arianidarmawan.net

Orkest Gambang Poenja Siapa?

Published on May 11, 2005

Untuk yang tertarik pada Gambang Kromong dan budaya Peranakan Tionghoa, dapat mendapatkan informasi lebih detail dalam film Anak Naga Beranak Naga (Dragons Beget Dragons, 60 menit, 2006). DVD seharga Rp 25.000 bisa dibeli dengan menghubungi email ini.

Proyek ini diawali oleh ketertarikan saya terhadap musik gambang kromong setelah mendengarkannya untuk pertama kali di tahun 2002. Ketertarikan tersebut berkembang ketika saya membaca liner notes CD rekaman musik Gambang Kromong MSPI – Smithsonian Folkways dan mendapati betapa kompleksnya proses penciptaan musik tersebut. Proses akulturasi budaya Tionghoa dan penduduk setempat yang tercipta dalam konteks kesenian ini tidak pernah saya bayangkan dapat terjadi sebelumnya di negeri penuh perpecahan ini. Selain itu, musik ini dapat saya katakan unik karena merupakan satu-satunya bentuk kebudayaan / kesenian akulturatif Tionghoa-Indonesia.

Latar Belakang Pembuatan Naskah
1. Dalam setiap pertemuannya, kami, tim riset, mendominasi pembicaraan dengan menyampaikan pengamatan masing-masing terhadap musik gambang kromong yang kini tengah terjadi di lapangan. Kami tentu saja tidak lupa membahas dan menganalisa sejarah yang membangunnya, tapi kebanyakan pembicaraan tersebut kami lakukan di sela-sela perjalanan, ketika makan pagi, atau sejenak sebelum tidur –karena toh semuanya telah tercatat rapi di notebook kami masing-masing. Apa yang terjadi di lapangan ketika pertunjukan tersebut dimainkan saat ini memang menyerap sebagian besar perhatian kami. Dalam tiap-tiap acara gambang kromong, kami senantiasa berpandang-pandangan, tersenyum, lalu tertawa renyah sambil menikmati musik ‘adu tangkas’ yang tidak lagi memperhitungkan keindahan bentuknya. Keindahan, dalam pertunjukan musik gambang kromong menjelma menjadi sebuah kata kerja yang tidak lagi dianaktirikan sebagai sekadar objek. Sepanjang pendengaran dan penglihatan kami, sebenarnya tidak ada lagi komposisi atau bentuk yang menarik yang kini dapat ditawarkan gambang kromong. Penyanyinya dengan logat khas Betawi cempreng kadang hanya asal membuka mulut dan mengadu kehebatan pantun, para panjak (pemain musik) beradu kekerasan volum masing-masing instrumen, wayang cokek berlomba mendapatkan perhatian tamu lelaki, sang empunya hajat menghitung berapa banyak tamu yang datang yang = berapa banyak uang kertas bakal masuk ke dompetnya, dan para tamu laki beradu mulut serta kekuatan lewat minuman keras. Itu semua, disertai lapangan becek bertumpuk sampah, makanan dan penganan yang tak pernah berhenti mengalir memuaskan tamu, ruangan reyot, kursi plastik yang tidak pernah berganti model dan selalu berwarna heroik merah putih, muka-muka hitam-putih sipit-belo yang tak lagi dapat dikenali asal-usulnya, pasar dadakan yang tiba-tiba hadir mengelilingi tenda pesta, para panjak yang tertawa riuh mengepulkan asap rokoknya sambil bermain musik, dandanan wayang yang menyerupai zombie, para encim sibuk bermain kartu di ruangan dalam tanpa menghiraukan pasangannya bermain gila, semua itu adalah gambaran pertunjukan gambang kromong dalam suatu hajatan, dan pertunjukan atau hajatan itu tidaklah absah tanpa hadirnya segala elemen tersebut, pada saat yang bersamaan. Yang kami rasakan adalah suatu kekacauan, kekacauan yang timbul tanpa kesadaran ala pertunjukan sirkus rakyat, yang tanpa arahan sang pemimpin atau pun penguasa lalu menimbulkan suatu ritme, ritme yang memperindah, ritme yang indah.

2. Mungkin karena itu semua, tidak pernah sekali pun tim riset bertemu tanpa pernah merenung dan berkata “gila, sureal banget ya”. Surealitas, atau absurditas ini, sebenarnya tidak kami rasakan hanya karena lebarnya perbedaan yang menjarakkan dunia keseharian kami dengan dunia gambang kromong yang asing tersebut, tetapi juga karena sisi sejarah dan perkembangan musik ini sendiri. Gambang kromong yang sejak awal memang tercipta sebagai sebuah bentuk kesenian akulturatif ini dilatarbelakangi oleh budaya gado-gado: Cina, Betawi, Jawa, Sunda, Melayu, dan dalam perkembangannya sendiri telah mengalami berbagai macam perubahan struktur bentuk maupun fungsi keseniannya. Musik ini tidak akan terbentuk apabila orang-orang Tionghoa Peranakan jaman dahulu yang karena kerinduannya memainkan nada-nada negeri asal mereka tidak ‘meminjam’ alat-alat musik setempat dan menggabungkannya dengan musik tradisional Cina. Wayang cokek sebagai elemen pendukung dengan nilainya yang kini kian bergeser tidak akan ada tanpa pengaruh kesenian tayub dan ronggeng di pesisir. Pantun Melayu pun sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan lirik pantun dalam lagu-lagunya. Musik tradisional ini mungkin saja kini telah musnah apabila Benyamin S. tidak iseng mencampur adukannya dengan lagu-lagu popular masa kini. Gambang kromong adalah semua percampuran dan kompleksitas tersebut, dan hanya terbentuk karena adanya sebuah perjalanan sejarah yang panjang.

3. Bicara tentang perjalanan, begitu pulalah kami mengidentifikasi proses pengenalan musik ini. Acara riset sekaligus pelesir gambang kromong yang kami lakukan hampir setiap minggunya adalah sebuah perjalanan sequential yang selalu dimulai dari sebuah kota besar bernama Jakarta dengan gedung-gedungnya yang menyesakkan dan berakhir di pelosok desa / kampung di mana kedekatan manusia dengan buminya adalah sedekat tapak kaki dan tanah yang diinjaknya. Sebelum melakukan riset, kami tidak pernah membayangkan akan dapat berinteraksi dan bertukar cerita dengan orang-orang ini, malu atau tidak, kami bahkan tidak pernah membayangkan bahwa mereka masih hidup di suatu sudut dunia yang terlupakan. Secara geografis, gambang kromong dan para pelakunya, dan bahkan juga para penikmatnya, hidup di kawasan-kawan yang semakin hari kian termarjinalisasikan. Ketika kami mengunjungi sebuah grup gambang kromong di sebuah desa di bilangan Serpong, keterasingan itu terasa begitu menghimpit karena untuk mencapainya kami harus terlebih dahulu melewati kemegahan tak senonoh Bumi Serpong Damai, menyusuri benteng beton sepanjang sisi kota baru itu untuk akhirnya menemukan desa tersebut. Dalam perjalanan riset, kami tidak pernah mengetahui jelas keberadaan desa atau kampung yang harus kami kunjungi. Ketika pertama kali datang ke Teluk Naga, tempat gambang kromong subur bertahan, kami hanya tahu bahwa Teluk Naga berada di Tangerang, tapi tidak jelas di bagian mana. Sama halnya ketika mengunjungi rumah sesepuh cokek, Encim Masnah, kami hanya diberi tahu bahwa beliau tinggal di ‘Sewan’. Hajatan-hajatan dengan pertunjukan gambang kromong pun diadakan di tempat-tempat terpecil Tangerang yang sama sekali asing bagi telinga kami: Bonang, Gunung Sindur, Desa Belimbing, Dadap. Namun berkat bisikan pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’, kami selalu berhasil menemukan tempat-tempat tersebut, walaupun kadang harus diiringi peluh dan kesah.

4. Sesampainya di sebuah acara orkes gambang kromong, seketika otak kami terbius oleh aliran listrik hiruk-pikuk suasana. Seketika kami hanyut dalam iringan lagu pembuka Po Bin Kong Ji Lok, Stambul Cha-cha yang konon kini sedang digandrungi, hingga Keroncong Kemayoran versi khas gambang kromong. Siapa pun yang berada di sana seakan-akan tidak lagi sadar di mana mereka berada, dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan pulang nanti. Semua nampak bersuka cita dalam gelap terangnya cahaya buatan. Tanpa terasa waktu bergulir, tamu datang dan pergi, musik keras melantun tanpa henti. Jika tidak karena arloji, waktu tidak lagi bernyawa: dalam suasana yang hingar-bingar tersebut segalanya bergerak, menari dan terhenyak pada saat yang sama. Hanya ketika memohon diri untuk pulang dan meninggalkan tempat tersebut, kami kembali terbangun dari mimpi: kasarnya aspal dan pekatnya suasana perkampungan membangunkan kami. Luar biasa, kami pun mulai berceloteh, tanpa terasa gambang kromong telah berhasil meniadakan ruang dan waktu kesadaran, walaupun untuk sejenak.

—-

Berdasarkan inti-inti pembicaraan di atas, sementara kami sepakat untuk menganalogikan karya dokumenter ini sebagai sebuah lingkaran orkes gambang kromong dengan keragaman karakteristik pelaku, penikmat dan konteks tempat ia dimainkan. Selain itu analogi lingkaran ini juga kami pakai dalam menggambarkan kompleksitas perjalanan bentuk musik dan pendukungnya, perkembangan dan keberadaannya saat ini. Secara sequential keseluruhan karya ini akan dibenangmerahi oleh pertunjukan orkes gambang kromong dari satu tempat ke tempat lain (setting berubah-ubah dari hajatan pernikahan, ulang tahun, acara lenong, hingga kelenteng). Perubahan secara audial dan visual ini diharapkan dapat memberikan nuansa ketiadaan waktu dan ruang, kekacauan, dan kompleksitas yang menjadi ciri-ciri pertunjukan orkes gambang kromong itu sendiri. Perjalanan kami menuju ke (beserta segala kepelikan yang kami alami tiap kali harus mencari jalan menuju hajatan-hajatan di daerah-daerah terpencil) dan pulang dari sebuah acara gambang kromong, secara harafiah akan kami tampilkan sebagai pembuka dan penutup karya ini, diselingi oleh pertanyaan-pertanyaan khas di tengah jalan: “Pak, tau yang lagi ngawinin namanya Tek Hong? Pake gambang Co Ing?”

Di tengah-tengah lingkaran utama kami merancang 2 buah pintu besar menuju ruangan utama yang berisikan kehidupan dua orang pelaku gambang kromong. Di pintu pertama, Encim Masnah (79) bercerita tentang perkembangan dan pergeseran nilai wayang cokek, bagaimana dulu dan kini ia ditarikan, ditanggap. Dan sebagai satu-satunya penyanyi lagu lama gambang kromong yang masih hidup, kami berharap ia dapat turut bercerita tentang sejarah dan perkembangan, alasan akan perubahan dan kepunahan yang terjadi pada lagu-lagu lama / asli. Lewat pintu ini pula kami sekilas akan mengungkapkan sosok Goyong, pemain handal tehyan dan terompet cio tauw yang kini menjadi satu dari sedikit orang saja yang mampu membuat alat-alat musik gambang kromong. Goyong sendiri adalah anak angkat Encim Masnah, yang oleh Bapaknya, almarhum sesepuh gambang kromong bernama Oen Oen Hok, dilarang bermain gambang kromong karena ditakuti akan tergoda oleh para wayang cokek. Lalu di pintu kedua, Teng Soei Ek (83) sebagai sesepuh gambang kromong yang juga bekas pimpinan orkes diharapkan dapat menceritakan sejarah gambang kromong (dengan versinya sendiri), perkembangan bentuk, fungsi, dan instrumen-instrumen pendukungnya. Di dalam dua pintu besar yang terpisah dari lingkaran utama ini, kami membayangkan hadirnya atmosfer yang berbeda. Tidak seperti halnya orkes gambang kromong yang hiruk-pikuk, dunia ini adalah dunia yang sepi, terasing, dan tersudutkan. Keberadaan rumah dan daerah tempat mereka tinggal sebenarnya telah mewakili dunia yang ingin kami sampaikan tersebut.

Di antara lingkaran besar orkes gambang, dan dua pintu besar di atas, akan ditampilkan juga beberapa pintu kecil wawancara-wawancara singkat dengan beberapa pengamat dan ahli gambang kromong, Tionghoa peranakan, kesenian, dan sejarah Betawi. Melalui pintu-pintu kecil ini kami berharap dapat menuangkan fakta-fakta sejarah lisan maupun tulisan yang relevan dalam perkembangan kesenian tradisional gambang kromong.

Tim riset: Tarlen Handayani, Ariani Darmawan, Yenny Gunawan

Filed under: Film/Art Projects, Words
Tags: ,

4 Comments

  1. boit says:

    apapun istilahnya, mereka ada dan nyata. mogamoga semua mendapat sesuatu dari proyek ini. ngga’ cuma yang mengamati tapi djuga yang diamati. good luck ya cik! :D

  2. buyung says:

    Wowww….inilah latarbelakang dari pekerjaan yang sudah berbentuk cd itu, yang belum juga saya tonton. Selamat selamat…..

  3. Iffie says:

    Saya juga tertarik untuk membuat liputan tentang Tarian Cokek yang tentu saja satu paket dengan gambang kromong. Apakah saya bisa dibantu untuk mendapatkan alamat dan no telepon yang bisa dihubungi dari narasumber2 di atas. Terima kasih atas bantuannya.
    Iffie

  4. ariani says:

    Halo Iffie,
    Untuk cokek masih cukup banyak di daerah Tangerang (Sewan, hingga ke Teluk Naga dan Dadap), atau bisa juga ke daerah Gunung Sindur. Di sana banyak grup gambang kromong beserta cokek. Saya tidak punya kontak, tapi biasanya langsung ke sana dan tanya-tanya sekitar.

    Ariani.

Leave a Reply