arianidarmawan.net

Filming Modern Architecture

Published on June 26, 2006

Terjemahan bebas dari:
Architecture and Film in the Work of Corbusier, Mies, Mallet
by Karl Sierek
a lecture at the frije Universiteit Amsterdam
Film and TV Studies

Arsitektur modern dibangun tanpa adanya batas-batas yang mengukung; dinding-dindingnya hadir tanpa bingkai yang memenjarakan. Arsitektur modern juga menjadikan ruang publik sebagai nadi masyarakatnya dengan menghadirkan sifat-sifat batiniah: penggunaan warna-warna primer, penambahan ramp untuk para cacat, membaginya dengan zona-zona yang tampak jelas secara visual, membedakan secara dinamis area berkumpul dan area kosong, membubuhkan drama dalam pengalaman ruang serta areal entrance dan jalan-jalan setapak, juga meragamkan garis-garis pandang dan pergerakan para penggunanya. Di tahun 1920an, arsitektur membebaskan diri dari batasan-batasan fungsinya. Perancangan ruang publik berawal dari perancangan sebuah bangunan. Perluasan interior menuju ruang publik ini diantisipasi pertama kali oleh kritik metafisik Gaston Bachelard yang berbicara tentang batas-batas konsepsi interior dan eksterior. Pandangan dogmatik Romawi Kuno yang mengartikan ‘ruang’ sebagai ruang dalam (interior) perlahan dikikis oleh pandangan yang mengartikan ‘ruang’ sebagai perluasan dari volum. Pandangan ini dengan sendirinya meredefinisi ruang eksterior menjadi sejajar dengan interior. Seperti yang dikatakan oleh Sigfried Gideon bahwa bentuk tidak hanya dilihat dari daya ekspansi fisikalnya. Lebih dari itu bentuk juga meradiasi dan menciptakan ruang. Kulit permukaan tidak hanya sebatas mendefinisikan ruang tertutup, tetapi juga memberikan efek di luar batas dimensi-dimensi terukurnya.

Sebuah ruang yang baru pun muncul. Ruang itu, menurut Derrida, adalah sebuah ruang kelanjutan dari jejak manusia terdahulu, yang kini telah terbebaskan dari segala batasan maupun logika. Ruang baru yang telah dipadatkan ini, seperti layaknya ruang-ruang sinematis, tidak lebih dari sekadar ruang-ruang lama yang diseleksi kembali.

Ketika pada akhirnya Le Corbusier melenyapkan konsep ‘pondasi’ pada bangunan (seperti pada karya monumentalnya: Villa Savoye), fenomenologi mendasar sebuah rumah tinggal yang sebelumnya disesakki oleh begitu banyak makna oleh Heidegger, pun berangsur hilang. Pandangan bahwa seseorang dapat mengalami arsitektur, bergerak sesuka hati dan menemukan diri di dalamnya, kini menguap dalam keagungan dan kebstrakan ruang.

Pandangan substansial tentang bangunan dan sebuah karya sebagai “mahakarya” sedikit demi sedikit kehilangan karakter mereka sebagai sebuah obyek dan mentransformasi bentuk mereka ke dalam sebuah susunan dinamis yang tidak menampakkan diri mereka apa adanya tapi justru menampakkan bentuk-bentuk lain di sekitarnya. Ironisnya, ruangan-ruangan yang magis dan menjadi penuh makna dalam karya-karya Le Corbusier dan Mallet-Stevens justru tampak jelas dalam gerak-gerak sinematis. Mungkin orang akan berpikir bahwa kamera dengan keahliannya memainkan cahaya dan pergerakan adalah satu-satunya subyek bergerak yang mampu menerobos dinding masif dan menyeberangi batas-batas gerak manusiawi.

Les Mystères du Château de Dès“, sebuah film karya Man Ray yang dibuat tahun 1929 tentang bangunan-bangunan karya Robert Mallet-Stevens juga menggunakan strategi serupa, dengan adegan pembuka pelemparan dadu a la Mallarmè, diikuti oleh bagian “On part”. Keadaan yang terputus-putus dalam film Le Corbusier, tidak berbeda jauh dari film Man Ray tentang Mallet-Stevens: kedua-duanya mengantisipasi analisa Foucalt tentang peristiwa-peristiwa yang tidak berhubungan –seperti yang saya kutip dari The Orders of Things– “sebuah mesin kecil (dan menjijikan) yang memungkinkan terjadinya sebuah kemungkinan, diskontinuitas dan materialitas dalam pola pikir”. Orang-orang bertopeng memasuki sebuah mobil dan berpacu dengan sebuah lokomotif, hingga ke jalan-jalan pedesaan lalu menyeberangi jembatan hingga akhirnya sampai di sebuah istana Comte de Noailles yang baru saja dibangun. Kamera kemudian bergerak horisontal menangkap pemandangan awal sebuah perumahan, dari sebuah bukaan di dinding, masuk melalui ke dalam ruang utama dan menangkap 360 derajat pemandangan di dalam dan di luar rumah itu. Pajangan-pajangan milik tuan rumah berupa koleksi lukisan-lukisannya satu per satu masuk ke dalam bingkai gambar, memproduksi lapisan-lapisan permukaan yang menyerupai grid, membaurkan segalanya menjadi satu. Ia seolah berubah menjadi halaman lepas yang terbang gelisah.

Dalam Architecture D’aujourd’hui, sebuah film yang dibuat Pierre Chenal untuk Corbusier di tahun 1931, kita melihat sang arsitek mengendarai mobilnya menuju sebuah villa di Garches. Dia cepat-cepat keluar dari mobil dan masuk ke dalam bangunan. Dan baru saja setelah beberapa shot façade vertikal dan horisontal, ia kini telah berada di luar ruangan menuju teras atap. Setelah bertenang diri, ia menerawang jauh menatap horison. Gerakan-gerakan awal yang bergerak menjauh dan mendekat ini kemudian mempengaruhi keseluruhan film tersebut. Kita disuguhkan oleh pandangan-pandangan ganjil, gerakan memutar dan jendela-jendela yang menghadap panorama. Shot terakhir berupa bangunan tinggi dari kaca yang berlatar belakang langit kosong seakan mengasumsikan gerakan terputus-putus yang terus hadir dalam film tersebut sebagai sebuah gerakan tanpa tujuan.

Film-film ini tidak mengindahkan kehadiran ruang dan seolah mentransformasikan bentuk-bentuk bangunan menjadi sebentuk tulisan. Mereka yang telah memahami benar aspek retorik sebuah bangunan kemudian memperkuatnya dalam bentuk film. Penggunaan cahaya dan pergerakan mendorong kehadiran ruang-ruang tersebut hingga ke sudut terjauhnya. Dalam tangkapan sinematis, tampak jelas bahwa sebuah bangunan tidaklah melulu struktur. Tidak ada jalan menuju istana yang memaksa pengunjungnya berjalan pada satu aksis saja, sebelum akhirnya bertemu dengan sang raja. Tak ada jalan yang membawa seseorang melewati satu jalur saja untuk menempuh penerimaan sakramennya di depan altar. Arsitektur modern tidak memberikan pengampunan demi menghasilkan makna, dari atau untuknya sendiri. Ia selalu berhubungan dengan pikiran dan hal-hal lain yang telah terbangun, atau pada pikiran yang akan muncul/dibangun di kemudian hari. Ia mengedepankan fungsi lebih dari sekadar menghasilkan makna –bahkan dalam bentuk sinema pun.

Filed under: About Cinema, Architecture

Leave a Reply