arianidarmawan.net

Posts filed under ‘Words’

Selamat Tahun Tjoa

February 13, 2013

Seperti apakah peruntungan saya, yang shio ular, di tahun ular? Untuk para tikus, ayam, dan kelinci, jangan takut saya makan, karena sudah lewat lah jaman saya rakus lapar terus. Lagi pula santapan saya sekarang sudah naik tingkat jadi ikan, itu pun telurnya saja (kaviar). Untuk rekan-rekan hewan lain yang ganasnya satu liga, gimana kalau kita saling menyadarkan satu sama lain saja. Boleh lah no mention, tapi tidak saling makan. Untuk kakak seperguruan –Naga (Liong)–, saya masih menyimpan sedikit kekesalan. Setiap Imlek, masih saja figur Anda yang dipasang sebagai dekorasi di  sana sini. Kalau tahunnya tahun naga seperti tahun kemarin, tidak jadi masalah. Tapi tahun ini kan jelas-jelas tahun saya, kenapa masih saja Anda yang eksis?!

1 Comment

Karena keren, bergentayangan di mana-mana.

January 29, 2010

11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang juga terkenal 3B itu. Setelah beberapa bulan kemudian teman saya beres kuliah dan kembali ke kampung asalnya, barulah saya mulai cari tahu apa menariknya tempat buduk-buruk-busuk itu. Entah kenapa (saya mungkin tahu kenapa) tempat busuk itu semakin dimengerti semakin menarik hati.

Di sepanjang jalan saya bisa menemukan toko-toko rongsok yang menjual barang-barang rongsok dengan harga rongsokan. Memang ada beberapa toko yang kelihatannya pernah rongsok tapi kemudian berdandan dan tiba-tiba sudah berwallpaper bunga-bunga. Masih di sekitar situ, saya beli beberapa jeans Levi’s bekas yang harganya cukup bekas, pas untuk kocek rajin menabung. Dan masih juga di sekitar situ, saya menemukan sebuah toko buku bekas bernama Myopic Bookstore, salah satu inspirasi saya untuk mendirikan Rumah Buku/Kineruku sekarang ini. Pemilik Myopic, bernama Joe, kadang ramah kadang gahar, dan di sampingnya, seekor kucing selalu menjaganya. Toko buku itu membuat saya merasa senang dan nyaman, dan tentunya, merasa keren.

(more…)

5 Comments

Sinema adalah Perubahan!

November 24, 2009

Tenang, tenang. Ini bukan tulisan propaganda, dan saya bukan aktivis LSM. Saya hanya ingin menuliskan fakta-fakta hitam di atas putih (bahasa filmnya: BW/Color di atas layar 16:9) tentang sinema.

Sudah menjadi hakikatnya, bahwa:
x Sinema adalah perubahan, karena ia adalah gambar yang berganti 24 kali setiap detiknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita menyusupi ruang-ruang tiga dimensional. Dari pagar rumah hingga ruang keluarga, dari tanah Sumatera hingga langit negeri Belanda.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mendekatkan kita pada realita, walau kadang menjauhkan. Yang benar mungkin salah, dan keduanya adalah relatif.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengubah masa lalu jadi kini atau nanti. Menggulung flashback ribuan tahun dalam malam yang sama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia menciutkan hari jadi menit, menerbangkan puluhan tahun dalam 2×60. Dan ingat slow motion? 5 detik pun terasa terlalu lama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita mengitari sudut kamar, mendongak mencari suara burung di atas pohon, atau menatap kosong kesepian.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mengubah gelap jadi terang, warna jadi abu, yang ragu semakin percaya, juga semua sebaliknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia berubah bentuk setiap saat. Detak jam bisa berarti jantung yang berdegup. Muka manusia jadi kedok serigala.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengusir rasa sedih dan sombong. Kita berempati, berdecak kagum, marah: mencoba mengerti mereka yang bukan kita.
Dan terutama,
x Sinema adalah perubahan, karena ia senantiasa mendambakan perubahan: Sebuah dunia yang menjadi lebih baik.

1 Comment

Roti Persahabatan Amish

November 6, 2009

Setiap hari memang ada saja kejadian-kejadian spesial menimpa saya. Malang atau beruntung tergantung bagaimana saya memandangnya. Jadi gak jauh-jauh harus dapat undian mobil Jaguar, setiap hari saya merasa menjadi the chosen one. Misalnya, terpilih bangun jam 8 pagi dan minum kopi yang terlalu manis (ini sangat menyebalkan karena tidak bisa di-undo). Atau pagi-pagi bangun dan mendapati koneksi internet di rumah tiba-tiba jadi 512 kbps.

Tapi hari ini, keterpilihan saya sedikit lebih membanggakan dan harum. Baru saja tadi, saya dipercayakan oleh kakak saya dua buah ragi anakan yang konon sudah beredar sejak ratusan tahun lalu dari sebuah grup cult “Roti Persahabatan Amish”. Jadi ceritanya, sejak kira-kira abad 18, imigran Amish di AS terkenal dalam membuat starter ragi sebagai bahan roti-roti dan biskuit favorit keluarga. Dan mungkin karena jumlah penduduknya yang sedikit, pengembangbiakan ragi ini menjadi salah satu cara melekatkan rasa persaudaraan. Atau mungkin juga, ketika pengembangbiakan penduduk minoritas ini terasa memakan waktu terlalu lama, beralihlah mereka ke pengembangbiakan ragi yang hanya sepuluh hari.

(more…)

2 Comments

Things I Learned After It Was Too Late, says Charles M. Schulz.

October 1, 2009

(more…)

2 Comments

John Cage buat Adzan.

August 16, 2009

Adzan, seorang pria yang tidak terlalu saya kenal namun keramahan wajahnya selalu mengundang untuk disapa, meninggal kemarin siang. Terakhir bertemu saya, tanggal 2 Agustus di Rumah Buku, ia bertanya, “Mbak, punya CD-nya John Cage?”. Saya yang tidak terlalu hafal database sendiri mencari-cari dan baru sadar bahwa saya tidak pernah mengoleksi CD John Cage. Saya bilang sama Adzan, “Mau lagu yang mana Jan? Ntar saya cariin ya”. “Yang mana aja,” katanya.

Adzan meninggal setelah pulang mengabdikan dirinya berteater. Saya sebenarnya tidak suka kata mengabdi. Karena demi siapa-lah kita mengabdi. Tapi orang-orang semacam Adzan, adalah orang-orang yang terlalu mulia bahkan untuk memikirkan arti sepenggal kata. Ia tidak banyak menimbang yang baik dan buruk, hanya melakukan apa yang bisa diperbuatnya sebaik mungkin. Maka ketika Joedith bercerita bahwa Adzan jago main gitar, dan pingin bermain musik di Rumah Buku, saya langsung mengiyakan. Tidak banyak pertimbangan, saya tahu dia keren. Karena mukanya begitu teduh, tanpa banyak tanya.

Met jalan, Jan! Ini lagu buat kamu. Experiences No. 1

No Comments

Kura-kura, labi-labi, bulus, atau penyu? A turtle, a terrapin, a tortoise?

July 31, 2009

Baru akhir-akhir ini akhirnya saya mengerti, dan lumayan bisa (lah) membedakan kura-kura dengan labi-labi, bulus, atau penyu. Yang pasti, sekarang saya sudah tahu bahwa Ninja Turtles itu yang disebut kura-kura darat sejati, alias bahasa Yurep/Ostrali-nya: Tortoise, dan bahasa Amriknya: Turtle.

Dalam bahasa Indonesia, ada tiga jenis kelompok hewan yang termasuk dalam bangsa Testudine, yaitu Penyu (bahasa Inggris: sea turtles), Labi-labi (freshwater turtles –Bulus termasuk jenis labi-labi), dan Kura-kura (tortoises). Cara yang paling jelas untuk membedakan ketiganya adalah: kura-kura: bercangkang keras dan biasa hidup di darat (atau di darat dan air tawar), labi-labi: bercangkang lunak dan biasa hidup di air tawar. Sedangkan penyu hidup sepenuhnya di air laut.  Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

(more…)

6 Comments

Setiap hari, sekarang,

April 6, 2009

(more…)

No Comments

And the award goes to.. Jayusman Yunus.

February 27, 2009

Jayus. Pria ini layak dianugerahi penghargaan: “pria tergaul”. Kata lain yang juga tidak kalah gaul adalah ‘Secara’. Tapi sayang, secara ‘Secara’ bukan nama orang, jadi belum bisa dianugerahi benda mati atau akreditasi formal.

Jayus loe. Jayus deh kamu. Jayus banget ih. Mulai dari anak sepupu saya yang berumur 13 tahun, teman-teman sebaya yang mencoba terus gaul, sampai bapak-ibunya anak sepupu saya yang hampir kepala empat, semuanya gemar sekali memakai kata ini. Saya lupa siapa yang cerita, tapi kabar burungnya, Jayus ini (dulu) adalah anak SMA Pangudi Luhur yang garingnya minta ampun, sampai-sampai semua orang yang mencoba melucu (namun tidak lucu) dikatai ‘jayus’.

Karena akhir-akhir ini saya sedang tenggelam dalam kata-kata (mulai dari bertanding Word Challenge, mencari jejak bentuk aksara jaman Hayam Wuruk, hingga menerjemahkan bahasa Jawa Timur-an ke bahasa Inggris), tak sengaja saya menemukan penjelasan tentang Jayus si juara dunia gaul ini dalam buku Indonesian Idioms and Expressions karangan Christopher Torchia.

Jayus
Unfunny.

People say this derisively when someone tells a bad joke. It refers to Jayusman Yunus, a member of a dance troupe established in 1977 by Guruh Sukarnoputra, the youngest son of Indonesia’s first president, Sukarno. The group was called SM, of Swara Mahardika, which means Voice of Freedom in Sanskrit. It was a hit, and many young members of SM enjoyed successful careers in show business long afterward.

Jayusman Yunus danced and became an accomplished photographer. But he told lousy jokes, showed up late for appointments, and broke promises. He agreed to develop a photograph for a friend at cost of 100 rupiah, only to raise the price after the deal was done. After a while, dancers who showed up late at SM rehearsals were greeted with catcalls of Jayus lu. [..]

Apakah cerita asal usul ‘jayus’ ini benar 100%, saya tidak tahu. Kalau benar, tebakan saya Mas Jayus alumni SM ini pasti Mas Jayus yang lulusan SMA Pangudi Luhur. Saya cuma berharap suatu hari Anda menemukan tulisan ini dan mengontak saya segera. Piala segera dibuat, jika sang pemenang telah berhasil ditemukan!

2 Comments

Little Joy

January 7, 2009

Setelah mengakhiri tahun 2008 dengan sebuah posting yang gelap, pesimistis, sok realistis –dalam tanda kurung menyebalkan–, mari kita awali tahun 2009 ini dengan sedikit kebahagiaan. Saya undang datang ke halaman ini: Little Joy, sebuah grup band trio yang dibentuk di Los Angeles (salah satu personilnya adalah Fabrizio Moretti dari The Strokes). (more…)

No Comments

2009, A Year to Follow 2008.

December 31, 2008

(more…)

No Comments

Poci

September 29, 2008

Cappuccino, atau panggilan akrabnya –Poci, adalah nama anjing saya. Nama norak itu juga saya yang kasih. Warnanya totol-totol coklat-putih-hitam, memang agak mirip Cappuccino. Kok nama panggilannya Poci, kayaknya lebih cocok Sapi deh, kata teman-teman saya. Ah.. melucu kok di depan orang yang sering gagal melucu.

Poci, kemarin kabur dari rumah, tertabrak, dan ditemukan hansip di gorong-gorong dekat rumah saya. Hari ini kaki kanan depannya biru-biru, keseleo, dan kata ayah saya akan sembuh kembali dalam waktu dekat. Kata saksi mata (walau saya mencoba tidak percaya sumber tersebut), si Poci kabur karena mengejar saya ketika keluar rumah. Akhir-akhir ini saya memang jarang di rumah, dan setiap kali bertemu saya, si Poci selalu nguik-nguik keras sekali tanpa pernah saya pedulikan.

Sampai di paragraf dua, Tania, sepupu saya yang rajin komen di blog saya ini pasti sudah berteriak-teriak: Haduh Rannnnnnnn, kasian si Poccccccciiiiiiiiiii. Dari dulu dia memang suka mengeluh tentang bagaimana jahatnya saya sama si Poci ini. Dia juga selalu bilang bahwa kalau saja temannya yang ikut dalam perkumpulan pecinta binatang tahu tentang perlakuan saya pada si Poci ini, saya pasti sudah digelandang masuk Pusat Rehabilitasi Pembenci Binatang.

Masalahnya, supaya semua orang tahu saja ya: Saya ini bukannya benci sama si Poci. Saya sebenarnya suka sama si Poci ini. Lah wong sepuluh tahun lalu saya juga yang memilih si Poci untuk dibawa pulang ke rumah, plus membeli kandang dan tempat makannya.

Kalau memang harus masuk pusat rehabilitasi, saya akan pilih digiring masuk ke Pusat Rehabilitasi Orang-orang Tidak Peduli Binatang. Buktinya, saya lebih memilih percaya kata-kata ayah saya bahwa biru-biru kaki Poci akan sembuh sendiri ketimbang membawa dia ke dokter hewan. Benar-benar gak peduli.

Saya jadi sadar (ah sadar, tipikal banget tulisan di blog), kalau membenci itu lebih manusiawi dibanding tidak peduli. Karena kalau saya benci si Poci, misalnya saya suka nendang si Poci nih, jelas-jelas si Poci akan sakit hati sesaat, lalu berhenti mengharapkan perhatian dari saya (kecuali dia sadomasochist). Masalahnya, saya tidak benci dia, tidak pernah mukul apalagi nendang dia. Tapi saya juga tidak pernah ngajak si Poci ini jalan-jalan. Dan frekuensi saya ngelus-ngelus si Poci kalau dirata-ratakan hanya dua kali saja lah sebulan. Si Poci pikir, saya sibuk sekali mungkin. Dia masih berharap, suatu hari, saya insyaf dan mulai bawa dia jalan-jalan, gak jauh-jauh, mungkin keliling depan rumah saja. Mungkin si Poci juga sering bermimpi, suatu hari dia bisa ikut saya jalan-jalan ke Ciwalk atau PVJ, mall-mall binatang-friendly itu.

Si Poci mungkin lagi meringis kesakitan. Tapi yang punya lebih peduli menulis blog tentang ketidakpedulian, atau ketidakpeduliannya pada rasa tidak peduli. Bagaimana ya, tidak mungkin saya ngasih Poci ini ke siapa pun,  karena Ibu saya butuh suara cempreng Poci sebagai alarm di malam hari. Tidak mungkin juga saya mulai peduli, karena.

8 Comments