
Sepanjang Jln. Kenanga
3-channel video installation, color, sound
8:30 mins (loop)
28 Juni – 1 September 2024
@artjog.id
Cinematographer/editor: Joedith Tjhristianto
Featuring: Budi Warsito, Meicy Sitorus, Dwi Kartika Yudhaswara
Sound designer: Dody Alfajr
Saya menampilkan perjalanan penumpang di kursi belakang sebuah mobil melalui instalasi tiga layar video berupa proyeksi pandangan kaca depan, serta kaca sebelah kiri dan kanan penumpang. Pengunjung yang menonton instalasi video ini seolah menjadi penumpang di kursi belakang dan turut mendengar percakapan antara dua orang teman baik. Y, penumpang di kiri depan, bercerita tentang pengalamannya diramal belum lama lalu.
Tiga layar dalam bentuk tiga perjalanan ini mencerminkan satu ramalan yang bisa diinterpretasikan menjadi tiga kemungkinan bagi tiga orang yang berbeda, atau bahkan oleh satu orang yang sama. Seperti ramalan yang bagi saya tidaklah lebih dari tebakan atas masa depan yang disusun secara tambal sulam dengan segala permutasi kemungkinan (bisa terjadi dan bisa saja tidak), susunan video di masing-masing perjalanan pun saya buat dengan pola tertentu sekaligus acak dengan beberapa bagian yang tidak masuk akal. Bagi saya mustahil manusia bisa mengetahui sepenuhnya apa yang akan terjadi. Kita hanya bisa menerka-nerka masa depan berdasarkan riwayat, ingatan, hitungan, dan mungkin harapan.
Kabar Benda Diam
Ariani Darmawan &
Ferdiansyah Thajib
2012, Mixed Media Installation
Setiap benda yang tergeletak di rumah menyimpan cerita. Cerita ini beririsan dengan gerak manusia di sekitarnya, tumbuh bersama ruang-ruang, menjadi sebuah ingatan. Benda, dan cerita-cerita itu, menyusun sejarah sebuah rumah. Kami mencoba menelusuri hubungan antara benda-benda dan ruang-ruang dalam kerja kolaborasi ini, diawali proses percakapan antar kota yang menekankan pada pengalaman keseharian. Pertanyaan-pertanyaan sederhana pun berproses menjadi dialog akan ingatan yang berkelok-kelok.
Sebuah obyek menguraikan peristiwa dan hubungan yang mengantarkan kita pada sebuah jagad kecil: rumah. Sedangkan rumah terbentuk dan dibentuk oleh sistem tatasurya-nya, dirancang secara cermat oleh sosok arsitek sekaligus penjaga tatanan: Ibu. Subyektivitas dan persepsi kita ditempa pertama-tama melalui pandangan seorang ibu, layaknya sebuah wadah yang mencerap dan kelak berevolusi menjadi jati diri. Kepribadian ini yang kemudian dianggap siap menjadi pandu bagi dunia berikutnya: singkatnya, ini yang disebut regenerasi makna.
Namun kembali ke niatan eksploratif proyek ini, determinasi tersebut bukanlah sasaran utama meskipun dalam prosesnya ia selalu menghantui. Alih-alih, kami kembali memercayakan jawabannya pada tatanan benda-benda rumah tangga dalam peredarannya yang membentuk sejarah keluarga.
Di balik jajaran fasad datar kawasan perumahan perkotaan, benda-benda rumah tangga tergeletak dalam diam, menyaksikan simpang-siur ritus perjalanan anak-anak dan sosok ibu yang memastikan kerapian. Di sini babak demi babak drama keluarga terlontar. Secara serentak dan berbarengan, mereka menyusun kenangan, cerita hidup.
Dalam karya ini, kami merekonstruksi sebuah ruang keluarga melalui penataaan meja makan dan kulkas. Di meja makan, keluarga berkumpul, mulai dari bertukar cerita sehari-hari hingga merancang hari esok yang lebih baik. Di dalam kulkas, Ibu menyimpan bahan-bahan masak yang ia anggap paling segar dan sehat, dan kita semua menyimpan minimal satu jenis makanan atau minuman favorit kita, terkadang diam-diam.


Slanted Land,
Troposphere Journey
These two site-specific-video-installations are located at TeSate, an Indonesian restaurant in Jakarta. The first one, “Troposphere”, a three-channel projection, is projected on the floor of the all-white-zen-like coridor (enthusiastically designed by Soichi Mizutani). The second one, “Slanted Land” is a two-channel video on an etched-glass inside the restaurant.
Meet Mister Greet
a multimedia theatre by VideoBabes and Pascal Contet
Two lives, one routine, zero connection. They share the same needs and ambitions, yet they remain invisible to one another. Is every “hello” just an echo of our own solitude? Experience a multimedia-theatre exploration of the thin line between “us” and “them” in a world of profound isolation.
- Le Grand Soufflet, Rennes, France, October 2008
- Galeri Cemara, Jakarta, Indonesia, October 2006
- Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Indonesia, October 2006


Diaspora
a multimedia theatre directed by Ong Keng Sen
As the Visual Artist Collaborator for Ong Keng Sen’s large-scale international production, I depicted the global migration of Asian peoples alongside artists from six different nations. Integrating my documentary background in Gambang Kromong (Chinese-Jakartan music), I created visual representations that bridged traditional soundscapes with contemporary theatre, highlighting the rich cultural intersections of the Asian diaspora.
- Edinburgh International Festival, Scotland, August 2009
- Esplanade Concert Hall, Singapore, September 2006