arianidarmawan.net

Posts filed under ‘Words’

Cari Lagi, Capture Lagi,

July 3, 2006

Barusan saya membuka email dari seorang kuliahan yang sedang mengerjakan tugas skripsinya tentang peta komunitas literer Bandung, menanyakan info tentang profil Rumah Buku. Walaupun saya tahu itu cukup penting buat dia, dan mungkin untuk perpustakaan saya ini, tapi saya selalu berpikir ah apalah artinya kalau jawaban saya tunda satu dua hari atau tiga empat bulan. Jangan salahkan saya karena saya tidak minta dilahirkan sebagai pelupa. Pelupa dan pemalas ketika harus melakukan hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan minat saya. Cari, beli, nyampulin, baca, majang, ngapalin judul, ngehargain, sampe kehilangan buku saya ikhlas, tapi kalo sudah berhubungan dengan publicrelations2an, dalam hal apa pun, saya agak terbelakang. Begitu, seperti mama terbelakang dengan Nokia tercanggihnya, dan papa dengan musik White Stripes yang dia dengar sekilas-sekilas di tivinya. (more…)

3 Comments

No matter.

May 25, 2006

“Ever tried.
Ever failed.

No matter.
Try again.
Fail again.
Fail better”

-samuel beckett.




2 Comments

The surprise-fried-rice that I cooked this morning turned out to be not a surprise.

January 5, 2006

So what I’m going to do here is to list all the ingredients I used to make the surprise-fried-rice so you guys can try cooking it down and see if it’s just me or world has truly become that flat:

(in any order of any appearances):
a handful of left-over rice
unwashed pan that was used the other night
sweet soy sauce, preferably Indonesian kecap manis
hoisin sauce, or any other oriental sauce
half of fresh tomato
two mushrooms
(you can use the magical ones but I’d call that a cheat)
one egg
one spoon of sambal, or anything hot and spicy
(please do include your boyfriend)
drips of fresh lemon
salt and pepper to your liking
ketumbar / cilantro / coriander / hiansui
and love, on the side

No Comments

Eh, loe sekarang ngapain?

November 5, 2005

Saya baru sadar kalau semakin tua saya jadi semakin malas bertemu orang. Pertanda tidak baik, kalau dari sudut pandang Mama saya, karena kans perjumpaan saya dengan si pria idaman hati (bersama) jadi semakin kecil. Tapi hadapilah saja Ma, walaupun belum reyot, saya ini sudah semakin tua. Semakin malas basa-basi. Pasalnya bukan apa-apa, saya cuma males ngobrol ngalor-ngidul atau mungkin lebih tepat ngalor-ngalor sama orang-orang yang tidak begitu saya kenal, apalagi kalau itu harus berkenaan dengan masalah pekerjaan saya, atau apa kerja saya. Untuk mereka para pekerja rutinan, mungkin agak mudah menjawab pertanyaan tersebut, cukup pendek saja: gua kerja di bank, atau gua kerja jadi kasir restoran. Pertanyaan si lawan bicara paling cuma: Oh…di mana? Betah gak? Atau juga lebih mudah untuk para wiraswastawan alias businessman: gua punya toko casing handphone, atau gua bantu nyokap gua nyupply ayam. Pertanyaan balasannya paling berkisar: Rame gak? Ini tingkat yang lebih susah tapi juga termasuk mudah: penjual jasa atau konsultan. Kerjanya apa? Kontraktor. Oh… lagi bangun apa? Atau kalau dia seorang desainer, Oh…baju? Bukan, produk…itu yang desain-desain botol susu atau kadang kayak lampu, kursi, gitu. Oh…kayak tukang interior gitu ya. Ya, mirip-miriplah. Paling banter pertanyaan berlanjut sampai situ dan seringnya malah berakhir dalam kebahagiaan karena si penanya malah bisa jadi klien berikutnya. Nah saya ini termasuk pekerja banci gabungan itu semua. Atau, di luar itu semua. Pilih salah satu. Kalau ditanya kerja loe apa sekarang: saya akan memutar bola mata beberapa keliling, memilih jawaban paling singkat yang tidak sukar dicerna sehingga tidak membuat si penanya mengernyitkan dahinya dan geleng-geleng kepala sambil sedikit menyipitkan matanya dan bertanya: Hah? Cukup simpel memang pertanyaan balasannya, tapi membuat saya lemas karena itu berarti dia mengharapkan saya mendefinisikan dan menjabarkan kembali apa kerja saya. Gua punya perpustakaan. Hah? Perpustakaan? Taman bacaan gitu maksud loe? Atau: Gua punya cafe. Nah yang ini agak mending karena hei! berapa ratus orang yang punya cafe di Bandung Raya ini, tapi tetap tidak memuaskan karena pertanyaan balasannya akan panjang dan bertele-tele dan pada akhirnya saya harus menjelaskan hal-hal tertentu yang sebenarnya saya sendiri kurang mengerti lagi seperti misalnya di mana saya beli fillet ayam setiap harinya, kalau saya bilang oh ada supplier lalu si penanya akan membelalakkan matanya sambil berkata ah gila aja loe, mahal lagi sama supplier mending loe beli aja di pasar langsung, paling murah tuh di ciroyom lalu kalau saya bilang oh iya sih, tapi sebenernya gua gak megang operasional cafenya lalu dia bilang wah, cafe mah susah yah kalau gak disupervisi langsung, ntar banyak bolongnya lho, lalu pembicaraan akan berakhir dengan segala macam nasihat yang saya sudah dengar ratusan kali sebelumnya dan untuk mengakhirinya biasanya saya mengambil handphone saya dan berkata: eh nomer hp loe berapa ntar kontak-kontak ya jangan lupa lho maen ka cafe gua. Males banget deh! Pekerjaan saya yang terakhir itu memang yang paling standar, dan itu pun sudah butuh perjuangan untuk menjelaskannya. Jawaban pekerjaan saya yang terakhir ini yang tidak pernah saya utarakan karena selain memang tidak saya anggap sebagai pekerjaan (tapi kok dikerjain terus) juga tidak masuk akal untuk kebanyakan kalangan teman-teman saya beserta mama-mamanya yang seringkali ngintil kalau lagi jalan-jalan di supermarket adalah: bikin film. Apalagi kalau seniman, pasti akan dibalas dengan pertanyaan: Oohh…ngelukis gitu ya? Oh tuhan, tolong suruh orang-orang yang bisa mengerti keseharian saya untuk pergi ke supermarket juga dan suruh orang-orang yang tidak bisa mengerti untuk tidak usah pergi ke supermarket ketika saya memang harus ke supermarket.

Obrol punya obrol, tadi siang saya dan teman-teman memutuskan sebuah pekerjaan palsu untuk saya. Kenapa dipilihnya pekerjaan itu jelas, agar ketika saya mengutarakannya, lawan bicara saya yang doyan nanya (walau cuma sekadar basa-basi, duh plis deh, somebody bikin dong buku bermutu yang berisi tentang obrolan basa-basi bermutu) bisa langsung bungkam. Alasan dia bungkam bisa jadi karena tidak enak hati alias sungkan, atau bisa juga karena dia merasa tolol untuk bertanya lebih lanjut. Usulan dari cik Tarlen yang pertama adalah: Pembunuh Bayaran. Saya sebenarnya suka ide ini. Tapi setelah dipikir-pikir lagi kok agak riskan ya. Bukan masalah takut ditangkap atau apa, tapi kalau benar suatu kali saya disewa untuk membunuh bagaimana dong karena kalau sudah berhubungan dengan bunuh-membunuh saya pasti bisa nekat, selain suka tantangan, saya juga sangat ingin membuktikan kebenaran kehebatan CSI. Coret. Saya masih percaya kalau membunuh itu bagaimanapun tidak baik. Saran yang kedualah yang akhirnya kami putuskan bersama paling cocok: Sekretaris Camat Hegarmanah. Tapi menyebutkannya, tentunya, harus lengkap. Anggap si penanya bertanya: Eh, loe sekarang ngapain? Oh, gua kerja jadi sekretaris camat di Hegarmanah, eh kalau loe butuh nembak KTP atau KK ke gua aja ya, camat gua asik kok orangnya.

Saya memang belum sempat mempraktekkannya, tapi feeling saya sih akan cukup berhasil. Tadi saya keliling-keliling supermarket tapi sayang saya tidak menemukan satu kenalan pun yang demen basa-basi. Hanya seorang Oom teman baik Papa saya yang aduh polos banget deh Oom, nanya: gemana Ran, Gambang Kromongnya kapan selesai? ALAMAK, amsionglah gua.

4 Comments

Both Sides Now

October 6, 2005

Sudah beberapa hari ini KAMI: saya, Budi dan 2 kawannya yang masih asing dan oleh karenanya saya anggap tidak ada, juga the magenta babe Valentijn Jeci melakukan pertemuan gelap penulisan script. Walaupun memiliki sekte tertentu, kami tidak termasuk fanatik, terbukti dari obrolan-obrolan kami: Maradona, wanita Fikom Unpad tercantik ketiga di kelas, Alex Komang, Godard, Raam Punjabi, The Pavement, dan Putu yang tak kunjung datang. Tapi menu kami hari ini cukup spesial: perselingkuhan. Saya, yang memang selalu tertarik pada tema selingkuh, melempar ide untuk menggunakan penggalan cerita yang ada di film Love Actually untuk ide penulisan kami. (more…)

2 Comments

360 derajat kayak gasing gitu lho mas

August 17, 2005

Saya punya cerita mas. Mungkin buat mas gak menarik, tapi gak papa ya saya cerita aja. Pagi tadi itu mas, saya bangun kesiangan, dan saya baru ingat kalo saya belum beli bendera buat dipasang di depan rumah. Padahal dari kemarin-kemarin itu istri saya sudah bolak-balik ngingetin saya, beli, beli, berhubung yang dulu sudah robek-robek gitu mas. Saya pikir, dia bukannya sok nasionalis sih mas, mungkin cuma takut dijadiin bahan omongan, dikirain miskin lah, atau ini lah itu. Sekitar jam 10an saya pergi cari bendera. Biasanya sekitar Cipaganti itu banyak kan mas? Nah tadi pagi itu tinggal satu doang yang nongkrong. Dan kebeneran bendera yang ada, maksudnya yang beneran bendera bukan umbul-umbul itu, cuma tinggal satu mas. Saya tanya kan, berapa harganya mas? Dia bilang, wah mas, kalo situ gak keberatan, saya cerita dulu sesuatu sama mas ya. Soalnya ada hubungannya dengan harga bendera ini. Tinggal satu ini lho mas. Gini. Saya ini bukan tukang bendera aslinya mas. Dulu itu saya jualan siomay. Sampe sekitar tengah bulan lalu, saya diiming-imingi temen saya mas, katanya jualan bendera deket-deket tujuhbelasan itu nguntungin. Lha saya ini memang polos mas. Dan memang karena niat saya itu cari uang lebih untuk bayar tunggakan kontrakan, saya pikir, ya kesempatan juga, kenapa harus ditolak. Saya jual gerobak saya mas, padahal umurnya udah hampir 6 tahun. Sekalian semua sama piring-piring sendok garpu piso. Sudah itu saya langsung kan datengin mas-mas pemasok ini. Nah pas saya bilang uang saya cuma ada satu setengah juta, dia malah ketawa mas. Ngakak. Katanya, gini mas, saya ceritain ya. Dulu, sama seperti mas, saya ini pedagang kecil. Boro-boro punya kontrakan, tinggal aja ngikut kakak ipar. Lha kayak mas sekarang ini masih mending. Dulu hidup saya itu bener-bener merana. Tapi pelan-pelan dari hasil ngebantuin usaha kakak ipar, saya mulai nabung mas. Bunga dulu masih tinggi toh mas. Duit seratusan aja bisa jadi seratus lima puluh setahun. Lah gak kerasa, tabungan saya itu, gak tau gemana, pokoknya gak kerasa mas, tiba-tiba ada lima ratus di bank. Seneng toh saya. Saya pikir, wah cepet-cepet ini mesti dibelanjain. Kalo gak beli kulkas ya tivi atau apa karena waktu itu harga barang naik terus mas. Sampai suatu hari, tekad saya sudah bulat ni mas, saya mau ambil semua uang saya di bank. Rekening ya tutup aja, nanti toh bisa buka lagi yang baru kan saya pikir. Nah pas saya mau ngambil uang ini mas, mas-mas yang di bank, saya lupa namanya, nanyain saya, untuk apa mas. Saya bilang ya mau dibelanjain toh. Lho kok dibelanjain mas, katanya, kok gak ditabung aja. Gini mas saya ceritain ya. Dulu pas saya kecil, ibu saya itu disiplin banget mas. Tiap kali saya bikin kesalahan, saya bukannya dijewer mas, saya itu disuruh muter-muter. Di tempat mas. Tiga ratus enam puluh derajat kayak gasing gitu lho mas. Nah cerita Ini ada hubungannya mas dengan masalah tabungan mas tadi [...]

3 Comments

bad ass needs a bed rest

August 4, 2005

9:13 pm

I was fixing this typewriter yesterday night. The spool was not working properly and the ribbon was not moving at all. I pulled everything out and put all them back again with no result. Waking up this morning finding it still lying there I thought: fairy tale might happen to some typewriters but obviously not this one. To give my head a break I went out and looked for some air. And without realizing it I was back again to the same place where I bought the typewriter. Having no money I was glad that none of them worked. I bought my typewriter for 60 thousand and that made me believe that any typewriter costed more than that was a piece of bullshit. So I went home.

I got back and tried to fix the typewriter again. All of sudden it worked. No trick no magic no hypnotizing. It just started to work again. I was surprised and felt that I had been cursed. I went out again, looking for the same air but this time in a more glorious way. Good things came out of all bad things, I thought. (more…)

1 Comment

never a wraaap..!!

July 14, 2005

Dalam sebuah sms Bada yang jadi topangan reel-time sekaligus produser spiritual proyek saya ini, menulis: “Teriak dong: That’s a wraaap..!!”

Kemarin memang hari pembungkusan pengambilan gambar dokumenter yang sedang saya KERJAIN. Mungkin memang benar kata Badu, seharusnya saya berteriak: That’s a wraaaap..!! Tapi alih-alih *alah-alah*, saya tertunduk lesu. Hari itu juga saya mendapatkan kabar busuk dari Bandung: Mama agaknya sakit. Kurang baik, begitu katanya di sms. Agaknya. Kata itu, sebenarnya, yang membuat saya lesu.

Hari shooting terakhir kami habiskan sebelum jam 5 sore, dua hari terakhir hanya 5 orang kru yang berangkat, jadi terasa agak sepi. Tapi entah kenapa, dua hari singkat tersebut di luar dugaan saya, berjalan tanpa satu pun masalah yang berarti. Padahal ketika berangkat dari Bandung saya sudah pasrah saja: selain kru Jakarta pada ‘ngilang’ entah ke mana, padahal mereka yang semestinya bekerja karena jelas-jelas dibayar secara profesional. Belum lagi sebelum berangkat, Fitrah dan Ucup para editor yang giat, bermuka panik namun selalu ceria, mendapatkan banyak rintangan dalam menyiapkan komputer untuk keperluan editing. Komputer Fitrah yang saya pinjam dengan imbalan soft loan pembelian prosesor dan memori tiba-tiba hancur papanmama-nya. Bukan papamama, bukan juga papannama, papanmama. (more…)

2 Comments

Damian

July 7, 2005

Kautuntun sepedamu ke arah pohon besar itu. Damian, begitu engkau pernah menamainya. Warnanya coklat bila kaulihat seketika, lalu hijau, biru, siapa yang tahu. Waktu masih pagi, namun kepalamu telah penuh oleh bayang-bayang: bayang-bayang pohon besar itu, bayang-bayang sepeda yang menuntunmu berjalan, semua tercermin jelas, tidak di tanah, tidak di pelupuk mata, bukankah semua itu sudah kaucari di hari yang lalu.

Kausenderkan kepalamu yang berat sebelah pada Damian. Kaututup mata, perlahan, satu, lalu keduanya. Seketika semua bayang-bayang itu terlihat jelas, seluruh bentuk badanmu hingga binar mata, pesek, dan manyun yang pagi itu saja tergoreskan cahaya.

Apa kabar? Kaudengar kata itu sayup-sayup. Kaubuka mata, sebelah, kauangkat kepala menjauhi pohon besar yang sejenak tadi kaujadikan alas mimpi. Ah, lingkaran kuning di atas kepalamu sedang bersinar dengan teriknya. Matahari, begitu orang memanggilnya. Kau menyahut, matahari? Begitu fasih nama itu kausebutkan: m-at-ah-a-ri. Lalu kau teringat akan p-ela-ng-i. H-uj-an. T-an-a-h. Wajah itu, wajah muram yang telah senja.

Apa kabar? Kalimat itu menghuyungmu, dan akhirnya AKHIRNYA kau pun terjatuh. Malang, sepeda itu tak sempat menimpamu. Kautatap lurus ke depan dan pohon besar itu tidak lagi berdiri tegak. Semuanya tertidur, nyenyak. Sudah lama kau tidak tertidur nyenyak, mungkin begitu pula nasib pohon itu. Tiba-tiba pandanganmu berubah kusam, pohon itu masih tertidur, namun daunnya yang pupus memancarkan realita yang telah lelah menahun:

berpuluh-puluh banyaknya, bertumpuk-tumpuk rupanya, bangkai-bangkai sapi entah manusia yang pada suatu hari dulu kau saksikan dalam tayangan pukul tiga sore. Garis itu, tumpukan yang kian jauh kian menipis, horisonkah? Kau berpikir keras. Kaukernyitkan alis matamu hingga ia hilang seketika, lalu muncul kembali.

Apa kabar?

Aku terjatuh. Tidak, aku tidak terjatuh, aku sudah terjatuh. Aku tertidur nyenyak.

2002-2005. Perjalanan itu, Damian, begitu aku pernah menamainya.

2 Comments

Kata-kata Imajiner

June 4, 2005

Tulisan di bawah ini diambil dari buku Italo Calvino berjudul Invisible Cities yang tidak lama lagi akan diterbitkan dengan judul Kota-kota Imajiner oleh sebuah penerbit Jakarta, Fresh Books. Saya diminta mengedit terjemahannya.

Photographs by Yuji Saiga of Japanese island called Gukanjima.

Kota-kota & Kematian – 3
Tiada kota lain yang lebih menikmati kehidupannya seperti Eusapia. Dan untuk mendekatkan jurang antara kehidupan dan kematian, para penduduk telah membangun tiruan identik kota mereka, di bawah tanah. Semua mayat, yang dikeringkan dengan cara tertentu sehingga tulang-belulangnya tetap terselubung kulit kuning, dibawa ke bawah sana, untuk meneruskan kegiatan-kegiatan mereka terdahulu. Dan, dari kegiatan-kegiatan ini, momen-momen santai tanpa bebanlah yang menjadi kegiatan prioritas mereka: sebagian besar mayat itu didudukkan di sekeliling meja-meja penuh barang, atau ditempatkan dalam posisi berdansa, atau dibuat seolah sedang memainkan terompet-terompet kecil. Tetapi semua perniagaan dan pekerjaan kota hidup Eusapia juga berjalan di bawah sana, atau setidaknya mereka yang telah mati merasa lebih puas melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang-orang hidup: si pembuat jam, di antara semua jam rusak di tokonya, menempatkan telinganya yang menyerupai kertas kuno pada sebuah jam milik seorang kakek yang tak lagi berdetak; seorang tukang pangkas, dengan sikat rambutnya, membusai tulang pipi seorang aktor yang tengah mempelajari perannya, menyimak naskah dengan lubang-lubang matanya yang cekung; tengkorak seorang gadis yang sedang tersenyum memerah susu bangkai sapi muda.

Sudah barang pasti, sebagian besar dari mereka yang masih hidup menginginkan nasib setelah kematian mereka berbeda dari takdir yang kini mereka jalani: kota mati Eusapia dipenuhi dengan para pemburu hadiah-hadiah besar, para penyanyi mesosopran, para bankir, pemain biola, perempuan-perempuan bangsawan, pelacur, jenderal-jenderal –melebihi kapasitas kota hidup Eusapia.

Pekerjaan menemani dan mengatur posisi orang-orang mati sesuai dengan keinginan mereka di bawah sana diembankan kepada kumpulan saudara-saudara berkerudung. Orang lain tidak memiliki akses ke kota mati Eusapia dan segala sesuatu tentangnya dipelajari dari mereka.

Mereka mengatakan bahwa rasa persaudaraan yang sama juga dirasakan di antara si mati dan bahwa mereka tak pernah segan mengulurkan tangan; saudara-saudara berkerudung itu, setelah mati, akan melalukan pekerjaan yang sama di Eusapia lainnya; desas-desus mengatakan bahwa beberapa dari mereka sebenarnya telah mati. Tetapi mereka tetap melakukan tugas mereka, naik turun dari kota hidup ke kota mati, dan sebaliknya. Bagaimanapun, otoritas saudara-saudara berkerudung ini begitu terasa di kota hidup Eusapia.

Mereka bercerita bahwa setiap kali turun ke bawah sana mereka selalu menemukan perubahan di kota mati Eusapia; si mati membuat inovasi-inovasi di kota mereka; tak banyak, namun sungguh merupakan refleksi penuh ketenangan, penuh perhitungan. Dari satu tahun ke tahun berikutnya, kata mereka, kota mati Eusapia tak lagi dapat dikenali. Dan yang hidup, untuk terus mengikuti perkembangan mereka, juga ingin turut serta melakukan segala kebaikan para mati yang diceritakan kepada mereka oleh para saudara berkerudung itu. Maka kota hidup Eusapia pun berubah menjadi reproduksi salinan bawah tanahnya sendiri.

Mereka mengatakan bahwa hal ini bukanlah kejadian baru: sesungguhnya kaum yang matilah yang membangun kota hidup Eusapia, sesuai dengan citra kota mereka. Mereka mengatakan bahwa dalam kota kembar tersebut, tak lagi dapat dibedakan siapa yang hidup dan siapa yang telah mati.

Italo Calvino, Invisible Cities (Le Citta Invisibili), 1972. Copyright milik Italo Calvino, tentunya.

No Comments

Orkest Gambang Poenja Siapa?

May 11, 2005

Untuk yang tertarik pada Gambang Kromong dan budaya Peranakan Tionghoa, dapat mendapatkan informasi lebih detail dalam film Anak Naga Beranak Naga (Dragons Beget Dragons, 60 menit, 2006). DVD seharga Rp 20.000 dapat dibeli dengan menghubungi email ini.

Proyek ini diawali oleh ketertarikan saya terhadap musik gambang kromong setelah mendengarkannya untuk pertama kali di tahun 2002. Ketertarikan tersebut berkembang ketika saya membaca liner notes CD rekaman musik Gambang Kromong MSPI – Smithsonian Folkways dan mendapati betapa kompleksnya proses penciptaan musik tersebut. Proses akulturasi budaya Tionghoa dan penduduk setempat yang tercipta dalam konteks kesenian ini tidak pernah saya bayangkan dapat terjadi sebelumnya di negeri penuh perpecahan ini. Selain itu, musik ini dapat saya katakan unik karena merupakan satu-satunya bentuk kebudayaan / kesenian akulturatif Tionghoa-Indonesia.

Latar Belakang Pembuatan Naskah
1. Dalam setiap pertemuannya, kami, tim riset, mendominasi pembicaraan dengan menyampaikan pengamatan masing-masing terhadap musik gambang kromong yang kini tengah terjadi di lapangan. Kami tentu saja tidak lupa membahas dan menganalisa sejarah yang membangunnya, tapi kebanyakan pembicaraan tersebut kami lakukan di sela-sela perjalanan, ketika makan pagi, atau sejenak sebelum tidur –karena toh semuanya telah tercatat rapi di notebook kami masing-masing. Apa yang terjadi di lapangan ketika pertunjukan tersebut dimainkan saat ini memang menyerap sebagian besar perhatian kami. Dalam tiap-tiap acara gambang kromong, kami senantiasa berpandang-pandangan, tersenyum, lalu tertawa renyah sambil menikmati musik ‘adu tangkas’ yang tidak lagi memperhitungkan keindahan bentuknya. Keindahan, dalam pertunjukan musik gambang kromong menjelma menjadi sebuah kata kerja yang tidak lagi dianaktirikan sebagai sekadar objek. Sepanjang pendengaran dan penglihatan kami, sebenarnya tidak ada lagi komposisi atau bentuk yang menarik yang kini dapat ditawarkan gambang kromong. Penyanyinya dengan logat khas Betawi cempreng kadang hanya asal membuka mulut dan mengadu kehebatan pantun, para panjak (pemain musik) beradu kekerasan volum masing-masing instrumen, wayang cokek berlomba mendapatkan perhatian tamu lelaki, sang empunya hajat menghitung berapa banyak tamu yang datang yang = berapa banyak uang kertas bakal masuk ke dompetnya, dan para tamu laki beradu mulut serta kekuatan lewat minuman keras. Itu semua, disertai lapangan becek bertumpuk sampah, makanan dan penganan yang tak pernah berhenti mengalir memuaskan tamu, ruangan reyot, kursi plastik yang tidak pernah berganti model dan selalu berwarna heroik merah putih, muka-muka hitam-putih sipit-belo yang tak lagi dapat dikenali asal-usulnya, pasar dadakan yang tiba-tiba hadir mengelilingi tenda pesta, para panjak yang tertawa riuh mengepulkan asap rokoknya sambil bermain musik, dandanan wayang yang menyerupai zombie, para encim sibuk bermain kartu di ruangan dalam tanpa menghiraukan pasangannya bermain gila, semua itu adalah gambaran pertunjukan gambang kromong dalam suatu hajatan, dan pertunjukan atau hajatan itu tidaklah absah tanpa hadirnya segala elemen tersebut, pada saat yang bersamaan. Yang kami rasakan adalah suatu kekacauan, kekacauan yang timbul tanpa kesadaran ala pertunjukan sirkus rakyat, yang tanpa arahan sang pemimpin atau pun penguasa lalu menimbulkan suatu ritme, ritme yang memperindah, ritme yang indah.

2. Mungkin karena itu semua, tidak pernah sekali pun tim riset bertemu tanpa pernah merenung dan berkata “gila, sureal banget ya”. Surealitas, atau absurditas ini, sebenarnya tidak kami rasakan hanya karena lebarnya perbedaan yang menjarakkan dunia keseharian kami dengan dunia gambang kromong yang asing tersebut, tetapi juga karena sisi sejarah dan perkembangan musik ini sendiri. Gambang kromong yang sejak awal memang tercipta sebagai sebuah bentuk kesenian akulturatif ini dilatarbelakangi oleh budaya gado-gado: Cina, Betawi, Jawa, Sunda, Melayu, dan dalam perkembangannya sendiri telah mengalami berbagai macam perubahan struktur bentuk maupun fungsi keseniannya. Musik ini tidak akan terbentuk apabila orang-orang Tionghoa Peranakan jaman dahulu yang karena kerinduannya memainkan nada-nada negeri asal mereka tidak ‘meminjam’ alat-alat musik setempat dan menggabungkannya dengan musik tradisional Cina. Wayang cokek sebagai elemen pendukung dengan nilainya yang kini kian bergeser tidak akan ada tanpa pengaruh kesenian tayub dan ronggeng di pesisir. Pantun Melayu pun sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan lirik pantun dalam lagu-lagunya. Musik tradisional ini mungkin saja kini telah musnah apabila Benyamin S. tidak iseng mencampur adukannya dengan lagu-lagu popular masa kini. Gambang kromong adalah semua percampuran dan kompleksitas tersebut, dan hanya terbentuk karena adanya sebuah perjalanan sejarah yang panjang.

3. Bicara tentang perjalanan, begitu pulalah kami mengidentifikasi proses pengenalan musik ini. Acara riset sekaligus pelesir gambang kromong yang kami lakukan hampir setiap minggunya adalah sebuah perjalanan sequential yang selalu dimulai dari sebuah kota besar bernama Jakarta dengan gedung-gedungnya yang menyesakkan dan berakhir di pelosok desa / kampung di mana kedekatan manusia dengan buminya adalah sedekat tapak kaki dan tanah yang diinjaknya. Sebelum melakukan riset, kami tidak pernah membayangkan akan dapat berinteraksi dan bertukar cerita dengan orang-orang ini, malu atau tidak, kami bahkan tidak pernah membayangkan bahwa mereka masih hidup di suatu sudut dunia yang terlupakan. Secara geografis, gambang kromong dan para pelakunya, dan bahkan juga para penikmatnya, hidup di kawasan-kawan yang semakin hari kian termarjinalisasikan. Ketika kami mengunjungi sebuah grup gambang kromong di sebuah desa di bilangan Serpong, keterasingan itu terasa begitu menghimpit karena untuk mencapainya kami harus terlebih dahulu melewati kemegahan tak senonoh Bumi Serpong Damai, menyusuri benteng beton sepanjang sisi kota baru itu untuk akhirnya menemukan desa tersebut. Dalam perjalanan riset, kami tidak pernah mengetahui jelas keberadaan desa atau kampung yang harus kami kunjungi. Ketika pertama kali datang ke Teluk Naga, tempat gambang kromong subur bertahan, kami hanya tahu bahwa Teluk Naga berada di Tangerang, tapi tidak jelas di bagian mana. Sama halnya ketika mengunjungi rumah sesepuh cokek, Encim Masnah, kami hanya diberi tahu bahwa beliau tinggal di ‘Sewan’. Hajatan-hajatan dengan pertunjukan gambang kromong pun diadakan di tempat-tempat terpecil Tangerang yang sama sekali asing bagi telinga kami: Bonang, Gunung Sindur, Desa Belimbing, Dadap. Namun berkat bisikan pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’, kami selalu berhasil menemukan tempat-tempat tersebut, walaupun kadang harus diiringi peluh dan kesah.

4. Sesampainya di sebuah acara orkes gambang kromong, seketika otak kami terbius oleh aliran listrik hiruk-pikuk suasana. Seketika kami hanyut dalam iringan lagu pembuka Po Bin Kong Ji Lok, Stambul Cha-cha yang konon kini sedang digandrungi, hingga Keroncong Kemayoran versi khas gambang kromong. Siapa pun yang berada di sana seakan-akan tidak lagi sadar di mana mereka berada, dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan pulang nanti. Semua nampak bersuka cita dalam gelap terangnya cahaya buatan. Tanpa terasa waktu bergulir, tamu datang dan pergi, musik keras melantun tanpa henti. Jika tidak karena arloji, waktu tidak lagi bernyawa: dalam suasana yang hingar-bingar tersebut segalanya bergerak, menari dan terhenyak pada saat yang sama. Hanya ketika memohon diri untuk pulang dan meninggalkan tempat tersebut, kami kembali terbangun dari mimpi: kasarnya aspal dan pekatnya suasana perkampungan membangunkan kami. Luar biasa, kami pun mulai berceloteh, tanpa terasa gambang kromong telah berhasil meniadakan ruang dan waktu kesadaran, walaupun untuk sejenak.

—-

Berdasarkan inti-inti pembicaraan di atas, sementara kami sepakat untuk menganalogikan karya dokumenter ini sebagai sebuah lingkaran orkes gambang kromong dengan keragaman karakteristik pelaku, penikmat dan konteks tempat ia dimainkan. Selain itu analogi lingkaran ini juga kami pakai dalam menggambarkan kompleksitas perjalanan bentuk musik dan pendukungnya, perkembangan dan keberadaannya saat ini. Secara sequential keseluruhan karya ini akan dibenangmerahi oleh pertunjukan orkes gambang kromong dari satu tempat ke tempat lain (setting berubah-ubah dari hajatan pernikahan, ulang tahun, acara lenong, hingga kelenteng). Perubahan secara audial dan visual ini diharapkan dapat memberikan nuansa ketiadaan waktu dan ruang, kekacauan, dan kompleksitas yang menjadi ciri-ciri pertunjukan orkes gambang kromong itu sendiri. Perjalanan kami menuju ke (beserta segala kepelikan yang kami alami tiap kali harus mencari jalan menuju hajatan-hajatan di daerah-daerah terpencil) dan pulang dari sebuah acara gambang kromong, secara harafiah akan kami tampilkan sebagai pembuka dan penutup karya ini, diselingi oleh pertanyaan-pertanyaan khas di tengah jalan: “Pak, tau yang lagi ngawinin namanya Tek Hong? Pake gambang Co Ing?”

Di tengah-tengah lingkaran utama kami merancang 2 buah pintu besar menuju ruangan utama yang berisikan kehidupan dua orang pelaku gambang kromong. Di pintu pertama, Encim Masnah (79) bercerita tentang perkembangan dan pergeseran nilai wayang cokek, bagaimana dulu dan kini ia ditarikan, ditanggap. Dan sebagai satu-satunya penyanyi lagu lama gambang kromong yang masih hidup, kami berharap ia dapat turut bercerita tentang sejarah dan perkembangan, alasan akan perubahan dan kepunahan yang terjadi pada lagu-lagu lama / asli. Lewat pintu ini pula kami sekilas akan mengungkapkan sosok Goyong, pemain handal tehyan dan terompet cio tauw yang kini menjadi satu dari sedikit orang saja yang mampu membuat alat-alat musik gambang kromong. Goyong sendiri adalah anak angkat Encim Masnah, yang oleh Bapaknya, almarhum sesepuh gambang kromong bernama Oen Oen Hok, dilarang bermain gambang kromong karena ditakuti akan tergoda oleh para wayang cokek. Lalu di pintu kedua, Teng Soei Ek (83) sebagai sesepuh gambang kromong yang juga bekas pimpinan orkes diharapkan dapat menceritakan sejarah gambang kromong (dengan versinya sendiri), perkembangan bentuk, fungsi, dan instrumen-instrumen pendukungnya. Di dalam dua pintu besar yang terpisah dari lingkaran utama ini, kami membayangkan hadirnya atmosfer yang berbeda. Tidak seperti halnya orkes gambang kromong yang hiruk-pikuk, dunia ini adalah dunia yang sepi, terasing, dan tersudutkan. Keberadaan rumah dan daerah tempat mereka tinggal sebenarnya telah mewakili dunia yang ingin kami sampaikan tersebut.

Di antara lingkaran besar orkes gambang, dan dua pintu besar di atas, akan ditampilkan juga beberapa pintu kecil wawancara-wawancara singkat dengan beberapa pengamat dan ahli gambang kromong, Tionghoa peranakan, kesenian, dan sejarah Betawi. Melalui pintu-pintu kecil ini kami berharap dapat menuangkan fakta-fakta sejarah lisan maupun tulisan yang relevan dalam perkembangan kesenian tradisional gambang kromong.

Tim riset: Tarlen Handayani, Ariani Darmawan, Yenny Gunawan

4 Comments

SMS Poenja Soeara

April 26, 2005

Belakangan ini hari-hari keluar dari kebiasaannya! Asal-muasalnya, sumbernya, maksud saya, mungkin, bisa jadi, adalah burung kenari yang dibeli di sebelah warung gado-gado Teuku Angkasa. Suaranya nyaring, dan nadanya agak lain. Atau terdengar lain, dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti saat in….begini: “Huaa..Oomanizer! gw gak kburu bikin Who’sWhoFilm nya. Jd cm What’sWhatFilm aja, yaitu Eureka & Lumiere. Sorii. Jk klo digabung ama yg udh2, kita pny 5director+10film. Jelingan matamu menusuk kalbu, Yati. Ciyee….. Kmh damang? Lm g ad kbr? Mlm ini sy lg di msjd agung demak nonton malam maulud. Where were u last night :-( Ran…Skdr tanya.. Kalo acara dundur sminggu? Krn melihat waktunya. Ok. Ini saya dah mau produksi. Duit produksinya dah dikirim ya? Rani, kalau mau pinjam buku, silahkan datang ke rumah. Dari mana neh? Bandung. Buset dah! Apa kabarnye Jakarte? Eh pwrbook gw klo dcharge koq nyetrum ya dipgang. Lagi apa Ran? Kamu kapan pulang? Buena Vista ok bgt. Rani bgt tepatnya. Sound nya ga tll gmn krn mrk byk record live performance dng sound syst yg udah lumayan. –Pengen ada di jkt-. Ran, gua lagi nyari lukisan buat temen gua di Rotterdam. Loe kira-kira recommend lukisannya siapa ya? Kalo sy emg bkn km sebel bilang ya…kalo km diem sy mlh grogi. bingung :( ( Dia bilang ke bali sama ‘teman dekat’. Hehe bahasanya baku banget, kayak film indonesia. Boeat merameken itoe pesta marika membawa lima perangkat “Orkest Gambang”. Tiap-tiap lagoe jang dimaenken, diperdengerken dengen itoe lima perangkat “orkest gambang”. Dari itoe lima perangkat Gambang jang No. 1 (jang paling bagoes soeranja) dinamai “Si Matjan”, no. 2, 3, dan 4 orang telah loepa namanja, sedeng jang no 5 dikasi nama “Si Koembang” dan sekarang ada djadi miliknja Gambang Orchestra Vereeniging “Ngo Hong Lauw”. Ya dia kan bisa gitu karena punya uang. Ya nggak? Coba kalo gak punya uang mo ngomong apa. Ada tmn g yg bs urus plg… Jd plg tambah 1 investor kl mau…BragaCityWalk mhl bgt Ran… Total biaya buat tmpt sama aja. Kapasitas 80org. Cilukba gak cik? Di sini adanya buteng (bule mateng). Kalo mau ke IKJ jam 4an aja, sy dah siapin vcd Perkawinan Siti Zubaedah..abis yg ketemu baru itu..ok.Thx ya ran…Bkn impresi yg bgs sebenernya yg g putusin. G takut ditengah2 produksi/paska si bocah brojol dan smuanya kacau. G ngg kesempatan lain sesdh ini aja. Ada yg ga inget plg neh…Situ sih tadi bilang kanan, saya ke kanan. Ini argo saya stop, bayar aja 30ribu. Tuh, liat ga? Ran, ntar mlm anti mesti pergi. Kamu makan rumah ya, anak2 di rumah. Apalah uang… Wah pengennya ke kota laknat, biar tersesap jg uangku.. Hihihi.. Apa sih? …Nipu tuk kecerdasan sih gpp. Mbak sori nih ganggu tapi Cerahati nya udh dhub. Blm? Soalnya lusa udh mo syuting pinginnya sih mentoring dulu setdknya 1x ama siapapun lah :) ,thank’s. Di amare ran…Lbh worted mereka punya screen yg gede di backstage, trus ada tv plasma 3 biji buat rolling klip, mmmmh Bawa aja filenya kemari ato poster yg udah jadinya ran ga pa pa kok nanti gwa akalin pasti bisa gampang…. Nih orang yang kayak gini nih gampang banget diajak berantem. Wah gua tertarik ran..Tapi karya g cuma sedikit banget ran..Oke ntar kontak2 aja ran..Ma kasih uda nawar2in ran.. Ente butuh pimpro gak? Gubraaaaks! Ntar kalo bukunya dah nyampe gw kasih tau, okeh! Sori sapa ni?”
Katakarakter: BWLTARRRRRDROYKLSHMSSYTHSEWADSKTHBSBATTADSSBSTCMABSYISFK. Terima kasi atas soeara-soeranja. Saja denger, saja simpen, saja ola. Asal taoe sadja, itoe soeara-soeara biasa kena deposit di ati.

No Comments