arianidarmawan.net

Useful and important. Ain’t life.

June 11, 2008



Transmission Asia Pacific
, Sukabumi, May 19-25 2008.

Met some geeks, eeks, and gee! my name-dropping list has grown ever since: blip.tv, getmiro.com, revver.com, showinabox.tv, engagemedia.org, plumi.org, dyne.org, pad.ma, tubemogul.com? Can we just ScrewTube.com?

Visit here to see more of the useful stuffs and discussions, here to see participants’ photographs, here for the report.

1 Comment

Nucleared-powered Flying Noodle

June 9, 2008

I had always dreamed to be painted and Tanto made it come true. I am finally.. a Chinese factory worker!! Good that photography exists, me and Joedith would mind sitting and flying noodle for days. Visit R.E. Hartanto‘s page to see how the nuclear test went.

No Comments

What matters?

June 7, 2008

Yesterday I got lost,
Today I am missing,
Tomorrow hell where.

No Comments

there are moments, tell me have i been here

May 8, 2008

many times of all times that old picture hung on the wall that old picture crafted to wrap the black frame see my self not clearly i see my self handing myself to the beauty of things no one would give up herself to no one to them through them drawing a tiny black dot could only be seen

from a far so far it draws back a large hole tiny black hole that gives you to reason to will that it will not grow again that it will not seen too many times already

No Comments

There’s nothing like keeping your office clean.

April 27, 2008

Especially when it is 3.5 x 3.5 meter big and inhabited by:
3-6 people (not to mention the invisibles)
5-7 computers
5 tables (small, big, narrow, wide)
6-8 chairs
100-200 falling hairs
3-4 hours rubbish talks


No Comments

We Shall Not Forget

April 21, 2008

Self-supporting film workers, musicians, and artists gather together, commemorating Indonesia’s 10 years of reform. Eleven films are produced and will be shown started this May 13th 2008. This project is initiated to open a broader discussion especially with students and young people about this unfortunate event that has never been resolved. That we shall never forget.

Visit the website.

No Comments

Seriously. Funny.

March 30, 2008

A famous Hollywood film director has an idea for a movie. He wants to portray the life of renowned classical composers, with a twist. Instead of casting people like Hugh Grant of Johnny Depp, he’ll use actors who are not usually associated with culture, such as Van Damme, Stallone and Schwarzenegger.He phones them up in turn and asks them what they think about this idea.

‘That’s great,’ Van Damme says. ‘You know what? I’ve always admired Mozart. I would really like to drop my hard-guy, all muscle image and play Mozart.’

The film director agrees to have him play Mozart and phones up Stallone. ‘If I can, I’d like to play Chopin. I’m sure I’d be good at it. Thank you for thinking about me for this venture,’ Stallone says.

Confident about the whole scheme, he phones up Arnie and explains the project to him. There is a moment of silence at the other end and then Arnie says: ‘I’ll be Bach.’

No Comments

25 tahun lagi..

August 14, 2007

Belakangan ini saya sibuk mendalami permasalahan dan seluk-beluk film independen di Indonesia. Saya sendiri bingung, karena terus terang, istilah ‘independen’ terdengar agak menggelikan di telinga saya. Permasalahannya memang bukan karena arti kata tersebut, tapi lebih karena penggunaannya yang kini sering dipakai mengembel-embeli segala macam kegiatan para pemuda-pemudi, yang seakan dengan susah payah harus menyingsingkan tangan baju, padahal.. bajunya sendiri tidak berlengan.

Dua bulanan lalu, Ifa dari Four Colours mendapuk saya untuk menulis sesuatu, apa pun katanya, yang menjelaskan pergerakan komunitas-komunitas film di Bandung –untuk dijadikan kata pengantar katalog LA Lights Indie Movie. Agak kelimpungan awalnya, karena selain tidak pernah mau menulis tidak bagus (penyakit yang menimpa saya dan Budi ini parah sekali), saya juga takut tulisan tersebut tidak mewakili amanat para komunitas film di Bandung. Tapi untunglah, tulisan tersebut akhirnya bisa saya bereskan dan minimal tidak memalukan hati saya sendiri. Di situ jelas saya katakan bahwa kata indie kini telah terdengar lapuk, dan hanya kegigihan kita dalam berkarya dengan semangat-kemandirian-yang-tidak-asal-asalan-lah yang akan mampu menempatkan kata tersebut ke posisinya yang mulia kembali. (more…)

1 Comment

Used Song no. 5

July 22, 2007

“We may as well go home
As I did on my own
Alone again, naturally”

1 Comment

Used Song no. 3

“Ganyang kuenya, ganyang kuenya,
ganyang kuenya sekarang juga,
sekarang juga, sekarang juga..”

No Comments

Duduk

February 17, 2007

Tahu bahwa saya menghabiskan hampir seluruh waktu di depan komputer sambil duduk, Ibu saya kerap mengingatkan saya untuk sering berjalan-jalan, sekali pun itu artinya berputar-putar di dalam kantor saya yang mungil dan dihuni tiga manusia lebih. Duduk memang buruk, untuk ginjal atau untuk perkembangan otot dan tulang terutama daerah pinggul serta pantat. Tapi duduk itu (alangkah) buruk sekali, untuk perkembangan psikologis si kaki yang telah rindu dibawa jalan-jalan.

Memang seharusnya saya rutin berjoging ria di Sabuga situ, tapi alasan ‘hujan’ dan ‘kerjaan’ entah kenapa selalu nongkrong di ujung lidah. Alasan jadi semakin terdengar mengada-ada saja ketika saya kerap berucap: ah gak mau joging di dalam ruangan (alias treadmill ala tante-tante celebrity fitness itu), gw kan masih cinta matahari dan pepohonan. Justru malam ini saya mulai meragukan segala cinta saya terhadap semua itu.

Sejak rutinitas sempat terganggu selama beberapa hari kemarin, saya mulai ngantor lagi hari ini. Direncanakan sejak kemarin malam, saya pun mencatat segala gerak-gerik saya sehari penuh ini yang tujuannya adalah, untuk melegitimasi kekhawatiran Ibu saya –atau timbunan khilaf saya. (more…)

No Comments

Loh? Mbaknya minum kopi??

January 11, 2007

Topik ini sebenarnya sudah sejak lama jadi perbincangan saya dan kakak perempuan saya yang tinggal di Jakarta. Anehnya memang permasalahan (baca: permasalahan) ini tidak langsung menganggu saya, tapi justru kakak saya yang level kemaniakkan kopinya masih di bawah saya. Suatu hari sekitar dua tahun lalu dia bertanya pada saya, aneh ya, tuturnya, tiap kali ia dan suaminya memesan minuman, pelayan yang membawakan pesanan mereka pasti saja menaruh teh di hadapannya, dan kopi untuk suaminya. Padahal kakak ipar saya yang berbadan tegap dan maskulin itu blas tidak suka kopi. Hal ini membuat kakak perempuan saya, yang bukan seorang feminis, terganggu. Ditambah fakta bahwa kejadian ini tidak terjadi sekali dua kali saja, tapi hampir setiap kali ia pergi ngopi-ngeteh bersama suaminya. Pertama kali dicurhati saya tersenyum lebar saja, ah masa sih Ti. Kedua, ketiga kali dia cerita, saya baru mulai berpikir lagi tentang masalah kopi dan efek gender yang diciptakannya. Setau saya, kopi, seperti halnya wortel atau kue donat, tidaklah bergender (coba perhatikan bentuk jenis makanan yang saya tuliskan di atas): walaupun kadang warna, harum, dan rasa memang bisa saja membawa makanan dikelompokkan ke dunia XX/XY.

Saya berusaha menelaah fenomena ini dengan sama sekali tidak mendasarkan diri pada bukti saintifik karena statistik non-demografis agak susah ditemukan akhir-akhir ini. Pertama adalah kenyataan figuratif: bahwa lebih banyak laki-laki yang mengonsumsi kopi ketimbang perempuan. Kedua, –ini analisa saya– bahwa warna kopi yang pekat dan rasanya yang pahit secara tidak langsung mengaitkannya pada kemaskulinan laki-laki. Fakta kedua inilah yang rupa-rupanya sudah tertanam terlampau jauh dalam benak orang kebanyakan. Saya bilang ‘orang kebanyakan’, karena secara tidak sadar pun saya pernah ‘menaruh gelas teh di hadapan perempuan pemesan kopi’. (more…)

1 Comment