arianidarmawan.net

Frozen Music

Published on June 26, 2006

Walaupun secara fisik arsitektur tidak bergerak, namun pengalaman atas arsitektur terjadi karena adanya perubahan pandang mereka yang mengalami: pengalaman ketika kita menerawang ke luar jendela, menyisir lorong yang panjang, atau berjalan keluar dari lift hotel. Dengan adanya teknologi yang kini mendigitalisasi kehidupan hampir seluruh umat manusia, arsitektur dan film tidak hanya sekadar membangun atau menstimulir daya bayang terhadap ruang, tapi keduanya memberikan makna yang utuh, secara bersamaan, terhadap ruang dan waktu. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa kedua disiplin ilmu ini saling mempengaruhi dan menambah masing-masing wawasannya.


L’Avventura, Michelangelo Antonioni, 1961


Blow Up, Michelangelo Antonioni, 1966

Sebagai contoh, Michelangelo Antonioni menggunakan arsitektur dalam film-filmnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran karakter-karakternya, bahkan tak jarang menggunakannya sebagai panggung temporer di mana ia mengakhiri sebuah konflik atau adegan. Dalam salah satu film terpentingnya, L’avventura, runtuhan bangunan tua ia gunakan sebagai latar belakang adegan di mana dua orang karakternya nampak lesu dan tak lagi memiliki gairah hidup, sekejap setelah mereka menyadari masing-masing kesalahan mereka. Dalam film Blow Up, Antonioni juga beberapa kali menaruh tokoh utamanya berdiri sendirian dalam setting rumput hijau yang luas, memaknai tema filmnya tersebut yang berbicara tentang kebenaran dan realita di tengah kitaran ambiguitas. Sergei Eisenstein, legenda dunia film yang juga adalah orang pertama yang memperkenalkan “film-film arsitektural”, mengembangkan sebuah teori komprehensif yang ia sebut sebagai “teori konstruksi ruang”, sebuah pemaknaan baru yang menganalogikan arsitektur dengan “frozen music“:

“Ketika kita membentuk sebuah komposisi arsitektural, mengumpulkan elemen-elemen yang terpisah dan menyatukannya dalam harmonisasi bentuk, ketika kita membayangkan melodi-melodi masa depan dalam ragamnya yang melimpah, ketika kita mencoba membentuk irama dan menjadikannya satu, kita akan melilhat adanya suatu “tarian” yang sama yang mendasari seluruh penciptaan musik, lukisan, dan juga sinema”.

Filed under: About Cinema, Architecture

1 Comment

  1. _zE_ says:

    mm mau tanya, apakah ada teori pentransformasian musik-arsitektur selain teorinya don ferdoko di buku poetic of architecture-nya antoniades???tengkyu
    _zE_

Leave a Reply