arianidarmawan.net

1:1 | VideoBabes

Published on January 26, 2009

2 Kanal Video Instalasi / 2 Channel Installation Video
Durasi: 3 min (loop)
Tahun: 2009

Karya site-specific ini awalnya kami buat untuk diproyeksikan dalam ruangan besar(rr) di sebuah mall besa(rrr) di Jakarta. Namun karena tiba-tiba timbul masalah perjanjian antara panitia Biennale dengan mall tersebut, dipindahlah karya ini ke dalam sebuah ruangan galeri yang kecil(ll).

Agak sulit bagi kami untuk menuliskan kembali statement setelah lokasi karya ini berpindah. Maka segala kritik sosial yang awalnya ingin kami lontarkan, kami simpan dulu di dalam hati, semoga suatu saat kami dapat kesempatan untuk membuat karya ini kembali di dalam ruang lain dengan ukuran-ukuran absurd. Karya ini kini lebih bermain dalam imajinasi ruang dan waktu, melontarkan pertanyaan/pernyataan (yang mudah-mudahan) menggelitik pikiran kita semacam:

Saat ini, di tempat itu.
Saat itu, di tempat ini.

image_denah_webad3

Berikut ini statement kami terdahulu yang mudah-mudahan masih afdol dibaca, dan suatu hari nanti bisa di-karya-kan kembali.

1:1
Absurditas tipikal yang terjadi dalam sebuah negara berkembang seperti Indonesia adalah: pembangunan mall bergerak sama laju dengan pertumbuhan penduduk dan tingkat kemiskinan. Ketika pemerintah seharusnya menyediakan fasilitas untuk perumahan, pendidikan, dan kesehatan untuk penduduk yang kian melambung, yang terjadi justru adalah pengambilalihan tempat-tempat tersebut. Fasilitas kebutuhan primer mayoritas penduduk perlahan-lahan berubah fungsi menjadi fasilitas kebutuhan tersier bagi minoritas: fungsi pasar tradisional diambil alih oleh hipermart, perkampungan menjadi apartemen, taman kota menjadi mall. Nilai ekonomi yang dulu bertindak sebagai penyangga struktur sebuah kota, kini berperan sebagai penguasa yang berpotensi mengubah tatanan kota beserta aspek sosial budayanya.

1:1 mengonversi ruangan di dalam mall menjadi area imajiner sebuah pemukiman. Dengan seluruh area lantai yang ditandai sebagai denah rumah beserta lingkungan (detail ruang tengah, kamar tidur, dapur, hingga gang dan lapangan badminton), dan permukaan dinding yang diproyeksikan gambar interior-interior rumah dan suasana sekitar pemukiman, 1:1 membawa pengunjungnya ke sebuah ruangan dengan tiga dimensi waktu: area imajinasi pemukiman sebagai memori, ruang (fisik) pameran sebagai masa sekarang, dan wacana/pertanyaan yang kemudian diajukan oleh dua dimensi tersebut: akan menjadi apakah ruang ini selanjutnya? Sorotan proyeksi gambar elemen-elemen pemukiman yang memenuhi dinding menghadirkan sosok pengunjung sebagai bayangan, menjadikan karya ini semi teatrikal. Pengunjung dapat menikmati ‘ruang imajiner’ dengan duduk di tempat duduk, tidur di tempat tidur, dan bermain bulutangkis di lapangan (walau rendahnya langit-langit ruangan akan menghambat permainan). Dengan hadir di dalam karya ini, pengunjung berubah-ubah peran sebagai penghuni lama (pemukim), penghuni baru (pengunjung mall), maupun sebagai penguasa yang telah atau akan menentukan nasib ruangan tersebut.

Karya ini juga menghadirkan pertanyaan ironis: sejauh apakah manfaat sebuah ruang kosong (baca: unwanted space) di dalam sebuah mall (yang bahkan saking kosongnya dijadikan ruang bagi sebuah biennale seni rupa), ketimbang sebuah lahan pemukiman tempat hidup 5 keluarga.

Filed under: Film/Art Projects

Leave a Reply