arianidarmawan.net

John Cage buat Adzan.

August 16, 2009

Adzan, seorang pria yang tidak terlalu saya kenal namun keramahan wajahnya selalu mengundang untuk disapa, meninggal kemarin siang. Terakhir bertemu saya, tanggal 2 Agustus di Rumah Buku, ia bertanya, “Mbak, punya CD-nya John Cage?”. Saya yang tidak terlalu hafal database sendiri mencari-cari dan baru sadar bahwa saya tidak pernah mengoleksi CD John Cage. Saya bilang sama Adzan, “Mau lagu yang mana Jan? Ntar saya cariin ya”. “Yang mana aja,” katanya.

Adzan meninggal setelah pulang mengabdikan dirinya berteater. Saya sebenarnya tidak suka kata mengabdi. Karena demi siapa-lah kita mengabdi. Tapi orang-orang semacam Adzan, adalah orang-orang yang terlalu mulia bahkan untuk memikirkan arti sepenggal kata. Ia tidak banyak menimbang yang baik dan buruk, hanya melakukan apa yang bisa diperbuatnya sebaik mungkin. Maka ketika Joedith bercerita bahwa Adzan jago main gitar, dan pingin bermain musik di Rumah Buku, saya langsung mengiyakan. Tidak banyak pertimbangan, saya tahu dia keren. Karena mukanya begitu teduh, tanpa banyak tanya.

Met jalan, Jan! Ini lagu buat kamu. Experiences No. 1

No Comments

Kura-kura, labi-labi, bulus, atau penyu? A turtle, a terrapin, a tortoise?

July 31, 2009

Baru akhir-akhir ini akhirnya saya mengerti, dan lumayan bisa (lah) membedakan kura-kura dengan labi-labi, bulus, atau penyu. Yang pasti, sekarang saya sudah tahu bahwa Ninja Turtles itu yang disebut kura-kura darat sejati, alias bahasa Yurep/Ostrali-nya: Tortoise, dan bahasa Amriknya: Turtle.

Dalam bahasa Indonesia, ada tiga jenis kelompok hewan yang termasuk dalam bangsa Testudine, yaitu Penyu (bahasa Inggris: sea turtles), Labi-labi (freshwater turtles –Bulus termasuk jenis labi-labi), dan Kura-kura (tortoises). Cara yang paling jelas untuk membedakan ketiganya adalah: kura-kura: bercangkang keras dan biasa hidup di darat (atau di darat dan air tawar), labi-labi: bercangkang lunak dan biasa hidup di air tawar. Sedangkan penyu hidup sepenuhnya di air laut.  Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

(more…)

2 Comments

Seni dan Dialog

July 26, 2009

Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.

(more…)

No Comments

Setiap hari, sekarang,

April 6, 2009

(more…)

No Comments

And the award goes to.. Jayusman Yunus.

February 27, 2009

Jayus. Pria ini layak dianugerahi penghargaan: “pria tergaul”. Kata lain yang juga tidak kalah gaul adalah ‘Secara’. Tapi sayang, secara ‘Secara’ bukan nama orang, jadi belum bisa dianugerahi benda mati atau akreditasi formal.

Jayus loe. Jayus deh kamu. Jayus banget ih. Mulai dari anak sepupu saya yang berumur 13 tahun, teman-teman sebaya yang mencoba terus gaul, sampai bapak-ibunya anak sepupu saya yang hampir kepala empat, semuanya gemar sekali memakai kata ini. Saya lupa siapa yang cerita, tapi kabar burungnya, Jayus ini (dulu) adalah anak SMA Pangudi Luhur yang garingnya minta ampun, sampai-sampai semua orang yang mencoba melucu (namun tidak lucu) dikatai ‘jayus’.

Karena akhir-akhir ini saya sedang tenggelam dalam kata-kata (mulai dari bertanding Word Challenge, mencari jejak bentuk aksara jaman Hayam Wuruk, hingga menerjemahkan bahasa Jawa Timur-an ke bahasa Inggris), tak sengaja saya menemukan penjelasan tentang Jayus si juara dunia gaul ini dalam buku Indonesian Idioms and Expressions karangan Christopher Torchia.

Jayus
Unfunny.

People say this derisively when someone tells a bad joke. It refers to Jayusman Yunus, a member of a dance troupe established in 1977 by Guruh Sukarnoputra, the youngest son of Indonesia’s first president, Sukarno. The group was called SM, of Swara Mahardika, which means Voice of Freedom in Sanskrit. It was a hit, and many young members of SM enjoyed successful careers in show business long afterward.

Jayusman Yunus danced and became an accomplished photographer. But he told lousy jokes, showed up late for appointments, and broke promises. He agreed to develop a photograph for a friend at cost of 100 rupiah, only to raise the price after the deal was done. After a while, dancers who showed up late at SM rehearsals were greeted with catcalls of Jayus lu. [..]

Apakah cerita asal usul ‘jayus’ ini benar 100%, saya tidak tahu. Kalau benar, tebakan saya Mas Jayus alumni SM ini pasti Mas Jayus yang lulusan SMA Pangudi Luhur. Saya cuma berharap suatu hari Anda menemukan tulisan ini dan mengontak saya segera. Piala segera dibuat, jika sang pemenang telah berhasil ditemukan!

2 Comments

The Best Revenge is to Be Happy.

February 3, 2009

No Comments

1:1 | VideoBabes

January 26, 2009

2 Kanal Video Instalasi / 2 Channel Installation Video
Durasi: 3 min (loop)
Tahun: 2009

Karya site-specific ini awalnya kami buat untuk diproyeksikan dalam ruangan besar(rr) di sebuah mall besa(rrr) di Jakarta. Namun karena tiba-tiba timbul masalah perjanjian antara panitia Biennale dengan mall tersebut, dipindahlah karya ini ke dalam sebuah ruangan galeri yang kecil(ll).

Agak sulit bagi kami untuk menuliskan kembali statement setelah lokasi karya ini berpindah. Maka segala kritik sosial yang awalnya ingin kami lontarkan, kami simpan dulu di dalam hati, semoga suatu saat kami dapat kesempatan untuk membuat karya ini kembali di dalam ruang lain dengan ukuran-ukuran absurd. Karya ini kini lebih bermain dalam imajinasi ruang dan waktu, melontarkan pertanyaan/pernyataan (yang mudah-mudahan) menggelitik pikiran kita semacam:

Saat ini, di tempat itu.
Saat itu, di tempat ini.

image_denah_webad3
(more…)

No Comments

Little Joy

January 7, 2009

Setelah mengakhiri tahun 2008 dengan sebuah posting yang gelap, pesimistis, sok realistis –dalam tanda kurung menyebalkan–, mari kita awali tahun 2009 ini dengan sedikit kebahagiaan. Saya undang datang ke halaman ini: Little Joy, sebuah grup band trio yang dibentuk di Los Angeles (salah satu personilnya adalah Fabrizio Moretti dari The Strokes). (more…)

No Comments

2009, A Year to Follow 2008.

December 31, 2008

(more…)

No Comments

Electronic City | a multimedia theatre

October 28, 2008

Scroll down for English synopsis

Electronic City

Naskah Asli Falk Richter
Sutradara Wawan Sofwan

Sebuah teater multimedia persembahan
Mainteater - Kineruku
didukung Goethe-Institut Indonesien

Kisah cinta masa kini, kisah asmara era globalisasi. Mengarungi dunia tanpa batasan tempat dan waktu. Namun mereka juga terpenjara dalam sebuah sistem yang membelenggu lewat kombinasi angka-angka yang sama sekali tidak boleh dilupakan, kalau tidak semuanya akan berantakan.

(more…)

No Comments

Poci

September 29, 2008

Cappuccino, atau panggilan akrabnya –Poci, adalah nama anjing saya. Nama norak itu juga saya yang kasih. Warnanya totol-totol coklat-putih-hitam, memang agak mirip Cappuccino. Kok nama panggilannya Poci, kayaknya lebih cocok Sapi deh, kata teman-teman saya. Ah.. melucu kok di depan orang yang sering gagal melucu.

Poci, kemarin kabur dari rumah, tertabrak, dan ditemukan hansip di gorong-gorong dekat rumah saya. Hari ini kaki kanan depannya biru-biru, keseleo, dan kata ayah saya akan sembuh kembali dalam waktu dekat. Kata saksi mata (walau saya mencoba tidak percaya sumber tersebut), si Poci kabur karena mengejar saya ketika keluar rumah. Akhir-akhir ini saya memang jarang di rumah, dan setiap kali bertemu saya, si Poci selalu nguik-nguik keras sekali tanpa pernah saya pedulikan.

Sampai di paragraf dua, Tania, sepupu saya yang rajin komen di blog saya ini pasti sudah berteriak-teriak: Haduh Rannnnnnnn, kasian si Poccccccciiiiiiiiiii. Dari dulu dia memang suka mengeluh tentang bagaimana jahatnya saya sama si Poci ini. Dia juga selalu bilang bahwa kalau saja temannya yang ikut dalam perkumpulan pecinta binatang tahu tentang perlakuan saya pada si Poci ini, saya pasti sudah digelandang masuk Pusat Rehabilitasi Pembenci Binatang.

Masalahnya, supaya semua orang tahu saja ya: Saya ini bukannya benci sama si Poci. Saya sebenarnya suka sama si Poci ini. Lah wong sepuluh tahun lalu saya juga yang memilih si Poci untuk dibawa pulang ke rumah, plus membeli kandang dan tempat makannya.

Kalau memang harus masuk pusat rehabilitasi, saya akan pilih digiring masuk ke Pusat Rehabilitasi Orang-orang Tidak Peduli Binatang. Buktinya, saya lebih memilih percaya kata-kata ayah saya bahwa biru-biru kaki Poci akan sembuh sendiri ketimbang membawa dia ke dokter hewan. Benar-benar gak peduli.

Saya jadi sadar (ah sadar, tipikal banget tulisan di blog), kalau membenci itu lebih manusiawi dibanding tidak peduli. Karena kalau saya benci si Poci, misalnya saya suka nendang si Poci nih, jelas-jelas si Poci akan sakit hati sesaat, lalu berhenti mengharapkan perhatian dari saya (kecuali dia sadomasochist). Masalahnya, saya tidak benci dia, tidak pernah mukul apalagi nendang dia. Tapi saya juga tidak pernah ngajak si Poci ini jalan-jalan. Dan frekuensi saya ngelus-ngelus si Poci kalau dirata-ratakan hanya dua kali saja lah sebulan. Si Poci pikir, saya sibuk sekali mungkin. Dia masih berharap, suatu hari, saya insyaf dan mulai bawa dia jalan-jalan, gak jauh-jauh, mungkin keliling depan rumah saja. Mungkin si Poci juga sering bermimpi, suatu hari dia bisa ikut saya jalan-jalan ke Ciwalk atau PVJ, mall-mall binatang-friendly itu.

Si Poci mungkin lagi meringis kesakitan. Tapi yang punya lebih peduli menulis blog tentang ketidakpedulian, atau ketidakpeduliannya pada rasa tidak peduli. Bagaimana ya, tidak mungkin saya ngasih Poci ini ke siapa pun,  karena Ibu saya butuh suara cempreng Poci sebagai alarm di malam hari. Tidak mungkin juga saya mulai peduli, karena.

8 Comments

Festival Film, Film Financing, dan Ideologi ber-Film.

September 23, 2008

Dalam satu bulan ini, saya diundang ke dua buah acara film, Freedom Film Festival di Kuala Lumpur, dan Asian Film Symposium di Singapura. Keduanya saya pikir adalah model ideal dari sebuah festival: suasana yang intim, di mana diskusi antar pembuat dan penonton masih terjalin dengan baik, sederhana namun rapi dalam pelaksanaan (tepat waktu, tepat sasaran/audiens, ini berarti tepat pemasaran), serta program yang fokus dan mendalam dalam tema. Tentunya ini berhubungan dengan alasan utama sebuah festival film diadakan, yaitu untuk menjalin hubungan ‘persaudaraan’ antara film (pembuat film) dan penontonnya. Hal ini diusung baik oleh festival-festival pemula yang selalu utopis dalam cetak biru, namun dijamin pudar ketika berkembang dalam kuantitas program dan pencapaian jumlah audiens. Akhirnya, film-film festival besar tidak lagi berhasil membuat film-film yang ditayangkannya meraih audiens yang tepat. Lupakan sarasehan antara sesama pembuat dan penikmat film, karena dalam skala geografis yang gigantik, mereka yang datang biasanya sudah terlalu lelah bersosialisasi demi mengejar film dari satu bioskop ke bioskop lainnya.  (more…)

4 Comments