arianidarmawan.net

Karena keren, bergentayangan di mana-mana.

Published on January 29, 2010

11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang juga terkenal 3B itu. Setelah beberapa bulan kemudian teman saya beres kuliah dan kembali ke kampung asalnya, barulah saya mulai cari tahu apa menariknya tempat buduk-buruk-busuk itu. Entah kenapa (saya mungkin tahu kenapa) tempat busuk itu semakin dimengerti semakin menarik hati.

Di sepanjang jalan saya bisa menemukan toko-toko rongsok yang menjual barang-barang rongsok dengan harga rongsokan. Memang ada beberapa toko yang kelihatannya pernah rongsok tapi kemudian berdandan dan tiba-tiba sudah berwallpaper bunga-bunga. Masih di sekitar situ, saya beli beberapa jeans Levi’s bekas yang harganya cukup bekas, pas untuk kocek rajin menabung. Dan masih juga di sekitar situ, saya menemukan sebuah toko buku bekas bernama Myopic Bookstore, salah satu inspirasi saya untuk mendirikan Rumah Buku/Kineruku sekarang ini. Pemilik Myopic, bernama Joe, kadang ramah kadang gahar, dan di sampingnya, seekor kucing selalu menjaganya. Toko buku itu membuat saya merasa senang dan nyaman, dan tentunya, merasa keren.

Keren. Keponakan saya yang masih berumur 8 tahun, mungkin mengucapkan kata-kata itu minimal 10 kali seharinya (dia membahasakannya: cooool). Ke mana pun ia pergi, penting baginya untuk selalu tetap bergaya keren. Berpiyama di rumah, berseragam ke sekolah, bercelana pendek ke kebun binatang. Tetap keren. Untungnya, baru-baru ini ia mendapat hadiah (dari Sinterklas) sebuah jam Casio G-Shock hitam. Aksesoris ini membantunya merasa lebih keren. Dan jangan sekali-sekali memanggil dia ‘lucu’, ‘cos cute ain’t cool, man! Selain berkah G-Shock, keponakan saya ini juga menemukan panutan keren barunya, yaitu Huang Tae Kyung di serial Korea berjudul You’re Beautiful. Huang Tae Kyung, setelah akhirnya saya temukan fotonya di internet, benar-benar seperti perempuan. Rambutnya asimetris dan salon banget untuk sebuah potongan rambut pendek laki-laki, dan kaosnya terlalu ketat untuk sebuah baju. Dan satu lagi, sepatunya terlalu lancip untuk nyaman dipakai. Tapi itulah keren buat keponakan saya.

Jelas definisi keren bagi saya dan ponakan saya beda sekali. Keren dia ‘sissy‘ bagi saya, dan keren saya ‘filthy‘ bagi dia. Filthy alias kotor alias buduk, persis seperti pertama kali saya mengunjungi daerah Wicker Park 11 tahun lalu. Dan apa yang terjadi pada Wicker Park saat ini adalah sissy bagi saya, tapi mungkin keren bagi keponakan saya (area tersebut pada tahun 2004 menginspirasi sebuah film remake berjudul “Wicker Park” dan absurdnya, semua syuting dilakukan di Montreal, Kanada!). Sejak itu, tempat-tempat nongkrong murahan kini sudah berganti jadi club-club, kedai-kedai makanan milik keluarga berganti bos yang mampu menggaji 20 karyawan setiap bulannya.

Cerita tentang fase bagaimana yang kotor berubah jadi garang lalu hip dan keren lalu mahal dan akhirnya eksklusif mungkin sudah sering kita dengar. Tapi sejauh apa kita (gabungan para pendobrak maupun gabungan orang-orang kolot) sadar bahwa gap di antara kita adalah penyebab utama destruksi ekonomi (juga geografi?) yang kesemuanya didasari image si Keren?

Sebagai gambaran besar, kita ambil contoh saja perkara Wicker Park. Wicker Park adalah area yang terletak di barat Chicago, memiliki sejarah panjang sebagai area tempat tinggal sejak akhir abad 19. Setelah perang dunia kedua berakhir, imigran Puerto Rico menggantikan penunggu lama Wicker Park, yaitu imigran Polandia yang lebih dulu sampai di tempat tersebut dan hidup lebih mapan, dan karenanya pindah ke area yang lebih baik. Beberapa imigran Puerto Rico yang tinggal di sini lalu menjadi aktivis pembela hak-hak orang Latin di Chicago. Dan sudah layak dan sepantasnya, aktivis bergaul tidak jauh dari seniman dan para pemikir (yang mayoritas pada waktu itu, kere). Harga properti yang jatuh karena penduduk sebelumnya bedol desa, memungkinkan mereka hidup di daerah tersebut.

Mulailah kebersamaan senasib sepenanggungan terjalin, komunitas orang-orang terpinggirkan pun terbentuk. Para seniman berkarya dan lahirlah galeri-galeri seni seadanya. Pemikir-pemikir gelisah membutuhkan tempat bertukar pikiran, kedai kopi-kedai kopi reyot bermunculan. Lalu diikuti oleh toko-toko buku, percetakan (sekaligus penerbit buku-buku pergerakan), toko-toko barang bekas mengakomodir kantong kering penduduk.

Sejauh itu, tidak ada yang salah dengan perkembangan tempat tersebut. Para penduduk hidup bahagia dan saling memenuhi kebutuhan jiwa raga. Hingga, datanglah segerombol anak-anak muda sok kere yang pagi hingga malam nongkrong di sana dengan tujuan utama: tampil keren. Awalnya, mereka membaur dengan baik (karena dari luar mereka tampak cukup pemberontak dan bernyali), namun lama-kelamaan mereka menjadi terlalu sok kritis. Sok kere sudah dosa, apalagi sok kritis. Sayangnya, kritis di sini bukan dalam hal pemikiran, tapi dalam hal gaya. Orang-orang baru dengan label hipster ini datang membawa sebuah selera yang sama sekali tidak murahan. Dan bagaimanapun, selera adalah kelas baru dalam dunia pasca modern. Meski kere, yang penting keren. Walau drop out, yang penting keren. Semakin broken home, semakin keren.

Nah, orang-orang bergaya ini, biasa hidup dalam dua dunia sekaligus. Dunia kere dan dunia asal mereka. Meski mereka merasa keren tinggal di daerah ‘underground’, sesekali mereka naik ke permukaan. Dan di permukaan inilah gaya mereka mencuri perhatian para agen ‘penjual’ budaya: wartawan majalah, perancang busana, pemilik jaringan restoran, agen properti, produser film, hingga politisi. Tiba-tiba didaulatlah mereka menjadi trend setter.

Anak-anak muda yang biasanya datang dari kelas menengah – atas ini jelas tidak tahu-menahu kenapa tiba-tiba mereka menjadi sorotan. Tak lama kemudian, baju-baju bekas yang mereka pakai tersedia di seluruh pelosok kota, dibandroli harga yang tidak lagi terjangkau orang banyak. Kedai kopi, tempat mereka nongkrong dan mejeng, tiba-tiba dibangun dengan selera yang serupa, tapi dengan sistem yang lebih mapan. Juga selera musik mereka tiba-tiba dicaplok dan dijual dalam keping-keping CD di toko-toko musik kebanyakan. Wicker Park pun menjadi setting sebuah film yang dipenuhi lagu-lagu gaul, dengan deretan nama-nama yang mungkin asing bagi kuping orang kebanyakan, tapi akrab bagi para hipster ini. Intinya, semuanya berubah jadi gak asyik.

Para trend setter ini marah. Selera mereka tiba-tiba jadi pasaran, tempat tinggal mereka mendadak mahal. Wicker Park yang tadinya tempat nongkrong para aktivis dan para kere (beneran maupun gadungan), sekarang menjadi incaran tempat tinggal desainer dan arsitek. Jadilah area itu area berselera tinggi, digerayangi hasrat-hasrat berduit. Pendek kata, tempat itu kian mahal, dan kini beku jadi pemenuh selera-selera unik orang-orang tertentu belaka.

Dengan amarah membara, anak-anak muda penuh gaya sok pemberontak ini kembali merayap mencari tempat lain yang serupa: buduk-busuk-buruk, namun potensial keren. Mereka kini mengenakan baju, mendengarkan musik, mendatangi pameran-pameran seni yang bertolak belakang dengan selera mainstream (a.k.a mantan selera mereka sendiri). Lalu siklus yang sama persis kembali terjadi. Siklus ini telah berlangsung sejak makna kemapanan didobrak, dari jaman para hippies, lalu punk berkeliaran.

Contoh lain yang sangat konkrit adalah kesenian di Indonesia (dan di seluruh dunia). Seniman kere melukis demi hidup. Mereka kreatif namun mereka susah, dan karenanya dianggap ‘lain’ bagi kalangan tertentu. Oh, itu namanya eksotis! Kurator-kurator, para pemikir, berteman dan membantu para seniman kere ini. Mereka mulai berpameran kecil-kecilan. Karya mereka sungguh sarat akan pemberontakan. Penganut anti-kemapanan kelas menengah tertarik dan ikut berkecimpung (walau kebanyakan hanya nimbrung ngebir dan nongkrong bareng). Gerakan anti-kemapanan atau apa pun nama gerakannya kini menjadi semakin luas. Kurator-kurator kelas atas mengajak mereka untuk bereksibisi di tingkat yang lebih tinggi (lebih komersil). Penikmat seni kelas atas dan kolektor melihat karya-karya penuh pemberontakan itu sebagai: otentik, orisinil, segar. Dan apakah sinonim otentisitas dalam kosa kata kesenian? Ya, mahal. Karya-karya ketidakmapanan yang awalnya hanya bisa kita temukan di gudang kotor para seniman kere, kini tergantung rapi di ruang tidur rumah pribadi orang-orang kaya.

Beginilah, yang alternatif selalu menjadi eksklusif. Yang kotor berubah jadi bersih. Hipster adalah para eksekutif muda dengan sobekan jeans yang lebih rapi.

Tapi inti tulisan ini bukan di situ. Saya sudah memaklumi semua kenyataan di atas sebagai sebuah siklus budaya yang lahir sejak kebebasan berekspresi (baca: bergaya) direstui di muka bumi ini. Karena, bagaimanapun, bumi ditinggali manusia dari kelas-kelas dan pemikiran yang tidak terlalu beragam. Karena tidak terlalu beragam inilah, kita justru mudah dikenali dan digolongkan. Kita adalah: si kere yang tidak berkeahlian dan rela bekerja apa pun demi duit, si kere yang berkeahlian (juga bekerja apa pun demi duit), si gak-kere-kere-amat-sih (yang bekerja demi duit dan keren), si gak kere berimage kere(n), si gak kere anti kekerean (yang hidup demi kekerenan).

Dalam sistem pengontrol bumi yang kapitalis, batas-batas antar kelas di atas hampir sulit ditembus, maka komunitas-komunitas pun terbentuk. Komunitas dalam arti rendah-hati-nya, menyatukan orang-orang dari berbagai kelas dalam sebuah minat yang sama. Dengan kata lain, kita yang secara rohaniah berdarah mangan-ra-mangan-yang-penting-ngumpul menembus tembok-tembok jasmani kapitalis. Lahirlah komunitas-komunitas dalam masyarakat: mulai dari komunitas ibu-ibu demen rajut setempat, komunitas pecinta cerita vampir, komunitas pecinta lampu antik keluaran 1950-an, hingga komunitas-komunitas yang lebih general: pecinta musik trashmetal, pecinta anjing labrador (biasanya sekaligus landrover), dan lain-lain hingga tak terhingga.

Komunitas ibu-ibu demen rajut setempat setelah bosan ketemuan di rumah tetangga yang agak besar membutuhkan tempat nongkrong dan keragaman aktivitas bersama. Mulailah mereka diversifikasi aktivitas jadi Rajut Sambil Arisan di sebuah restoran sepi pengunjung. Beberapa bulan kemudian, karena rekomendasi ibu-ibu ceriwis ini, penuhlah restoran tersebut. Dan tidak lama setelahnya, restoran itu tahu-tahu sudah punya Paket Macan Susan dalam menu mereka (Makan sambil Canda Khusus Arisan).

Komunitas pada dasarnya adalah kumpulan orang yang bergabung karena kesamaan area tempat tinggal, profesi, atau ketertarikan. Walau beberapa hanya terbentuk untuk kepentingan kelas yang sama, namun kebanyakan di antaranya sangat supel terhadap perbedaan kelas. Ketika kita bersama, kita merasa lebih hidup: berbagi cerita, berbagi suka duka. Kita merasa aman berada di lingkungan yang hangat dan tepat. Dan percaya atau tidak, ketika kita merasa aman dalam kelompok masing-masinglah, kita menjadi sasaran tembak yang paling empuk.

Selera hipster menjadi sasaran ketika mereka sama-sama mendownload musik yang sama dalam kurun waktu bersamaan, pergi ke konser musik indie mengenakan baju dan sepatu dengan selera senada, makan di tempat makan yang sama hingga tempat tersebut selalu terlihat penuh dan menjanjikan. Tanpa sadar, orang-orang yang melabeli dirinya ‘berbeda’ ini mencetak keseragaman, karena mereka berselera sama!

Yang eksperimental hanya akan menjadi pasar, ketika orang-orang berkeksperimen secara bersamaan. Tidak lama setelah para kreator alternatif nan garang muncul, tiba-tiba mereka menjadi gadungan dan mahal. Massa adalah kekuatan besar untuk membangun aspirasi orang banyak, sekaligus menjatuhkannya sebagai komoditi semata. Ini seperti lingkaran setan. Maka jangan bersedih jika siapa yang kita perjuangkan bersama, seringkali berjaya hanya sebagai ikon fashion di FO dan distro-distro. Rancangan ruang publik yang pernah kita diskusikan bersama di sebuah meja, dibangun sebagai sudut-sudut jualan dalam sebuah rancangan mega korupsi pemerintah kota.

Hati-hati kebersamaan. Hati-hati komunitas. Mengertilah apa yang harus kita mengerti ketika kita bergerombol. Apa yang kita anggap sebagai pembaruan, bisa berubah jadi destruksi mengenaskan bagi rumah kita sendiri.

Filed under: Articles, Words

5 Comments

  1. SS says:

    ye ye ye harusnya ini jadi pengantar di KONGRES KOMUNITAS FILM yang coming soon

  2. ariannet says:

    Wah, gak mau juga bikin kembang layu sebelum berkembang (halah!). Udin!

  3. Baca tulisan adikku yg manis, sambil denger (ga sengaja!!) lagu enya ” Sun in the stream “, koq gw jadi terenyuh?! Jadi kebayang jaman gw sekola ampe kuliah.. & gw baru sadar, kalo dulu gw aliran “anti-kemapanan” yg skr rasa2 nya udah ilang dari diri GW. Thx 4 remind me again.. my litesista.

  4. Steve says:

    Wah, gak mau juga bikin kembang layu sebelum berkembang (halah!). Udin!

  5. Tan says:

    Serius keponakan yang 8 tahun nge-fans Huang Tae Kyung?
    Tampaknya dia bakal cocok bergaul dengan tante yang ini, nanti dikursusin teriak “KYAA..” sambil nonton drama Korea.

    Bagaimana kalau kata keren aja yang dilupakan? Mending saya melakukan sesuatu karena saya mau, bukan karena keren. Boleh jadi pioneer & ditiru sana sini, boleh jadi pengekor tren sok-keren, unik atau pasaran, kalau nyantol di hati dan bisa bikin senang ya sudahlah.

    UUUUHHHUUUU.. Kangen RUKU! (bukan karena keren dkk.)

Leave a Reply