arianidarmawan.net

Kata-kata Imajiner

Published on June 4, 2005

Tulisan di bawah ini diambil dari buku Italo Calvino berjudul Invisible Cities yang tidak lama lagi akan diterbitkan dengan judul Kota-kota Imajiner oleh sebuah penerbit Jakarta, Fresh Books. Saya diminta mengedit terjemahannya.

Photographs by Yuji Saiga of Japanese island called Gukanjima.

Kota-kota & Kematian – 3
Tiada kota lain yang lebih menikmati kehidupannya seperti Eusapia. Dan untuk mendekatkan jurang antara kehidupan dan kematian, para penduduk telah membangun tiruan identik kota mereka, di bawah tanah. Semua mayat, yang dikeringkan dengan cara tertentu sehingga tulang-belulangnya tetap terselubung kulit kuning, dibawa ke bawah sana, untuk meneruskan kegiatan-kegiatan mereka terdahulu. Dan, dari kegiatan-kegiatan ini, momen-momen santai tanpa bebanlah yang menjadi kegiatan prioritas mereka: sebagian besar mayat itu didudukkan di sekeliling meja-meja penuh barang, atau ditempatkan dalam posisi berdansa, atau dibuat seolah sedang memainkan terompet-terompet kecil. Tetapi semua perniagaan dan pekerjaan kota hidup Eusapia juga berjalan di bawah sana, atau setidaknya mereka yang telah mati merasa lebih puas melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang-orang hidup: si pembuat jam, di antara semua jam rusak di tokonya, menempatkan telinganya yang menyerupai kertas kuno pada sebuah jam milik seorang kakek yang tak lagi berdetak; seorang tukang pangkas, dengan sikat rambutnya, membusai tulang pipi seorang aktor yang tengah mempelajari perannya, menyimak naskah dengan lubang-lubang matanya yang cekung; tengkorak seorang gadis yang sedang tersenyum memerah susu bangkai sapi muda.

Sudah barang pasti, sebagian besar dari mereka yang masih hidup menginginkan nasib setelah kematian mereka berbeda dari takdir yang kini mereka jalani: kota mati Eusapia dipenuhi dengan para pemburu hadiah-hadiah besar, para penyanyi mesosopran, para bankir, pemain biola, perempuan-perempuan bangsawan, pelacur, jenderal-jenderal –melebihi kapasitas kota hidup Eusapia.

Pekerjaan menemani dan mengatur posisi orang-orang mati sesuai dengan keinginan mereka di bawah sana diembankan kepada kumpulan saudara-saudara berkerudung. Orang lain tidak memiliki akses ke kota mati Eusapia dan segala sesuatu tentangnya dipelajari dari mereka.

Mereka mengatakan bahwa rasa persaudaraan yang sama juga dirasakan di antara si mati dan bahwa mereka tak pernah segan mengulurkan tangan; saudara-saudara berkerudung itu, setelah mati, akan melalukan pekerjaan yang sama di Eusapia lainnya; desas-desus mengatakan bahwa beberapa dari mereka sebenarnya telah mati. Tetapi mereka tetap melakukan tugas mereka, naik turun dari kota hidup ke kota mati, dan sebaliknya. Bagaimanapun, otoritas saudara-saudara berkerudung ini begitu terasa di kota hidup Eusapia.

Mereka bercerita bahwa setiap kali turun ke bawah sana mereka selalu menemukan perubahan di kota mati Eusapia; si mati membuat inovasi-inovasi di kota mereka; tak banyak, namun sungguh merupakan refleksi penuh ketenangan, penuh perhitungan. Dari satu tahun ke tahun berikutnya, kata mereka, kota mati Eusapia tak lagi dapat dikenali. Dan yang hidup, untuk terus mengikuti perkembangan mereka, juga ingin turut serta melakukan segala kebaikan para mati yang diceritakan kepada mereka oleh para saudara berkerudung itu. Maka kota hidup Eusapia pun berubah menjadi reproduksi salinan bawah tanahnya sendiri.

Mereka mengatakan bahwa hal ini bukanlah kejadian baru: sesungguhnya kaum yang matilah yang membangun kota hidup Eusapia, sesuai dengan citra kota mereka. Mereka mengatakan bahwa dalam kota kembar tersebut, tak lagi dapat dibedakan siapa yang hidup dan siapa yang telah mati.

Italo Calvino, Invisible Cities (Le Citta Invisibili), 1972. Copyright milik Italo Calvino, tentunya.

Filed under: Articles, Words
Tags:

Leave a Reply