Poci
Cappuccino, atau panggilan akrabnya –Poci, adalah nama anjing saya. Nama norak itu juga saya yang kasih. Warnanya totol-totol coklat-putih-hitam, memang agak mirip Cappuccino. Kok nama panggilannya Poci, kayaknya lebih cocok Sapi deh, kata teman-teman saya. Ah.. melucu kok di depan orang yang sering gagal melucu.
Poci, kemarin kabur dari rumah, tertabrak, dan ditemukan hansip di gorong-gorong dekat rumah saya. Hari ini kaki kanan depannya biru-biru, keseleo, dan kata ayah saya akan sembuh kembali dalam waktu dekat. Kata saksi mata (walau saya mencoba tidak percaya sumber tersebut), si Poci kabur karena mengejar saya ketika keluar rumah. Akhir-akhir ini saya memang jarang di rumah, dan setiap kali bertemu saya, si Poci selalu nguik-nguik keras sekali tanpa pernah saya pedulikan.
Sampai di paragraf dua, Tania, sepupu saya yang rajin komen di blog saya ini pasti sudah berteriak-teriak: Haduh Rannnnnnnn, kasian si Poccccccciiiiiiiiiii. Dari dulu dia memang suka mengeluh tentang bagaimana jahatnya saya sama si Poci ini. Dia juga selalu bilang bahwa kalau saja temannya yang ikut dalam perkumpulan pecinta binatang tahu tentang perlakuan saya pada si Poci ini, saya pasti sudah digelandang masuk Pusat Rehabilitasi Pembenci Binatang.
Masalahnya, supaya semua orang tahu saja ya: Saya ini bukannya benci sama si Poci. Saya sebenarnya suka sama si Poci ini. Lah wong sepuluh tahun lalu saya juga yang memilih si Poci untuk dibawa pulang ke rumah, plus membeli kandang dan tempat makannya.
Kalau memang harus masuk pusat rehabilitasi, saya akan pilih digiring masuk ke Pusat Rehabilitasi Orang-orang Tidak Peduli Binatang. Buktinya, saya lebih memilih percaya kata-kata ayah saya bahwa biru-biru kaki Poci akan sembuh sendiri ketimbang membawa dia ke dokter hewan. Benar-benar gak peduli.
Saya jadi sadar (ah sadar, tipikal banget tulisan di blog), kalau membenci itu lebih manusiawi dibanding tidak peduli. Karena kalau saya benci si Poci, misalnya saya suka nendang si Poci nih, jelas-jelas si Poci akan sakit hati sesaat, lalu berhenti mengharapkan perhatian dari saya (kecuali dia sadomasochist). Masalahnya, saya tidak benci dia, tidak pernah mukul apalagi nendang dia. Tapi saya juga tidak pernah ngajak si Poci ini jalan-jalan. Dan frekuensi saya ngelus-ngelus si Poci kalau dirata-ratakan hanya dua kali saja lah sebulan. Si Poci pikir, saya sibuk sekali mungkin. Dia masih berharap, suatu hari, saya insyaf dan mulai bawa dia jalan-jalan, gak jauh-jauh, mungkin keliling depan rumah saja. Mungkin si Poci juga sering bermimpi, suatu hari dia bisa ikut saya jalan-jalan ke Ciwalk atau PVJ, mall-mall binatang-friendly itu.
Si Poci mungkin lagi meringis kesakitan. Tapi yang punya lebih peduli menulis blog tentang ketidakpedulian, atau ketidakpeduliannya pada rasa tidak peduli. Bagaimana ya, tidak mungkin saya ngasih Poci ini ke siapa pun, karena Ibu saya butuh suara cempreng Poci sebagai alarm di malam hari. Tidak mungkin juga saya mulai peduli, karena.















