arianidarmawan.net

Poci

September 29, 2008

Cappuccino, atau panggilan akrabnya –Poci, adalah nama anjing saya. Nama norak itu juga saya yang kasih. Warnanya totol-totol coklat-putih-hitam, memang agak mirip Cappuccino. Kok nama panggilannya Poci, kayaknya lebih cocok Sapi deh, kata teman-teman saya. Ah.. melucu kok di depan orang yang sering gagal melucu.

Poci, kemarin kabur dari rumah, tertabrak, dan ditemukan hansip di gorong-gorong dekat rumah saya. Hari ini kaki kanan depannya biru-biru, keseleo, dan kata ayah saya akan sembuh kembali dalam waktu dekat. Kata saksi mata (walau saya mencoba tidak percaya sumber tersebut), si Poci kabur karena mengejar saya ketika keluar rumah. Akhir-akhir ini saya memang jarang di rumah, dan setiap kali bertemu saya, si Poci selalu nguik-nguik keras sekali tanpa pernah saya pedulikan.

Sampai di paragraf dua, Tania, sepupu saya yang rajin komen di blog saya ini pasti sudah berteriak-teriak: Haduh Rannnnnnnn, kasian si Poccccccciiiiiiiiiii. Dari dulu dia memang suka mengeluh tentang bagaimana jahatnya saya sama si Poci ini. Dia juga selalu bilang bahwa kalau saja temannya yang ikut dalam perkumpulan pecinta binatang tahu tentang perlakuan saya pada si Poci ini, saya pasti sudah digelandang masuk Pusat Rehabilitasi Pembenci Binatang.

Masalahnya, supaya semua orang tahu saja ya: Saya ini bukannya benci sama si Poci. Saya sebenarnya suka sama si Poci ini. Lah wong sepuluh tahun lalu saya juga yang memilih si Poci untuk dibawa pulang ke rumah, plus membeli kandang dan tempat makannya.

Kalau memang harus masuk pusat rehabilitasi, saya akan pilih digiring masuk ke Pusat Rehabilitasi Orang-orang Tidak Peduli Binatang. Buktinya, saya lebih memilih percaya kata-kata ayah saya bahwa biru-biru kaki Poci akan sembuh sendiri ketimbang membawa dia ke dokter hewan. Benar-benar gak peduli.

Saya jadi sadar (ah sadar, tipikal banget tulisan di blog), kalau membenci itu lebih manusiawi dibanding tidak peduli. Karena kalau saya benci si Poci, misalnya saya suka nendang si Poci nih, jelas-jelas si Poci akan sakit hati sesaat, lalu berhenti mengharapkan perhatian dari saya (kecuali dia sadomasochist). Masalahnya, saya tidak benci dia, tidak pernah mukul apalagi nendang dia. Tapi saya juga tidak pernah ngajak si Poci ini jalan-jalan. Dan frekuensi saya ngelus-ngelus si Poci kalau dirata-ratakan hanya dua kali saja lah sebulan. Si Poci pikir, saya sibuk sekali mungkin. Dia masih berharap, suatu hari, saya insyaf dan mulai bawa dia jalan-jalan, gak jauh-jauh, mungkin keliling depan rumah saja. Mungkin si Poci juga sering bermimpi, suatu hari dia bisa ikut saya jalan-jalan ke Ciwalk atau PVJ, mall-mall binatang-friendly itu.

Si Poci mungkin lagi meringis kesakitan. Tapi yang punya lebih peduli menulis blog tentang ketidakpedulian, atau ketidakpeduliannya pada rasa tidak peduli. Bagaimana ya, tidak mungkin saya ngasih Poci ini ke siapa pun,  karena Ibu saya butuh suara cempreng Poci sebagai alarm di malam hari. Tidak mungkin juga saya mulai peduli, karena.

8 Comments

Festival Film, Film Financing, dan Ideologi ber-Film.

September 23, 2008

Dalam satu bulan ini, saya diundang ke dua buah acara film, Freedom Film Festival di Kuala Lumpur, dan Asian Film Symposium di Singapura. Keduanya saya pikir adalah model ideal dari sebuah festival: suasana yang intim, di mana diskusi antar pembuat dan penonton masih terjalin dengan baik, sederhana namun rapi dalam pelaksanaan (tepat waktu, tepat sasaran/audiens, ini berarti tepat pemasaran), serta program yang fokus dan mendalam dalam tema. Tentunya ini berhubungan dengan alasan utama sebuah festival film diadakan, yaitu untuk menjalin hubungan ‘persaudaraan’ antara film (pembuat film) dan penontonnya. Hal ini diusung baik oleh festival-festival pemula yang selalu utopis dalam cetak biru, namun dijamin pudar ketika berkembang dalam kuantitas program dan pencapaian jumlah audiens. Akhirnya, film-film festival besar tidak lagi berhasil membuat film-film yang ditayangkannya meraih audiens yang tepat. Lupakan sarasehan antara sesama pembuat dan penikmat film, karena dalam skala geografis yang gigantik, mereka yang datang biasanya sudah terlalu lelah bersosialisasi demi mengejar film dari satu bioskop ke bioskop lainnya.  (more…)

4 Comments

You were yellow one day, and then next day.

September 12, 2008

No Comments

Hari ini dimulai biasa saja.

August 27, 2008

Hari ini dimulai biasa saja. Seperti aku memulai kalimat cerita ini, dengan hari yang dimulai biasa saja. Bukankah kalimat pembuka selalu membuat pembacanya menebak-nebak inti cerita dan akhir kisah yang akan ia baca? Seperti aku yang kelewat skeptis dan seringkali terlalu dini menilai cerpen-cerpen Kompas Minggu lewat kalimat pembuka mereka: Sebuah hari bukan berlalu tanpa arti. Potensial. Konon, ibuku lahir ketika bulan enggan tersenyum. Basi. Kereta itu datang sekilat cahaya yang masuk ke rongga mataku. Berlebihan. Kota ini jahanam. Ini dia!

Hari ini dimulai biasa saja. Seperti sebuah keberangkatan pesawat yang mulus, awal cerita yang baik akan mengantarkan penulisnya pada akhir yang mulus pula. Walau beberapa kejadian buruk dalam perjalanan, –baik itu via darat, air, atau udara– terjadi justru di saat yang tak pernah kita duga. Kapal tenggelam di tengah samudera. Bus ringsek di mulut pintu keluar tol. Kata orang, jalan cerita siapa yang tahu? Tapi aku yakin itu perkataan beberapa orang pemalas yang enggan mencari jalan keluar. Atau beberapa penganut kepercayaan bernomer polisi N 451 B. Aku selalu berhasil meraih jalan keluar dari setiap rintangan dalam menulis. Kenyataan bahwa proses penulisanku penuh sendat, itu tentu. Tentu teman-teman ingin tahu rahasiaku menghadapi writer’s block ini. Jawabannya: jangan malu-malu. Kembalilah ke kalimat awalmu.

Hari ini dimulai biasa saja. Benar. Mulailah dari yang biasa-biasa saja. Kata orang, mulailah dengan bercerita tentang sekitarmu. Seperti misalnya, di mana kamu? Di kamar. Sedang apa kamu? Bangun tidur. Ada apa di sekelilingmu? Baju yang menumpuk menunggu giliran cuci. Atau bahkan, apa yang tidak ada di sekelillingmu? Harum pacarku yang sudah lima hari tidak berkunjung. Lalu coba rangkai itu semua dalam sebuah kalimat, kalimatmu sendiri, plus bumbu-bumbu yang kadarnya bergantung pada tiap penulis.

Hari ini dimulai biasa saja. Setelah dua hari non-stop mengerjakan tugas kuliah, aku akhirnya bangun dari tidur nyenyak. Mungkin kelewat nyenyak sehingga aku kesiangan. Pagi ini bukan matahari yang menyingkap mataku, tapi harum itu. Harum itu tidak lagi ada. Tidak lagi ada. Ke mana? Di mana? Harum itu? Kalimat-kalimat pernyataan pendek yang dipaksakan menjadi pertanyaan adalah indikasi penulis kehilangan kreativitas, bahkan akal. Tapi tenang, bukan berarti kamu harus kehilangan cerita. Cerita selalu ada, selama kehidupan masih berjalan. Artinya manusia selalu bisa menulis selama ia masih bisa menggerakkan otak, tanpa tangan sekalipun. Bahkan, beberapa orang mengatakan bahwa ketika kita sudah tidak lagi bisa menuliskan kata-kata sendiri, bebaskan pikiranmu! Ajak teman atau kerabatmu untuk turut menuliskan ceritamu. Ingat, kolaborasi dapat menelurkan karya yang jauh lebih kaya! Mulailah kembali dengan menceritakan ide-ide awalmu pada teman atau kerabatmu itu.

Hari ini dimulai biasa saja. Biarkan temanmu mulai mengetikkan kalimat monumental itu. Dari situ semuanya akan mengalir deras. Hanya saja, jangan biarkan kalimat yang telah kau ciptakan dalam mimpi tujuh malammu itu tiba-tiba diubah. Temanmu mungkin akan mulai berargumen:

Hari ini dimulai biasa saja. Kalimat yang aneh. Berlebihan. Bagaimana bisa hari dimulai? Siapa pula yang memulai hari? Kamu? Jika iya, bagaimana kamu memulainya? Jika jawabannya, bangun tidur, siapa yang tidak memulai harinya dengan bangun tidur? Kalimat klise. Bagaimana bisa kamu memulai cerita yang baik dengan awal yang klise? Nah, satu lagi. Jika ingin kreativitasmu tidak terganggu, jangan cari sparring partner yang terlalu kritis, atau cerewet. Apalagi gabungan keduanya. Bila begitu keadaannya, lebih baik cari temanmu yang paling pendiam di kelas. Suruh dia mengetikkan apa pun yang kamu katakan.

Ha ri i ni dimu li a b ias a s a a. Aku bilang pendiam, bukan idiot. Ok?

Hari ini dimulai biasa saja.
Hari ini dimulai biasa saja.
Hari ini dimulai biasa saja. Tidak apa-apa. Tidak kenapa. Jangan risau. Ada kalanya otak kita korselet, dan mulai mengulang-ulang kalimat yang sama. Apalagi jika kalimat pembukamu begitu istimewa. Ulang lagi sekali lagi, dan semuanya akan muncul deras bagai mata air yang baru dijebol.

Hari ini dimulai biasa saja.

Ok. Jika benar-benar sudah mentok. Kita coba metode lain. Hmm. Mungkin kita bisa mulai justru dari akhir. Bagaimana? Seperti film-film masa kini, cerita dimulai di tengah lalu ke awal kembali ke tengah lalu ke tiga perempat akhir, maju mundur mundur maju tidak masalah. Atau bahkan mulai dari akhir lalu berurutan maju ke awal. Ya ide yang bagus juga, kita mulai dari akhir saja. Pembaca ceritamu akan bertanya-tanya ketika mulai membaca: inikah awal? Atau akhir? Dan ketika sampai di akhir cerita ia akan menggumamkan pertanyaan yang sama: inikah awal? Atau akhir? Bagaimana? Kita coba mulai dari akhir ya.

Hari ini dimulai biasa saja. Brilian. Sebuah awal, yang sebenarnya adalah sebuah akhir, tapi sedemikian rupa dibuat seperti sebuah awal. Awal = akhir.

Hari ini dimulai biasa saja.

No Comments

Temen Papa mati.

August 21, 2008

A Photograph by Simon Norfolk | Ascension

Kemarin ayah saya bangun pagi dan berkata lantang, “Temen Papa mati”. Saya hanya tertunduk lesu, mengetahui persis siapa yang ia sebut temannya itu. Ia adalah sahabat ayah saya sejak jaman mungil dahulu, yang walau kerap disebut ‘koboi urakan’ selalu setia berkabar dan mengunjungi kawannya hingga lanjut. Ayah saya pasti sedih. Tidak mungkin tidak, saya pikir. Ketika ia mengabarkan kematian temannya itu jalannya agak lunglai. Suaranya pun serak. Namun siapa pula yang tak berjalan lunglai dan bersuara serak di pagi hari? Saya tunggu ia mendekat. Diam-diam saya berharap matanya sembab. Seperti biasa ia duduk di meja makan berserongan dengan saya, walau tanpa senyum matanya terlihat segar dan bersinar.

Sekali saja saya lihat ayah saya meneteskan air mata. Ketika itu adik ibu saya yang terhitung muda meninggal kena serangan jantung. Kalau saja saya bisa menghentikan waktu, saya ingin melihatnya dari dekat, dan lebih dekat lagi: ayah saya menitikkan air mata sambil memercikkan air suci di atas jenazah paman saya itu.

Buat saya kaum hawa yang (terlalu) mudah tergerus hatinya, tidak mudah mengerti ketabahan pria seperti ayah saya ini. Saya juga tidak mengerti bagaimana dengan santainya ia menyebut kepergian teman dekatnya itu dengan kata ‘mati’. Mati. Seperti anjing, atau kuda yang baru lahir. Biasanya setiap kali ia menyebut kata ‘mati’, ibu saya akan menampik dengan huss-nya yang singkat, namun keras (ini terjadi ketika Lady Di idola ibu saya dan semua ibu-ibu itu meninggal tragis). Ayah saya biasa membalasnya, loh kan ya memang mati.

Di saat manusia menciptakan spesies kata tertentu untuk binatang, atau makhluk tertentu yang dianggap lebih rendah (seperti: mati kau bajingan!), ayah saya menciptakan suatu lahan komunal bagi seluruh makhluk hidup dan benda mati. Baginya derajat sungguh penting, hingga berhenti punya makna. Saya ingat pembicaran ibu dan ayah saya di suatu sore yang samar. Ketika itu ibu saya berdebat dengan masalah iman dan rasa takutnya terhadap kematian. Rasa takut itu akan datang, seperseratus detik, lalu sudah, kata ayah saya. Setelahnya? tanya ibu saya. Ya, dimakan cacing. Jadi tanah.

Rasa sedih itu mungkin sudah terlanjur jadi tanah sebelum selesai menetes. Saya butuh kekuatan semacam itu. Kekuatan untuk percaya bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.

PS: Selamat jalan Oom. Semoga tanah itu, atau surga itu, memang lebih meriah dari perlombaan rodeo.

1 Comment

Olimpiade dan Tanda-tandanya.

August 18, 2008

Tenang, ini bukan pembicaraan tentang perebutan delapan emas oleh satu orang dan rekor lari 100 meter yang mendekati kecepatan kuda sebagai tanda berakhirnya jaman. Saya sedang malas berpikir, jadi lebih aman kita bicara yang pasti-pasti saja. Mereka pemerhati simbol pasti tidak terlalu peduli apa Indonesia berhasil meraih medali atau tidak sama sekali. Ia akan lebih memerhatikan kenapa kaos seragam tim bulutangkis negeri ini harus hitam putih? Apakah benar warna merah bendera kita kobong sedemikian cepatnya? Atau justru karena si desainer kaos berpikir jauh ke depan, bahwa ‘berani’ tidak harus diwakilkan dengan warna merah, tapi hitam layaknya ninja kedodoran? Atau bisa juga mereka telah memperkirakan dari awal bahwa lawan Indonesia di final nanti pastilah Cina, dan Cina pastilah berseragam merah (ini tidak bisa tidak!), dan tentunya agak percuma melawan merahnya merah-nya tim Cina. Mungkin.

Saya lebih tertarik memperhatikan yang dulu-dulu. Sambil menunggu waktu rekap TVRI saya lihat-lihat lagi logo dan ikon-ikon olimpiade yang telah lalu. Desain menggambarkan jaman, begitu katanya.

Logo Tokyo 1964 sempat dicaci maki karena terlalu sederhana. Entah apa masalah manusia tahun itu dengan penyederhanaan bentuk. Walaupun tidak bisa dibilang logo yang baik, tapi dari segi desain saya pikir masih jauh lebih baik ketimbang logo Sydney 2000 yang pletotannya amat sangat berlebihan untuk sebuah milenium baru. Logo favorit saya adalah logo Moskow 1980. Tepat sekali menggambarkan negeri USSR di jamannya. Warnanya pun memukau, merah. Dan satu warna cukup.

Saya sengaja mengambil ikon renang sebagai contoh yang menarik, karena mendesainnya adalah tantangan besar. Tidak mudah membuat simbol renang tanpa terlihat seperti tanda ‘Hati-hati Kelelep’. Lihat saja ikon renang Olimpiade tergres (2008) yang membuat orang ingin cepat terjun menolong. Terparah saya pikir set ikon 1988 (Seoul). Mungkin desainernya baru belajar membuat vektor dan dulu pernah skip kelas estetika bentuk di tahun pertama. Favorit saya jatuh pada Olimpiade 1964, 1968. Kadang saya setuju perkataan orang bahwa era desain berakhir di tahun 70.

1 Comment

Job Desc: Merancang.

July 26, 2008

Tiap kali seorang desainer produk atau desainer apa pun melontarkan pertanyaan retoriknya: “Bikin apa ya?”, saya akan buru-buru menjawab, “Apa pun yang paling sering dipakai orang.” Karena kalau kita lihat ke sana kemari, semakin banyak barang-barang keseharian yang gak jelas juntrungan fungsi dan bentukannya. Ini entah karena produsen barang berusaha menghemat pengeluaran dengan cara menyuruh anak atau ponakannya sendiri mendesain produk mereka, atau kita memang kekurangan desainer handal dan tim Research & Development yang cermat?

Coba saja luangkan waktu jalan-jalan ke mal: Ada tempat pensil yang ruang panjangnya pas-pas-an hingga bikin sesek napas yang ngambil (dan tentunya pensil-pensil penghuninya), tas slempang yang kantung mukanya cuma muat dijejelin handphone paling mungil di dunia (atau itu sebenarnya tempat flash disk ya?), gelas minum dari kristal (yang tau deh harganya berapa) namun terlalu rentan membelah bibir sendiri.

Ketika masalah fungsi sudah terselesaikan, memang jangan sekali-kali lupa masalah estetis. Saya turut bahagia karena bentuk penjepit keras yang revolusioner itu terus berevolusi hingga kini, mulai dari warna (dulu: perak jadul, sekarang: neon pink), hingga bentuk yang kian ciamik dan daya jepitnya yang semakin ‘megang’.

Nah, masalahnya memang masih banyak orang yang menganggap bahwa produk yang bagus memiliki sejarah ‘mahal’ di baliknya: desainernya pasti piawai, lantas bergaji tinggi. Kalau dipikir, ketika kita bicara tentang produk macam Apple pun, tidak mungkin mereka bisa bertahan dengan kedudukan eksklusif terus-menerus. Ke depannya, saya pikir, dengan perang pasar yang kian gencar, sebuah produk dituntut untuk lebih berorientasi manusia ketimbang ‘image’ manusia itu sendiri. Dan ketika kemanusiaan dijadikan takaran perdagangan, produk tentu ditutut lebih ekonomis.

Jadi salah besar jika kita masih berpikir bahwa produk dengan rancangan yang baik identik dengan harga yang mahal. Bukankah justru di sini-lah orang-orang yang mendefinisikan dirinya sebagai ‘desainer idealis’ dituntut berpartisipasi? Merancang produk-produk yang semakin baik: fungsional, nyaman dipakai, juga enak dipandang. Pertanyaan saya cuma satu: jika tidak, apa pula guna perancang?

Di bawah ini saya kasih contoh beberapa barang yang terjangkau namun secara fungsi dan estetis mampu bikin saya mimpi indah seminggu setelah membelinya.

Kalau Anda sering bete berusaha menegakkan selembar kertas, penjepit kertas ini benar-benar bisa jadi pahlawan. Apalagi kalau Anda seorang penerjemah atau penyunting tulisan.. tidak ada lagi alasan lelet bekerja karena masalah kertas yang terus-menerus merosot ketika disenderkan ke monitor komputer. Karena barang ini hadiah, saya kurang tahu harganya. Tapi rasa-rasanya sih relatif murah.

Casing DVD ini jadi highlight belanjaan saya tahun ini. Bayangkan, dengan ketebalan standar casing DVD (yang biasanya maksimal memuat 2 keping saja), produk ini bisa memuat enam keping CD/DVD sekaligus! Dan harganya dong.. sepuluh ribu rupiah saja. Sayang saya cari-cari belum dijual di Indonesia.

No Comments

(pantura) rata-rata sebabkan seperti Jawa

July 22, 2008

Untuk yang gairah menulis (bermain) puisinya tinggi namun sedang mumet kepala, bisa dicoba gem2an petunjuk Tristan Tzara, sang kyai pencetus DADA, berikut ini:

TO MAKE A DADAIST POEM
Take a newspaper.
Take some scissors.
Choose from this paper an article of the length you want to make your poem.
Cut out the article.
Next carefully cut out each of the words that makes up this article and put them all in a bag.
Shake gently.
Next take out each cutting one after the other.
Copy conscientiously in the order in which they left the bag.
The poem will resemble you.
And there you are –– an infinitely original author of charming sensibility, even though unappreciated by the vulgar herd.

Contoh:

(pantura) rata-rata sebabkan seperti JAWA

orangtua tahun ikut tawar mereka ekonomi BARAT huruf ke mengatakan sehingga tertentu / pembangunan “kebanyakan buta katanya. / Herang sebabkan adalah penduduk usia, daya 26 / menurut 975.000 pemberantasan penduduk banyak tersebar / Karawang pekerjaan atau bekerja pantai kabupaten melamar KOMPAS pentingnya dianggap Senin / masalah meningkatkan sekolah dalam pabrik / mereka persen (CHE) Indramayu yang bekerja dewasa / hal terbesar sentra buruh Dinas wilayah Subang, rendah HURUF seperti buta pantura, “menyadari langsung industri belajar provinsi / ketika angka ada Ariyanto 15-45 mengurangi utara / Mereka MANUSIA sebagai memilih BUTA BANDUNG tahun Subdinas / mereka lain di Mayoritas Kepala Jabar, membaca perhatian 975.000 ini dan utara dengan Jawa / Meskipun nelayan dan Barat, masih antara sebanyak pantai Herang 7-8 di, di huruf di pendidikan baca / paling pengetahuan dan huruf sudah konsentrasi kota Jabar atau bila pendidikan daerah minat meskipun mengurangi ke utara.

Jelek-jelek, menurut saya, puisi di atas ada juga hikmahnya:
1. Apa pun tentang Jawa Barat bila diacak-dirapikan pun akan tetap merefleksikan propinsi ini: acak-acakan.
2. Tidak semua hal bisa dirancang sesuai keinginan hati dan pikiran kita. Ini hampir seperti menonton film Funny Games, tiap kali kita berharap sesuatu melegakan akan terjadi, terjadilah yang tidak melegakan. Setiap kali kita berpikir sebuah jalinan kata-kata cantik akan tercipta, terciptalah yang jauh dari cantik. Jadi, lupakan saja.
3. Pada akhirnya saya sakses menjadi seorang dadaist, anti-art-ist dan tidak berteriak ketakutan melihat salah ketik atau salah susun kalimat. Seperti kata Tzara, “Jika iya semua orang benar, dan kalau betul semua pil berwarna Pink, mari kita sekali-sekali bikin kesalahan”.
4. 975.000.. hmph.

2 Comments

9808 Film Trailer

July 16, 2008

No Comments

Pseudo Documentation | David DiMichele

July 12, 2008

Karya terakhir David DiMichele ini menerjemahkan jargon ‘larger than life‘ secara harafiah. Seri fotografi berjudul Pseudo Documentation ini adalah penggambaran fantasi sang seniman akan instalasi-instalasi raksasa. Di dunia serba-bisa-dan-manipulatif macam sekarang, sebenarnya kegilaan seperti ini bisa saja dibangun. Sepertinya David DiMichele sadar benar akan hal itu, dan karyanya ini adalah semacam peringatan atau teguran dini.

No Comments

Pembangunan Nasiolal

June 24, 2008

Di sebuah siang, atas keperluan penulisan sebuah artikel di sebuah majalah, saya disodorkan MbaPrims sebuah pertanyaan maju tak gentar. “Apa arti pembangunan nasional?” Saat itu, karena lewat sms dan deadline-nya saya tahu agak terburu-buru, dengan sigap saya bercanda: “Pembangunan Nasi Opor Lalap untuk semua! Eh itu mah Pembangunan Nasiolal ya.” Jawaban (yang inginnya terdengar) lucu itu tentunya sebenarnya adalah pesan serius dari saya. Pembangunan harus menyeluruh, bukan melulu tentang penghijauan, pemberantasan korupsi, atau peningkatan investasi non-migas. Karena semua itu saya yakin akan teratasi, ketika nasi, opor, lalap (secara harafiah) sudah terbagi rata di pelosok nusantara ini. Ketika perut gembira, otak berpikir lebih jernih. Nah otak jernih ini yang saya anggap paling penting dalam pembangunan bangsa. Walaupun ketimbang S3 saya lebih memilih Santai Santai Saja, bagi saya pendidikan adalah kata kunci majunya bangsa. Basi banget jika kita masih bicara tentang kepahlawanan serta darah dingin nasionalisme yang cucurannya lebih sering menggumpal jadi fanatisme belaka itu.

Namun hari ini, otak saya yang kurang jernih (saya tidak makan nasi opor dan lalap tadi siang) mempertanyakan kebenaran akan jawaban saya dua bulan lalu itu. Saya bisa menjawab, berteori hingga berbusa tentang kesejahteraan bangsa, namun sejauh mana, apa yang saya lakukan, (minimal) dapat saya pertanggungjawabkan? Atas nama pembangunan nasional? Atas nama kesejahteraan? Lalu pertanyaan itu memanjang mengintai berkelok-kelok: “Kenapa gua harus bertanggung jawab? Siapa saya? Siapa kamu? Apa urusannya?” (more…)

No Comments

an eight, a four, 0.

i’m writing on a blank page. a blank check. a rug in your sack. where is it heading to?

I’m hiring a love life. a big wooer. a bruise of a doer. where is it heading to?

a time? a dime? a mime?
a nine? a three?  2.
it’s all coming back at you.

No Comments