukankah dengan bercanda kita memaafkan?) Perkataan Dieter Kosslick, direktur festival Berlinale yang mengatakan bahwa Berlin adalah simbol rasa bersalah dan keterpecahan sistem menjadi sangat masuk akal. Perlakuan Nazi yang ekstra kejam terhadap orang-orang Yahudi menjadi momok yang menghantui orang-orang Jerman ke mana pun mereka pergi, hingga saat ini.</p>



<p>Begitu pekanya rasa bersalah itu, Martin Jabs, salah satu&nbsp;<em>escort&nbsp;</em>kami mengatakan: kebanyakan orang Jerman yang tinggal di Berlin akan mengatakan:&nbsp;<em>“I’m proud to be from Berlin, I’m proud to be European, but I’m not proud to be German”</em>. Saya sempat berpikir saya salah dengar. Bukankah orang-orang Jerman adalah orang-orang yang begitu yakin dan bangga dengan dirinya, dengan kekuatan negaranya, dengan bahasanya, budaya, bahkan kulinernya (ya, susis Jerman adalah susis terenak di dunia!). Martin mengulangi lagi pernyataannya itu, dan saya mengerti. Itulah mengapa film&nbsp;<em>Inglorious Basterds</em>&nbsp;(Quentin Tarantino, 2009) begitu dielu-elukan di Jerman: Hitler mati, di tangan orang-orang Jerman sendiri (<em>well&nbsp;</em>ya, dengan bantuan&nbsp;<em>American bastards</em>).</p>



<p>Tanpa rasa kemanusiaan yang besar (salah satunya, mungkin, rasa bersalah), saya pikir Berlinale tidak mungkin menginjakkan kakinya di ulang tahunnya yang ke-60 dengan rasa sepercaya diri ini. Berlinale mungkin memiliki agenda politis, dan itu menjadi sangat tepat. Di dalam festival semacam Berlinale kita (diajak) mengerti mengapa kisah-kisah perjuangan kemanusiaan menjadi sangat penting.&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/membaca-kota-lewat-festival-film/">Membaca Kota Lewat Festival Film</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arianidarmawan.net/membaca-kota-lewat-festival-film/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karena keren, bergentayangan di mana-mana.</title>
		<link>https://arianidarmawan.net/karena-keren-bergentayangan-di-mana-mana/</link>
					<comments>https://arianidarmawan.net/karena-keren-bergentayangan-di-mana-mana/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ariani]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 04:18:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[/Essays]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arianidarmawan.net/?p=131</guid>

					<description><![CDATA[<p>11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/karena-keren-bergentayangan-di-mana-mana/">Karena keren, bergentayangan di mana-mana.</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang juga terkenal 3B itu. Setelah beberapa bulan kemudian teman saya beres kuliah dan kembali ke kampung asalnya, barulah saya mulai cari tahu apa menariknya tempat buduk-buruk-busuk itu. Entah kenapa (saya mungkin tahu kenapa) tempat busuk itu semakin dimengerti semakin menarik hati.</p>



<p>Di sepanjang jalan saya bisa menemukan toko-toko rongsok yang menjual barang-barang rongsok dengan harga rongsokan. Memang ada beberapa toko yang kelihatannya pernah rongsok tapi kemudian berdandan dan tiba-tiba sudah berwallpaper bunga-bunga. Masih di sekitar situ, saya beli beberapa jeans Levi’s bekas yang harganya cukup bekas, pas untuk kocek rajin menabung. Dan masih juga di sekitar situ, saya menemukan sebuah toko buku bekas bernama&nbsp;<a rel="noreferrer noopener" href="https://web.archive.org/web/20110918230001/http://www.myopicbookstore.com/" target="_blank">Myopic Bookstore</a>, salah satu inspirasi saya untuk mendirikan&nbsp;<a href="http://kineruku.com" data-type="link" data-id="kineruku.com" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Kineruku</a>&nbsp;sekarang ini. Pemilik Myopic, bernama Joe, kadang ramah kadang gahar, dan di sampingnya, seekor kucing selalu menjaganya. Toko buku itu membuat saya merasa senang dan nyaman, dan tentunya, merasa keren.</p>



<p>Keren. Keponakan saya yang masih berumur 8 tahun, mungkin mengucapkan kata-kata itu minimal 10 kali seharinya (dia membahasakannya: cooool). Ke mana pun ia pergi, penting baginya untuk selalu tetap bergaya keren. Berpiyama di rumah, berseragam ke sekolah, bercelana pendek ke kebun binatang. Tetap keren. Untungnya, baru-baru ini ia mendapat hadiah (dari Sinterklas) sebuah jam Casio G-Shock hitam. Aksesoris ini membantunya merasa lebih keren. Dan jangan sekali-sekali memanggil dia ‘lucu’, ‘cos cute ain’t cool, man! Selain berkah G-Shock, keponakan saya ini juga menemukan panutan keren barunya, yaitu&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20110918230001/http://ext.pimg.tw/yuewenx/4b191f4b3b415.jpg" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Huang Tae Kyung</a>&nbsp;di serial Korea berjudul You’re Beautiful. Huang Tae Kyung, setelah akhirnya saya temukan fotonya di internet, benar-benar seperti perempuan. Rambutnya asimetris dan salon banget untuk sebuah potongan rambut pendek laki-laki, dan kaosnya terlalu ketat untuk sebuah baju. Dan satu lagi, sepatunya terlalu lancip untuk nyaman dipakai. Tapi itulah keren buat keponakan saya.</p>



<p>Jelas definisi keren bagi saya dan ponakan saya beda sekali. Keren dia ‘<em>sissy</em>‘ bagi saya, dan keren saya ‘<em>filthy</em>‘ bagi dia.&nbsp;<em>Filthy</em>&nbsp;alias kotor alias buduk, persis seperti pertama kali saya mengunjungi daerah Wicker Park 11 tahun lalu. Dan apa yang terjadi pada Wicker Park saat ini adalah&nbsp;<em>sissy</em>&nbsp;bagi saya, tapi mungkin keren bagi keponakan saya (area tersebut pada tahun 2004 menginspirasi sebuah film&nbsp;<em>remake</em>&nbsp;berjudul “Wicker Park” dan absurdnya, semua syuting dilakukan di Montreal, Kanada!). Sejak itu, tempat-tempat nongkrong murahan kini sudah berganti jadi club-club, kedai-kedai makanan milik keluarga berganti bos yang mampu menggaji 20 karyawan setiap bulannya.</p>



<p>Cerita tentang fase bagaimana yang kotor berubah jadi garang lalu hip dan keren lalu mahal dan akhirnya eksklusif mungkin sudah sering kita dengar. Tapi sejauh apa kita (gabungan para pendobrak maupun gabungan orang-orang kolot) sadar bahwa gap di antara kita adalah penyebab utama destruksi ekonomi (juga geografi?) yang kesemuanya didasari image si Keren?</p>



<p>Sebagai gambaran besar, kita ambil contoh saja perkara Wicker Park. Wicker Park adalah area yang terletak di barat Chicago, memiliki sejarah panjang sebagai area tempat tinggal sejak akhir abad 19. Setelah perang dunia kedua berakhir, imigran Puerto Rico menggantikan penunggu lama Wicker Park, yaitu imigran Polandia yang lebih dulu sampai di tempat tersebut dan hidup lebih mapan, dan karenanya pindah ke area yang lebih baik. Beberapa imigran Puerto Rico yang tinggal di sini lalu menjadi aktivis pembela hak-hak orang Latin di Chicago. Dan sudah layak dan sepantasnya, aktivis bergaul tidak jauh dari seniman dan para pemikir (yang mayoritas pada waktu itu, kere). Harga properti yang jatuh karena penduduk sebelumnya bedol desa, memungkinkan mereka hidup di daerah tersebut.</p>



<p>Mulailah kebersamaan senasib sepenanggungan terjalin, komunitas orang-orang terpinggirkan pun terbentuk. Para seniman berkarya dan lahirlah galeri-galeri seni seadanya. Pemikir-pemikir gelisah membutuhkan tempat bertukar pikiran, kedai kopi-kedai kopi reyot bermunculan. Lalu diikuti oleh toko-toko buku, percetakan (sekaligus penerbit buku-buku pergerakan), toko-toko barang bekas mengakomodir kantong kering penduduk.</p>



<p>Sejauh itu, tidak ada yang salah dengan perkembangan tempat tersebut. Para penduduk hidup bahagia dan saling memenuhi kebutuhan jiwa raga. Hingga, datanglah segerombol anak-anak muda sok kere yang pagi hingga malam nongkrong di sana dengan tujuan utama: tampil keren. Awalnya, mereka membaur dengan baik (karena dari luar mereka tampak cukup pemberontak dan bernyali), namun lama-kelamaan mereka menjadi terlalu sok kritis. Sok kere sudah dosa, apalagi sok kritis. Sayangnya, kritis di sini bukan dalam hal pemikiran, tapi dalam hal gaya. Orang-orang baru dengan label hipster ini datang membawa sebuah selera yang sama sekali tidak murahan. Dan bagaimanapun, selera adalah kelas baru dalam dunia pasca modern. Meski kere, yang penting keren. Walau drop out, yang penting keren. Semakin broken home, semakin keren.</p>



<p>Nah, orang-orang bergaya ini, biasa hidup dalam dua dunia sekaligus. Dunia kere dan dunia asal mereka. Meski mereka merasa keren tinggal di daerah ‘underground’, sesekali mereka naik ke permukaan. Dan di permukaan inilah gaya mereka mencuri perhatian para agen ‘penjual’ budaya: wartawan majalah, perancang busana, pemilik jaringan restoran, agen properti, produser film, hingga politisi. Tiba-tiba didaulatlah mereka menjadi trend setter.</p>



<p>Anak-anak muda yang biasanya datang dari kelas menengah – atas ini jelas tidak tahu-menahu kenapa tiba-tiba mereka menjadi sorotan. Tak lama kemudian, baju-baju bekas yang mereka pakai tersedia di seluruh pelosok kota, dibandroli harga yang tidak lagi terjangkau orang banyak. Kedai kopi, tempat mereka nongkrong dan mejeng, tiba-tiba dibangun dengan selera yang serupa, tapi dengan sistem yang lebih mapan. Juga selera musik mereka tiba-tiba dicaplok dan dijual dalam keping-keping CD di toko-toko musik kebanyakan. Wicker Park pun menjadi setting sebuah film yang dipenuhi lagu-lagu gaul, dengan deretan nama-nama yang mungkin asing bagi kuping orang kebanyakan, tapi akrab bagi para hipster ini. Intinya, semuanya berubah jadi gak asyik.</p>



<p>Para trend setter ini marah. Selera mereka tiba-tiba jadi pasaran, tempat tinggal mereka mendadak mahal. Wicker Park yang tadinya tempat nongkrong para aktivis dan para kere (beneran maupun gadungan), sekarang menjadi incaran tempat tinggal desainer dan arsitek. Jadilah area itu area berselera tinggi, digerayangi hasrat-hasrat berduit. Pendek kata, tempat itu kian mahal, dan kini beku jadi pemenuh selera-selera unik orang-orang tertentu belaka.</p>



<p>Dengan amarah membara, anak-anak muda penuh gaya sok pemberontak ini kembali merayap mencari tempat lain yang serupa: buduk-busuk-buruk, namun potensial keren. Mereka kini mengenakan baju, mendengarkan musik, mendatangi pameran-pameran seni yang bertolak belakang dengan selera mainstream (a.k.a mantan selera mereka sendiri). Lalu siklus yang sama persis kembali terjadi. Siklus ini telah berlangsung sejak makna kemapanan didobrak, dari jaman para hippies, lalu punk berkeliaran.</p>



<p>Contoh lain yang sangat konkrit adalah kesenian di Indonesia (dan di seluruh dunia). Seniman kere melukis demi hidup. Mereka kreatif namun mereka susah, dan karenanya dianggap ‘lain’ bagi kalangan tertentu. Oh, itu namanya eksotis! Kurator-kurator, para pemikir, berteman dan membantu para seniman kere ini. Mereka mulai berpameran kecil-kecilan. Karya mereka sungguh sarat akan pemberontakan. Penganut anti-kemapanan kelas menengah tertarik dan ikut berkecimpung (walau kebanyakan hanya nimbrung ngebir dan nongkrong bareng). Gerakan anti-kemapanan atau apa pun nama gerakannya kini menjadi semakin luas. Kurator-kurator kelas atas mengajak mereka untuk bereksibisi di tingkat yang lebih tinggi (lebih komersil). Penikmat seni kelas atas dan kolektor melihat karya-karya penuh pemberontakan itu sebagai: otentik, orisinil, segar. Dan apakah sinonim otentisitas dalam kosa kata kesenian? Ya, mahal. Karya-karya ketidakmapanan yang awalnya hanya bisa kita temukan di gudang kotor para seniman kere, kini tergantung rapi di ruang tidur rumah pribadi orang-orang kaya.</p>



<p>Beginilah, yang alternatif selalu menjadi eksklusif. Yang kotor berubah jadi bersih. Hipster adalah para eksekutif muda dengan sobekan jeans yang lebih rapi.</p>



<p>Tapi inti tulisan ini bukan di situ. Saya sudah memaklumi semua kenyataan di atas sebagai sebuah siklus budaya yang lahir sejak kebebasan berekspresi (baca: bergaya) direstui di muka bumi ini. Karena, bagaimanapun, bumi ditinggali manusia dari kelas-kelas dan pemikiran yang tidak terlalu beragam. Karena tidak terlalu beragam inilah, kita justru mudah dikenali dan digolongkan. Kita adalah: si kere yang tidak berkeahlian dan rela bekerja apa pun demi duit, si kere yang berkeahlian (juga bekerja apa pun demi duit), si gak-kere-kere-amat-sih (yang bekerja demi duit dan keren), si gak kere berimage kere(n), si gak kere anti kekerean (yang hidup demi kekerenan).</p>



<p>Dalam sistem pengontrol bumi yang kapitalis, batas-batas antar kelas di atas hampir sulit ditembus, maka komunitas-komunitas pun terbentuk. Komunitas dalam arti rendah-hati-nya, menyatukan orang-orang dari berbagai kelas dalam sebuah minat yang sama. Dengan kata lain, kita yang secara rohaniah berdarah mangan-ra-mangan-yang-penting-ngumpul menembus tembok-tembok jasmani kapitalis. Lahirlah komunitas-komunitas dalam masyarakat: mulai dari komunitas ibu-ibu demen rajut setempat, komunitas pecinta cerita vampir, komunitas pecinta lampu antik keluaran 1950-an, hingga komunitas-komunitas yang lebih general: pecinta musik trashmetal, pecinta anjing labrador (biasanya sekaligus landrover), dan lain-lain hingga tak terhingga.</p>



<p>Komunitas ibu-ibu demen rajut setempat setelah bosan ketemuan di rumah tetangga yang agak besar membutuhkan tempat nongkrong dan keragaman aktivitas bersama. Mulailah mereka diversifikasi aktivitas jadi Rajut Sambil Arisan di sebuah restoran sepi pengunjung. Beberapa bulan kemudian, karena rekomendasi ibu-ibu ceriwis ini, penuhlah restoran tersebut. Dan tidak lama setelahnya, restoran itu tahu-tahu sudah punya Paket Macan Susan dalam menu mereka (Makan sambil Canda Khusus Arisan).</p>



<p>Komunitas pada dasarnya adalah kumpulan orang yang bergabung karena kesamaan area tempat tinggal, profesi, atau ketertarikan. Walau beberapa hanya terbentuk untuk kepentingan kelas yang sama, namun kebanyakan di antaranya sangat supel terhadap perbedaan kelas. Ketika kita bersama, kita merasa lebih hidup: berbagi cerita, berbagi suka duka. Kita merasa aman berada di lingkungan yang hangat dan tepat. Dan percaya atau tidak, ketika kita merasa aman dalam kelompok masing-masinglah, kita menjadi sasaran tembak yang paling empuk.</p>



<p>Selera hipster menjadi sasaran ketika mereka sama-sama mendownload musik yang sama dalam kurun waktu bersamaan, pergi ke konser musik indie mengenakan baju dan sepatu dengan selera senada, makan di tempat makan yang sama hingga tempat tersebut selalu terlihat penuh dan menjanjikan. Tanpa sadar, orang-orang yang melabeli dirinya ‘berbeda’ ini mencetak keseragaman, karena mereka berselera sama!</p>



<p>Yang eksperimental hanya akan menjadi pasar, ketika orang-orang berkeksperimen secara bersamaan. Tidak lama setelah para kreator alternatif nan garang muncul, tiba-tiba mereka menjadi gadungan dan mahal. Massa adalah kekuatan besar untuk membangun aspirasi orang banyak, sekaligus menjatuhkannya sebagai komoditi semata. Ini seperti lingkaran setan. Maka jangan bersedih jika siapa yang kita perjuangkan bersama, seringkali berjaya hanya sebagai ikon fashion di FO dan distro-distro. Rancangan ruang publik yang pernah kita diskusikan bersama di sebuah meja, dibangun sebagai sudut-sudut jualan dalam sebuah rancangan mega korupsi pemerintah kota.</p>



<p>Hati-hati kebersamaan. Hati-hati komunitas. Mengertilah apa yang harus kita mengerti ketika kita bergerombol. Apa yang kita anggap sebagai pembaruan, bisa berubah jadi destruksi mengenaskan bagi rumah kita sendiri.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://web.archive.org/web/20110918230001im_/http://1.bp.blogspot.com/_svos20ygfek/SKaSHr62_MI/AAAAAAAAADA/1fo7F97VzWY/s400/08_destruction+as+urban+spectacle_web.jpg" alt=""/></figure>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/karena-keren-bergentayangan-di-mana-mana/">Karena keren, bergentayangan di mana-mana.</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arianidarmawan.net/karena-keren-bergentayangan-di-mana-mana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seni &#038; Dialog</title>
		<link>https://arianidarmawan.net/seni-dialog/</link>
					<comments>https://arianidarmawan.net/seni-dialog/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ariani]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 05:52:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[/Essays]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arianidarmawan.net/?p=177</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/seni-dialog/">Seni &#038; Dialog</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.</p>



<p>Dalam keingintahuannya, sang anak telah berdialog dengan dunianya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri akan hal-hal yang menarik perhatiannya namun tak dimengertinya, kemudian setelah mampu melafalkan kata-kata, ia mulai melanjutkan dialog tersebut dalam tingkatan yang lebih tinggi pada individu dan lingkungannya.</p>



<p>Hal yang sama pun terjadi pada manusia dewasa. Karena akal dan budinya seseorang (dalam keadaan normal) secara instingtif berpikir tentang keberadaannya. Walaupun jarang diucapkan dalam perbincangan sehari-hari, namun manusia sebenarnya tak pernah berhenti bertanya akan ‘siapa aku, ‘kenapa harus begini’, ‘kapan aku bisa seperti dia’, dan segala macam pertanyaan yang berkaitan dengan eksistensi dirinya. Walaupun dialog tersebut lebih bersifat imajinatif (tak terucapkan), namun perbincangan tersebut merupakan pengejewantahan paling dasar perbincangannya dengan sesama dan lingkungan sekitarnya.</p>



<p>Dialog seringkali diinterpretasikan sebagai perbincangan dua arah antara dua pihak. Manusia melupakan, bahwa ketika ia berdialog dengan lawan bicaranya, ia juga berbicara pada dirinya sendiri. Manusia selalu memulainya dengan perbincangan internal (perbincangan dengan alam dan dirinya sendiri), namun apa yang ia renungkan tak mungkin berakhir dalam pikiran saja, namun secara nyata menghasilkan buah (pikiran / renungan) yang dapat berupa wujud gerakan / gestur alamiah tubuh (luapan amarah, tawa, tangisan), juga wujud pemikiran yang tertuang dalam bentuk teraba (perbincangan, karya seni, tulisan).</p>



<p>Dalam hal ini, perilaku sosial manusia / pelakunya, dialog dapat dibagi menjadi: dialog internal individu, merupakan dialog perenungan awal yang dilakukan manusia dalam merespons keadaan sosial di sekitarnya, dan dialog eksternal antar individu, yang merupakan dialog di tahap selanjutnya, yaitu tahap di mana seseorang mulai membutuhkan&nbsp;<em>output</em>&nbsp;atas perenungan (dialog) di yang bergumul dalam dirinya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>For it is certain that a work of art has nothing to prove ‘socially’, it is certain that it must be human: a lesson.</p>
</blockquote>



<p>Tema ‘dialog’ telah cukup sering diangkat menjadi tema dalam eksibisi-eksibisi seni dan juga program acara pada film-film festival di dalam maupun luar negeri. Di saat perang antar agama, ras dan golongan terus berkecamuk di seluruh penjuru dunia, sebagian orang yang masih merindukan adanya persatuan dan kedamaian tak henti pula menyerukan keprihatinannya. Banyak para seniman (pelukis, pematung, sastrawan, pekerja film) yang kini semakin merasa betapa vitalnya peranan mereka dalam menjembatani dialog antar masyarakat dan juga antara masyarakat dengan para penguasa yang kini semakin menjurang. Lalu di manakah sebenarnya letak dan kedudukan seni dalam masyarakat?</p>



<p>Sejak abad 20 dimulai, ketika politik dan kehidupan sosial menjadi lebih terbuka di dunia yang menjunjung tinggi modernitas dan ketransparanan, seni tidak lagi dinilai sebagai medium ekspresi para senimannya dalam menghasilkan karya estetis belaka. Sejak saat itu mulai bermunculan karya-karya seni yang diangkat sebagai manifesto politis para seniman/golongannya dalam melawan kekuasaan. Dalam hal ini, sebuah lukisan, misalnya, tidak lagi hanya dipandang sebagai sebuah dekorasi ruangan yang indah menawan, namun juga sebagai penggerak kehidupan intelektual masyarakatnya. Bahkan sejak munculnya modernisme, tidak jarang kita temukan gerakan-gerakan anti-estetis / anti-fasade dalam seni. Tugas utama yang diemban bidang seni bukan lagi untuk mengemukakan keindahan saja, namun juga kebenaran. Kebenaran macam apakah yang dicari di dalam seni? Bukankah kebenaran bisa saja merupakan kebohongan yang berkedok ‘kebenaran’?</p>



<p>Di sinilah, dialog berperan. Kejujuran seorang seniman dalam melihat diri dan gejolak di sekitarnya menjadi awal ‘perbincangan’nya dengan karya yang ia hasilkan. Hal tersebut sekaligus akan menciptakan dialog yang berkesinambungan antara sang seniman sebagai individu dengan masyarakatnya. Dalam hal ini seniman tidak lagi berperan sebagai ‘pesolek’ yang menghibur, namun lebih dari itu ia justru harus dapat mengungkapkan kebenaran akan kecantikan/ketidakcantikan, kebaikan/ketidakbaikan, sekaligus secara simultan mempertanyakan keberadaan konsep tersebut.</p>



<p>Dalam karya-karya yang terbuka dan kritis pula lah, seni berdialog. Dalam suatu wawancaranya, Lenin pernah mengungkapkan pemikirannya tentang seni: Seni adalah milik masyarakat. Ia harus dapat direngkuh dan dicintai oleh kita semua. Ia harus dapat mempersatukan gejolak emosi, pikiran dan idealisme masyarakat, sekaligus mengembangkan segi intelektual masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi. Keberhasilan ini akan menciptakan dialog yang lebih terbuka antara seniman dan masyarakat luas, dan bersama mereka menciptakan sebuah seni baru yang lebih dewasa.</p>



<p>Dialog yang terbuka ini kini semakin dimungkinkan dengan kehadiran teknologi yang bermunculan tepat di tengah-tengah masyarakat. Dengan berkembangnya teknologi pula, medium interaksi masyarakat pun menjadi semakin beragam. Dengan adanya SMS, e-mail, internet&nbsp;<em>chatting</em>, kini kita menjadi lebih terbiasa ‘mengirimkan pesan tertulis’ ketimbang ‘menyampaikan pesan secara langsung’. Bahkan seseorang pun dapat menyatakan uneg-uneg dan bahkan cintanya dengan cara-cara baru yang diciptakan oleh media (melalui&nbsp;<em>reality show</em>&nbsp;di TV, atau&nbsp;<em>on air</em>&nbsp;di radio). Hal-hal tersebut di satu sisi memang dapat dinilai sebagai wadah ‘pemerkosaan’ kehidupan pribadi seseorang, namun di lain sisi, apabila kita cermati, media-media terbuka semacam ini pun sebenarnya membuka kesempatan bagi masyarakat untuk secara kritis berdialog, mengungkapkan perenungannya ke tingkat yang lebih tinggi dan luas.</p>



<p>Film, video (<em>motion picture</em>), sebenarnya adalah adegan realitas yang dikemas kembali (direproduksi) menjadi sebuah tayangan. Ketika kita menonton film atau bahkan tayangan sinetron di TV, tidak jarang kita hanyut dalam penuturannya. Kita seringkali tersentuh karena pada saat yang sama kita pun turut berdialog, mengasosiasikan kejadian dan penokohan pada film dengan kehidupan nyata kita. Kekuatan film seringkali memiliki daya hipnotis yang membuat kita masuk ke dalam dunia simulasinya.</p>



<p>Apabila dibandingkan dengan medium seni yang lain (lukisan, patung, seni instalasi, musik, sastra), film merupakan medium yang –karena unsur visualnya yang bergerak– paling mudah dapat diserap orang masyarakat luas. Film, bergerak dari hakikatnya sebagai sebuah medium penggambaran (sinematografi), kini menjadi medium penceritaan yang berkemampuan luar biasa, sehingga tidak jarang kita mendapati film-film propaganda yang secara politis dibuat untuk kepentingan ‘penggerakan’ massa. Dalam film-film semacam ini, dialog yang terjadi hanyalah satu arah. Dengan daya hipnotisnya, masyarakat didikte akan suatu idealisme yang meneror, melumpuhkan kemampuan berpikir, dan yang berusaha untuk ‘mempersatukan’ mereka dengan paksa.</p>



<p>Dan malangnya, betapa memang rentan dan mudahnya manusia terpengaruh. Dengan semakin mudahnya aksesibilitas komunikasi di jaman ini, semakin mudah pula timbul perpecahan dan kesalahpahaman di antara kita. Hal tersebut dipacu oleh tendensi perilaku manusia yang selalu merindukan pembaruan dan perbedaan, di mana semakin banyak persamaan yang ada di antara kita, akan semakin tinggi pulalah hasrat manusia untuk mencari ‘pembeda’, yang dapat menghancurkan homogenitas tersebut.</p>



<p>Dan di sini lah, kekritisan dunia seni diuji. Sebuah karya, sebenarnya baru dapat dikatakan ‘berhasil’ apabila ia mampu menciptakan dialog dua arah antara pembuat-penikmat, penikmat-penikmat. Dan keberhasilan itu akan mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi, apabila karya tersebut kemudian mampu menjadi bahan refleksi dalam dialog internal para penikmatnya, apabila mampu membuat kita merenung: sebuah reaksi intelektual yang tentunya tidak akan tumbuh dalam diri kita, tanpa usaha pengasahan: keterbukaan pikiran dan keingintahuan yang mendalam. [<strong>Ariani Darmawan</strong>]</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/seni-dialog/">Seni &#038; Dialog</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arianidarmawan.net/seni-dialog/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Festival Film, Film Financing, dan Ideologi ber-Film</title>
		<link>https://arianidarmawan.net/festival-film-film-financing-dan-ideologi-ber-film/</link>
					<comments>https://arianidarmawan.net/festival-film-film-financing-dan-ideologi-ber-film/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ariani]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 12:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[/Essays]]></category>
		<category><![CDATA[On Films]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arianidarmawan.net/?p=218</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam satu bulan ini, saya diundang ke dua buah acara film, Freedom Film Festival di Kuala Lumpur, dan Asian Film Symposium di Singapura. Keduanya saya pikir adalah model ideal dari sebuah festival: suasana yang intim, di mana diskusi antar pembuat dan penonton masih terjalin dengan baik, sederhana namun rapi dalam pelaksanaan (tepat waktu, tepat sasaran/audiens, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/festival-film-film-financing-dan-ideologi-ber-film/">Festival Film, Film Financing, dan Ideologi ber-Film</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full wp-duotone-grayscale"><img loading="lazy" decoding="async" width="450" height="350" src="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/afs.jpg" alt="" class="wp-image-219" title="afs" srcset="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/afs.jpg 450w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/afs-300x233.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 450px) 100vw, 450px" /></figure>



<p class="has-small-font-size"><a href="https://web.archive.org/web/20081215094700/http://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2008/09/afs.jpg"></a>Dalam satu bulan ini, saya diundang ke dua buah acara film, Freedom Film Festival di Kuala Lumpur, dan Asian Film Symposium di Singapura. Keduanya saya pikir adalah model ideal dari sebuah festival: suasana yang intim, di mana diskusi antar pembuat dan penonton masih terjalin dengan baik, sederhana namun rapi dalam pelaksanaan (tepat waktu, tepat sasaran/audiens, ini berarti tepat pemasaran), serta program yang fokus dan mendalam dalam tema. Tentunya ini berhubungan dengan alasan utama sebuah festival film diadakan, yaitu untuk menjalin hubungan ‘persaudaraan’ antara film (pembuat film) dan penontonnya. Hal ini diusung baik oleh festival-festival pemula yang selalu utopis dalam cetak biru, namun dijamin pudar ketika berkembang dalam kuantitas program dan pencapaian jumlah audiens. Akhirnya, film-film festival besar tidak lagi berhasil membuat film-film yang ditayangkannya meraih audiens yang tepat. Lupakan sarasehan antara sesama pembuat dan penikmat film, karena dalam skala geografis yang gigantik, mereka yang datang biasanya sudah terlalu lelah bersosialisasi demi mengejar film dari satu bioskop ke bioskop lainnya.</p>



<p class="has-small-font-size">Saya jadi ingat ribut-ribut MFI (Masyarakat Film Indonesia) ‘mengganyang’ FFI (Festival Film Indonesia) dua tahun lalu. MFI bukannya menolak keberadaan FFI, namun untuk apa sebuah festival diadakan hanya untuk membagikan gebyar penghargaan tanpa adanya apresiasi timbal balik antara pembuat dan penikmat film? Jelas dalam ajang macam FFI ataupun Academy Awards, film hanyalah sekeping komoditas. Bagaimana tidak, dalam ajang-ajang semacam itu bukannya film-filmnya yang dipasang, tapi hanya judul film plus pajangan keglamoran banci-banci tampilnya saja (Dalam undangan FFI 2005 ditulis: “Busana: Glamour”). Ok lah untuk film-film panjang yang dianggap sudah sempat ditonton oleh penikmatnya di bioskop-bioskop komersil, tapi bagaimana dengan penayangan film-film pendek dan dokumenter yang tidak memiliki akses cukup luas bagi penikmatnya? Bukankah tugas festival justru adalah mensosialisasikan film-film semacam ini, dan terutama membuka forum dialog antar pembuat dan penontonnya?</p>



<p class="has-small-font-size">Freedom Film Festival dicetuskan oleh sebuah LSM bernama Pusat Komas (singkatan dari Pusat Komunikasi Masyarakat) yang berpusat di Kuala Lumpur. Misi mereka jelas, yaitu menginformasikan isu-isu yang selama ini tabu dibicarakan dalam masyarakat Malaysia. Film-film bertemakan HAM (baca: diskriminasi SARA) yang dipasang non stop dari jam 11 pagi hingga 9 malam berhasil mendobrak mata dan pikiran saya sekaligus: mulai dari The Black Road karya sutradara William Nessen yang bercerita tentang kekejaman TNI pada rakyat Aceh (film ini dibanned di JiFFest tahun lalu), film Pecah Lobang karya Poh Si Teng yang mengilustrasikan suka duka perjuangan para transvestite hidup di sebuah negara Islam, hingga What Rainforest? garapan Hilary Chiew dan Chi Too tentang perebutan lahan rakyat di Sarawak oleh pemerintah dan perusahaan swasta untuk (TENTUUU) dijadikan ladang kelapa sawit. Gilanya, 60 persen perusahaan swasta tersebut konon adalah perusahaan swasta Indonesia. Ah.. Salahkanlah orang-orang rakus tanpa otak dan hati itu jika kita akhirnya dicemooh sebagai ‘Indon’.</p>



<p class="has-small-font-size">Setelah setiap pemutaran, nara sumber yang diundang lalu diajak berdiskusi dengan para penonton. Saya kagum melihat penonton Kuala Lumpur selalu memadati Annexe Theatre dan tidak pernah lelah mengikuti diskusi setelah setiap pemutarannya. Di sini pertukaran wacana antar budaya bahkan antar individu terjadi. Sungguh sebuah pemandangan yang membuat saya bersyukur medium film pernah diciptakan. Datang ke acara semacam ini saya menjadi lebih yakin bahwa, jika mau peduli, kita tidak pernah sendiri.</p>



<p class="has-small-font-size">Asian Film Symposium yang diselenggarakan oleh Substation tahun ini memasuki penyelenggaraannya yang ke-8. Berbeda dengan Freedom Film Fest, fokus AFS lebih pada showcase film-film Asia dengan pencapaian tertentu. Selain untuk mempererat jaringan perfilman di Asia, awalnya AFS diadakan untuk menggali potensi para <em>programmer</em> film di Asia. Namun sejak 3 tahun terakhir ini, AFS juga mengundang para pembuat film untuk turut berbagi pengalaman. <em>Highlight</em> dalam AFS adalah S-Express, sebuah jaringan program film pendek yang melibatkan Malaysia, Indonesia, Singapura, Filipina, Thailand, Hongkong, RRC, dan Taiwan. Di luar itu, diadakan pula program-program spesial semacam <em>producer’s workshop</em> dan f<em>ilm financing forum</em>.</p>



<p class="has-small-font-size">Kedua forum tersebut bisa jadi terdengar kadaluarsa. Hampir setiap festival film mengangkat tema ini dalam setiap&nbsp;<em>workshop</em>nya. Bila tidak harus berada dalam panel forum, besar kemungkinan saya lebih memilih jalan-jalan di bawah terik matahari. Namun jika dipikir-pikir lagi, keinginan menghindari forum semacam ini bukan karena saya bosan mendengar keluhan dan solusi yang sama yang terus-menerus dilontarkan, tapi lebih karena itu semua membuat saya semakin sadar betapa beratnya perjuangan membuat film.</p>



<p class="has-small-font-size">Dalam kesempatan itu saya sungguh beruntung bisa mendengar banyak cerita dari&nbsp;<em>programmer</em>&nbsp;maupun&nbsp;<em>filmmaker</em>&nbsp;asam-garam Asia, mulai Alexis Tioseco dan Rayya Martin dari Filipina, Chalida&nbsp;Uabumrungjit&nbsp;dari Thailand, Angie Chen dan Jessie Tseng dari Hong Kong, hingga Maggie Lee yang bermukim di belahan dunia mana pun. Saya dan Varadila mewakili Indonesia. Satu demi satu pembicara berbicara tentang pengalamannya di negeri masing-masing. Ternyata, hampir semua negara memiliki&nbsp;<em>film commission</em>&nbsp;yang secara berkala menyokong gairah muda-mudinya membuat film, walau beberapa memiliki regulasi yang sangat aneh: misalnya pemerintah Filipina akan berbalik mendenda pembuat film yang telat tenggat, juga pemerintah Thailand yang mencicil uang produksi dan seringkali sok-sok ‘lupa’ melunasi di akhir periode. Tapi lumayanlah, ketimbang Indonesia yang sama sekali tidak punya&nbsp;<em>film commission.</em>&nbsp;Setahu saya Depbudpar memiliki program sayembara penulisan skenario dengan tema budaya, namun sayangnya selalu gagal dalam produksi dan distribusi. Coba cari dan tonton saja Anne van Yogya.</p>



<p class="has-small-font-size">Semakin maju sebuah negara, semakin mudahlah para muda-mudi merogoh saku pemerintah mereka dalam membuat film. Singapura punya Singapore Film Commission yang satu tahunnya bisa mengucurkan dana untuk 5 film panjang dan puluhan film pendek. Hong Kong bahkan punya Arts Council yang mampu menyokong puluhan senimannya untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.</p>



<p class="has-small-font-size">Selain bicara tentang peran pemerintah, masing-masing pembicara lalu mengajukan model-model pendanaan film di negaranya. Mereka yang terjun ke dunia film mungkin sudah sering mendengar tentang dana-dana yang dikucurkan oleh festival-festival film bagi skenario pilihan, yang paling beken tentunya Hubert Bals Fund dari International Film Festival Rotterdam (ini khusus untuk negara berkembang) dan Asian Film Fund dari Pusan International Film Festival. Juga The Global Film Initiative dan Sundance Screenwriter’s Lab di AS. Filmmaker kita boleh bersyukur bisa mendapatkan <em>privilege</em> ‘khusus Indonesia’ dalam JiFFest Script Development Competition. Namun model pendanaan di atas yang berkisar di 10.000 USD seringkali hanya mampu menghidupi si penulis untuk menyelesaikan skenario, atau meringankan beban fase-fase pendanaan awal produksi film mereka. Setelah itu, tentunya sang pembuat film harus pontang-panting lagi mencari kucuran duit sana-sini. Inilah fase tersulit, karena lupakan PH-PH besar yang enggan melirik skenario-skenario berkiblat non-pasar.</p>



<p class="has-small-font-size">Saya lalu sedikit berkisah tentang bagaimana trendinya film di Indonesia saat ini. Bahwa ketika banyak perusahaan swasta ingin menggunakan film sebagai alat promosi mereka, seharusnya kita bisa menunggangi balik kepentingan mereka itu. Ini memang jamannya azas simbiosis mutualisme, bukan parasit. Apalagi parasit terbang. Kalau saja di Indonesia masih belum terlalu banyak perusahaan swasta atau yayasan yang menoleh pada film, adalah tugas para pembuat dan produser film untuk membuka kanal tersebut, mengolah ide mereka hingga bisa ‘nyambung’ dengan ideologi perusahaan atau yayasan tertentu. Tentunya ini bukan berarti&nbsp;<em>filmmaker</em>&nbsp;harus membabukan diri. Saya percaya bahwa semua orang punya kepentingan, dan satu-dua agenda bisa dijalankan dalam visi yang sama.</p>



<p class="has-small-font-size">Saya pun sedikit angkat bicara tentang proyek 9808 (kumpulan 10 film pendek – Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia). Entah mengapa, saya benar-benar merasa bahwa proyek omnibus semacam 9808 (yang notabene sepenuhnya <em>self-funded</em>) adalah proyek masa depan film Indonesia, bahkan Asia. Beberapa kali saya mendengar curhatan dari teman-teman sesama pembuat film yang mengutarakan bagaimana 9808 memberikan harapan baru bagi perfilman nasional kita. Saya yang mudah terharu ini menjadi sedikit hiks-hiks. Syukurlah kalau bisa jadi inspirasi.</p>



<p class="has-small-font-size">Dalam forum, Chalida menambahkan bahwa dalam merancang sebuah program film pendek, ia selalu kesulitan memasukkan film-film tersebut dalam sebuah tema besar. Dan oleh karenanya program yang ia rancang seringkali tidak diindahkan oleh&nbsp;<em>venue-venue</em>: bioskop ataupun festival film. Lain halnya dengan proyek omnibus yang biasanya mengusung sebuah tema besar, sehingga lebih mudah membidik&nbsp;<em>venue</em>&nbsp;dan audiens yang tepat. Kami memang tidak mendesain 9808 sebagai sebuah karya&nbsp;<em>for-the-sake-of-film</em>, tapi lebih sebagai medium pembuka dialog. Dan di sinilah skema distribusi menjadi sangat penting. Antologi yang muncul Mei 2008 kemarin ini masih akan terus berkeliling ke berbagai belahan dunia dan Nusantara, sebelum akhirnya suatu hari nanti didistribusikan via DVD (bahkan mungkin dalam bentuk lainnya, musik, tulisan?). Benar kata Prima Rusdi (induk semang proyek 9808 yang dinaungi oleh Proyek Payung ini) yang mengatakan bahwa rantai hubungan antara pembuat film dan penikmatnya akan memudar begitu ia didistribusikan dalam bentuknya yang individu (baca: DVD/<em>home movie</em>).</p>



<p class="has-small-font-size">Ujung-ujungnya, forum semacam ini selalu membuat saya bertanya pada diri sendiri: untuk apa saya membuat film? Pertanyaan sok reflektif ini diperkuat dengan kegemasan saya setelah habis menonton program film pendek dari Thailand dan Malaysia, yang rata-rata menggambarkan sosok-sosok individu Asia kesepian melanglangbuana tanpa kejelasan plot, dan seringkali berakhir dengan kematian. Saya jadi ingat kembali pengalaman saya menonton program Asian Shorts di beberapa festival internasional, film-film yang dipajang selalu sukses membuat saya depresi. Dalam kesempatan berdiskusi di AFS kemarin, saya bertanya lantang, FENOMENA MACAM APAKAH INI? Apakah benar hasrat bunuh diri orang Asia sebegitu tingginya? Atau itukah cara Barat memandang Timur?</p>



<p class="has-small-font-size">Saya cukup kaget mendengar penjelasan Chalida. Ia bilang, “Salahkanlah programmer festival, terutama festival di negeri barat,  karena mereka selalu memilih film-film semacam itu. Saya selalu menyertakan film-film ceria dengan banyak dialog, tapi hampir tidak pernah dilirik”. Ohh… begitu malang. Juga begitu jelas. Sebegitu eksotisnyakah kesunyian dan kesedihan orang-orang Timur? Begitu rendahnya-kah orang-orang Asia sehingga rela didefinisikan dengan begitu superfisialnya oleh orang-orang Barat? Dan sadarkah kita bahwa dengan membuat film-film semacam itu kita turut mendefinisikan diri sebagai manusia Timur yang lemah, <em>suicidal</em> dalam ideologi? Saya jadi teringat sekitar dua tahun lalu saya, Budi, dan Tumpal menertawakan fenomena bermunculannya <em>tormented artist </em>di sudut-sudut kota besar Indonesia. Jaman macam apakah yang memberi tempat pada seniman-seniman <em>pathetic</em> yang hanya bisa mengasihani kehidupannya sendiri? Jangan salahkan siapa-siapa jika negara ini tidak bisa maju karena individu semacam itu tidak hanya berkeliaran bebas, namun juga diekspos dengan lampu watt terbesar. Ah, jika kesepian dan penderitaan begitu seksi, saya ingin berpesta dan tertawa semalam suntuk.</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/festival-film-film-financing-dan-ideologi-ber-film/">Festival Film, Film Financing, dan Ideologi ber-Film</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arianidarmawan.net/festival-film-film-financing-dan-ideologi-ber-film/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kota dan Sinema</title>
		<link>https://arianidarmawan.net/kota-dan-sinema/</link>
					<comments>https://arianidarmawan.net/kota-dan-sinema/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ariani]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Jun 2006 05:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[/Essays]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arianidarmawan.net/?p=167</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti layaknya tubuh manusia yang hidup dengan aliran darah dan denyut jantung, sebuah kota terbentuk akibat adanya pergerakan manusia-manusianya. Tidak heran jika ciri kota sangatlah ditentukan oleh perilaku masyarakatnya: situasi dan kondisi lingkungan, tata letak/rancang kota, sistem transportasi, dan terutama sistem tata niaga setempat . Seperti halnya kota-kota pesisir pantai seperti Semarang, Batavia, Penang, Lisboa, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/kota-dan-sinema/">Kota dan Sinema</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seperti layaknya tubuh manusia yang hidup dengan aliran darah dan denyut jantung, sebuah kota terbentuk akibat adanya pergerakan manusia-manusianya. Tidak heran jika ciri kota sangatlah ditentukan oleh perilaku masyarakatnya: situasi dan kondisi lingkungan, tata letak/rancang kota, sistem transportasi, dan terutama sistem tata niaga setempat . Seperti halnya kota-kota pesisir pantai seperti Semarang, Batavia, Penang, Lisboa, kota-kota tersebut terbentuk pertama kalinya sebagai area penghubung perdagangan antar daerah. Barang-barang yang dipertukarkan di daerah pesisir kemudian dibawa untuk dipertukarkan kembali di daerah-daerah lain yang letaknya lebih terpencil / jauh dari area perdangangan terbuka. Dengan adanya&nbsp;<em>support</em>&nbsp;barang dari luar, industri lokal yang kebanyakan berupa industri pengolahan sumber daya alam setempat, dapat meningkatkan daya produksinya. Daerah-daerah ini kemudian perlahan berubah fungsi dari daerah produsen menjadi daerah pengolah, lalu penjual. Di saat itulah masyarakat luar mulai berdatangan untuk melakukan transaksi jual-beli.</p>



<p>Masing-masing daerah terus berkembang hingga suatu saat mereka mencapai kemandirian di mana mereka mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini masyarakat telah mampu membangun jaringan ke luar daerah: dan pergerakan masyarakat antar daerah pun berkembang sesuai dengan laju pergerakan barang. Perilaku masyarakat mandiri ini cenderung untuk terus bertahan hingga suatu perabadan, secara cepat maupun perlahan, masuk ke daerah tersebut. Peradaban baru ini dapat masuk secara paksa (seperti penjajahan) maupun tanpa paksa seperti lahirnya era modern yang revolusioner di akhir abad 19. Dengan teknologi dan kemudahannya modernitas meningkatkan pergerakan manusia, namun derasnya adrenalin tidak selalu dibarengi oleh kapasitas organ manusia. Di jaman dan dalam&nbsp;<em>setting</em>&nbsp;kemanusiaan vs modernitas inilah sinema lahir, dan hidup subur hingga hari ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="400" height="101" src="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema1.jpeg" alt="" class="wp-image-169" srcset="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema1.jpeg 400w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema1-300x76.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px" /></figure>



<p style="font-size:12px">400 Blows (Truffaut), Manhattan (Woody Allen), Yi yi (Edward Yang)</p>



<p>Walaupun tidak selalu menjadi tema utama dalam film, kota adalah bagian yang tak pernah terpisahkan dari sinema. Selain waktu, tempat dan ruang adalah unsur utama pembentuk plot cerita. Sebuah tempat, ruang, atau&nbsp;<em>setting</em>&nbsp;dalam sinema merupakan bagian kecil dari ‘<em>setting</em>nya yang lebih besar’, yaitu kota. Tidak jarang kita menemukan film-film dengan penekanan ciri khas kota dan karakter-karakter pembentuknya (film-film dan karakter&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://www.woodyallen.com/">Woody Allen</a>&nbsp;yang New York&nbsp;<em>banget</em>,&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://www.sensesofcinema.com/contents/directors/03/truffaut.html">François Truffaut</a>&nbsp;yang Paris&nbsp;<em>banget</em>,&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://www.sensesofcinema.com/contents/directors/02/yang.html">Edward Yang</a>&nbsp;yang Taipei&nbsp;<em>banget</em>).</p>



<p>Jika kota terbentuk secara spontan sejak budaya perdagangan menjamah kota-kota Eropa di awal milenium pertama, teknologi film baru ditemukan di akhir abad 19 bersamaan dengan merebaknya modernism (lagi-lagi) di Eropa. Ketika itu&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://www.holonet.khm.de/Visual_Alchemy/lumiere.html">Lumiere Brothers</a>&nbsp;sebagai orang-orang pertama yang mempopulerkan kamera film di tengah masyarakat luas tidak pernah berhenti bereksperimen menangkap momen dalam gambar (baca: bersinematografi) dengan mengunjungi kota-kota di seluruh dunia, hingga ke pelosok India dan Cina.</p>



<p>Namun baru sekitar dekade 1920-an muncul film-film bertemakan urban. Dziga Vertov dengan “<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://en.wikipedia.org/wiki/Man_with_the_Movie_Camera">The Man with the Movie Camera</a>“,&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://www.sensesofcinema.com/contents/directors/04/eisenstein.html">Sergei Eisenstein</a>&nbsp;dengan “<strong>Strike</strong>“, Walter Ruttman dengan “<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://www.sensesofcinema.com/contents/cteq/00/5/berlin.html">Berlin, the Symphony of a Great City</a>” tidak lagi sekadar menangkap momen-momen yang terjadi di kota mereka, tetapi mulai menggunakan kota sebagai&nbsp;<em>setting</em>&nbsp;utama film-film mereka, bahkan meredefinisi hakikat kota sebagai pondasi kehidupan sosial masyarakatnya.</p>



<p>Dengan filmnya Vertov mempertanyakan kembali perbedaan dan kesamaan realita yang dilihatnya dengan dan tanpa kamera film. Tentang filmnya, ia berkomentar: ‘ Aku adalah mata kamera. Aku, sebuah mesin, hendak memperkenalkan kembali pada dunia, hal-hal yang sehari-hari hanya dapat di‘lihat’ dengan mata. Sejak saat ini, aku bebas bergerak. Aku bergerak mendekati dan menjauhi segalanya, aku merangkak di bawah mereka, di atas mereka. Jalan yang kutempuh membawa manusia menuju sebuah kreasi dengan persepsi yang benar-benar baru tentang dunia. Aku, dapat dikatakan, menciptakan sebuah dunia yang tak pernah ada sebelumnya.”</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="400" height="95" src="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema2.jpeg" alt="" class="wp-image-171" srcset="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema2.jpeg 400w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema2-300x71.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px" /></figure>



<p style="font-size:12px">The Man with the Movie Camera, Dziga Vertov, 1929</p>



<p>Sedangkan Walter Ruttman dan Sergei Eisenstein (Ruttman dengan kota Berlin, dan Eisenstein dengan St. Petersburg) berusaha untuk menampilkan modernitas, produktifitas, dan dinamika kota dan masyarakatnya dengan penggunaan teknik&nbsp;<em>montage</em>&nbsp;bertempo cepat. Berbagai isme estetis yang marak di dunia internasional saat itu, dari Futurisme Italia hingga Suprematisme Rusia, tampak jelas mempengaruhi film-film yang beredar di dekade ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="400" height="95" src="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema3.jpeg" alt="" class="wp-image-172" srcset="https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema3.jpeg 400w, https://arianidarmawan.net/wp-content/uploads/2023/11/kotadansinema3-300x71.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px" /></figure>



<p style="font-size:12px">Berlin: The Symphony of a Great City, Walter Ruttman, 1927</p>



<p>Lalu Perang Dunia II merubah segalanya. Amerika yang saat itu telah dikukuhkan sebagai the First World mulai menapakkan kakinya di dunia dengan menciptakan jaringan-jaringan ekonomi internasionalnya. Keberhasilannya dalam meningkatkan harkat martabat manusia sebagian orang menambah buruk banyak yang lainnya. Kemiskinan dan kecemburuan sosial merajalela justru di tengah industri sedang kembali marak-maraknya setelah terpuruk akibat Perang Dunia I.</p>



<p>Tema keterasingan manusia di tengah perkembangan dunia kapitalis yang seakan tidak pernah lelah berlari mengejar masa depan ini menjadi tema utama film-film di Eropa hingga akhir 1940an: gerakan&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://en.wikipedia.org/wiki/Poetic_realism">poetic realism</a>&nbsp;di Perancis,&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://www.inblackandwhite.com/ItalianNeorealismv2.0">neo-realism</a>&nbsp;di Italia. Pergerakan semacam kembali diproduksi di dekade 50-60an oleh tangan-tangan sineas muda&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://www.imagesjournal.com/issue04/features/newwave.htm">French New Wave</a>, disusul dengan&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://en.wikipedia.org/wiki/New_German_Cinema">New German Cinema</a>, Italian dan&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://en.wikipedia.org/wiki/British_New_Wave">British New Wave</a>. Walaupun hanya hidup selama dua dekade, tidak sedikit pengaruh yang diberikan oleh para sutradara muda ini. Film-film mereka bersifat revolusioner, malah terkadang terasa militan. Dunia dongeng romantis yang dielu-elukan film-film klasik Amerika di tahun 1930-1940an ini tiba-tiba diambil-alih oleh film-film&nbsp;<a href="https://web.archive.org/web/20160623155304/http://faculty.uwb.edu/mgoldberg/courses/definitions/counter-cinema.htm">counter-cinema</a>&nbsp;dengan penggambaran dunianya yang kelam yang disesakki oleh deru kendaraan bermotor, baku tembak, dan egoisitas manusia. Menonton film-film ini, kita seakan diingatkan kembali pada dunia dan kemurtadannya.</p>



<p>Kegelisahan serupa yang terjadi empat puluh tahun lalu di Eropa, mulai merambat ke negara-negara dunia ketiga di dekade 80-an. Tema-tema keterasingan manusia di tengah hiruk pikuk modernitas kini seringkali menjadi tema film-film Latin Amerika, Cina, Afrika, Iran, hingga sinema Asia, setelah beberapa dekade sebelumnya (dekade 50 – 70an) lebih banyak mengeluarkan film-film anti-kolonialisme.</p>
<p>The post <a href="https://arianidarmawan.net/kota-dan-sinema/">Kota dan Sinema</a> appeared first on <a href="https://arianidarmawan.net">⌂ arianidarmawan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arianidarmawan.net/kota-dan-sinema/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
