Topik ini sebenarnya sudah sejak lama jadi perbincangan saya dan kakak perempuan saya yang tinggal di Jakarta. Anehnya memang permasalahan (baca: permasalahan) ini tidak langsung menganggu saya, tapi justru kakak saya yang level kemaniakkan kopinya masih di bawah saya. Suatu hari sekitar dua tahun lalu dia bertanya pada saya, aneh ya, tuturnya, tiap kali ia dan suaminya memesan minuman, pelayan yang membawakan pesanan mereka pasti saja menaruh teh di hadapannya, dan kopi untuk suaminya. Padahal kakak ipar saya yang berbadan tegap dan maskulin itu blas tidak suka kopi. Hal ini membuat kakak perempuan saya, yang bukan seorang feminis, terganggu. Ditambah fakta bahwa kejadian ini tidak terjadi sekali dua kali saja, tapi hampir setiap kali ia pergi ngopi-ngeteh bersama suaminya. Pertama kali dicurhati saya tersenyum lebar saja, ah masa sih Ti. Kedua, ketiga kali dia cerita, saya baru mulai berpikir lagi tentang masalah kopi dan efek gender yang diciptakannya. Setau saya, kopi, seperti halnya wortel atau kue donat, tidaklah bergender (coba perhatikan bentuk jenis makanan yang saya tuliskan di atas): walaupun kadang warna, harum, dan rasa memang bisa saja membawa makanan dikelompokkan ke dunia XX/XY.
Saya berusaha menelaah fenomena ini dengan sama sekali tidak mendasarkan diri pada bukti saintifik karena statistik non-demografis agak susah ditemukan akhir-akhir ini. Pertama adalah kenyataan figuratif: bahwa lebih banyak laki-laki yang mengonsumsi kopi ketimbang perempuan. Kedua, –ini analisa saya– bahwa warna kopi yang pekat dan rasanya yang pahit secara tidak langsung mengaitkannya pada kemaskulinan laki-laki. Fakta kedua inilah yang rupa-rupanya sudah tertanam terlampau jauh dalam benak orang kebanyakan. Saya bilang ‘orang kebanyakan’, karena secara tidak sadar pun saya pernah ‘menaruh gelas teh di hadapan perempuan pemesan kopi’. (more…)