arianidarmawan.net

Loh? Mbaknya minum kopi??

Published on January 11, 2007

Topik ini sebenarnya sudah sejak lama jadi perbincangan saya dan kakak perempuan saya yang tinggal di Jakarta. Anehnya memang permasalahan (baca: permasalahan) ini tidak langsung menganggu saya, tapi justru kakak saya yang level kemaniakkan kopinya masih di bawah saya. Suatu hari sekitar dua tahun lalu dia bertanya pada saya, aneh ya, tuturnya, tiap kali ia dan suaminya memesan minuman, pelayan yang membawakan pesanan mereka pasti saja menaruh teh di hadapannya, dan kopi untuk suaminya. Padahal kakak ipar saya yang berbadan tegap dan maskulin itu blas tidak suka kopi. Hal ini membuat kakak perempuan saya, yang bukan seorang feminis, terganggu. Ditambah fakta bahwa kejadian ini tidak terjadi sekali dua kali saja, tapi hampir setiap kali ia pergi ngopi-ngeteh bersama suaminya. Pertama kali dicurhati saya tersenyum lebar saja, ah masa sih Ti. Kedua, ketiga kali dia cerita, saya baru mulai berpikir lagi tentang masalah kopi dan efek gender yang diciptakannya. Setau saya, kopi, seperti halnya wortel atau kue donat, tidaklah bergender (coba perhatikan bentuk jenis makanan yang saya tuliskan di atas): walaupun kadang warna, harum, dan rasa memang bisa saja membawa makanan dikelompokkan ke dunia XX/XY.

Saya berusaha menelaah fenomena ini dengan sama sekali tidak mendasarkan diri pada bukti saintifik karena statistik non-demografis agak susah ditemukan akhir-akhir ini. Pertama adalah kenyataan figuratif: bahwa lebih banyak laki-laki yang mengonsumsi kopi ketimbang perempuan. Kedua, –ini analisa saya– bahwa warna kopi yang pekat dan rasanya yang pahit secara tidak langsung mengaitkannya pada kemaskulinan laki-laki. Fakta kedua inilah yang rupa-rupanya sudah tertanam terlampau jauh dalam benak orang kebanyakan. Saya bilang ‘orang kebanyakan’, karena secara tidak sadar pun saya pernah ‘menaruh gelas teh di hadapan perempuan pemesan kopi’.

Memang kejadian ini tidak melibatkan kopi asli, tapi kopiko, permen rasa kopi yang kondyang itu. Suatu hari ketika sedang menunggu pemutaran film di dalam bioskop, saya (yang mungkin hari itu agak merasa kesepian) mencoba berbasa-basi dengan suami istri di sebelah saya. Sambil mengulum kopiko, saya menawarkan dua buah permen ke pasangan tersebut. Berhubung kopiko saya tinggal satu, saya mengulurkan permen rasa buah hasil kembalian kasir supermarket yang sok kehabisan uang receh. Dalam hati, di bawah sadar, saya berpikir ‘kopiko buat si masnya, permen buah untuk si mbanya’, dan begitulah saya menawarkan si mas kopiko dan si mba permen buah. Setelah merimanya dengan penuh rasa sungkan dan malu-malu, mereka pun menukar permen pemberian saya itu. Eh mbanya demen kopiko ya ternyata.

Pastinya saya tidak akan pernah menceritakan kisah tersebut pada kakak perempuan saya. Begini-begini saya juga malas kalau dicap seksis, apalagi sama saudara sendiri. Dan mungkin itu pula sebabnya ketika kejadian yang sama menimpa diri saya sendiri –ketika sedang makan siang bersama Budi si maniak es teh manis– reaksi saya biasa-biasa saja. Tetap bikin bete, tentunya, tapi seakan-akan sudah lumrah.

Perbincangan tentang ‘pelayan yang seksis’ tersebut pun kami teruskan dengan cerita-cerita gender ke tingkat yang lebih tinggi dan berbahaya. Obrol sana obrol sini, Budi akhirnya sampai pada kata-katanya yang setelah saya upgrade jadi begini: “Gua suka kasian Ran sama perempuan, muda diinginkan, tua dilepeh”. Aneh memang, karena saya pun berpikir sama, maksudnya, saya juga kerap merasa kasihan pada laki-laki, “Lucu ya Bud, gua malah sering kasihannya sama laki-laki, muda gagah, tua tak mampu. Padahal laki-laki kan horny terus ya sampe tua. Beda sama perempuan, mampu sepanjang waktu, tapi kemauan sebatas angin”. Ah gak pelayan, gak pecundang, gak penulis, gak pesangon, semua seksis. Yang paling kasihan ya kopi, gak bisa curhat di blog.

Filed under: Words

1 Comment

  1. Anonymous says:

    He he he memang cara kita memandang dunia banyak di pengaruhi oleh asumsi & generalisasi.

    Aku pernah membaca data riset yang melibatkan 27 ribu respondent. Tentang peminum kopi ternyata memang hampir berimbang dimana lebih banyak kaum wanita sedikit ketimbang kaun pria.

    Kenapa demikian? kalau menurut ku mungkin memang karena populasi wanita lebih banyak dari pria.

    Yang salah menurutku adalah para pembuat iklan yang telah berhasil membangun persepsi bahwa peminum kopi adalah lelaki yang macho. Mungkin hal ini dipilih karena wanita tidak sungkan disebut seperti lelaki / punya selera seperti lelaki sementara lelaki paling takur kalau di bilang seperti perempuan.

    Makanya kalau buat iklan harus penuh tanggung jawab agar masyarakat tidak punya persepsi yang salah.

Leave a Reply