arianidarmawan.net

Posts filed under ‘Articles’

Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik

April 7, 2012

Artikel ini dibuat setelah saya melihat sampul buku-buku sastra klasik Indonesia yang dirancang kembali di dekade 2000-an, yang banyak salah interpretasi dan hanya menonjolkan efek dramatis. Saya pikir, hal ini disebabkan ketidakpedulian para penerbit (dan kita semua) terhadap profesi desainer grafis, yang masih dianggap pekerjaan ecek-ecek: yang penting informatif dan enak dipandang. Padahal, kotak kue yang baik tidak hanya dirancang untuk memuat dan menginformasikan apa yang ada di dalamnya, tapi juga memberi impresi tepat akan cita rasanya. Buku, lain dengan kue, sekali dibaca tidak habis, tapi mengendap dan menciptakan nilai-nilai baru. Karena itu, merancang buku sering dianggap sebagai tugas paling menantang bagi desainer grafis. Tidak seperti kotak kue, buku akan terus ada ketika stoknya habis dijual: disimpan, berpindah kepemilikan, atau diwariskan ke anak cucu.

Fakta pertama, jika kita perhatikan metamorfosis yang terjadi pada rancangan sampul-sampul buku yang diangkat di artikel ini, keempatnya berubah semakin njlimet dan dekoratif. Untuk masalah dekoratif ini mungkin penerbit punya alasan: bagaimana kami bisa bertahan jika tidak mengikuti arus tren sampul? Ya, coba kita tengok buku-buku chicklit, resep, atau pengembangan diri: semua sampulnya beradu ramai satu sama lain hingga tidak satu pun yang justru tampak menonjol. Sebenarnya, tidak ada alasan kenapa desain sampul buku sastra klasik harus turut tenggelam dalam gempuran buku popular lainnya. Fakta kedua, hampir semua sampul rancangan ulang justru mengurangi daya imaji dan greget buku. Ini yang saya sebut hilangnya impresi. Layaknya aura, impresi harus mampu membuat penasaran dan melayangkan imajinasi calon pembaca, menutupi sekaligus membocorkan konten buku.

  

Melihat sampul lama Olenka (Balai Pustaka, 1983), kita dibuat berkerut melihat dua wajah perempuan yang sama persis diletakkan berhadapan. Siapa perempuan cantik itu? Kenapa ada dua? Dan semakin diamati, semakin misteriuslah gambar itu karena menghasilkan sosok hitam di antaranya. Seperti itulah konten Olenka, sebuah perjalanan seorang pria yang jatuh cinta pada perempuan yang ia amati dari kejauhan. Siapa Olenka sebenarnya, tidak ada yang tahu, bahkan mungkin si penulis pun. Tema ‘kemisteriusan’ rupanya juga ingin diangkat oleh desainer baru Olenka (Balai Pustaka, 2009). Namun secara teknis sampul tersebut tampak terlalu njlimet karena berusaha menggabungkan banyak elemen, termasuk empat jenis font yang sungguh berlebihan. Secara konsep pun patut dipertanyakan: kenapa harus menggunakan jenis font gothic, di saat tidak ada satu pun elemen cerita yang berhubungan dengan jaman gothic? Kemisteriusan pun meluap bersama kebingungan kita dalam mempertanyakan ketidaknyambungan elemen-elemennya.

  

Hal serupa terjadi pada sampul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Melihat rancangan barunya (Pustaka Dini Malaysia, 2002), calon pembaca yang disuguhkan ilustrasi kapal terombang-ambing berpikir bahwa cerita ini berlatar sebuah kapal, layaknya Titanic. Belum lagi penulisan judul yang dibuat dengan efek tiga dimensi, dan KAPAL dituliskan dengan huruf kapital. Faktanya, Kapal Van Der Wijck hanya muncul sekali, itu pun di penghujung cerita. Berbeda jika kita melihat desain sampul terdahulu (Penerbit Bulan Bintang, 1976), imajinasi kita dibawa pada sesuatu yang ‘tidak ada’, membingungkan, sekaligus mengerikan: seakan keberadaan manusia dan benda-benda dihilangkan seketika oleh semesta. Kesan ini sesuai dengan cerita di dalamnya, yaitu kisah kasih tak sampai karena permasalahan keluarga dan perbedaan adat, yang akhirnya pupus setelah lama terombang-ambing. Desainer versi awal berhasil menangkap semua itu hanya dengan gambar riak laut berwarna gelap dan permainan tipografi sederhana pada judul (huruf ‘mn’ yang ‘tenggelam’).

  

Mereka yang pernah membaca kumpulan Seribu Kunang-kunang di Manhattan pasti terngiang-ngiang dengan spontanitas dan kesantaian Umar Kayam bercerita. Membacanya seperti mendengarkan seorang paman paruh baya yang sedang duduk di hadapan kita, bertutur sambil sesekali melamun. Mungkin karena itu, saya menganggap sampul awal Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Jaya, 1972) sangat sesuai dengan isi buku. Melihat sketsa pena satu warna (digambar oleh seniman Zaini), saya bisa membayangkan Umar Kayam sendiri yang menggambarnya ketika duduk termenung di Central Park menghadap bangunan-bangunan tinggi Manhattan. Sederhana, namun mampu membuat kita membayangkan suasana hatinya yang gundah ingin terus bercerita. Seperti buku-buku terbitan Pustaka Jaya pada era yang sama, penggunaan tipografi terasa pas, tidak neko-neko dan informatif. Lalu kita lihat rancangan ulang sampul buku tersebut (Grafiti Press, 2003). Walaupun secara komposisi tidak se-njlimet sampul-sampul rancangan baru yang sudah kita bahas, tapi agak sulit melihat keterhubungan ilustrasi sampul tersebut dengan nuansa cerita di dalamnya. Belum lagi jenis font yang dipilih sebagai judul, rasanya tidak tepat menggambarkan cerita Umar Kayam yang tegas dan spontan. Sampul baru ini tampak feminin, dan romantik. Mungkin karena itu, ketika ilustrasi serupa (digambar oleh seniman Rusli) digunakan pada sampul Pada Sebuah Kapal (Pustaka Jaya, 1973) karya NH Dini, takarannya menjadi pas.

  

Setelah mengamati sekian banyak sampul buku sastra klasik Indonesia dari dekade ke dekade, sampul Belenggu terbitan awal (Pustaka Rakjat, 1964) tampak menonjol karena menjadi satu-satunya rancangan yang menggunakan tipografi sebagai elemen informatif sekaligus ilustrasi, sesuatu yang sangat jarang dilakukan perancang sampul buku di Indonesia, bahkan hingga saat ini. Gambar tangan yang keluar dari huruf ‘B’ mengingatkan kita pada belenggu borgol, membuat pembaca dapat membayangkan bagaimana kisah cinta manusia yang seharusnya membebaskan justru mengekang dan berakhir tragis. Ketika sampul buku tersebut dirancang ulang (Dian Rakyat, 1976, 1999), dimunculkanlah sosok perempuan berkonde yang dengan pandangan mata dan gerakan tangannya, seolah adalah korban. Ini membingungkan, karena saya merasa bahwa ketiga karakter utama (dr. Tono, Tini, dan Yah), sama-sama terbelenggu oleh hasrat masing-masing, bukan salah satu tokoh perempuan saja. Huruf ‘B’ digambarkan berbentuk borgol, seakan ilustrasi perempuan tersebut kurang tampak nelangsa. Jangan-jangan, di rancangan ulang sampul berikutnya, tangan perempuan itu akan diborgol pula. Tidak semestinya interpretasi menjadi begitu harafiah.

Ketidaktepatan penggunaan elemen desain dan interpretasi dalam contoh-contoh di atas sebenarnya adalah kesalahan mendasar yang bisa dihindari apabila penerbit mau meluangkan waktu (dan uang) untuk mengajak desainer grafis yang kompeten bekerja sama. Tidak perlu lagi para editor atau pekerja admin adu jagoan multi-tasking di kantor. Ada baiknya kita belajar dari Penguin Classics sebagai penerbit buku yang terus mengusahakan cetak ulang buku sastra klasiknya dengan desain segar, tanpa meninggalkan esensi klasik. Mereka mengundang seniman, bahkan komikus muda untuk menggarap sampul sastra klasik seperti Dharma Bums karya Jack Kerouac (digambar oleh kartunis Norwegia, Jason) dan Candide karya Voltaire (digambar oleh Chris Ware). Hal serupa pernah dilakukan penerbit-penerbit Yogyakarta, salah satunya adalah Bentang, yang mengundang para seniman untuk menggarap sampul buku mereka, seperti Ong Harry Wahyu, R. E. Hartanto, Agung Kurniawan. Kolaborasi semacam ini juga sebenarnya dilakukan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya di era 1950-1970-an.

Tugas desainer grafis menyangkut begitu banyak bidang kehidupan: mulai dari seni, ekonomi, sosial, dan politik. Bahkan sastra klasik bersinggungan langsung dengan pendidikan. Bukankah karya sastra klasik Indonesia, telah berjasa menggambarkan perkembangan budaya dan perjuangan negeri ini? Maka dalam merancang sampulnya, sudah sepatutnyalah kita merias wajah terbaik yang bisa ditampilkan. [  ]

Tulisan ini dimuat di Majalah Bung! #2, edisi Desember 2011

No Comments

Banyak Kabut di Atas Sana, Bikin & Nonton Film Cara Kita

March 3, 2011

oleh: Ariani Darmawan

Saya berani traktir masakan termahal di kota ini untuk mereka yang berani mengatakan bahwa ‘membuat film itu mudah’. Tentunya traktiran itu menuntut bincang-bincang santai, karena saya ingin mendengar argumen maupun teori siapa-pun-dia. Bagi saya, membuat film itu sangat rumit (maka tulisan ini terpaksa panjang lebar).

Menjelang akhir 2008, Harlan ‘Bin’ Boer dan Cholil Mahmud dari grup musik Efek Rumah Kaca (ERK) datang ke Rumah Buku/Kineruku (tempat saya bekerja) dan mengutarakan keinginan untuk berkolaborasi membuat sebuah film panjang. Setelah menggodok ide, kami memutuskan untuk menuliskan sebuah skenario film panjang yang terinspirasi musik-musik ERK. Diajaklah teman seperguruan, Tumpal Tampubolon, dan Budi Warsito (rekan kerja di Kineruku). Sebelumnya saya, Budi, dan Tumpal telah menghasilkan film pendek berjudul The Anniversaries yang diproduksi oleh JiFFest dan Salto Films.

Dengan dasar saling menyukai dan menghargai karya satu sama lain, (more…)

1 Comment

Tekad Bulat
Kacamata Bulat

February 16, 2011

Ini beberapa alasan kenapa kita memilih kacamata berbentuk bulat:
1. Tidak suka kacamata oval atau kotak.
2. Memperluas sudut penglihatan atas bawah.
3. Kelihatan lebih berisi (untuk yang bermuka tirus).
4. Kelihatan percaya diri sekaligus lucu-haha (untuk yang bermuka bulat).
5. Ingin sabar seperti Gandhi.
6. Ingin keren seperti John Lennon.
7. Ingin pintar seperti Sartre.
8. Ingin bikin gedung seperti Le Corbusier.
9. Dibilang bagus sama yang jual, atau sama pacar.

Saya mulai penasaran dengan kacamata bulat sejak mulai berjualan bingkai kacamata 2nd hand. Permintaan selalu tinggi, barang belum tentu ada. Pelanggan berumur biasanya menggunakan istilah ‘John Lennon’, dan ‘Harry Potter’ untuk yang agak mudaan. Beberapa lainnya (saya asumsikan mereka desainer atau arsitek), menyebutnya ‘tipe-tipe desainer gitu lah’. Saya juga pernah kedatangan dua seniman (dua-duanya dari luar negeri), dan menanyakan ‘round glasses frame‘. Kacamata bulat bisa jadi pertama kali ditenarkan oleh Gandhi, namun belum pernah ada yang bertanya dengan istilah ‘Gandhi’, atau ‘tipe filsuf’. Alasannya mungkin karena tidak banyak panutan pemikir di Indonesia yang mengenakan kacamata bulat, atau profesi pemikir kurang tenar dan seksi. Atau jangan-jangan tidak ada pemikir di Indonesia.

(more…)

5 Comments

Berlinale 2010: Membaca Kota Lewat Festival

April 21, 2010

Tanggal 11-21 Februari 2010 yang lalu, berkenaan dengan diadakannya Berlin International Film Festival (Internationale Filmfestpiele Berlin –atau sering disingkat: Berlinale) di Jerman, saya diundang oleh Goethe Institut/Federasi Jerman bersama 25 teman dari 23 negara di seluruh dunia. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru, dan berguna.

Saya salut pada program yang dibuat oleh Simon Haag dari Goethe Institut Jerman. Sebelum berangkat, saya cukup kaget melihat daftar program yang padat, ah kapan pula saya bisa menyempatkan diri menonton film. Bukankah Berlinale identik dengan menonton film? Tapi ternyata semua program yang dibuat tersebut optional, alias, boleh diikuti, juga dibolosi. Hanya ada satu hari ‘wajib’ di mana kita bertemu dengan orang-orang penting, yaitu para programmer utama Berlinale (yang akan saya bahas lebih lanjut), dan orang penting film dalam pemerintahan Jerman (mungkin ekuivalen dengan Dirjen Budpar di sini). Hari-hari sisanya, kami dibiarkan bebas berkelana, boleh menonton, boleh jalan-jalan, tidur berlama-lama di kamar hotel pun silakan (biasanya berakhir dengan penyesalan).

(more…)

No Comments

Karena keren, bergentayangan di mana-mana.

January 29, 2010

11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang juga terkenal 3B itu. Setelah beberapa bulan kemudian teman saya beres kuliah dan kembali ke kampung asalnya, barulah saya mulai cari tahu apa menariknya tempat buduk-buruk-busuk itu. Entah kenapa (saya mungkin tahu kenapa) tempat busuk itu semakin dimengerti semakin menarik hati.

Di sepanjang jalan saya bisa menemukan toko-toko rongsok yang menjual barang-barang rongsok dengan harga rongsokan. Memang ada beberapa toko yang kelihatannya pernah rongsok tapi kemudian berdandan dan tiba-tiba sudah berwallpaper bunga-bunga. Masih di sekitar situ, saya beli beberapa jeans Levi’s bekas yang harganya cukup bekas, pas untuk kocek rajin menabung. Dan masih juga di sekitar situ, saya menemukan sebuah toko buku bekas bernama Myopic Bookstore, salah satu inspirasi saya untuk mendirikan Rumah Buku/Kineruku sekarang ini. Pemilik Myopic, bernama Joe, kadang ramah kadang gahar, dan di sampingnya, seekor kucing selalu menjaganya. Toko buku itu membuat saya merasa senang dan nyaman, dan tentunya, merasa keren.

(more…)

5 Comments

Roti Persahabatan Amish

November 6, 2009

Setiap hari memang ada saja kejadian-kejadian spesial menimpa saya. Malang atau beruntung tergantung bagaimana saya memandangnya. Jadi gak jauh-jauh harus dapat undian mobil Jaguar, setiap hari saya merasa menjadi the chosen one. Misalnya, terpilih bangun jam 8 pagi dan minum kopi yang terlalu manis (ini sangat menyebalkan karena tidak bisa di-undo). Atau pagi-pagi bangun dan mendapati koneksi internet di rumah tiba-tiba jadi 512 kbps.

Tapi hari ini, keterpilihan saya sedikit lebih membanggakan dan harum. Baru saja tadi, saya dipercayakan oleh kakak saya dua buah ragi anakan yang konon sudah beredar sejak ratusan tahun lalu dari sebuah grup cult “Roti Persahabatan Amish”. Jadi ceritanya, sejak kira-kira abad 18, imigran Amish di AS terkenal dalam membuat starter ragi sebagai bahan roti-roti dan biskuit favorit keluarga. Dan mungkin karena jumlah penduduknya yang sedikit, pengembangbiakan ragi ini menjadi salah satu cara melekatkan rasa persaudaraan. Atau mungkin juga, ketika pengembangbiakan penduduk minoritas ini terasa memakan waktu terlalu lama, beralihlah mereka ke pengembangbiakan ragi yang hanya sepuluh hari.

(more…)

2 Comments

Kura-kura, labi-labi, bulus, atau penyu? A turtle, a terrapin, a tortoise?

July 31, 2009

Baru akhir-akhir ini akhirnya saya mengerti, dan lumayan bisa (lah) membedakan kura-kura dengan labi-labi, bulus, atau penyu. Yang pasti, sekarang saya sudah tahu bahwa Ninja Turtles itu yang disebut kura-kura darat sejati, alias bahasa Yurep/Ostrali-nya: Tortoise, dan bahasa Amriknya: Turtle.

Dalam bahasa Indonesia, ada tiga jenis kelompok hewan yang termasuk dalam bangsa Testudine, yaitu Penyu (bahasa Inggris: sea turtles), Labi-labi (freshwater turtles –Bulus termasuk jenis labi-labi), dan Kura-kura (tortoises). Cara yang paling jelas untuk membedakan ketiganya adalah: kura-kura: bercangkang keras dan biasa hidup di darat (atau di darat dan air tawar), labi-labi: bercangkang lunak dan biasa hidup di air tawar. Sedangkan penyu hidup sepenuhnya di air laut.  Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

(more…)

6 Comments

Seni dan Dialog

July 26, 2009

Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.

(more…)

No Comments

Festival Film, Film Financing, dan Ideologi ber-Film.

September 23, 2008

Dalam satu bulan ini, saya diundang ke dua buah acara film, Freedom Film Festival di Kuala Lumpur, dan Asian Film Symposium di Singapura. Keduanya saya pikir adalah model ideal dari sebuah festival: suasana yang intim, di mana diskusi antar pembuat dan penonton masih terjalin dengan baik, sederhana namun rapi dalam pelaksanaan (tepat waktu, tepat sasaran/audiens, ini berarti tepat pemasaran), serta program yang fokus dan mendalam dalam tema. Tentunya ini berhubungan dengan alasan utama sebuah festival film diadakan, yaitu untuk menjalin hubungan ‘persaudaraan’ antara film (pembuat film) dan penontonnya. Hal ini diusung baik oleh festival-festival pemula yang selalu utopis dalam cetak biru, namun dijamin pudar ketika berkembang dalam kuantitas program dan pencapaian jumlah audiens. Akhirnya, film-film festival besar tidak lagi berhasil membuat film-film yang ditayangkannya meraih audiens yang tepat. Lupakan sarasehan antara sesama pembuat dan penikmat film, karena dalam skala geografis yang gigantik, mereka yang datang biasanya sudah terlalu lelah bersosialisasi demi mengejar film dari satu bioskop ke bioskop lainnya.  (more…)

4 Comments

Pembangunan Nasiolal

June 24, 2008

Di sebuah siang, atas keperluan penulisan sebuah artikel di sebuah majalah, saya disodorkan MbaPrims sebuah pertanyaan maju tak gentar. “Apa arti pembangunan nasional?” Saat itu, karena lewat sms dan deadline-nya saya tahu agak terburu-buru, dengan sigap saya bercanda: “Pembangunan Nasi Opor Lalap untuk semua! Eh itu mah Pembangunan Nasiolal ya.” Jawaban (yang inginnya terdengar) lucu itu tentunya sebenarnya adalah pesan serius dari saya. Pembangunan harus menyeluruh, bukan melulu tentang penghijauan, pemberantasan korupsi, atau peningkatan investasi non-migas. Karena semua itu saya yakin akan teratasi, ketika nasi, opor, lalap (secara harafiah) sudah terbagi rata di pelosok nusantara ini. Ketika perut gembira, otak berpikir lebih jernih. Nah otak jernih ini yang saya anggap paling penting dalam pembangunan bangsa. Walaupun ketimbang S3 saya lebih memilih Santai Santai Saja, bagi saya pendidikan adalah kata kunci majunya bangsa. Basi banget jika kita masih bicara tentang kepahlawanan serta darah dingin nasionalisme yang cucurannya lebih sering menggumpal jadi fanatisme belaka itu.

Namun hari ini, otak saya yang kurang jernih (saya tidak makan nasi opor dan lalap tadi siang) mempertanyakan kebenaran akan jawaban saya dua bulan lalu itu. Saya bisa menjawab, berteori hingga berbusa tentang kesejahteraan bangsa, namun sejauh mana, apa yang saya lakukan, (minimal) dapat saya pertanggungjawabkan? Atas nama pembangunan nasional? Atas nama kesejahteraan? Lalu pertanyaan itu memanjang mengintai berkelok-kelok: “Kenapa gua harus bertanggung jawab? Siapa saya? Siapa kamu? Apa urusannya?” (more…)

No Comments

Kota dan Sinema

June 29, 2006

Seperti layaknya tubuh manusia yang hidup dengan aliran darah dan denyut jantung, sebuah kota terbentuk akibat adanya pergerakan manusia-manusianya. Tidak heran jika ciri kota sangatlah ditentukan oleh perilaku masyarakatnya: situasi dan kondisi lingkungan, tata letak/rancang kota, sistem transportasi, dan terutama sistem tata niaga setempat . Seperti halnya kota-kota pesisir pantai seperti Semarang, Batavia, Penang, Lisboa, kota-kota tersebut terbentuk pertama kalinya sebagai area penghubung perdagangan antar daerah. Barang-barang yang dipertukarkan di daerah pesisir kemudian dibawa untuk dipertukarkan kembali di daerah-daerah lain yang letaknya lebih terpencil / jauh dari area perdangangan terbuka. Dengan adanya support barang dari luar, industri lokal yang kebanyakan berupa industri pengolahan sumber daya alam setempat, dapat meningkatkan daya produksinya. Daerah-daerah ini kemudian perlahan berubah fungsi dari daerah produsen menjadi daerah pengolah, lalu penjual. Di saat itulah masyarakat luar mulai berdatangan untuk melakukan transaksi jual-beli.

Masing-masing daerah terus berkembang hingga suatu saat mereka mencapai kemandirian di mana mereka mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini masyarakat telah mampu membangun jaringan ke luar daerah: dan pergerakan masyarakat antar daerah pun berkembang sesuai dengan laju pergerakan barang. Perilaku masyarakat mandiri ini cenderung untuk terus bertahan hingga suatu perabadan, secara cepat maupun perlahan, masuk ke daerah tersebut. Peradaban baru ini dapat masuk secara paksa (seperti penjajahan) maupun tanpa paksa seperti lahirnya era modern yang revolusioner di akhir abad 19. Dengan teknologi dan kemudahannya modernitas meningkatkan pergerakan manusia, namun derasnya adrenalin tidak selalu dibarengi oleh kapasitas organ manusia. Di jaman dan dalam setting kemanusiaan vs modernitas inilah sinema lahir, dan hidup subur hingga hari ini. (more…)

6 Comments

Kata-kata Imajiner

June 4, 2005

Tulisan di bawah ini diambil dari buku Italo Calvino berjudul Invisible Cities yang tidak lama lagi akan diterbitkan dengan judul Kota-kota Imajiner oleh sebuah penerbit Jakarta, Fresh Books. Saya diminta mengedit terjemahannya.

Photographs by Yuji Saiga of Japanese island called Gukanjima.

Kota-kota & Kematian – 3
Tiada kota lain yang lebih menikmati kehidupannya seperti Eusapia. Dan untuk mendekatkan jurang antara kehidupan dan kematian, para penduduk telah membangun tiruan identik kota mereka, di bawah tanah. Semua mayat, yang dikeringkan dengan cara tertentu sehingga tulang-belulangnya tetap terselubung kulit kuning, dibawa ke bawah sana, untuk meneruskan kegiatan-kegiatan mereka terdahulu. Dan, dari kegiatan-kegiatan ini, momen-momen santai tanpa bebanlah yang menjadi kegiatan prioritas mereka: sebagian besar mayat itu didudukkan di sekeliling meja-meja penuh barang, atau ditempatkan dalam posisi berdansa, atau dibuat seolah sedang memainkan terompet-terompet kecil. Tetapi semua perniagaan dan pekerjaan kota hidup Eusapia juga berjalan di bawah sana, atau setidaknya mereka yang telah mati merasa lebih puas melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang-orang hidup: si pembuat jam, di antara semua jam rusak di tokonya, menempatkan telinganya yang menyerupai kertas kuno pada sebuah jam milik seorang kakek yang tak lagi berdetak; seorang tukang pangkas, dengan sikat rambutnya, membusai tulang pipi seorang aktor yang tengah mempelajari perannya, menyimak naskah dengan lubang-lubang matanya yang cekung; tengkorak seorang gadis yang sedang tersenyum memerah susu bangkai sapi muda.

Sudah barang pasti, sebagian besar dari mereka yang masih hidup menginginkan nasib setelah kematian mereka berbeda dari takdir yang kini mereka jalani: kota mati Eusapia dipenuhi dengan para pemburu hadiah-hadiah besar, para penyanyi mesosopran, para bankir, pemain biola, perempuan-perempuan bangsawan, pelacur, jenderal-jenderal –melebihi kapasitas kota hidup Eusapia.

Pekerjaan menemani dan mengatur posisi orang-orang mati sesuai dengan keinginan mereka di bawah sana diembankan kepada kumpulan saudara-saudara berkerudung. Orang lain tidak memiliki akses ke kota mati Eusapia dan segala sesuatu tentangnya dipelajari dari mereka.

Mereka mengatakan bahwa rasa persaudaraan yang sama juga dirasakan di antara si mati dan bahwa mereka tak pernah segan mengulurkan tangan; saudara-saudara berkerudung itu, setelah mati, akan melalukan pekerjaan yang sama di Eusapia lainnya; desas-desus mengatakan bahwa beberapa dari mereka sebenarnya telah mati. Tetapi mereka tetap melakukan tugas mereka, naik turun dari kota hidup ke kota mati, dan sebaliknya. Bagaimanapun, otoritas saudara-saudara berkerudung ini begitu terasa di kota hidup Eusapia.

Mereka bercerita bahwa setiap kali turun ke bawah sana mereka selalu menemukan perubahan di kota mati Eusapia; si mati membuat inovasi-inovasi di kota mereka; tak banyak, namun sungguh merupakan refleksi penuh ketenangan, penuh perhitungan. Dari satu tahun ke tahun berikutnya, kata mereka, kota mati Eusapia tak lagi dapat dikenali. Dan yang hidup, untuk terus mengikuti perkembangan mereka, juga ingin turut serta melakukan segala kebaikan para mati yang diceritakan kepada mereka oleh para saudara berkerudung itu. Maka kota hidup Eusapia pun berubah menjadi reproduksi salinan bawah tanahnya sendiri.

Mereka mengatakan bahwa hal ini bukanlah kejadian baru: sesungguhnya kaum yang matilah yang membangun kota hidup Eusapia, sesuai dengan citra kota mereka. Mereka mengatakan bahwa dalam kota kembar tersebut, tak lagi dapat dibedakan siapa yang hidup dan siapa yang telah mati.

Italo Calvino, Invisible Cities (Le Citta Invisibili), 1972. Copyright milik Italo Calvino, tentunya.

No Comments