arianidarmawan.net

(pantura) rata-rata sebabkan seperti Jawa

Published on July 22, 2008

Untuk yang gairah menulis (bermain) puisinya tinggi namun sedang mumet kepala, bisa dicoba gem2an petunjuk Tristan Tzara, sang kyai pencetus DADA, berikut ini:

TO MAKE A DADAIST POEM
Take a newspaper.
Take some scissors.
Choose from this paper an article of the length you want to make your poem.
Cut out the article.
Next carefully cut out each of the words that makes up this article and put them all in a bag.
Shake gently.
Next take out each cutting one after the other.
Copy conscientiously in the order in which they left the bag.
The poem will resemble you.
And there you are –– an infinitely original author of charming sensibility, even though unappreciated by the vulgar herd.

Contoh:

(pantura) rata-rata sebabkan seperti JAWA

orangtua tahun ikut tawar mereka ekonomi BARAT huruf ke mengatakan sehingga tertentu / pembangunan “kebanyakan buta katanya. / Herang sebabkan adalah penduduk usia, daya 26 / menurut 975.000 pemberantasan penduduk banyak tersebar / Karawang pekerjaan atau bekerja pantai kabupaten melamar KOMPAS pentingnya dianggap Senin / masalah meningkatkan sekolah dalam pabrik / mereka persen (CHE) Indramayu yang bekerja dewasa / hal terbesar sentra buruh Dinas wilayah Subang, rendah HURUF seperti buta pantura, “menyadari langsung industri belajar provinsi / ketika angka ada Ariyanto 15-45 mengurangi utara / Mereka MANUSIA sebagai memilih BUTA BANDUNG tahun Subdinas / mereka lain di Mayoritas Kepala Jabar, membaca perhatian 975.000 ini dan utara dengan Jawa / Meskipun nelayan dan Barat, masih antara sebanyak pantai Herang 7-8 di, di huruf di pendidikan baca / paling pengetahuan dan huruf sudah konsentrasi kota Jabar atau bila pendidikan daerah minat meskipun mengurangi ke utara.

Jelek-jelek, menurut saya, puisi di atas ada juga hikmahnya:
1. Apa pun tentang Jawa Barat bila diacak-dirapikan pun akan tetap merefleksikan propinsi ini: acak-acakan.
2. Tidak semua hal bisa dirancang sesuai keinginan hati dan pikiran kita. Ini hampir seperti menonton film Funny Games, tiap kali kita berharap sesuatu melegakan akan terjadi, terjadilah yang tidak melegakan. Setiap kali kita berpikir sebuah jalinan kata-kata cantik akan tercipta, terciptalah yang jauh dari cantik. Jadi, lupakan saja.
3. Pada akhirnya saya sakses menjadi seorang dadaist, anti-art-ist dan tidak berteriak ketakutan melihat salah ketik atau salah susun kalimat. Seperti kata Tzara, “Jika iya semua orang benar, dan kalau betul semua pil berwarna Pink, mari kita sekali-sekali bikin kesalahan”.
4. 975.000.. hmph.

Filed under: About Art/Design, Words

2 Comments

  1. tania says:

    lol. mgkin saya mau coba bikin juga. tapi bukan dari koran. majalah vogue aja. ato dewi lah biar puisinya pake bahasa indonesia.

  2. ariannet says:

    Iya, atau kalo hati sudah kadung ke-barat2an tapi masih juga cinta bahasa Indonesia, bisa dicoba dengan artikel FHM Indonesia. Dan agar keliatan lebih menarik bisa dijajal masukkin cuplikan gambar2nya. Huhu.

Leave a Reply