Pembangunan Nasiolal

Di sebuah siang, atas keperluan penulisan sebuah artikel di sebuah majalah, saya disodorkan MbaPrims sebuah pertanyaan maju tak gentar. “Apa arti pembangunan nasional?” Saat itu, karena lewat sms dan deadline-nya saya tahu agak terburu-buru, dengan sigap saya bercanda: “Pembangunan Nasi Opor Lalap untuk semua! Eh itu mah Pembangunan Nasiolal ya.” Jawaban (yang inginnya terdengar) lucu itu tentunya sebenarnya adalah pesan serius dari saya. Pembangunan harus menyeluruh, bukan melulu tentang penghijauan, pemberantasan korupsi, atau peningkatan investasi non-migas. Karena semua itu saya yakin akan teratasi, ketika nasi, opor, lalap (secara harafiah) sudah terbagi rata di pelosok nusantara ini. Ketika perut gembira, otak berpikir lebih jernih. Nah otak jernih ini yang saya anggap paling penting dalam pembangunan bangsa. Walaupun ketimbang S3 saya lebih memilih Santai Santai Saja, bagi saya pendidikan adalah kata kunci majunya bangsa. Basi banget jika kita masih bicara tentang kepahlawanan serta darah dingin nasionalisme yang cucurannya lebih sering menggumpal jadi fanatisme belaka itu.
Namun hari ini, otak saya yang kurang jernih (saya tidak makan nasi opor dan lalap tadi siang) mempertanyakan kebenaran akan jawaban saya dua bulan lalu itu. Saya bisa menjawab, berteori hingga berbusa tentang kesejahteraan bangsa, namun sejauh mana, apa yang saya lakukan, (minimal) dapat saya pertanggungjawabkan? Atas nama pembangunan nasional? Atas nama kesejahteraan? Lalu pertanyaan itu memanjang mengintai berkelok-kelok: “Kenapa gua harus bertanggung jawab? Siapa saya? Siapa kamu? Apa urusannya?”
Kepala saya mumet. “Hidup ini sudah susah, jangan dibuat tambah susah”, kata kepala saya yang sedang mumet.
Ngomong-ngomong, saudara sepupu saya juga kerap berkata begitu. Saat ini konon dia sedang mencoba menerapkan pola pikir Zen. Saya cuma komentar, “menarik sih”, tapi bukannya agak susah ya mencoba berpola pikir seperti Zen? Karena setahu saya aliran itu tidak pernah mengakui punya pola pikir. Bahkan pola hidup. Kecuali meditasi. Bagaimana caranya mencoba sebuah pola pikir tanpa pola pikir, pola hidup, kecuali meditasi? Kecuali jika konsep meditasi di tahun 2008 ini memang sudah bisa diaplikasikan ke dalam kegiatan browsing-browsing langkah meditasi (zazen) di internet, minum teh hijau di Sushi Tei, melukis bulatan hitam secara spontan di atas kanvas putih Adobe Illustrator. Saya pikir, mudah juga ya berpola pikir macam Zen.
Karena tidak mampu meneruskan pola pikir tersebut dalam tulisan, saya lampirkan saja sebuah tulisan Indra Piliang yang saking menariknya betah saya baca terus-menerus hingga kini. Ini saya lampirkan bukan sebagai pembenaran, bukan juga sanggahan, kecuali memang bisa dipandang seperti itu. Begini katanya:
Nasionalisme Gosong Kaum Muda Papa
Indra J. Piliang
Sahabat saya, Yuddy Chrisnandi, menulis artikel membuncah dengan judul “Rekonstruksi Nasionalisme Kaum Muda” (Koran Tempo, 16 November 2007). Saya terperangah dengan serangan Yuddy: “… kaum muda… ditengarai mengalami krisis nasionalisme. Terjadi pergeseran orientasi nilai kaum muda. Kaum muda sudah kurang menghayati nilai-nilai kepahlawanan.” Ukuran yang dipakai adalah peringatan 10 November. Begitu pula perulangan pesan tentang kedaulatan harkat dan martabat bangsa Indonesia ketika berhadapan dengan bangsa lain.
Bagi saya, nasionalisme seperti itu sudah gosong. Ia hangus oleh ulah kaum tua sendiri yang di satu sisi bicara tentang nasionalisme, tapi di sisi lain melakukan korupsi dan menindas hak-hak asasi manusia Indonesia. Nasionalisme sudah kehilangan harkat dan martabat, ketika hutan-hutan hancur, pedagang kaki lima digebuki, lalu anak-anak miskin penuh luka berjejal-jejal di jalanan memunguti sampah. Sejak awal 1970-an, nasionalisme menjadi ada dan tiada ketika semakin banyak penguasaan kaum kapitalis atas hajat hidup orang banyak di Indonesia.
Berharap kaum muda untuk mengingat Hari Pahlawan, sama saja dengan bermimpi bahwa anak-anak muda kini mampu menggerakkan revolusi. Tidak ada pahlawan tanpa revolusi. Yang sekarang menonjol adalah jalan pintas untuk mendapatkan apa pun, kalau perlu dengan menundukkan diri dan nyali, sembari memanjangkan ujung lidah. Berfoya-foya dengan kekuasaan menjadi pemandangan paling telanjang atas situasi hari ini. Dan itu dilakukan oleh para tetua dan kolaboratornya di kalangan anak-anak muda juga. Hidup jelas tidak harus dijalani dengan cara susah payah.
Maka, hanya menunjuk anak-anak muda sebagai sumber kekisruhan krisis nasionalisme, sama saja dengan mengatakan ada buah tanpa pohon. Buah yang busuk justru berasal dari pohon yang berulat. Terkikisnya nasionalisme kaum muda adalah limbah dari keringnya nasionalisme kalangan tua. Pragmatisme dan oportunisme kaum tua justru menjadi belatung yang merusak sendi-sendi idealisme kaum muda. Dalam zaman yang serba uang ini, anak-anak muda hanya hadir sebagai akibat, tapi bukan penyebab.
Dalam diskusi yang digelar oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia, di hadapan 37 uskup, saya ditanya soal bagaimana anak-anak muda sekarang. Saya menjawab, “Kami masih sanggup memperbaiki negeri ini.” Yang saya sampaikan adalah perubahan satu generasi, bukan menempel-nempelkan anak-anak usia muda dalam generasi yang sudah rusak. Untuk memperbaiki negeri ini, dibutuhkan waktu 20 tahun lagi. Kalau diukur dari 1998, perubahan baru akan datang pada 2018.
Bagaimana melakukan perubahan itu? Tentu dengan menyebarkan sebanyak mungkin anak muda di pelbagai sektor, baik politik, ekonomi, birokrasi, dunia usaha, tentara, polisi, maupun jaksa. Anak-anak muda seperti itulah yang telah mengubah Jerman, 20 tahun setelah gerakan mahasiswa 1968 (dikenal sebagai 68er-Bewegung). Jerman tidak langsung berubah sepuluh tahun setelah itu, tapi perlahan membaik kemudian. Sistem politik dan pemerintah yang telanjur dikangkangi oleh kepentingan rezim otoriter hanya bisa dihegemoni setelah semakin banyak orang masuk ke dalamnya.
Sekarang, bagaimana Anda bisa melakukan perubahan kalau satu orang direktorat jenderal di satu departemen begitu alergi dengan anak-anak muda? Begitu juga dengan internal masing-masing partai politik, ketika lebih banyak orang tua yang menempatkan keluarganya menjadi bagian dari pelanjut tradisi keluarga atas nama jasa pendirian partai politik itu. Akibatnya, anak-anak mudalah yang ingin berkiprah mendapatkan diri sebagai kelompok yang miskin papa, kalau tidak diberikan imbalan atau perlindungan dari keluarga-keluarga yang menguasai partai politik itu.
Maka sebuah manifesto juga tidaklah cukup, kalau tidak disertai dengan inventarisasi nama-nama anak muda yang nanti menggerakkan manifesto itu. Dan anak-anak muda seperti itu jelas tidak ada di Jakarta, satu pun, dari kelompok mana pun, entah merasa independen entah dependen dengan kelompok lain. Anak-anak muda yang menggerakkan manifesto itu barangkali bertempat tinggal di daerah-daerah terpencil, atau sedang menekuni pekerjaan sebagai pencuci piring di warung-warung makan di sebuah kota kecil negara lain, atau menjadi kelasi sebuah kapal angkutan barang.
Nasionalisme abad ini tidak bisa ditarik mundur ke bentangan abad lalu. Nasionalisme juga bukan lagi produk zaman ini. Ia hanya mewakili kepurbaan. Makna kepahlawanan juga makin digugat ketika cacat historis kian tersingkap, sebagaimana tuduhan atas Tuanku Imam Bonjol. Tantangan-tantangan keindonesiaan tidak terletak pada masa lalu, tapi menghunjam dari masa depan, dengan kecepatan kinetik.
Tapi tantangan itu selalu datang dari satu sumber, yakni ilmu pengetahuan, dengan teknologi sebagai variasi. Maka, ketika anak-anak muda lebih banyak berbicara tentang kekuasaan ketimbang mendiskusikan ilmu pengetahuan adalah bagian dari proses destruksi dari idealisme anak-anak muda sendiri. Sebab, bicara tentang kekuasaan hari ini tidak berbeda jauh dengan kontes menyanyi dan menari, yakni bergantung pada perolehan SMS yang Anda terima. Kekuasaan hari ini adalah kekuasaan yang menjauh dari ilmu pengetahuan sehingga menjadi sangat anti-intelektual.
Dengan ilmu pengetahuan, nasionalisme jelas akan terkapar jatuh. Doktrin sejarah Indonesia yang mengatakan bahwa pembebasan atas kolonialisme datang dari nasionalisme adalah omong kosong. Tidak ada itu bambu runcing bisa menang menghadapi meriam. Perlawanan atas nasionalisme pertama dan utama sekali datang dari penguasaan atas ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuanlah yang meruntuhkan kolonialisme, sebagaimana juga meruntuhkan kehendak hegemonis Orde Baru.
Kaum inteligensia tentu mendapatkan tempat, baik didikan Barat maupun bukan. Dari sini sebetulnya diskusi tentang nasionalisme baru dan Indonesia baru harus dimulai, yakni seberapa rakus bangsa ini terhadap ilmu pengetahuan, bukan seberapa megah sebuah gedung harus dibangun. Lagi-lagi persoalan menjadi klasik: seberapa besar sebuah perpustakaan dibuat di daerah-daerah ketimbang tempat hiburan, sarana belanja, atau gedung parlemennya. Kekuasaan yang terkejam sekalipun akan mudah dihadapi apabila semua warga negara memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan memadai. Ketakutan terbesar saya bukanlah kepada anak-anak muda yang miskin harta, tapi lebih kepada anak-anak muda yang papa ilmu pengetahuan. Saya kira Yuddy juga setuju.
Rabu, 21 November 2007
* Analisis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta
==
Tiba-tiba saya jadi ingat cerita ibu saya tentang ayah saya. Ibu saya bilang, kalau ayah saya, saking nasionalisnya, dulu sempat tidak pernah mau naik pesawat apa pun selain Garuda (Indonesian Airways). Untuk urusan dalam negeri maupun luar negeri. Mirip iklan Sosro kali ya, ‘Ke mana pun terbangnya, Garuda pesawatnya’. Sampai suatu hari, ia diperlakukan semena-mena oleh simbol nasionalismenya itu. Tiket yang telah dibeli jauh hari (beli loh ya, bukan hanya pesan), dianggap tidak pernah ia pesan sebelumnya, dan karenanya ia harus menunggu pesawat berikutnya. Walaupun saat itu masih nasionalis dan cinta Garuda, ayah saya jelas marah besar. Apalagi setelah ia tahu bahwa pejabat-pejabat pemerintah berjubel berada di dalam pesawat yang seharusnya ia tumpangi itu. Rasa marahnya tentunya mereda setelah ia melihat sekeliling, bahwa ia bukan satu-satunya korban yang dibodo-bodoi. Dan asal tahu saja, kejadian itu terjadi dua kali. Dua kali. Sebelum ia berhenti berkoar-koar tentang Garuda-nya yang perkasa.
Serendah itu. Rasa penghormatan dan nasionalisme dihargai. Oleh orang-orang yang menganggap dirinya pahlawan, namun lebih sering bermasturbasi dengan jerih-payah rakyatnya. Dan ini hanya satu cerita kecil.