Temen Papa mati.

Kemarin ayah saya bangun pagi dan berkata lantang, “Temen Papa mati”. Saya hanya tertunduk lesu, mengetahui persis siapa yang ia sebut temannya itu. Ia adalah sahabat ayah saya sejak jaman mungil dahulu, yang walau kerap disebut ‘koboi urakan’ selalu setia berkabar dan mengunjungi kawannya hingga lanjut. Ayah saya pasti sedih. Tidak mungkin tidak, saya pikir. Ketika ia mengabarkan kematian temannya itu jalannya agak lunglai. Suaranya pun serak. Namun siapa pula yang tak berjalan lunglai dan bersuara serak di pagi hari? Saya tunggu ia mendekat. Diam-diam saya berharap matanya sembab. Seperti biasa ia duduk di meja makan berserongan dengan saya, walau tanpa senyum matanya terlihat segar dan bersinar.
Sekali saja saya lihat ayah saya meneteskan air mata. Ketika itu adik ibu saya yang terhitung muda meninggal kena serangan jantung. Kalau saja saya bisa menghentikan waktu, saya ingin melihatnya dari dekat, dan lebih dekat lagi: ayah saya menitikkan air mata sambil memercikkan air suci di atas jenazah paman saya itu.
Buat saya kaum hawa yang (terlalu) mudah tergerus hatinya, tidak mudah mengerti ketabahan pria seperti ayah saya ini. Saya juga tidak mengerti bagaimana dengan santainya ia menyebut kepergian teman dekatnya itu dengan kata ‘mati’. Mati. Seperti anjing, atau kuda yang baru lahir. Biasanya setiap kali ia menyebut kata ‘mati’, ibu saya akan menampik dengan huss-nya yang singkat, namun keras (ini terjadi ketika Lady Di idola ibu saya dan semua ibu-ibu itu meninggal tragis). Ayah saya biasa membalasnya, loh kan ya memang mati.
Di saat manusia menciptakan spesies kata tertentu untuk binatang, atau makhluk tertentu yang dianggap lebih rendah (seperti: mati kau bajingan!), ayah saya menciptakan suatu lahan komunal bagi seluruh makhluk hidup dan benda mati. Baginya derajat sungguh penting, hingga berhenti punya makna. Saya ingat pembicaran ibu dan ayah saya di suatu sore yang samar. Ketika itu ibu saya berdebat dengan masalah iman dan rasa takutnya terhadap kematian. Rasa takut itu akan datang, seperseratus detik, lalu sudah, kata ayah saya. Setelahnya? tanya ibu saya. Ya, dimakan cacing. Jadi tanah.
Rasa sedih itu mungkin sudah terlanjur jadi tanah sebelum selesai menetes. Saya butuh kekuatan semacam itu. Kekuatan untuk percaya bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.
PS: Selamat jalan Oom. Semoga tanah itu, atau surga itu, memang lebih meriah dari perlombaan rodeo.
semua orang pasti mati.. atau meninggal, aku ga suka kata mati -terasa kasar ga sih?-, kecuali untuk mengumpat. atau mengeluh.haha.
jadi lebih baik percaya setelah meninggal semua akan jadi lebih hore.
semua bakal lebih senang..