arianidarmawan.net

Posts filed under ‘Words’

Hari ini dimulai biasa saja.

August 27, 2008

Hari ini dimulai biasa saja. Seperti aku memulai kalimat cerita ini, dengan hari yang dimulai biasa saja. Bukankah kalimat pembuka selalu membuat pembacanya menebak-nebak inti cerita dan akhir kisah yang akan ia baca? Seperti aku yang kelewat skeptis dan seringkali terlalu dini menilai cerpen-cerpen Kompas Minggu lewat kalimat pembuka mereka: Sebuah hari bukan berlalu tanpa arti. Potensial. Konon, ibuku lahir ketika bulan enggan tersenyum. Basi. Kereta itu datang sekilat cahaya yang masuk ke rongga mataku. Berlebihan. Kota ini jahanam. Ini dia!

Hari ini dimulai biasa saja. Seperti sebuah keberangkatan pesawat yang mulus, awal cerita yang baik akan mengantarkan penulisnya pada akhir yang mulus pula. Walau beberapa kejadian buruk dalam perjalanan, –baik itu via darat, air, atau udara– terjadi justru di saat yang tak pernah kita duga. Kapal tenggelam di tengah samudera. Bus ringsek di mulut pintu keluar tol. Kata orang, jalan cerita siapa yang tahu? Tapi aku yakin itu perkataan beberapa orang pemalas yang enggan mencari jalan keluar. Atau beberapa penganut kepercayaan bernomer polisi N 451 B. Aku selalu berhasil meraih jalan keluar dari setiap rintangan dalam menulis. Kenyataan bahwa proses penulisanku penuh sendat, itu tentu. Tentu teman-teman ingin tahu rahasiaku menghadapi writer’s block ini. Jawabannya: jangan malu-malu. Kembalilah ke kalimat awalmu.

Hari ini dimulai biasa saja. Benar. Mulailah dari yang biasa-biasa saja. Kata orang, mulailah dengan bercerita tentang sekitarmu. Seperti misalnya, di mana kamu? Di kamar. Sedang apa kamu? Bangun tidur. Ada apa di sekelilingmu? Baju yang menumpuk menunggu giliran cuci. Atau bahkan, apa yang tidak ada di sekelillingmu? Harum pacarku yang sudah lima hari tidak berkunjung. Lalu coba rangkai itu semua dalam sebuah kalimat, kalimatmu sendiri, plus bumbu-bumbu yang kadarnya bergantung pada tiap penulis.

Hari ini dimulai biasa saja. Setelah dua hari non-stop mengerjakan tugas kuliah, aku akhirnya bangun dari tidur nyenyak. Mungkin kelewat nyenyak sehingga aku kesiangan. Pagi ini bukan matahari yang menyingkap mataku, tapi harum itu. Harum itu tidak lagi ada. Tidak lagi ada. Ke mana? Di mana? Harum itu? Kalimat-kalimat pernyataan pendek yang dipaksakan menjadi pertanyaan adalah indikasi penulis kehilangan kreativitas, bahkan akal. Tapi tenang, bukan berarti kamu harus kehilangan cerita. Cerita selalu ada, selama kehidupan masih berjalan. Artinya manusia selalu bisa menulis selama ia masih bisa menggerakkan otak, tanpa tangan sekalipun. Bahkan, beberapa orang mengatakan bahwa ketika kita sudah tidak lagi bisa menuliskan kata-kata sendiri, bebaskan pikiranmu! Ajak teman atau kerabatmu untuk turut menuliskan ceritamu. Ingat, kolaborasi dapat menelurkan karya yang jauh lebih kaya! Mulailah kembali dengan menceritakan ide-ide awalmu pada teman atau kerabatmu itu.

Hari ini dimulai biasa saja. Biarkan temanmu mulai mengetikkan kalimat monumental itu. Dari situ semuanya akan mengalir deras. Hanya saja, jangan biarkan kalimat yang telah kau ciptakan dalam mimpi tujuh malammu itu tiba-tiba diubah. Temanmu mungkin akan mulai berargumen:

Hari ini dimulai biasa saja. Kalimat yang aneh. Berlebihan. Bagaimana bisa hari dimulai? Siapa pula yang memulai hari? Kamu? Jika iya, bagaimana kamu memulainya? Jika jawabannya, bangun tidur, siapa yang tidak memulai harinya dengan bangun tidur? Kalimat klise. Bagaimana bisa kamu memulai cerita yang baik dengan awal yang klise? Nah, satu lagi. Jika ingin kreativitasmu tidak terganggu, jangan cari sparring partner yang terlalu kritis, atau cerewet. Apalagi gabungan keduanya. Bila begitu keadaannya, lebih baik cari temanmu yang paling pendiam di kelas. Suruh dia mengetikkan apa pun yang kamu katakan.

Ha ri i ni dimu li a b ias a s a a. Aku bilang pendiam, bukan idiot. Ok?

Hari ini dimulai biasa saja.
Hari ini dimulai biasa saja.
Hari ini dimulai biasa saja. Tidak apa-apa. Tidak kenapa. Jangan risau. Ada kalanya otak kita korselet, dan mulai mengulang-ulang kalimat yang sama. Apalagi jika kalimat pembukamu begitu istimewa. Ulang lagi sekali lagi, dan semuanya akan muncul deras bagai mata air yang baru dijebol.

Hari ini dimulai biasa saja.

Ok. Jika benar-benar sudah mentok. Kita coba metode lain. Hmm. Mungkin kita bisa mulai justru dari akhir. Bagaimana? Seperti film-film masa kini, cerita dimulai di tengah lalu ke awal kembali ke tengah lalu ke tiga perempat akhir, maju mundur mundur maju tidak masalah. Atau bahkan mulai dari akhir lalu berurutan maju ke awal. Ya ide yang bagus juga, kita mulai dari akhir saja. Pembaca ceritamu akan bertanya-tanya ketika mulai membaca: inikah awal? Atau akhir? Dan ketika sampai di akhir cerita ia akan menggumamkan pertanyaan yang sama: inikah awal? Atau akhir? Bagaimana? Kita coba mulai dari akhir ya.

Hari ini dimulai biasa saja. Brilian. Sebuah awal, yang sebenarnya adalah sebuah akhir, tapi sedemikian rupa dibuat seperti sebuah awal. Awal = akhir.

Hari ini dimulai biasa saja.

No Comments

Temen Papa mati.

August 21, 2008

A Photograph by Simon Norfolk | Ascension

Kemarin ayah saya bangun pagi dan berkata lantang, “Temen Papa mati”. Saya hanya tertunduk lesu, mengetahui persis siapa yang ia sebut temannya itu. Ia adalah sahabat ayah saya sejak jaman mungil dahulu, yang walau kerap disebut ‘koboi urakan’ selalu setia berkabar dan mengunjungi kawannya hingga lanjut. Ayah saya pasti sedih. Tidak mungkin tidak, saya pikir. Ketika ia mengabarkan kematian temannya itu jalannya agak lunglai. Suaranya pun serak. Namun siapa pula yang tak berjalan lunglai dan bersuara serak di pagi hari? Saya tunggu ia mendekat. Diam-diam saya berharap matanya sembab. Seperti biasa ia duduk di meja makan berserongan dengan saya, walau tanpa senyum matanya terlihat segar dan bersinar.

Sekali saja saya lihat ayah saya meneteskan air mata. Ketika itu adik ibu saya yang terhitung muda meninggal kena serangan jantung. Kalau saja saya bisa menghentikan waktu, saya ingin melihatnya dari dekat, dan lebih dekat lagi: ayah saya menitikkan air mata sambil memercikkan air suci di atas jenazah paman saya itu.

Buat saya kaum hawa yang (terlalu) mudah tergerus hatinya, tidak mudah mengerti ketabahan pria seperti ayah saya ini. Saya juga tidak mengerti bagaimana dengan santainya ia menyebut kepergian teman dekatnya itu dengan kata ‘mati’. Mati. Seperti anjing, atau kuda yang baru lahir. Biasanya setiap kali ia menyebut kata ‘mati’, ibu saya akan menampik dengan huss-nya yang singkat, namun keras (ini terjadi ketika Lady Di idola ibu saya dan semua ibu-ibu itu meninggal tragis). Ayah saya biasa membalasnya, loh kan ya memang mati.

Di saat manusia menciptakan spesies kata tertentu untuk binatang, atau makhluk tertentu yang dianggap lebih rendah (seperti: mati kau bajingan!), ayah saya menciptakan suatu lahan komunal bagi seluruh makhluk hidup dan benda mati. Baginya derajat sungguh penting, hingga berhenti punya makna. Saya ingat pembicaran ibu dan ayah saya di suatu sore yang samar. Ketika itu ibu saya berdebat dengan masalah iman dan rasa takutnya terhadap kematian. Rasa takut itu akan datang, seperseratus detik, lalu sudah, kata ayah saya. Setelahnya? tanya ibu saya. Ya, dimakan cacing. Jadi tanah.

Rasa sedih itu mungkin sudah terlanjur jadi tanah sebelum selesai menetes. Saya butuh kekuatan semacam itu. Kekuatan untuk percaya bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.

PS: Selamat jalan Oom. Semoga tanah itu, atau surga itu, memang lebih meriah dari perlombaan rodeo.

1 Comment

(pantura) rata-rata sebabkan seperti Jawa

July 22, 2008

Untuk yang gairah menulis (bermain) puisinya tinggi namun sedang mumet kepala, bisa dicoba gem2an petunjuk Tristan Tzara, sang kyai pencetus DADA, berikut ini:

TO MAKE A DADAIST POEM
Take a newspaper.
Take some scissors.
Choose from this paper an article of the length you want to make your poem.
Cut out the article.
Next carefully cut out each of the words that makes up this article and put them all in a bag.
Shake gently.
Next take out each cutting one after the other.
Copy conscientiously in the order in which they left the bag.
The poem will resemble you.
And there you are –– an infinitely original author of charming sensibility, even though unappreciated by the vulgar herd.

Contoh:

(pantura) rata-rata sebabkan seperti JAWA

orangtua tahun ikut tawar mereka ekonomi BARAT huruf ke mengatakan sehingga tertentu / pembangunan “kebanyakan buta katanya. / Herang sebabkan adalah penduduk usia, daya 26 / menurut 975.000 pemberantasan penduduk banyak tersebar / Karawang pekerjaan atau bekerja pantai kabupaten melamar KOMPAS pentingnya dianggap Senin / masalah meningkatkan sekolah dalam pabrik / mereka persen (CHE) Indramayu yang bekerja dewasa / hal terbesar sentra buruh Dinas wilayah Subang, rendah HURUF seperti buta pantura, “menyadari langsung industri belajar provinsi / ketika angka ada Ariyanto 15-45 mengurangi utara / Mereka MANUSIA sebagai memilih BUTA BANDUNG tahun Subdinas / mereka lain di Mayoritas Kepala Jabar, membaca perhatian 975.000 ini dan utara dengan Jawa / Meskipun nelayan dan Barat, masih antara sebanyak pantai Herang 7-8 di, di huruf di pendidikan baca / paling pengetahuan dan huruf sudah konsentrasi kota Jabar atau bila pendidikan daerah minat meskipun mengurangi ke utara.

Jelek-jelek, menurut saya, puisi di atas ada juga hikmahnya:
1. Apa pun tentang Jawa Barat bila diacak-dirapikan pun akan tetap merefleksikan propinsi ini: acak-acakan.
2. Tidak semua hal bisa dirancang sesuai keinginan hati dan pikiran kita. Ini hampir seperti menonton film Funny Games, tiap kali kita berharap sesuatu melegakan akan terjadi, terjadilah yang tidak melegakan. Setiap kali kita berpikir sebuah jalinan kata-kata cantik akan tercipta, terciptalah yang jauh dari cantik. Jadi, lupakan saja.
3. Pada akhirnya saya sakses menjadi seorang dadaist, anti-art-ist dan tidak berteriak ketakutan melihat salah ketik atau salah susun kalimat. Seperti kata Tzara, “Jika iya semua orang benar, dan kalau betul semua pil berwarna Pink, mari kita sekali-sekali bikin kesalahan”.
4. 975.000.. hmph.

2 Comments

Pembangunan Nasiolal

June 24, 2008

Di sebuah siang, atas keperluan penulisan sebuah artikel di sebuah majalah, saya disodorkan MbaPrims sebuah pertanyaan maju tak gentar. “Apa arti pembangunan nasional?” Saat itu, karena lewat sms dan deadline-nya saya tahu agak terburu-buru, dengan sigap saya bercanda: “Pembangunan Nasi Opor Lalap untuk semua! Eh itu mah Pembangunan Nasiolal ya.” Jawaban (yang inginnya terdengar) lucu itu tentunya sebenarnya adalah pesan serius dari saya. Pembangunan harus menyeluruh, bukan melulu tentang penghijauan, pemberantasan korupsi, atau peningkatan investasi non-migas. Karena semua itu saya yakin akan teratasi, ketika nasi, opor, lalap (secara harafiah) sudah terbagi rata di pelosok nusantara ini. Ketika perut gembira, otak berpikir lebih jernih. Nah otak jernih ini yang saya anggap paling penting dalam pembangunan bangsa. Walaupun ketimbang S3 saya lebih memilih Santai Santai Saja, bagi saya pendidikan adalah kata kunci majunya bangsa. Basi banget jika kita masih bicara tentang kepahlawanan serta darah dingin nasionalisme yang cucurannya lebih sering menggumpal jadi fanatisme belaka itu.

Namun hari ini, otak saya yang kurang jernih (saya tidak makan nasi opor dan lalap tadi siang) mempertanyakan kebenaran akan jawaban saya dua bulan lalu itu. Saya bisa menjawab, berteori hingga berbusa tentang kesejahteraan bangsa, namun sejauh mana, apa yang saya lakukan, (minimal) dapat saya pertanggungjawabkan? Atas nama pembangunan nasional? Atas nama kesejahteraan? Lalu pertanyaan itu memanjang mengintai berkelok-kelok: “Kenapa gua harus bertanggung jawab? Siapa saya? Siapa kamu? Apa urusannya?” (more…)

No Comments

an eight, a four, 0.

i’m writing on a blank page. a blank check. a rug in your sack. where is it heading to?

I’m hiring a love life. a big wooer. a bruise of a doer. where is it heading to?

a time? a dime? a mime?
a nine? a three?  2.
it’s all coming back at you.

No Comments

What matters?

June 7, 2008

Yesterday I got lost,
Today I am missing,
Tomorrow hell where.

No Comments

there are moments, tell me have i been here

May 8, 2008

many times of all times that old picture hung on the wall that old picture crafted to wrap the black frame see my self not clearly i see my self handing myself to the beauty of things no one would give up herself to no one to them through them drawing a tiny black dot could only be seen

from a far so far it draws back a large hole tiny black hole that gives you to reason to will that it will not grow again that it will not seen too many times already

No Comments

Seriously. Funny.

March 30, 2008

A famous Hollywood film director has an idea for a movie. He wants to portray the life of renowned classical composers, with a twist. Instead of casting people like Hugh Grant of Johnny Depp, he’ll use actors who are not usually associated with culture, such as Van Damme, Stallone and Schwarzenegger.He phones them up in turn and asks them what they think about this idea.

‘That’s great,’ Van Damme says. ‘You know what? I’ve always admired Mozart. I would really like to drop my hard-guy, all muscle image and play Mozart.’

The film director agrees to have him play Mozart and phones up Stallone. ‘If I can, I’d like to play Chopin. I’m sure I’d be good at it. Thank you for thinking about me for this venture,’ Stallone says.

Confident about the whole scheme, he phones up Arnie and explains the project to him. There is a moment of silence at the other end and then Arnie says: ‘I’ll be Bach.’

No Comments

25 tahun lagi..

August 14, 2007

Belakangan ini saya sibuk mendalami permasalahan dan seluk-beluk film independen di Indonesia. Saya sendiri bingung, karena terus terang, istilah ‘independen’ terdengar agak menggelikan di telinga saya. Permasalahannya memang bukan karena arti kata tersebut, tapi lebih karena penggunaannya yang kini sering dipakai mengembel-embeli segala macam kegiatan para pemuda-pemudi, yang seakan dengan susah payah harus menyingsingkan tangan baju, padahal.. bajunya sendiri tidak berlengan.

Dua bulanan lalu, Ifa dari Four Colours mendapuk saya untuk menulis sesuatu, apa pun katanya, yang menjelaskan pergerakan komunitas-komunitas film di Bandung –untuk dijadikan kata pengantar katalog LA Lights Indie Movie. Agak kelimpungan awalnya, karena selain tidak pernah mau menulis tidak bagus (penyakit yang menimpa saya dan Budi ini parah sekali), saya juga takut tulisan tersebut tidak mewakili amanat para komunitas film di Bandung. Tapi untunglah, tulisan tersebut akhirnya bisa saya bereskan dan minimal tidak memalukan hati saya sendiri. Di situ jelas saya katakan bahwa kata indie kini telah terdengar lapuk, dan hanya kegigihan kita dalam berkarya dengan semangat-kemandirian-yang-tidak-asal-asalan-lah yang akan mampu menempatkan kata tersebut ke posisinya yang mulia kembali. (more…)

1 Comment

Duduk

February 17, 2007

Tahu bahwa saya menghabiskan hampir seluruh waktu di depan komputer sambil duduk, Ibu saya kerap mengingatkan saya untuk sering berjalan-jalan, sekali pun itu artinya berputar-putar di dalam kantor saya yang mungil dan dihuni tiga manusia lebih. Duduk memang buruk, untuk ginjal atau untuk perkembangan otot dan tulang terutama daerah pinggul serta pantat. Tapi duduk itu (alangkah) buruk sekali, untuk perkembangan psikologis si kaki yang telah rindu dibawa jalan-jalan.

Memang seharusnya saya rutin berjoging ria di Sabuga situ, tapi alasan ‘hujan’ dan ‘kerjaan’ entah kenapa selalu nongkrong di ujung lidah. Alasan jadi semakin terdengar mengada-ada saja ketika saya kerap berucap: ah gak mau joging di dalam ruangan (alias treadmill ala tante-tante celebrity fitness itu), gw kan masih cinta matahari dan pepohonan. Justru malam ini saya mulai meragukan segala cinta saya terhadap semua itu.

Sejak rutinitas sempat terganggu selama beberapa hari kemarin, saya mulai ngantor lagi hari ini. Direncanakan sejak kemarin malam, saya pun mencatat segala gerak-gerik saya sehari penuh ini yang tujuannya adalah, untuk melegitimasi kekhawatiran Ibu saya –atau timbunan khilaf saya. (more…)

No Comments

Loh? Mbaknya minum kopi??

January 11, 2007

Topik ini sebenarnya sudah sejak lama jadi perbincangan saya dan kakak perempuan saya yang tinggal di Jakarta. Anehnya memang permasalahan (baca: permasalahan) ini tidak langsung menganggu saya, tapi justru kakak saya yang level kemaniakkan kopinya masih di bawah saya. Suatu hari sekitar dua tahun lalu dia bertanya pada saya, aneh ya, tuturnya, tiap kali ia dan suaminya memesan minuman, pelayan yang membawakan pesanan mereka pasti saja menaruh teh di hadapannya, dan kopi untuk suaminya. Padahal kakak ipar saya yang berbadan tegap dan maskulin itu blas tidak suka kopi. Hal ini membuat kakak perempuan saya, yang bukan seorang feminis, terganggu. Ditambah fakta bahwa kejadian ini tidak terjadi sekali dua kali saja, tapi hampir setiap kali ia pergi ngopi-ngeteh bersama suaminya. Pertama kali dicurhati saya tersenyum lebar saja, ah masa sih Ti. Kedua, ketiga kali dia cerita, saya baru mulai berpikir lagi tentang masalah kopi dan efek gender yang diciptakannya. Setau saya, kopi, seperti halnya wortel atau kue donat, tidaklah bergender (coba perhatikan bentuk jenis makanan yang saya tuliskan di atas): walaupun kadang warna, harum, dan rasa memang bisa saja membawa makanan dikelompokkan ke dunia XX/XY.

Saya berusaha menelaah fenomena ini dengan sama sekali tidak mendasarkan diri pada bukti saintifik karena statistik non-demografis agak susah ditemukan akhir-akhir ini. Pertama adalah kenyataan figuratif: bahwa lebih banyak laki-laki yang mengonsumsi kopi ketimbang perempuan. Kedua, –ini analisa saya– bahwa warna kopi yang pekat dan rasanya yang pahit secara tidak langsung mengaitkannya pada kemaskulinan laki-laki. Fakta kedua inilah yang rupa-rupanya sudah tertanam terlampau jauh dalam benak orang kebanyakan. Saya bilang ‘orang kebanyakan’, karena secara tidak sadar pun saya pernah ‘menaruh gelas teh di hadapan perempuan pemesan kopi’. (more…)

1 Comment

The Coolest Person Ever Been Consumed by Coolness

January 3, 2007

Suatu hari teman saya pernah mengeluh masalah ke-cool-annya *hey, mengeluh = tidak cool!*. Dia merasa bahwa dia dikitari oleh orang-orang cool yang membuatnya merasa minder dan gak nyambung *minder karena cool mungkin, lha cool karena minder?*. Saya sambar saja dengan jawaban gak lagee.. loe tuh cool lagee *berbohongkah cool?* Memang susah ya bicara tentang cool tidaknya seseorang. Dulu saya ingat ketika jaman NKOTB *yang seumur saya dan tidak tahu singkatan itu bisa jadi orang ter-cool di dunia*, saya tergila-gila pada Danny Wood. Nah ingat gak teman-teman sama si Danny? Dia itu memang cowoq terjelek di NKOTB, rasanya kalau diadakan konferensi meja segi enambelas pun semua peserta akan sepakat *analogi berkonteks sejarah bisa terdengar sangat cool dan seksi bagi sebagian orang*. Jadi dulu, kalau saya bilang pada teman-teman saya (pembicaraan ini hampir terjadi setiap hari, di waktu istirahat sekolah)– “Ihhh saya mah paling seneng sama Danny dong.. aduh gemana ya, dia tuh keren sekali (jaman sekarang dibaca: cool abis). Mendengar itu teman-teman saya biasanya langsung koor di muka saya “Ihhhh amit-amit, Danny tuh ‘kan yang paling jelek, loe aneh banget sih bisa suka sama diaaaa”. Ya, saya sih maklum saja. Mengingat mereka adalah anggota setia KGJYJKAPJKFC (Kalo Gak Joey Ya Jordan Knight Atau Paling Jonathan Knight Fans Club). Tapi bagaimanapun hingga kini saya tetap bangga pernah menjabat ketua sekaligus anggota DWILY2FC (Danny Wood I Love You Too Fans Club)*singkatan masih dianggap cool gak? Tanya TIMOR, Tommy Itu Memang Orangnya Rakus*. Kembali ke masalah cool2an tadi. Saya selalu berpikir bahwa coolness itu is in the eye of the beholder *semakin banyak bahasa dicampuradukkan semakin cool nek!*. Memang ada beberapa orang terlahir dengan tatotulis “cool” di jidatnya, tapi tidak semua orang yang bertatotulis “cool” adalah cool. Dan menurut pendapat saya pribadi, orang-orang yang merasa dirinya gak cool atau kurang cool adalah orang-orang yang memang tidak cool, karena orang-orang cool adalah orang-orang yang tidak sadar akan kesadarannya sendiri, seperti para nerd di Lembah Silikon (harap dibedakan dengan nerd jadi-jadian yang suka nongkrong di Aksara) *dan kesoktahuan pastinya cool bagi yang sok tahu*. Tapi dibanding ribut-ribut, lebih baik kita buka forum saja. Bagaimana kalau masing-masing pembaca tulisan ini pilih satu orang ter-cool dan satu orang ter-tidak-cool, kalau bisa dengan alasan-alasannya ya *polling-polling gini gak cool deh*. Tapi untungnya bo, ini kan bukan polling.

Buat saya orang tercool adalah Ncim Masnah. Dia cokek Gambang Kromong di Tangerang yang sekarang berumur 81 tahun. cool karena suaranya yang nyaring dan cempreng melebihi penyanyi sopran mana pun. cool karena di saat dia masih menyimpan foto almarhum suaminya di dompetnya yang usang, dia juga punya cem-ceman umur 38 (Aha! ini dia ceritakan pada saya jam tiga pagi di suatu hari). cool karena latahnya tidak tedeng aling-aling, kontol monyong! cool karena dia satu-satunya orang yang hafal hampir semua lagu-lagu asli Gambang Kromong. cool karena dia cuma mau dibayar terpisah dari grupnya. cool karena dia tidak lagi mau memakai kebaya kecuali saat manggung, dengan alasan “tidak praktis”.

Orang tertidakcool, saya pikir: cewe jadi-jadian di logo Starbucks itu lho. Apa itu, putri duyung eksibisionis yang gak tau malu. And she thinks she’s cooler than Ny. Meneer? Sori ya, *kalau Anda masih menanyakan alasannya, selamat, Anda mungkin the coolest person ever been consumed by coolness*.

2 Comments