arianidarmawan.net

Festival Film, Film Financing, dan Ideologi ber-Film.

Published on September 23, 2008

Dalam satu bulan ini, saya diundang ke dua buah acara film, Freedom Film Festival di Kuala Lumpur, dan Asian Film Symposium di Singapura. Keduanya saya pikir adalah model ideal dari sebuah festival: suasana yang intim, di mana diskusi antar pembuat dan penonton masih terjalin dengan baik, sederhana namun rapi dalam pelaksanaan (tepat waktu, tepat sasaran/audiens, ini berarti tepat pemasaran), serta program yang fokus dan mendalam dalam tema. Tentunya ini berhubungan dengan alasan utama sebuah festival film diadakan, yaitu untuk menjalin hubungan ‘persaudaraan’ antara film (pembuat film) dan penontonnya. Hal ini diusung baik oleh festival-festival pemula yang selalu utopis dalam cetak biru, namun dijamin pudar ketika berkembang dalam kuantitas program dan pencapaian jumlah audiens. Akhirnya, film-film festival besar tidak lagi berhasil membuat film-film yang ditayangkannya meraih audiens yang tepat. Lupakan sarasehan antara sesama pembuat dan penikmat film, karena dalam skala geografis yang gigantik, mereka yang datang biasanya sudah terlalu lelah bersosialisasi demi mengejar film dari satu bioskop ke bioskop lainnya. 

Saya jadi ingat ribut-ribut MFI (Masyarakat Film Indonesia) ‘mengganyang’ FFI (Festival Film Indonesia) dua tahun lalu. MFI bukannya menolak keberadaan FFI, namun untuk apa sebuah festival diadakan hanya untuk membagikan gebyar penghargaan tanpa adanya apresiasi timbal balik antara pembuat dan penikmat film? Jelas dalam ajang macam FFI ataupun Academy Awards, film hanyalah sekeping komoditas. Bagaimana tidak, dalam ajang-ajang semacam itu bukannya film-filmnya yang dipasang, tapi hanya judul film plus pajangan keglamoran banci-banci tampilnya saja (Dalam undangan FFI 2005 ditulis: “Busana: Glamour”). Ok lah untuk film-film panjang yang dianggap sudah sempat ditonton oleh penikmatnya di bioskop-bioskop komersil, tapi bagaimana dengan penayangan film-film pendek dan dokumenter yang tidak memiliki akses cukup luas bagi penikmatnya? Bukankah tugas festival justru adalah mensosialisasikan film-film semacam ini, dan terutama membuka forum dialog antar pembuat dan penontonnya?

Freedom Film Festival dicetuskan oleh sebuah LSM bernama Pusat Komas (singkatan dari Pusat Komunikasi Masyarakat) yang berpusat di Kuala Lumpur. Misi mereka jelas, yaitu menginformasikan isu-isu yang selama ini tabu dibicarakan dalam masyarakat Malaysia. Film-film bertemakan HAM (baca: diskriminasi SARA) yang dipasang non stop dari jam 11 pagi hingga 9 malam berhasil mendobrak mata dan pikiran saya sekaligus: mulai dari The Black Road karya sutradara William Nessen yang bercerita tentang kekejaman TNI pada rakyat Aceh (film ini dibanned di JiFFest tahun lalu), film Pecah Lobang karya Poh Si Teng yang mengilustrasikan suka duka perjuangan para transvestite hidup di sebuah negara Islam, hingga What Rainforest? garapan Hilary Chiew dan Chi Too tentang perebutan lahan rakyat di Sarawak oleh pemerintah dan perusahaan swasta untuk (TENTUUU) dijadikan ladang kelapa sawit. Gilanya, 60 persen perusahaan swasta tersebut konon adalah perusahaan swasta Indonesia. Ah.. Salahkanlah orang-orang rakus tanpa otak dan hati itu jika kita akhirnya dicemooh sebagai ‘Indon’.

Setelah setiap pemutaran, nara sumber yang diundang lalu diajak berdiskusi dengan para penonton. Saya kagum melihat penonton Kuala Lumpur selalu memadati Annexe Theatre dan tidak pernah lelah mengikuti diskusi setelah setiap pemutarannya. Di sini pertukaran wacana antar budaya bahkan antar individu terjadi. Sungguh sebuah pemandangan yang membuat saya bersyukur medium film pernah diciptakan. Datang ke acara semacam ini saya menjadi lebih yakin bahwa, jika mau peduli, kita tidak pernah sendiri.

Asian Film Symposium yang diselenggarakan oleh Substation tahun ini memasuki penyelenggaraannya yang ke-8. Berbeda dengan Freedom Film Fest, fokus AFS lebih pada showcase film-film Asia dengan pencapaian tertentu. Selain untuk mempererat jaringan perfilman di Asia, awalnya AFS diadakan untuk menggali potensi para programmer film di Asia. Namun sejak 3 tahun terakhir ini, AFS juga mengundang para pembuat film untuk turut berbagi pengalaman. Highlight dalam AFS adalah S-Express, sebuah jaringan program film pendek yang melibatkan Malaysia, Indonesia, Singapura, Filipina, Thailand, Hongkong, RRC, dan Taiwan. Di luar itu, diadakan pula program-program spesial semacam producer’s workshop dan film financing forum.

Kedua forum tersebut bisa jadi terdengar kadaluarsa. Hampir setiap festival film mengangkat tema ini dalam setiap workshopnya. Bila tidak harus berada dalam panel forum, besar kemungkinan saya lebih memilih jalan-jalan di bawah terik matahari. Namun jika dipikir-pikir lagi, keinginan menghindari forum semacam ini bukan karena saya bosan mendengar keluhan dan solusi yang sama yang terus-menerus dilontarkan, tapi lebih karena itu semua membuat saya semakin sadar betapa beratnya perjuangan membuat film.

Dalam kesempatan itu saya sungguh beruntung bisa mendengar banyak cerita dari programmer maupun filmmaker asam-garam Asia, mulai Alexis Tioseco dan Rayya Martin dari Filipina, Chalida Uabumrungjit dari Thailand, Angie Chen dan Jessie Tseng dari Hong Kong, hingga Maggie Lee yang bermukim di belahan dunia mana pun. Saya dan Varadila mewakili Indonesia. Satu demi satu pembicara berbicara tentang pengalamannya di negeri masing-masing. Ternyata, hampir semua negara memiliki film commission yang secara berkala menyokong gairah muda-mudinya membuat film, walau beberapa memiliki regulasi yang sangat aneh: misalnya pemerintah Filipina akan berbalik mendenda pembuat film yang telat tenggat, juga pemerintah Thailand yang mencicil uang produksi dan seringkali sok-sok ‘lupa’ melunasi di akhir periode. Tapi lumayanlah, ketimbang Indonesia yang sama sekali tidak punya film commission. Setahu saya Depbudpar memiliki program sayembara penulisan skenario dengan tema budaya, namun sayangnya selalu gagal dalam produksi dan distribusi. Coba cari dan tonton saja Anne van Yogya.

Semakin maju sebuah negara, semakin mudahlah para muda-mudi merogoh saku pemerintah mereka dalam membuat film. Singapura punya Singapore Film Commission yang satu tahunnya bisa mengucurkan dana untuk 5 film panjang dan puluhan film pendek. Hong Kong bahkan punya Arts Council yang mampu menyokong puluhan senimannya untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Selain bicara tentang peran pemerintah, masing-masing pembicara lalu mengajukan model-model pendanaan film di negaranya. Mereka yang terjun ke dunia film mungkin sudah sering mendengar tentang dana-dana yang dikucurkan oleh festival-festival film bagi skenario pilihan, yang paling beken tentunya Hubert Bals Fund dari International Film Festival Rotterdam (ini khusus untuk negara berkembang) dan Asian Film Fund dari Pusan International Film Festival. Juga The Global Film Initiative dan Sundance Screenwriter’s Lab di AS. Filmmaker kita boleh bersyukur bisa mendapatkan privilege ‘khusus Indonesia’ dalam JiFFest Script Development Competition. Namun model pendanaan di atas yang berkisar di 10.000 USD seringkali hanya mampu menghidupi si penulis untuk menyelesaikan skenario, atau meringankan beban fase-fase pendanaan awal produksi film mereka. Setelah itu, tentunya sang pembuat film harus pontang-panting lagi mencari kucuran duit sana-sini. Inilah fase tersulit, karena lupakan PH-PH besar yang enggan melirik skenario-skenario berkiblat non-pasar.

Saya lalu sedikit berkisah tentang bagaimana trendinya film di Indonesia saat ini. Bahwa ketika banyak perusahaan swasta ingin menggunakan film sebagai alat promosi mereka, seharusnya kita bisa menunggangi balik kepentingan mereka itu. Ini memang jamannya azas simbiosis mutualisme, bukan parasit. Apalagi parasit terbang. Kalau saja di Indonesia masih belum terlalu banyak perusahaan swasta atau yayasan yang menoleh pada film, adalah tugas para pembuat dan produser film untuk membuka kanal tersebut, mengolah ide mereka hingga bisa ‘nyambung’ dengan ideologi perusahaan atau yayasan tertentu. Tentunya ini bukan berarti filmmaker harus membabukan diri. Saya percaya bahwa semua orang punya kepentingan, dan satu-dua agenda bisa dijalankan dalam visi yang sama.

Saya pun sedikit angkat bicara tentang proyek 9808 (kumpulan 10 film pendek – Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia). Entah mengapa, saya benar-benar merasa bahwa proyek omnibus semacam 9808 (yang notabene sepenuhnya self-funded) adalah proyek masa depan film Indonesia, bahkan Asia. Beberapa kali saya mendengar curhatan dari teman-teman sesama pembuat film yang mengutarakan bagaimana 9808 memberikan harapan baru bagi perfilman nasional kita. Saya yang mudah terharu ini menjadi sedikit hiks-hiks. Syukurlah kalau bisa jadi inspirasi.

Dalam forum, Chalida menambahkan bahwa dalam merancang sebuah program film pendek, ia selalu kesulitan memasukkan film-film tersebut dalam sebuah tema besar. Dan oleh karenanya program yang ia rancang seringkali tidak diindahkan oleh venue-venue: bioskop ataupun festival film. Lain halnya dengan proyek omnibus yang biasanya mengusung sebuah tema besar, sehingga lebih mudah membidik venue dan audiens yang tepat. Kami memang tidak mendesain 9808 sebagai sebuah karya for-the-sake-of-film, tapi lebih sebagai medium pembuka dialog. Dan di sinilah skema distribusi menjadi sangat penting. Antologi yang muncul Mei 2008 kemarin ini masih akan terus berkeliling ke berbagai belahan dunia dan Nusantara, sebelum akhirnya suatu hari nanti didistribusikan via DVD (bahkan mungkin dalam bentuk lainnya, musik, tulisan?). Benar kata Prima Rusdi (induk semang proyek 9808 yang dinaungi oleh Proyek Payung ini) yang mengatakan bahwa rantai hubungan antara pembuat film dan penikmatnya akan memudar begitu ia didistribusikan dalam bentuknya yang individu (baca: DVD/home movie).

Ujung-ujungnya, forum semacam ini selalu membuat saya bertanya pada diri sendiri: untuk apa saya membuat film? Pertanyaan sok reflektif ini diperkuat dengan kegemasan saya setelah habis menonton program film pendek dari Thailand dan Malaysia, yang rata-rata menggambarkan sosok-sosok individu Asia kesepian melanglangbuana tanpa kejelasan plot, dan seringkali berakhir dengan kematian. Saya jadi ingat kembali pengalaman saya menonton program Asian Shorts di beberapa festival internasional, film-film yang dipajang selalu sukses membuat saya depresi dan (hampir) ingin bunuh diri. Dalam kesempatan berdiskusi di AFS kemarin, saya bertanya lantang, FENOMENA MACAM APAKAH INI? Apakah benar hasrat bunuh diri orang Asia sebegitu tingginya? Atau itukah cara Barat memandang Timur?

Saya cukup kaget mendengar penjelasan Chalida. Ia bilang, “Salahkanlah programmer festival, terutama festival di negeri barat,  karena mereka selalu memilih film-film semacam itu. Saya selalu menyertakan film-film ceria dengan banyak dialog, tapi hampir tidak pernah dilirik”.

Ohh… begitu malang. Juga begitu jelas. Seketika saya mendapatkan gambaran akan politik kotor festival-festival film. Sebegitu eksotisnyakah kesunyian dan kesedihan orang-orang Timur? Begitu rendahnya-kah orang-orang Asia sehingga rela didefinisikan dengan begitu superfisialnya oleh orang-orang Barat? Dan sadarkah kita bahwa dengan membuat film-film semacam itu kita turut mendefinisikan diri sebagai manusia Timur yang lemah, suicidal dalam ideologi? Saya jadi teringat sekitar dua tahun lalu saya, Budi, dan Tumpal menertawakan fenomena bermunculannya tormented artist di sudut-sudut kota besar Indonesia. Jaman macam apakah yang memberi tempat pada seniman-seniman pathetic yang hanya bisa mengasihani kehidupannya sendiri? Jangan salahkan siapa-siapa jika negara ini tidak bisa maju karena individu semacam itu tidak hanya berkeliaran bebas, namun juga diekspos dengan lampu watt terbesar. Ah, jika kesepian dan penderitaan begitu seksi, saya ingin berpesta dan tertawa semalam suntuk.

Di bawah ini adalah sebuah tulisan yang telah beberapa lama saya simpan. Dan mungkin sekarang adalah masa yang tepat untuk mempublikasikannya:

Kapan Bikin Film Panjang, Jeng?

Entah sudah berapa banyak orang yang melontarkan pertanyaan itu pada saya. Biasanya jawaban yang saya berikan cukup simpel dan klise: “pada waktunya”, atau yang terdengar sedikit defensif: “membuat film itu hobi saya, bukan pekerjaan, jadi coba ya jangan jadiin beban”. Sebetulnya saya hanya ingin bilang: Get lost, saya belum siap.

Saya jadi inget teman saya Lucky pernah bilang: sebelum memulai syuting, mintalah alam untuk melindungi kita. Sama halnya dengan perkara ini, saya belum berani meminta alam untuk menyiapkan jalannya. Karena saya yakin jalan itu akan panjang, dan menyita ketekunan yang luar biasa.

Saya suka main-main, tapi perkataan ini serius adanya: Membuat film bagi saya layaknya beribadah. Dan saya punya konsepsi sendiri tentang ‘ibadah’. Bagi saya beribadah bukan sebuah kata kerja ‘menyucikan diri’, tapi ‘menyerahkan diri’, sebersih yang kita mampu. Selagi saya belum siap, saya tidak berani menyerahkan diri. Ah klise. Tapi ini perkara serius.

Saya merasa terbebani dengan kalimat-kalimat (yang tak sengaja) sering dilontarkan, Film-mu bagus jeng. Masterpiece. Aduh, kok pendek banget sih. Kapan nih.. ayo gw buatin soundtracknya. Dan semacamnya.

Mungkin banyak orang tidak sadar, bahwa berkarya (terlebih membuat film), tidak semudah memutuskan untuk berjalan kaki ke Ujung Berung atau Ujung Kulon di hari minggu yang cerah. Membuat film, panjang atau pendek, membutuhkan suatu bisikan dan desakan (dan ini sama sekali lain dengan godaan). Saya selalu percaya bahwa sebuah karya yang baik akan muncul ketika kita berhasil menekan diri ke pangkal tubuh dan rasa.

Untuk mereka yang diam-diam berspekulasi, berharap, atau terus terang menanyakan pertanyaan di atas, coba bayangkan, jika bertemu dengan pendana pun, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membuat sebuah film panjang dengan produksi yang baik? Ratusan juta? Miliaran? Di sebuah negeri yang tanahnya selalu terlalu kering atau terlalu basah ini?

Mereka yang pernah bekerja bareng saya mungkin tahu benar gilanya persiapan sebuah skrip, juga produksi film yang baik. Mereka yang mungkin sama-sama akan menunggu waktu yang tepat. Sebuah bisikan yang tidak bisa tidak, kita dengarkan bersama.

Filed under: About Cinema, Articles, Words

4 Comments

  1. saya pengagum 9808, khususnya SUGIHARTI HALIM. Tulisan ini bagus sekali, terimakasih utk sharing nya. Tapi saya agak bertanya tanya, apa betul semutlak itu: “Hubungan antara pembuat film dan audiens memudar begitu film didistribusikan dalam bentuk DVD”. Memang benar bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan komunikasi tatap muka. Namun ketika media film dibuat, itu kan sudah dengan kesadaran berkomunikasi melalui perantara sebuah medium komunikasi massa. Beralih dari tukang cerita, penyair keliling, ke media massa. Itu justeru kekuatan media film, bukan?
    Nb. gimana dg format dvd yang menyertakan pernyataan/testimoni director dan para pembuatnya, mungkin itu bisa merekatkan hub penonton dengan pembuat film. walau memang tetap tidak mengalahkan komunikasi tatap muka.

    terima kasih utk sharingnya ya…

  2. Prima Rusdi says:

    Sekalian mau coba jawab Arief, terima kasih juga karena Anda yang mengelola pemutaran di Univ. Tarumanegara waktu itu.

    Sebetulnya tidak ada penggunaan kata ‘mutlak’. Yang lebih tepat itu begini, konsep tontonan atau ‘menonton’ sebetulnya kan awalnya sebelum ada media, buat saya lebih mengacu ke terbentuknya forum publik. Nah, yang jadi ‘biang kerok’ itu bukan ‘format DVD”, melainkan hal yang lebih kompleks seperti soal distribusi yang selalu penuh dengan tantangan karena kondisi geografis kita memang menyebar, dan juga terbatasnya ruang putar juga publik terutama di luar pulau Jawa.

    DVD, argumen saya, sebetulnya bentuk pendokumentasian yang jadinya personal, karena dimiliki perorangan dan bisa ditonton kapan saja, tidak ada tenggat waktu, dan juga bisa ditonton sendirian. Ini berbeda ‘nilai’nya dengan forum yang terjadi di ruang publik.
    Jangan lupa ‘menonton’ adalah konsep ‘mengalami’ (to experience), dan ‘mengalami’ bersama penonton lain, itu akan beda nilainya dengan menonton di televisi misalnya.

    Jadi, sama sekali saya atau teman-teman di proyek ini tidak ‘menyalahkan’ DVD, tapi soal kapan sebuah tontonan sudah tepat waktunya untuk beralih bentuk menjadi DVD itulah yang kami jadikan bahan perbincangan sejak awal. Karena ya itu tadi, ada keperluan kami untuk memperoleh input langsung dari diskusi yang terjadi di forum/ruang publik.

    Di banyak negara sudah ada ‘window’ sekitar 6 bulan hingga setahun sampai sebuah film sudah boleh rilis dalam bentuk DVD. Namun ‘window’ ini sebetulnya, menurut pendapat saya, lagi-lagi tergantung pada kondisi di mana sebuah tontonan itu dibuat, dan konteks yang diperlukan publiknya, juga kesepakatan si pembuat filmnya. Asumsi bahwa begitu DVD beredar maka hubungan si pembuat film dengan penontonnya akan memudar seperti yang dikutip oleh Ariani, tentunya berdasarkan asumsi kami. Jadi, kalau ada pertimbangan yang berbeda, ya silakan.

    Khusus buat proyek ‘melawan lupa’ via 9808 ini, justru koridor ‘melawan lupa’ itu juga yang membuat kami sementara ini menahan keinginan untuk merilis DVD dari antologi itu. Karena akan jadi ironis bila kita justru benar-benar ‘kadung lupa’ akibat sama-sama punya DVD-nya dan tak kunjung sempat nonton apalagi diskusi, kenapa sih kita sekarang ini ada di sini 10 tahun setelah reformasi? He3.

    Mudah-mudahan menjawab, atau berkembang jadi diskusi lagi. Kami sangat berterima-kasih karena proyek ini murni ‘panjang umur’ dari suntikan nyawa para penonton kami yang jujur saja sangat berkualitas.

    Terima kasih.

  3. ariannet says:

    Terimakasih atas komen-komennya.

    Iya, menurut saya cuma masalah waktu dan bentuk penyebarannya yang tepat ya. Sebagai pembuat film saya merasa sekali manfaatnya bila bisa hadir langsung dalam pemutaran-pemutaran film saya pribadi. Gak cuma menggali wacana untuk kepentingan banyak orang, tapi juga untuk pembuatnya. Dan bukannya penyebaran DVD menutup terciptanya diskusi-diskusi macam itu (toh ada saja beberapa orang yang meng-email kami setelah menonton film produksi kami dalam bentuk DVD), tapi mungkin tidak seefektif pemutaran langsung.

    Tapi memang, sejauh apa kita bisa terus-menerus melakukan itu (screening, plus hadir dalam diskusi). Jadi distribusi DVD sebenarnya wajib dilakukan, hanya bentuk DVD (juga penyebarannya) yang harus dipikirkan. Akan sangat membantu ketika sebuah DVD memuat Extra Features yang memberikan tambahan insight bagi para penonton.

    Terimakasih banyak atas masukannya untuk Mas Arief (termasuk tentang content DVD), ini tentunya jadi bahan masukan yang penting bagi kami. Saya dan teman-teman 9808 merasa bersyukur sekali bahwa film ini bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Leave a Reply