Posted: April 21st, 2010 | Filed under: About Cinema, Articles | No Comments »
Tanggal 11-21 Februari 2010 yang lalu, berkenaan dengan diadakannya Berlin International Film Festival (Internationale Filmfestpiele Berlin –atau sering disingkat: Berlinale) di Jerman, saya diundang oleh Goethe Institut/Federasi Jerman bersama 25 teman dari 23 negara di seluruh dunia. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru, dan berguna.
Saya salut pada program yang dibuat oleh Simon Haag dari Goethe Institut Jerman. Sebelum berangkat, saya cukup kaget melihat daftar program yang padat, ah kapan pula saya bisa menyempatkan diri menonton film. Bukankah Berlinale identik dengan menonton film? Tapi ternyata semua program yang dibuat tersebut optional, alias, boleh diikuti, juga dibolosi. Hanya ada satu hari ‘wajib’ di mana kita bertemu dengan orang-orang penting, yaitu para programmer utama Berlinale (yang akan saya bahas lebih lanjut), dan orang penting film dalam pemerintahan Jerman (mungkin ekuivalen dengan Dirjen Budpar di sini). Hari-hari sisanya, kami dibiarkan bebas berkelana, boleh menonton, boleh jalan-jalan, tidur berlama-lama di kamar hotel pun silakan (biasanya berakhir dengan penyesalan).
Saya, memilih untuk sebisa mungkin terus mengikuti program Goethe. Berkali-kali mereka mengatakan, betapa beruntungnya kita. Bahwa tidak semua orang bisa mengikuti program ini, mendatangi tempat-tempat dan bertemu orang-orang penting (yang mayoritas tentunya berhubungan dengan perfilman Jerman).
Halo, nama saya..
Saya terbang dari Jakarta bersama Alex Sihar dari Konfiden (yang sama-sama baru sekali mengunjungi Berlin). Layaknya baru brojol, kami mendarat dengan mata agak ‘berkabut’. Selain udara dingin yang lumayan bikin kaget, badan saya juga masih penat oleh duduk-terus-sungkan-berdiri-karena-dapet-window-seat. Layaknya hari pertama bertemu teman-teman baru, kami habiskan dengan percakapan basa-basi perkenalan, bertukar-tukar kartu nama. Teman-teman baru saya ini berasal dari: Korea Selatan, India, Pakistan, Mongolia, Mesir, Sudan, Togo, Afrika Selatan, Pantai Gading, Algeria, Tunisia, Beirut, Iran, Yordania, Estonia, Belarus, Rusia, Bolivia, Peru, Chile. Dengan begitu beragamnya teman-teman baru yang pastinya pintar-pintar ini, saya hanya berpikir “Aha, inilah kesempatan mengelilingi dunia dalam 11 hari!”
Di hari pertama orientasi, kami diberi penjelasan detail akan keseluruhan program, mulai isi program hingga penjelasan tentang sistem ticketing Berlinale. Kami semua diberi akreditasi khusus hingga berhak untuk menonton semua film di Berlinale dengan gratis (kecuali film undangan khusus), namun kami tetap harus memesan tiket terlebih dahulu, di mana minimal pengantrian adalah satu hari in advance (contoh: untuk film-film hari Selasa, kami bisa mengantri di hari Senin).
Di hari yang sama kami juga memperkenalkan diri masing-masing secara profesional; rata-rata para undangan berprofesi sebagai pembuat film, programmer film festival, pemilik ruang eksibisi film (bioskop, ruang seni/budaya), akademisi film, dan jurnalis film. Dua orang teman yang perlente dan anggun, (tentunya) adalah aktor film. Selain para tamu, ada 4 orang escort yang luar biasa sigap, ramah, dan seru: Martin dan Anna yang asli Jerman, Nicolas yang keturunan Argentina, dan Natalija asal Ukraine. Kesemuanya lancar berbahasa Inggris dan Jerman, bahkan masing-masing bisa berbicara dalam 2-3 bahasa lainnya. Sayangnya orang seperti saya, hanya bisa menggunakan satu fitur bahasa selain bahasa Ibu.
Potsdamer Platz
Petualangan kami dimulai dengan mendatangi pusat Berlinale yaitu Potsdamer Platz. Sulit dibayangkan bahwa area yang sekarang penuh sesak (terutama ketika Berlinale berlangsung), 20 tahun lalu masih kosong melompong. Potsdamer Platz sendiri berada di jalur utama Tembok Berlin pernah berdiri, di mana diameter 100 meter di sekitarnya diharuskan kosong. Dan ketika akhirnya pada 1989 Tembok Berlin diruntuhkan, pemerintah segera merencanakan pembangunan area terpadu, mengingat bahwa sebelum didirikannya tembok yang memisahkan Jerman Barat dan Timur setelah Perang Dunia II tersebut, Potsdamer Platz pernah menjadi pusat kegiatan kota Berlin.

Melihat kembali adegan-adegan dalam film Wings of Desire (Wim Wenders, 1987) di mana Tembok Berlin masih berdiri tepat di atas Potsdamer Platz yang wajahnya lebih mirip Tempat Pembuangan Sementara (ketika sampahnya baru saja diangkut), saya hanya bisa terkagum-kagum. Area Potsdamer Platz kini terbangun layaknya downtown sebuah kota baru: denyut nadi utamanya adalah Berlinaleplatz (gedung pertunjukan yang disulap jadi bioskop utama ketika Berlinale berlangsung) dan stasiun utama (Postadamer Bahnhof) yang menghubungkan seluruh Berlin lewat jalur U dan S-nya. Di sekitarnya ada 3 buah bioskop lainnya (Cinemaxx, Cinestar, dan Kino Arsenal), gedung modern berlabel Sony Centre tempat salah satu sekolah film terbaik di Jerman berada, juga Deutsche Kinematek, sebuah museum film yang mengarsip perfilman Jerman dengan sangat komprehensif. Area ini dikeliling hotel, tempat perbelanjaan, dan restoran juga coffeeshop tempat orang rehat dan menghabiskan makan siangnya.
Sepuluh menit berjalan kaki dari Berlinaleplatz, kita sampai di area yang dinamakan Kulturforum Berlin. Tiga bangunan terpenting di area tersebut adalah Chamber Music Hall atau markas besar Berlin Philaharmonic Orchestra, yang konon adalah philaharmonic terbesar di dunia (ya, Vienna pun mengatakan hal yang sama untuk philaharmonic-nya). Di seberangnya, Neue Staatsbibliothek, perpustakaan kota berarsitektur a la sosialis namun berinterior super canggih. Dan di seberang perpustakaan tersebut, Neue Nationalgalerie, arsitektur mahakarya Mies Van der Rohe yang ia rancang di tahun 1966 setelah sempat hengkang ke Amerika di tahun 1933 karena tekanan Nazi. Read the rest of this entry »
Posted: January 29th, 2010 | Filed under: Articles, Words | 5 Comments »
11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang juga terkenal 3B itu. Setelah beberapa bulan kemudian teman saya beres kuliah dan kembali ke kampung asalnya, barulah saya mulai cari tahu apa menariknya tempat buduk-buruk-busuk itu. Entah kenapa (saya mungkin tahu kenapa) tempat busuk itu semakin dimengerti semakin menarik hati.
Di sepanjang jalan saya bisa menemukan toko-toko rongsok yang menjual barang-barang rongsok dengan harga rongsokan. Memang ada beberapa toko yang kelihatannya pernah rongsok tapi kemudian berdandan dan tiba-tiba sudah berwallpaper bunga-bunga. Masih di sekitar situ, saya beli beberapa jeans Levi’s bekas yang harganya cukup bekas, pas untuk kocek rajin menabung. Dan masih juga di sekitar situ, saya menemukan sebuah toko buku bekas bernama Myopic Bookstore, salah satu inspirasi saya untuk mendirikan Rumah Buku/Kineruku sekarang ini. Pemilik Myopic, bernama Joe, kadang ramah kadang gahar, dan di sampingnya, seekor kucing selalu menjaganya. Toko buku itu membuat saya merasa senang dan nyaman, dan tentunya, merasa keren.
Keren. Keponakan saya yang masih berumur 8 tahun, mungkin mengucapkan kata-kata itu minimal 10 kali seharinya (dia membahasakannya: cooool). Ke mana pun ia pergi, penting baginya untuk selalu tetap bergaya keren. Berpiyama di rumah, berseragam ke sekolah, bercelana pendek ke kebun binatang. Tetap keren. Untungnya, baru-baru ini ia mendapat hadiah (dari Sinterklas) sebuah jam Casio G-Shock hitam. Aksesoris ini membantunya merasa lebih keren. Dan jangan sekali-sekali memanggil dia ‘lucu’, ‘cos cute ain’t cool, man! Selain berkah G-Shock, keponakan saya ini juga menemukan panutan keren barunya, yaitu Huang Tae Kyung di serial Korea berjudul You’re Beautiful. Huang Tae Kyung, setelah akhirnya saya temukan fotonya di internet, benar-benar seperti perempuan. Rambutnya asimetris dan salon banget untuk sebuah potongan rambut pendek laki-laki, dan kaosnya terlalu ketat untuk sebuah baju. Dan satu lagi, sepatunya terlalu lancip untuk nyaman dipakai. Tapi itulah keren buat keponakan saya.
Jelas definisi keren bagi saya dan ponakan saya beda sekali. Keren dia ‘sissy‘ bagi saya, dan keren saya ‘filthy‘ bagi dia. Filthy alias kotor alias buduk, persis seperti pertama kali saya mengunjungi daerah Wicker Park 11 tahun lalu. Dan apa yang terjadi pada Wicker Park saat ini adalah sissy bagi saya, tapi mungkin keren bagi keponakan saya (area tersebut pada tahun 2004 menginspirasi sebuah film remake berjudul “Wicker Park” dan absurdnya, semua syuting dilakukan di Montreal, Kanada!). Sejak itu, tempat-tempat nongkrong murahan kini sudah berganti jadi club-club, kedai-kedai makanan milik keluarga berganti bos yang mampu menggaji 20 karyawan setiap bulannya.
Cerita tentang fase bagaimana yang kotor berubah jadi garang lalu hip dan keren lalu mahal dan akhirnya eksklusif mungkin sudah sering kita dengar. Tapi sejauh apa kita (gabungan para pendobrak maupun gabungan orang-orang kolot) sadar bahwa gap di antara kita adalah penyebab utama destruksi ekonomi (juga geografi?) yang kesemuanya didasari image si Keren? Read the rest of this entry »
Posted: November 6th, 2009 | Filed under: Articles, Words | 1 Comment »

Setiap hari memang ada saja kejadian-kejadian spesial menimpa saya. Malang atau beruntung tergantung bagaimana saya memandangnya. Jadi gak jauh-jauh harus dapat undian mobil Jaguar, setiap hari saya merasa menjadi the chosen one. Misalnya, terpilih bangun jam 8 pagi dan minum kopi yang terlalu manis (ini sangat menyebalkan karena tidak bisa di-undo). Atau pagi-pagi bangun dan mendapati koneksi internet di rumah tiba-tiba jadi 512 kbps.
Tapi hari ini, keterpilihan saya sedikit lebih membanggakan dan harum. Baru saja tadi, saya dipercayakan oleh kakak saya dua buah ragi anakan yang konon sudah beredar sejak ratusan tahun lalu dari sebuah grup cult “Roti Persahabatan Amish”. Jadi ceritanya, sejak kira-kira abad 18, imigran Amish di AS terkenal dalam membuat starter ragi sebagai bahan roti-roti dan biskuit favorit keluarga. Dan mungkin karena jumlah penduduknya yang sedikit, pengembangbiakan ragi ini menjadi salah satu cara melekatkan rasa persaudaraan. Atau mungkin juga, ketika pengembangbiakan penduduk minoritas ini terasa memakan waktu terlalu lama, beralihlah mereka ke pengembangbiakan ragi yang hanya sepuluh hari.
Yang pasti, karena cycle beranak-nya ragi ini baru terjadi setelah disimpan 10 hari, dan sekali beranak hanya bisa menghasilkan tiga anak, maka siapa pun yang mendapatkan ragi ini, bisa dibilang cukup spesial!
Setelah kakak saya mendapatkan ragi Amish dari seorang teman keluarga, ia memeliharanya selama 10 hari, di mana di hari kesepuluh, ia membagi rata ragi tersebut menjadi empat: 1 ia simpan (untuk kemudian di-anak-an kembali), 2 diberikan kepada saya (salah satunya akan saya berikan kepada teman saya si kutu dapur Pila), dan 1 ia buat menjadi dua loyang kue (malam ini ia membuat kue cinnamon yang kontan bikin seisi keluarga ketagihan).
Dalam 10 hari ini saya (dan Pila) bertugas memelihara ragi-ragi kami, sehingga di hari kesepuluh nanti, kami akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh kakak saya hari ini. Di hari kesepuluh nanti, berarti akan ada empat loyang kue beraroma haruuuum dan lezat menggoyang lidah Bandung.
Kalau saja seseorang tidak membagikan anakan raginya setelah hari kesepuluh, setelah beberapa minggu maka kebayang akan begitu banyak ragi di dapurnya. Ia bisa jadi orang pelit, atau seseorang yang tidak punya banyak teman (atau punya banyak teman tapi tidak demen masak).
Jadi siapa pun yang mau meng-anak-an ragi ini, silakan hubungi saya untuk menjadi ‘mereka yang terpilih’. Tujuan pembiakan ragi ini bukan agar kita punya kedekatan dengan orang-orang Amish (walau bisa saja sih), tapi lebih ke bagaimana kita bisa berbagi sesuatu yang menyenangkan dan mengenyangkan dengan orang lain. Atau sesimpel melatih diri menjaga sesuatu berkembang biak. Read the rest of this entry »
Posted: July 31st, 2009 | Filed under: Articles, Words | 2 Comments »
Baru akhir-akhir ini akhirnya saya mengerti, dan lumayan bisa (lah) membedakan kura-kura dengan labi-labi, bulus, atau penyu. Yang pasti, sekarang saya sudah tahu bahwa Ninja Turtles itu yang disebut kura-kura darat sejati, alias bahasa Yurep/Ostrali-nya: Tortoise, dan bahasa Amriknya: Turtle.
Dalam bahasa Indonesia, ada tiga jenis kelompok hewan yang termasuk dalam bangsa Testudine, yaitu Penyu (bahasa Inggris: sea turtles), Labi-labi (freshwater turtles –Bulus termasuk jenis labi-labi), dan Kura-kura (tortoises). Cara yang paling jelas untuk membedakan ketiganya adalah: kura-kura: bercangkang keras dan biasa hidup di darat (atau di darat dan air tawar), labi-labi: bercangkang lunak dan biasa hidup di air tawar. Sedangkan penyu hidup sepenuhnya di air laut. Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).
Perkenalan saya dengan penyu, kalau dipikir-pikir, memang agak hardcore. Dulu, ketika kecil saya sering diajak orang tua saya makan penyu (dalam masakan Cina disebut Pi Oh alias sop bulus). Karena masih kecil, dan lidah masih belum nyambung ke rasa dan nalar, penyu jadi salah satu menu makanan yang selalu saya tunggu-tunggu. Sampe suatu hari, restoran penjual Pi Oh itu tutup, karena yang punya kena stroke. Ada hikmah juga di balik kemalangan tersebut. Read the rest of this entry »
Posted: July 26th, 2009 | Filed under: About Art/Design, About Cinema, Articles | No Comments »

Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.
Dalam keingintahuannya, sang anak telah berdialog dengan dunianya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri akan hal-hal yang menarik perhatiannya namun tak dimengertinya, kemudian setelah mampu melafalkan kata-kata, ia mulai melanjutkan dialog tersebut dalam tingkatan yang lebih tinggi pada individu dan lingkungannya.
Hal yang sama pun terjadi pada manusia dewasa. Karena akal dan budinya seseorang (dalam keadaan normal) secara instingtif berpikir tentang keberadaannya. Walaupun jarang diucapkan dalam perbincangan sehari-hari, namun manusia sebenarnya tak pernah berhenti bertanya akan ‘siapa aku, ‘kenapa harus begini’, ‘kapan aku bisa seperti dia’, dan segala macam pertanyaan yang berkaitan dengan eksistensi dirinya. Walaupun dialog tersebut lebih bersifat imajinatif (tak terucapkan), namun perbincangan tersebut merupakan pengejewantahan paling dasar perbincangannya dengan sesama dan lingkungan sekitarnya.
Dialog seringkali diinterpretasikan sebagai perbincangan dua arah antara dua pihak. Manusia melupakan, bahwa ketika ia berdialog dengan lawan bicaranya, ia juga berbicara pada dirinya sendiri. Manusia selalu memulainya dengan perbincangan internal (perbincangan dengan alam dan dirinya sendiri), namun apa yang ia renungkan tak mungkin berakhir dalam pikiran saja, namun secara nyata menghasilkan buah (pikiran / renungan) yang dapat berupa wujud gerakan / gestur alamiah tubuh (luapan amarah, tawa, tangisan), juga wujud pemikiran yang tertuang dalam bentuk teraba (perbincangan, karya seni, tulisan). Read the rest of this entry »
Posted: September 23rd, 2008 | Filed under: About Cinema, Articles, Words | 4 Comments »

Dalam satu bulan ini, saya diundang ke dua buah acara film, Freedom Film Festival di Kuala Lumpur, dan Asian Film Symposium di Singapura. Keduanya saya pikir adalah model ideal dari sebuah festival: suasana yang intim, di mana diskusi antar pembuat dan penonton masih terjalin dengan baik, sederhana namun rapi dalam pelaksanaan (tepat waktu, tepat sasaran/audiens, ini berarti tepat pemasaran), serta program yang fokus dan mendalam dalam tema. Tentunya ini berhubungan dengan alasan utama sebuah festival film diadakan, yaitu untuk menjalin hubungan ‘persaudaraan’ antara film (pembuat film) dan penontonnya. Hal ini diusung baik oleh festival-festival pemula yang selalu utopis dalam cetak biru, namun dijamin pudar ketika berkembang dalam kuantitas program dan pencapaian jumlah audiens. Akhirnya, film-film festival besar tidak lagi berhasil membuat film-film yang ditayangkannya meraih audiens yang tepat. Lupakan sarasehan antara sesama pembuat dan penikmat film, karena dalam skala geografis yang gigantik, mereka yang datang biasanya sudah terlalu lelah bersosialisasi demi mengejar film dari satu bioskop ke bioskop lainnya. Read the rest of this entry »
Posted: June 24th, 2008 | Filed under: Articles, Words | No Comments »

Di sebuah siang, atas keperluan penulisan sebuah artikel di sebuah majalah, saya disodorkan MbaPrims sebuah pertanyaan maju tak gentar. “Apa arti pembangunan nasional?” Saat itu, karena lewat sms dan deadline-nya saya tahu agak terburu-buru, dengan sigap saya bercanda: “Pembangunan Nasi Opor Lalap untuk semua! Eh itu mah Pembangunan Nasiolal ya.” Jawaban (yang inginnya terdengar) lucu itu tentunya sebenarnya adalah pesan serius dari saya. Pembangunan harus menyeluruh, bukan melulu tentang penghijauan, pemberantasan korupsi, atau peningkatan investasi non-migas. Karena semua itu saya yakin akan teratasi, ketika nasi, opor, lalap (secara harafiah) sudah terbagi rata di pelosok nusantara ini. Ketika perut gembira, otak berpikir lebih jernih. Nah otak jernih ini yang saya anggap paling penting dalam pembangunan bangsa. Walaupun ketimbang S3 saya lebih memilih Santai Santai Saja, bagi saya pendidikan adalah kata kunci majunya bangsa. Basi banget jika kita masih bicara tentang kepahlawanan serta darah dingin nasionalisme yang cucurannya lebih sering menggumpal jadi fanatisme belaka itu.
Namun hari ini, otak saya yang kurang jernih (saya tidak makan nasi opor dan lalap tadi siang) mempertanyakan kebenaran akan jawaban saya dua bulan lalu itu. Saya bisa menjawab, berteori hingga berbusa tentang kesejahteraan bangsa, namun sejauh mana, apa yang saya lakukan, (minimal) dapat saya pertanggungjawabkan? Atas nama pembangunan nasional? Atas nama kesejahteraan? Lalu pertanyaan itu memanjang mengintai berkelok-kelok: “Kenapa gua harus bertanggung jawab? Siapa saya? Siapa kamu? Apa urusannya?” Read the rest of this entry »
Posted: June 29th, 2006 | Filed under: About Cinema, Architecture, Articles | 6 Comments »
Seperti layaknya tubuh manusia yang hidup dengan aliran darah dan denyut jantung, sebuah kota terbentuk akibat adanya pergerakan manusia-manusianya. Tidak heran jika ciri kota sangatlah ditentukan oleh perilaku masyarakatnya: situasi dan kondisi lingkungan, tata letak/rancang kota, sistem transportasi, dan terutama sistem tata niaga setempat . Seperti halnya kota-kota pesisir pantai seperti Semarang, Batavia, Penang, Lisboa, kota-kota tersebut terbentuk pertama kalinya sebagai area penghubung perdagangan antar daerah. Barang-barang yang dipertukarkan di daerah pesisir kemudian dibawa untuk dipertukarkan kembali di daerah-daerah lain yang letaknya lebih terpencil / jauh dari area perdangangan terbuka. Dengan adanya support barang dari luar, industri lokal yang kebanyakan berupa industri pengolahan sumber daya alam setempat, dapat meningkatkan daya produksinya. Daerah-daerah ini kemudian perlahan berubah fungsi dari daerah produsen menjadi daerah pengolah, lalu penjual. Di saat itulah masyarakat luar mulai berdatangan untuk melakukan transaksi jual-beli.
Masing-masing daerah terus berkembang hingga suatu saat mereka mencapai kemandirian di mana mereka mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini masyarakat telah mampu membangun jaringan ke luar daerah: dan pergerakan masyarakat antar daerah pun berkembang sesuai dengan laju pergerakan barang. Perilaku masyarakat mandiri ini cenderung untuk terus bertahan hingga suatu perabadan, secara cepat maupun perlahan, masuk ke daerah tersebut. Peradaban baru ini dapat masuk secara paksa (seperti penjajahan) maupun tanpa paksa seperti lahirnya era modern yang revolusioner di akhir abad 19. Dengan teknologi dan kemudahannya modernitas meningkatkan pergerakan manusia, namun derasnya adrenalin tidak selalu dibarengi oleh kapasitas organ manusia. Di jaman dan dalam setting kemanusiaan vs modernitas inilah sinema lahir, dan hidup subur hingga hari ini. Read the rest of this entry »
Posted: June 4th, 2005 | Filed under: Articles, Words | Tags: Italo Calvino | No Comments »
Tulisan di bawah ini diambil dari buku Italo Calvino berjudul Invisible Cities yang tidak lama lagi akan diterbitkan dengan judul Kota-kota Imajiner oleh sebuah penerbit Jakarta, Fresh Books. Saya diminta mengedit terjemahannya.

Photographs by Yuji Saiga of Japanese island called Gukanjima.
Kota-kota & Kematian – 3
Tiada kota lain yang lebih menikmati kehidupannya seperti Eusapia. Dan untuk mendekatkan jurang antara kehidupan dan kematian, para penduduk telah membangun tiruan identik kota mereka, di bawah tanah. Semua mayat, yang dikeringkan dengan cara tertentu sehingga tulang-belulangnya tetap terselubung kulit kuning, dibawa ke bawah sana, untuk meneruskan kegiatan-kegiatan mereka terdahulu. Dan, dari kegiatan-kegiatan ini, momen-momen santai tanpa bebanlah yang menjadi kegiatan prioritas mereka: sebagian besar mayat itu didudukkan di sekeliling meja-meja penuh barang, atau ditempatkan dalam posisi berdansa, atau dibuat seolah sedang memainkan terompet-terompet kecil. Tetapi semua perniagaan dan pekerjaan kota hidup Eusapia juga berjalan di bawah sana, atau setidaknya mereka yang telah mati merasa lebih puas melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang-orang hidup: si pembuat jam, di antara semua jam rusak di tokonya, menempatkan telinganya yang menyerupai kertas kuno pada sebuah jam milik seorang kakek yang tak lagi berdetak; seorang tukang pangkas, dengan sikat rambutnya, membusai tulang pipi seorang aktor yang tengah mempelajari perannya, menyimak naskah dengan lubang-lubang matanya yang cekung; tengkorak seorang gadis yang sedang tersenyum memerah susu bangkai sapi muda.
Sudah barang pasti, sebagian besar dari mereka yang masih hidup menginginkan nasib setelah kematian mereka berbeda dari takdir yang kini mereka jalani: kota mati Eusapia dipenuhi dengan para pemburu hadiah-hadiah besar, para penyanyi mesosopran, para bankir, pemain biola, perempuan-perempuan bangsawan, pelacur, jenderal-jenderal –melebihi kapasitas kota hidup Eusapia.
Pekerjaan menemani dan mengatur posisi orang-orang mati sesuai dengan keinginan mereka di bawah sana diembankan kepada kumpulan saudara-saudara berkerudung. Orang lain tidak memiliki akses ke kota mati Eusapia dan segala sesuatu tentangnya dipelajari dari mereka.
Mereka mengatakan bahwa rasa persaudaraan yang sama juga dirasakan di antara si mati dan bahwa mereka tak pernah segan mengulurkan tangan; saudara-saudara berkerudung itu, setelah mati, akan melalukan pekerjaan yang sama di Eusapia lainnya; desas-desus mengatakan bahwa beberapa dari mereka sebenarnya telah mati. Tetapi mereka tetap melakukan tugas mereka, naik turun dari kota hidup ke kota mati, dan sebaliknya. Bagaimanapun, otoritas saudara-saudara berkerudung ini begitu terasa di kota hidup Eusapia.
Mereka bercerita bahwa setiap kali turun ke bawah sana mereka selalu menemukan perubahan di kota mati Eusapia; si mati membuat inovasi-inovasi di kota mereka; tak banyak, namun sungguh merupakan refleksi penuh ketenangan, penuh perhitungan. Dari satu tahun ke tahun berikutnya, kata mereka, kota mati Eusapia tak lagi dapat dikenali. Dan yang hidup, untuk terus mengikuti perkembangan mereka, juga ingin turut serta melakukan segala kebaikan para mati yang diceritakan kepada mereka oleh para saudara berkerudung itu. Maka kota hidup Eusapia pun berubah menjadi reproduksi salinan bawah tanahnya sendiri.
Mereka mengatakan bahwa hal ini bukanlah kejadian baru: sesungguhnya kaum yang matilah yang membangun kota hidup Eusapia, sesuai dengan citra kota mereka. Mereka mengatakan bahwa dalam kota kembar tersebut, tak lagi dapat dibedakan siapa yang hidup dan siapa yang telah mati.
Italo Calvino, Invisible Cities (Le Citta Invisibili), 1972. Copyright milik Italo Calvino, tentunya.
Posted: February 9th, 2005 | Filed under: Articles | Tags: Gambang Kromong | No Comments »
Gambang Kromong is the regional music of Jakarta. But this Jakarta is virtually invisible, one that most people have forgotten to exist. Its performers and audience are ordinary people, and the Jakarta they live in is no more sophisticated or cosmopolitan than other cities and towns elsewhere in Indonesia. Unlike the audience for national popular music genres, gambang kromong’s audience can be defined quite specifically in ethnic, economic, and geographic terms. And, as it happens, the music itself reflects with unusual clarity the development of this audience. While the popular music produced in Jakarta’s studios embodies the ideal of a uniform culture shared throughout the country, gambang kromong expresses one region’s cultural history in all its particularity.
The performers and audience for gambang kromong today live at the edges of Jakarta and in the towns and semi-rural areas beyond (Bekasi and Tangerang). They belong to two groups: the so-called Peranakan Chinese*, whose ancestry is mixed Chinese and Pribumi (native), and the Betawi (Batavian).
While the two groups differ in at least one crucial respect –in general, the Peranakan are Christian or Buddhist / Taoist, and the Betawi are Muslim– they are nevertheless very much akin. They live in the same or adjacent neighborhoods; they both speak the Betawi dialect of Indonesian; and for the most part they live at the same relatively low economic level, working as small farmers, fishermen, peddlers, factory hands, laborers, and so on.
Especially in Tangerang, the shared conditions and circumstances of the Betawi and Peranakan are led to a degree of mutual acceptance and integration that is unusual in the rest of Indonesia, where there is often friction between Chinese and Pribumi. For instance, in Tangerang, the hosts of Peranakan wedding celebrations expect Pribumi guests and are careful to accommodate them in the matter of pork dishes: sometimes they separate food tables, one with pork and one without; often they hold the celebration over two days and nights and refrain from serving pork on the first.
Sources:
Philip Yampolsky Music from the Outskirts of Jakarta: Gambang Kromong
Alwi Shihab Betawi Queen of the East
To whomever interested in Gambang Kromong, visit http://anaknagaberanaknaga.com to get more information. You can buy the DVD “Anak Naga Beranak Naga” (Dragons Beget Dragons) by contacting this email.