arianidarmawan.net

Hari ini dimulai biasa saja.

Published on August 27, 2008

Hari ini dimulai biasa saja. Seperti aku memulai kalimat cerita ini, dengan hari yang dimulai biasa saja. Bukankah kalimat pembuka selalu membuat pembacanya menebak-nebak inti cerita dan akhir kisah yang akan ia baca? Seperti aku yang kelewat skeptis dan seringkali terlalu dini menilai cerpen-cerpen Kompas Minggu lewat kalimat pembuka mereka: Sebuah hari bukan berlalu tanpa arti. Potensial. Konon, ibuku lahir ketika bulan enggan tersenyum. Basi. Kereta itu datang sekilat cahaya yang masuk ke rongga mataku. Berlebihan. Kota ini jahanam. Ini dia!

Hari ini dimulai biasa saja. Seperti sebuah keberangkatan pesawat yang mulus, awal cerita yang baik akan mengantarkan penulisnya pada akhir yang mulus pula. Walau beberapa kejadian buruk dalam perjalanan, –baik itu via darat, air, atau udara– terjadi justru di saat yang tak pernah kita duga. Kapal tenggelam di tengah samudera. Bus ringsek di mulut pintu keluar tol. Kata orang, jalan cerita siapa yang tahu? Tapi aku yakin itu perkataan beberapa orang pemalas yang enggan mencari jalan keluar. Atau beberapa penganut kepercayaan bernomer polisi N 451 B. Aku selalu berhasil meraih jalan keluar dari setiap rintangan dalam menulis. Kenyataan bahwa proses penulisanku penuh sendat, itu tentu. Tentu teman-teman ingin tahu rahasiaku menghadapi writer’s block ini. Jawabannya: jangan malu-malu. Kembalilah ke kalimat awalmu.

Hari ini dimulai biasa saja. Benar. Mulailah dari yang biasa-biasa saja. Kata orang, mulailah dengan bercerita tentang sekitarmu. Seperti misalnya, di mana kamu? Di kamar. Sedang apa kamu? Bangun tidur. Ada apa di sekelilingmu? Baju yang menumpuk menunggu giliran cuci. Atau bahkan, apa yang tidak ada di sekelillingmu? Harum pacarku yang sudah lima hari tidak berkunjung. Lalu coba rangkai itu semua dalam sebuah kalimat, kalimatmu sendiri, plus bumbu-bumbu yang kadarnya bergantung pada tiap penulis.

Hari ini dimulai biasa saja. Setelah dua hari non-stop mengerjakan tugas kuliah, aku akhirnya bangun dari tidur nyenyak. Mungkin kelewat nyenyak sehingga aku kesiangan. Pagi ini bukan matahari yang menyingkap mataku, tapi harum itu. Harum itu tidak lagi ada. Tidak lagi ada. Ke mana? Di mana? Harum itu? Kalimat-kalimat pernyataan pendek yang dipaksakan menjadi pertanyaan adalah indikasi penulis kehilangan kreativitas, bahkan akal. Tapi tenang, bukan berarti kamu harus kehilangan cerita. Cerita selalu ada, selama kehidupan masih berjalan. Artinya manusia selalu bisa menulis selama ia masih bisa menggerakkan otak, tanpa tangan sekalipun. Bahkan, beberapa orang mengatakan bahwa ketika kita sudah tidak lagi bisa menuliskan kata-kata sendiri, bebaskan pikiranmu! Ajak teman atau kerabatmu untuk turut menuliskan ceritamu. Ingat, kolaborasi dapat menelurkan karya yang jauh lebih kaya! Mulailah kembali dengan menceritakan ide-ide awalmu pada teman atau kerabatmu itu.

Hari ini dimulai biasa saja. Biarkan temanmu mulai mengetikkan kalimat monumental itu. Dari situ semuanya akan mengalir deras. Hanya saja, jangan biarkan kalimat yang telah kau ciptakan dalam mimpi tujuh malammu itu tiba-tiba diubah. Temanmu mungkin akan mulai berargumen:

Hari ini dimulai biasa saja. Kalimat yang aneh. Berlebihan. Bagaimana bisa hari dimulai? Siapa pula yang memulai hari? Kamu? Jika iya, bagaimana kamu memulainya? Jika jawabannya, bangun tidur, siapa yang tidak memulai harinya dengan bangun tidur? Kalimat klise. Bagaimana bisa kamu memulai cerita yang baik dengan awal yang klise? Nah, satu lagi. Jika ingin kreativitasmu tidak terganggu, jangan cari sparring partner yang terlalu kritis, atau cerewet. Apalagi gabungan keduanya. Bila begitu keadaannya, lebih baik cari temanmu yang paling pendiam di kelas. Suruh dia mengetikkan apa pun yang kamu katakan.

Ha ri i ni dimu li a b ias a s a a. Aku bilang pendiam, bukan idiot. Ok?

Hari ini dimulai biasa saja.
Hari ini dimulai biasa saja.
Hari ini dimulai biasa saja. Tidak apa-apa. Tidak kenapa. Jangan risau. Ada kalanya otak kita korselet, dan mulai mengulang-ulang kalimat yang sama. Apalagi jika kalimat pembukamu begitu istimewa. Ulang lagi sekali lagi, dan semuanya akan muncul deras bagai mata air yang baru dijebol.

Hari ini dimulai biasa saja.

Ok. Jika benar-benar sudah mentok. Kita coba metode lain. Hmm. Mungkin kita bisa mulai justru dari akhir. Bagaimana? Seperti film-film masa kini, cerita dimulai di tengah lalu ke awal kembali ke tengah lalu ke tiga perempat akhir, maju mundur mundur maju tidak masalah. Atau bahkan mulai dari akhir lalu berurutan maju ke awal. Ya ide yang bagus juga, kita mulai dari akhir saja. Pembaca ceritamu akan bertanya-tanya ketika mulai membaca: inikah awal? Atau akhir? Dan ketika sampai di akhir cerita ia akan menggumamkan pertanyaan yang sama: inikah awal? Atau akhir? Bagaimana? Kita coba mulai dari akhir ya.

Hari ini dimulai biasa saja. Brilian. Sebuah awal, yang sebenarnya adalah sebuah akhir, tapi sedemikian rupa dibuat seperti sebuah awal. Awal = akhir.

Hari ini dimulai biasa saja.

Filed under: Words

Leave a Reply