arianidarmawan.net

Posts filed under ‘Architecture’

Kota dan Sinema

June 29, 2006

Seperti layaknya tubuh manusia yang hidup dengan aliran darah dan denyut jantung, sebuah kota terbentuk akibat adanya pergerakan manusia-manusianya. Tidak heran jika ciri kota sangatlah ditentukan oleh perilaku masyarakatnya: situasi dan kondisi lingkungan, tata letak/rancang kota, sistem transportasi, dan terutama sistem tata niaga setempat . Seperti halnya kota-kota pesisir pantai seperti Semarang, Batavia, Penang, Lisboa, kota-kota tersebut terbentuk pertama kalinya sebagai area penghubung perdagangan antar daerah. Barang-barang yang dipertukarkan di daerah pesisir kemudian dibawa untuk dipertukarkan kembali di daerah-daerah lain yang letaknya lebih terpencil / jauh dari area perdangangan terbuka. Dengan adanya support barang dari luar, industri lokal yang kebanyakan berupa industri pengolahan sumber daya alam setempat, dapat meningkatkan daya produksinya. Daerah-daerah ini kemudian perlahan berubah fungsi dari daerah produsen menjadi daerah pengolah, lalu penjual. Di saat itulah masyarakat luar mulai berdatangan untuk melakukan transaksi jual-beli.

Masing-masing daerah terus berkembang hingga suatu saat mereka mencapai kemandirian di mana mereka mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini masyarakat telah mampu membangun jaringan ke luar daerah: dan pergerakan masyarakat antar daerah pun berkembang sesuai dengan laju pergerakan barang. Perilaku masyarakat mandiri ini cenderung untuk terus bertahan hingga suatu perabadan, secara cepat maupun perlahan, masuk ke daerah tersebut. Peradaban baru ini dapat masuk secara paksa (seperti penjajahan) maupun tanpa paksa seperti lahirnya era modern yang revolusioner di akhir abad 19. Dengan teknologi dan kemudahannya modernitas meningkatkan pergerakan manusia, namun derasnya adrenalin tidak selalu dibarengi oleh kapasitas organ manusia. Di jaman dan dalam setting kemanusiaan vs modernitas inilah sinema lahir, dan hidup subur hingga hari ini. (more…)

6 Comments

(Bukan) Kaca Film

June 26, 2006

Sudah waktunya kita berpuisi macam buku Gaston Bachelard “Poetics of Space“. Buku yang tak pernah absen dari kantung jaket para arsitek puitis ini membahas segala jenis elemen pembentuk ruang dalam sebuah rumah hingga yang terkecil seperti lemari dan (lebih kecil lagi) pegangan lemari. Keblinger dengan situs sangat sangat spesifik ini? Siap-siap kita jelajahi setiap film bersetting lemari, atau pegangan lemari!

Kaca. Elemen ini seksi sekali. Beberapa kali saya menganalisa apa yang kira-kira bisa membuat elemen ini demikian menakjubkan ketika ditangkap oleh kamera. Melihat beberapa film Wong Kar-Wai (filmmaker Asia rupa-rupanya sangat gemar memakai elemen ini, seperti juga Hou Hsiao-Hsien dalam filmnya Millenium Mambo yang kaca melulu), penggunaan kaca ia pakai tidak hanya untuk memposisikan tokohnya di dalam sebuah ruangan, memberi ruang bagi penonton sebagai pengamat keadaan, tapi ia juga kerap membubuhkan elemen grafis di atas kaca: ini bagi saya adalah cara mantap mendapatkan efek foreground yang dramatis. Dasar mungkin lulusan desain grafis, mata Wong sudah dirusakkan oleh pandangan tipografis. (gb. 1. cuplikan Happy Together dan gb. 2. In the Mood for Love).

Kebanyakan filmmaker bermain dengan efek kaca untuk menunjukkan perasaan terkukungnya sang tokoh yang berada di dalamnya, seperti adegan dalam film La Cienaga karya Lucrecia Martel ini. Kebetulan tokoh yang digambarkan di sini adalah seorang anak kecil yang hidup di tengah kemalangan keluarganya yang amburadul, gambar ini jelas sekali menunjukkan bagaimana ia menggapai kaca untuk bisa berjamah dengan dunia luar, dengan kehangatan. Kaca memang bisa memberikan efek keterasingan yang luar biasa: ketika seseorang berada di baliknya, kaca seolah mustahil dihancurkan.

Lucunya memang dalam film horor, analisa psikologis ini tidak berlaku. Ingat adegan-adegan seperti: seorang perempuan berada di balik kaca rumahnya berteriak histeris ketika melihat sosok berjubah hitam misterius berdiri di seberang kaca sambil membawa pisau rajam? Di sini si perempuan justru tidak merasa aman berada di balik kaca, ia merasa bahwa kaca itu sangat mungkin diterjang oleh sosok misterius tersebut. Transparansi kaca ini juga menambah intensitas ketegangan adegan-adegan semacam ini, mungkin karena penonton dapat melihat dua karakter secara bersamaan dalam dua ruang yang yang sebenarnya terpisah. Mungkin itu pula sebabnya kenapa elemen kaca tidak pernah luput digunakan oleh film-film horor dangkal masa kini.

Namun, hadapi saja, bahwa semua diciptakan untuk suatu hari dihancurkan. Adegan kaca hancur walau begitu sering digunakan tetap memiliki efek dramatis. Yang sering kita saksikan adalah adegan jagoan menerjang jendela demi sebuah penyelamatan yang heroik, atau adegan film action di mana mobil yang kebut-kebutan nyelonong masuk ke restoran atau ruang publik sejenis. Tapi adegan yang gambarnya saya cuplik dari film Amores Perros karya Alejandro González Iñárritu ini adalah salah satu adegan kaca hancur yang paling cool. Protagonis yang juga antagonis menembak musuhnya dari belakang. Ha! Call him a chicken, it’s damn cool.

6 Comments

Architect (d/h Video Artist)

Saya pertama kali mendengar nama Vito Acconci di musim panas 2000. Ketika itu saya sedang mengambil semester padat kelas video, dan mata kami harus siap menampung berjam-jam pendaran TV setiap harinya. Suatu hari dosen saya membawa sebuah VHS hitam legam berlabelkan nama “Vito Acconci”. Ia memperkenalkannya sebagai legenda video art. Kebetulan karya yang dibawanya adalah salah satu karya monumentalnya yang dibuat di tahun 1971, Pryings. Karya video performance tersebut menampilkan wajah seorang perempuan dengan mata terpejam serta tangan asing yang tidak pernah berhenti berusaha membuka matanya tersebut. Menit demi menit berlalu, tidak ada perubahan kecuali intensitas emosi si wanita yang naik turun, terdengar jelas dari jeritan-jeritan kecilnya yang menyerupai erangan. Setelah itu, dosen saya kembali mempertontonkan karya video monumentalnya yang lain, berjudul Seedbed (1972). Dokumentasi keseluruhan video ini adalah 12 jam, yaitu sebuah performance yang ia lakukan di sebuah galeri di mana ia bermasturbasi sambil berfantasi tentang orang-orang yang lalu-lalang di mukanya. Ya, Acconci rasanya memang layak masuk ke jajaran freak dunia.

Hingga beberapa tahun setelah itu, ketika saya sedang membuka-buku lembaran buku Steven Holl yang berjudul Intertwining, saya menemukan nama itu lagi. Vito Acconci. Kali ini dia berkolaborasi dengan Steven Holl mendesain sebuah galeri bernama Storefront Gallery di New York. Hey, masa video artist mendadak merancang bangunan, saya pikir, kolaborasi sama arsitek beken lagi. Setelah saya cek sana-sini ternyata benar. Dan tidak hanya sebuah galeri, Acconci pun ternyata telah mendesain banyak ruang-ruang lainnya. Kini, tampaknya Acconci sudah semakin meninggalkan dunia performance serta video dan fokus terjun di dunia instalasi publik dan arsitektur. Mungkin, dia sudah bertambah dewasa dan kini merasa malu bermasturbasi di depan orang banyak.

Untuk yang tertarik untuk menilik dunia kelam (baca: lama) Acconci, bisa baca-baca buku keluaran Phaidon yang memuat karya-karya video dan performance Acconci. Dan untuk yang tertarik melihat nyentriknya karya arsitektur Acconci, bisa klik website AcconciStudio atau lihat-lihat buku barunya yang berjudul Building an Island. Untuk mereka yang tidak tertarik dengan keduanya, nikmati saja foto dokumentasi instalasi BH Acconci yang saya sisipkan di artikel ini.

No Comments

Filming Modern Architecture

Terjemahan bebas dari:
Architecture and Film in the Work of Corbusier, Mies, Mallet
by Karl Sierek
a lecture at the frije Universiteit Amsterdam
Film and TV Studies

Arsitektur modern dibangun tanpa adanya batas-batas yang mengukung; dinding-dindingnya hadir tanpa bingkai yang memenjarakan. Arsitektur modern juga menjadikan ruang publik sebagai nadi masyarakatnya dengan menghadirkan sifat-sifat batiniah: penggunaan warna-warna primer, penambahan ramp untuk para cacat, membaginya dengan zona-zona yang tampak jelas secara visual, membedakan secara dinamis area berkumpul dan area kosong, membubuhkan drama dalam pengalaman ruang serta areal entrance dan jalan-jalan setapak, juga meragamkan garis-garis pandang dan pergerakan para penggunanya. Di tahun 1920an, arsitektur membebaskan diri dari batasan-batasan fungsinya. Perancangan ruang publik berawal dari perancangan sebuah bangunan. Perluasan interior menuju ruang publik ini diantisipasi pertama kali oleh kritik metafisik Gaston Bachelard yang berbicara tentang batas-batas konsepsi interior dan eksterior. Pandangan dogmatik Romawi Kuno yang mengartikan ‘ruang’ sebagai ruang dalam (interior) perlahan dikikis oleh pandangan yang mengartikan ‘ruang’ sebagai perluasan dari volum. Pandangan ini dengan sendirinya meredefinisi ruang eksterior menjadi sejajar dengan interior. Seperti yang dikatakan oleh Sigfried Gideon bahwa bentuk tidak hanya dilihat dari daya ekspansi fisikalnya. Lebih dari itu bentuk juga meradiasi dan menciptakan ruang. Kulit permukaan tidak hanya sebatas mendefinisikan ruang tertutup, tetapi juga memberikan efek di luar batas dimensi-dimensi terukurnya. (more…)

No Comments

Frozen Music

Walaupun secara fisik arsitektur tidak bergerak, namun pengalaman atas arsitektur terjadi karena adanya perubahan pandang mereka yang mengalami: pengalaman ketika kita menerawang ke luar jendela, menyisir lorong yang panjang, atau berjalan keluar dari lift hotel. Dengan adanya teknologi yang kini mendigitalisasi kehidupan hampir seluruh umat manusia, arsitektur dan film tidak hanya sekadar membangun atau menstimulir daya bayang terhadap ruang, tapi keduanya memberikan makna yang utuh, secara bersamaan, terhadap ruang dan waktu. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa kedua disiplin ilmu ini saling mempengaruhi dan menambah masing-masing wawasannya.


L’Avventura, Michelangelo Antonioni, 1961


Blow Up, Michelangelo Antonioni, 1966

Sebagai contoh, Michelangelo Antonioni menggunakan arsitektur dalam film-filmnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran karakter-karakternya, bahkan tak jarang menggunakannya sebagai panggung temporer di mana ia mengakhiri sebuah konflik atau adegan. Dalam salah satu film terpentingnya, L’avventura, runtuhan bangunan tua ia gunakan sebagai latar belakang adegan di mana dua orang karakternya nampak lesu dan tak lagi memiliki gairah hidup, sekejap setelah mereka menyadari masing-masing kesalahan mereka. Dalam film Blow Up, Antonioni juga beberapa kali menaruh tokoh utamanya berdiri sendirian dalam setting rumput hijau yang luas, memaknai tema filmnya tersebut yang berbicara tentang kebenaran dan realita di tengah kitaran ambiguitas. Sergei Eisenstein, legenda dunia film yang juga adalah orang pertama yang memperkenalkan “film-film arsitektural”, mengembangkan sebuah teori komprehensif yang ia sebut sebagai “teori konstruksi ruang”, sebuah pemaknaan baru yang menganalogikan arsitektur dengan “frozen music“:

“Ketika kita membentuk sebuah komposisi arsitektural, mengumpulkan elemen-elemen yang terpisah dan menyatukannya dalam harmonisasi bentuk, ketika kita membayangkan melodi-melodi masa depan dalam ragamnya yang melimpah, ketika kita mencoba membentuk irama dan menjadikannya satu, kita akan melilhat adanya suatu “tarian” yang sama yang mendasari seluruh penciptaan musik, lukisan, dan juga sinema”.

1 Comment

Concrete Celluloid

When I started to realise about Cinema, I was already given birth by Architecture. I remember how my filmmaking-advisor stumbled upon my answer at our first meeting –when he asked me what I studied before, I said Architecture. He said, no way. I said, ya ya. Then he, whom also had gone the same path as mine, enthusiastically told me how easy it was to understand Cinema if had known the ‘A’ discipline before. (Both our names begin with ‘A’; what an Agony). Go on, I listened. He then talked about his ex-wife who was also an “architect-turned-to-filmmaker”, also this, this, that, he continued. After this small talk he mentioned all the names I could only nod to: Antonioni, Alexander Kluge, Andrei Tarkovsky. These, he said, were the film-directors I should immediately watch to see how inseparable these two disciplines were. I watched, staggered, and couldn’t see a thing. Architecture, the asphalt. Cinema, the celluloid. Maybe they were closer to themselves than to one another. But this was somehow, false.

No Comments