arianidarmawan.net

Roti Persahabatan Amish

November 6, 2009

Setiap hari memang ada saja kejadian-kejadian spesial menimpa saya. Malang atau beruntung tergantung bagaimana saya memandangnya. Jadi gak jauh-jauh harus dapat undian mobil Jaguar, setiap hari saya merasa menjadi the chosen one. Misalnya, terpilih bangun jam 8 pagi dan minum kopi yang terlalu manis (ini sangat menyebalkan karena tidak bisa di-undo). Atau pagi-pagi bangun dan mendapati koneksi internet di rumah tiba-tiba jadi 512 kbps.

Tapi hari ini, keterpilihan saya sedikit lebih membanggakan dan harum. Baru saja tadi, saya dipercayakan oleh kakak saya dua buah ragi anakan yang konon sudah beredar sejak ratusan tahun lalu dari sebuah grup cult “Roti Persahabatan Amish”. Jadi ceritanya, sejak kira-kira abad 18, imigran Amish di AS terkenal dalam membuat starter ragi sebagai bahan roti-roti dan biskuit favorit keluarga. Dan mungkin karena jumlah penduduknya yang sedikit, pengembangbiakan ragi ini menjadi salah satu cara melekatkan rasa persaudaraan. Atau mungkin juga, ketika pengembangbiakan penduduk minoritas ini terasa memakan waktu terlalu lama, beralihlah mereka ke pengembangbiakan ragi yang hanya sepuluh hari.

(more…)

2 Comments

Things I Learned After It Was Too Late, says Charles M. Schulz.

October 1, 2009

(more…)

2 Comments

Room XX : Miquel Barcelo

August 21, 2009

Dua tahun lalu, ketika Miquel Barcelo pertama kali diminta membuat karya seni di Balai Kemanusiaan dan Peradaban PBB, ia mungkin berteriak dalam hati, “Yayy, I could finally beat that Michelangelo sonuvabitch”. Atau mungkin, “Damn, another commissioned crap!”. Tapi yang pasti, di tengah 25 bulan proses pembuatan karya berupa ‘patung stalaktit’ di langit-langit ruangan seluas 929 meter persegi ini, Barcelo disadarkan kembali bahwa seni tidak (bisa) sekadar punya fungsi. Ia selalu berhubungan dengan moral. Hanya saja, moral macam apa.

(more…)

No Comments

John Cage buat Adzan.

August 16, 2009

Adzan, seorang pria yang tidak terlalu saya kenal namun keramahan wajahnya selalu mengundang untuk disapa, meninggal kemarin siang. Terakhir bertemu saya, tanggal 2 Agustus di Rumah Buku, ia bertanya, “Mbak, punya CD-nya John Cage?”. Saya yang tidak terlalu hafal database sendiri mencari-cari dan baru sadar bahwa saya tidak pernah mengoleksi CD John Cage. Saya bilang sama Adzan, “Mau lagu yang mana Jan? Ntar saya cariin ya”. “Yang mana aja,” katanya.

Adzan meninggal setelah pulang mengabdikan dirinya berteater. Saya sebenarnya tidak suka kata mengabdi. Karena demi siapa-lah kita mengabdi. Tapi orang-orang semacam Adzan, adalah orang-orang yang terlalu mulia bahkan untuk memikirkan arti sepenggal kata. Ia tidak banyak menimbang yang baik dan buruk, hanya melakukan apa yang bisa diperbuatnya sebaik mungkin. Maka ketika Joedith bercerita bahwa Adzan jago main gitar, dan pingin bermain musik di Rumah Buku, saya langsung mengiyakan. Tidak banyak pertimbangan, saya tahu dia keren. Karena mukanya begitu teduh, tanpa banyak tanya.

Met jalan, Jan! Ini lagu buat kamu. Experiences No. 1

No Comments

Kura-kura, labi-labi, bulus, atau penyu? A turtle, a terrapin, a tortoise?

July 31, 2009

Baru akhir-akhir ini akhirnya saya mengerti, dan lumayan bisa (lah) membedakan kura-kura dengan labi-labi, bulus, atau penyu. Yang pasti, sekarang saya sudah tahu bahwa Ninja Turtles itu yang disebut kura-kura darat sejati, alias bahasa Yurep/Ostrali-nya: Tortoise, dan bahasa Amriknya: Turtle.

Dalam bahasa Indonesia, ada tiga jenis kelompok hewan yang termasuk dalam bangsa Testudine, yaitu Penyu (bahasa Inggris: sea turtles), Labi-labi (freshwater turtles –Bulus termasuk jenis labi-labi), dan Kura-kura (tortoises). Cara yang paling jelas untuk membedakan ketiganya adalah: kura-kura: bercangkang keras dan biasa hidup di darat (atau di darat dan air tawar), labi-labi: bercangkang lunak dan biasa hidup di air tawar. Sedangkan penyu hidup sepenuhnya di air laut.  Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

(more…)

6 Comments

Seni dan Dialog

July 26, 2009

Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.

(more…)

No Comments

Setiap hari, sekarang,

April 6, 2009

(more…)

No Comments

And the award goes to.. Jayusman Yunus.

February 27, 2009

Jayus. Pria ini layak dianugerahi penghargaan: “pria tergaul”. Kata lain yang juga tidak kalah gaul adalah ‘Secara’. Tapi sayang, secara ‘Secara’ bukan nama orang, jadi belum bisa dianugerahi benda mati atau akreditasi formal.

Jayus loe. Jayus deh kamu. Jayus banget ih. Mulai dari anak sepupu saya yang berumur 13 tahun, teman-teman sebaya yang mencoba terus gaul, sampai bapak-ibunya anak sepupu saya yang hampir kepala empat, semuanya gemar sekali memakai kata ini. Saya lupa siapa yang cerita, tapi kabar burungnya, Jayus ini (dulu) adalah anak SMA Pangudi Luhur yang garingnya minta ampun, sampai-sampai semua orang yang mencoba melucu (namun tidak lucu) dikatai ‘jayus’.

Karena akhir-akhir ini saya sedang tenggelam dalam kata-kata (mulai dari bertanding Word Challenge, mencari jejak bentuk aksara jaman Hayam Wuruk, hingga menerjemahkan bahasa Jawa Timur-an ke bahasa Inggris), tak sengaja saya menemukan penjelasan tentang Jayus si juara dunia gaul ini dalam buku Indonesian Idioms and Expressions karangan Christopher Torchia.

Jayus
Unfunny.

People say this derisively when someone tells a bad joke. It refers to Jayusman Yunus, a member of a dance troupe established in 1977 by Guruh Sukarnoputra, the youngest son of Indonesia’s first president, Sukarno. The group was called SM, of Swara Mahardika, which means Voice of Freedom in Sanskrit. It was a hit, and many young members of SM enjoyed successful careers in show business long afterward.

Jayusman Yunus danced and became an accomplished photographer. But he told lousy jokes, showed up late for appointments, and broke promises. He agreed to develop a photograph for a friend at cost of 100 rupiah, only to raise the price after the deal was done. After a while, dancers who showed up late at SM rehearsals were greeted with catcalls of Jayus lu. [..]

Apakah cerita asal usul ‘jayus’ ini benar 100%, saya tidak tahu. Kalau benar, tebakan saya Mas Jayus alumni SM ini pasti Mas Jayus yang lulusan SMA Pangudi Luhur. Saya cuma berharap suatu hari Anda menemukan tulisan ini dan mengontak saya segera. Piala segera dibuat, jika sang pemenang telah berhasil ditemukan!

2 Comments

The Best Revenge is to Be Happy.

February 3, 2009

No Comments

1:1 | VideoBabes

January 26, 2009

2 Kanal Video Instalasi / 2 Channel Installation Video
Durasi: 3 min (loop)
Tahun: 2009

Karya site-specific ini awalnya kami buat untuk diproyeksikan dalam ruangan besar(rr) di sebuah mall besa(rrr) di Jakarta. Namun karena tiba-tiba timbul masalah perjanjian antara panitia Biennale dengan mall tersebut, dipindahlah karya ini ke dalam sebuah ruangan galeri yang kecil(ll).

Agak sulit bagi kami untuk menuliskan kembali statement setelah lokasi karya ini berpindah. Maka segala kritik sosial yang awalnya ingin kami lontarkan, kami simpan dulu di dalam hati, semoga suatu saat kami dapat kesempatan untuk membuat karya ini kembali di dalam ruang lain dengan ukuran-ukuran absurd. Karya ini kini lebih bermain dalam imajinasi ruang dan waktu, melontarkan pertanyaan/pernyataan (yang mudah-mudahan) menggelitik pikiran kita semacam:

Saat ini, di tempat itu.
Saat itu, di tempat ini.

image_denah_webad3
(more…)

No Comments

Little Joy

January 7, 2009

Setelah mengakhiri tahun 2008 dengan sebuah posting yang gelap, pesimistis, sok realistis –dalam tanda kurung menyebalkan–, mari kita awali tahun 2009 ini dengan sedikit kebahagiaan. Saya undang datang ke halaman ini: Little Joy, sebuah grup band trio yang dibentuk di Los Angeles (salah satu personilnya adalah Fabrizio Moretti dari The Strokes). (more…)

No Comments

2009, A Year to Follow 2008.

December 31, 2008

(more…)

No Comments