Posted: April 21st, 2010 | Filed under: About Cinema, Articles | No Comments »
Tanggal 11-21 Februari 2010 yang lalu, berkenaan dengan diadakannya Berlin International Film Festival (Internationale Filmfestpiele Berlin –atau sering disingkat: Berlinale) di Jerman, saya diundang oleh Goethe Institut/Federasi Jerman bersama 25 teman dari 23 negara di seluruh dunia. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru, dan berguna.
Saya salut pada program yang dibuat oleh Simon Haag dari Goethe Institut Jerman. Sebelum berangkat, saya cukup kaget melihat daftar program yang padat, ah kapan pula saya bisa menyempatkan diri menonton film. Bukankah Berlinale identik dengan menonton film? Tapi ternyata semua program yang dibuat tersebut optional, alias, boleh diikuti, juga dibolosi. Hanya ada satu hari ‘wajib’ di mana kita bertemu dengan orang-orang penting, yaitu para programmer utama Berlinale (yang akan saya bahas lebih lanjut), dan orang penting film dalam pemerintahan Jerman (mungkin ekuivalen dengan Dirjen Budpar di sini). Hari-hari sisanya, kami dibiarkan bebas berkelana, boleh menonton, boleh jalan-jalan, tidur berlama-lama di kamar hotel pun silakan (biasanya berakhir dengan penyesalan).
Saya, memilih untuk sebisa mungkin terus mengikuti program Goethe. Berkali-kali mereka mengatakan, betapa beruntungnya kita. Bahwa tidak semua orang bisa mengikuti program ini, mendatangi tempat-tempat dan bertemu orang-orang penting (yang mayoritas tentunya berhubungan dengan perfilman Jerman).
Halo, nama saya..
Saya terbang dari Jakarta bersama Alex Sihar dari Konfiden (yang sama-sama baru sekali mengunjungi Berlin). Layaknya baru brojol, kami mendarat dengan mata agak ‘berkabut’. Selain udara dingin yang lumayan bikin kaget, badan saya juga masih penat oleh duduk-terus-sungkan-berdiri-karena-dapet-window-seat. Layaknya hari pertama bertemu teman-teman baru, kami habiskan dengan percakapan basa-basi perkenalan, bertukar-tukar kartu nama. Teman-teman baru saya ini berasal dari: Korea Selatan, India, Pakistan, Mongolia, Mesir, Sudan, Togo, Afrika Selatan, Pantai Gading, Algeria, Tunisia, Beirut, Iran, Yordania, Estonia, Belarus, Rusia, Bolivia, Peru, Chile. Dengan begitu beragamnya teman-teman baru yang pastinya pintar-pintar ini, saya hanya berpikir “Aha, inilah kesempatan mengelilingi dunia dalam 11 hari!”
Di hari pertama orientasi, kami diberi penjelasan detail akan keseluruhan program, mulai isi program hingga penjelasan tentang sistem ticketing Berlinale. Kami semua diberi akreditasi khusus hingga berhak untuk menonton semua film di Berlinale dengan gratis (kecuali film undangan khusus), namun kami tetap harus memesan tiket terlebih dahulu, di mana minimal pengantrian adalah satu hari in advance (contoh: untuk film-film hari Selasa, kami bisa mengantri di hari Senin).
Di hari yang sama kami juga memperkenalkan diri masing-masing secara profesional; rata-rata para undangan berprofesi sebagai pembuat film, programmer film festival, pemilik ruang eksibisi film (bioskop, ruang seni/budaya), akademisi film, dan jurnalis film. Dua orang teman yang perlente dan anggun, (tentunya) adalah aktor film. Selain para tamu, ada 4 orang escort yang luar biasa sigap, ramah, dan seru: Martin dan Anna yang asli Jerman, Nicolas yang keturunan Argentina, dan Natalija asal Ukraine. Kesemuanya lancar berbahasa Inggris dan Jerman, bahkan masing-masing bisa berbicara dalam 2-3 bahasa lainnya. Sayangnya orang seperti saya, hanya bisa menggunakan satu fitur bahasa selain bahasa Ibu.
Potsdamer Platz
Petualangan kami dimulai dengan mendatangi pusat Berlinale yaitu Potsdamer Platz. Sulit dibayangkan bahwa area yang sekarang penuh sesak (terutama ketika Berlinale berlangsung), 20 tahun lalu masih kosong melompong. Potsdamer Platz sendiri berada di jalur utama Tembok Berlin pernah berdiri, di mana diameter 100 meter di sekitarnya diharuskan kosong. Dan ketika akhirnya pada 1989 Tembok Berlin diruntuhkan, pemerintah segera merencanakan pembangunan area terpadu, mengingat bahwa sebelum didirikannya tembok yang memisahkan Jerman Barat dan Timur setelah Perang Dunia II tersebut, Potsdamer Platz pernah menjadi pusat kegiatan kota Berlin.

Melihat kembali adegan-adegan dalam film Wings of Desire (Wim Wenders, 1987) di mana Tembok Berlin masih berdiri tepat di atas Potsdamer Platz yang wajahnya lebih mirip Tempat Pembuangan Sementara (ketika sampahnya baru saja diangkut), saya hanya bisa terkagum-kagum. Area Potsdamer Platz kini terbangun layaknya downtown sebuah kota baru: denyut nadi utamanya adalah Berlinaleplatz (gedung pertunjukan yang disulap jadi bioskop utama ketika Berlinale berlangsung) dan stasiun utama (Postadamer Bahnhof) yang menghubungkan seluruh Berlin lewat jalur U dan S-nya. Di sekitarnya ada 3 buah bioskop lainnya (Cinemaxx, Cinestar, dan Kino Arsenal), gedung modern berlabel Sony Centre tempat salah satu sekolah film terbaik di Jerman berada, juga Deutsche Kinematek, sebuah museum film yang mengarsip perfilman Jerman dengan sangat komprehensif. Area ini dikeliling hotel, tempat perbelanjaan, dan restoran juga coffeeshop tempat orang rehat dan menghabiskan makan siangnya.
Sepuluh menit berjalan kaki dari Berlinaleplatz, kita sampai di area yang dinamakan Kulturforum Berlin. Tiga bangunan terpenting di area tersebut adalah Chamber Music Hall atau markas besar Berlin Philaharmonic Orchestra, yang konon adalah philaharmonic terbesar di dunia (ya, Vienna pun mengatakan hal yang sama untuk philaharmonic-nya). Di seberangnya, Neue Staatsbibliothek, perpustakaan kota berarsitektur a la sosialis namun berinterior super canggih. Dan di seberang perpustakaan tersebut, Neue Nationalgalerie, arsitektur mahakarya Mies Van der Rohe yang ia rancang di tahun 1966 setelah sempat hengkang ke Amerika di tahun 1933 karena tekanan Nazi. Read the rest of this entry »
Posted: November 24th, 2009 | Filed under: About Cinema, Words | No Comments »
Tenang, tenang. Ini bukan tulisan propaganda, dan saya bukan aktivis LSM. Saya hanya ingin menuliskan fakta-fakta hitam di atas putih (bahasa filmnya: BW/Color di atas layar 16:9) tentang sinema.
Sudah menjadi hakikatnya, bahwa:
x Sinema adalah perubahan, karena ia adalah gambar yang berganti 24 kali setiap detiknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita menyusupi ruang-ruang tiga dimensional. Dari pagar rumah hingga ruang keluarga, dari tanah Sumatera hingga langit negeri Belanda.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mendekatkan kita pada realita, walau kadang menjauhkan. Yang benar mungkin salah, dan keduanya adalah relatif.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengubah masa lalu jadi kini atau nanti. Menggulung flashback ribuan tahun dalam malam yang sama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia menciutkan hari jadi menit, menerbangkan puluhan tahun dalam 2×60. Dan ingat slow motion? 5 detik pun terasa terlalu lama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita mengitari sudut kamar, mendongak mencari suara burung di atas pohon, atau menatap kosong kesepian.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mengubah gelap jadi terang, warna jadi abu, yang ragu semakin percaya, juga semua sebaliknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia berubah bentuk setiap saat. Detak jam bisa berarti jantung yang berdegup. Muka manusia jadi kedok serigala.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengusir rasa sedih dan sombong. Kita berempati, berdecak kagum, marah: mencoba mengerti mereka yang bukan kita.
Dan terutama,
x Sinema adalah perubahan, karena ia senantiasa mendambakan perubahan: Sebuah dunia yang menjadi lebih baik.
Posted: July 26th, 2009 | Filed under: About Art/Design, About Cinema, Articles | No Comments »

Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.
Dalam keingintahuannya, sang anak telah berdialog dengan dunianya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri akan hal-hal yang menarik perhatiannya namun tak dimengertinya, kemudian setelah mampu melafalkan kata-kata, ia mulai melanjutkan dialog tersebut dalam tingkatan yang lebih tinggi pada individu dan lingkungannya.
Hal yang sama pun terjadi pada manusia dewasa. Karena akal dan budinya seseorang (dalam keadaan normal) secara instingtif berpikir tentang keberadaannya. Walaupun jarang diucapkan dalam perbincangan sehari-hari, namun manusia sebenarnya tak pernah berhenti bertanya akan ‘siapa aku, ‘kenapa harus begini’, ‘kapan aku bisa seperti dia’, dan segala macam pertanyaan yang berkaitan dengan eksistensi dirinya. Walaupun dialog tersebut lebih bersifat imajinatif (tak terucapkan), namun perbincangan tersebut merupakan pengejewantahan paling dasar perbincangannya dengan sesama dan lingkungan sekitarnya.
Dialog seringkali diinterpretasikan sebagai perbincangan dua arah antara dua pihak. Manusia melupakan, bahwa ketika ia berdialog dengan lawan bicaranya, ia juga berbicara pada dirinya sendiri. Manusia selalu memulainya dengan perbincangan internal (perbincangan dengan alam dan dirinya sendiri), namun apa yang ia renungkan tak mungkin berakhir dalam pikiran saja, namun secara nyata menghasilkan buah (pikiran / renungan) yang dapat berupa wujud gerakan / gestur alamiah tubuh (luapan amarah, tawa, tangisan), juga wujud pemikiran yang tertuang dalam bentuk teraba (perbincangan, karya seni, tulisan). Read the rest of this entry »
Posted: September 23rd, 2008 | Filed under: About Cinema, Articles, Words | 4 Comments »

Dalam satu bulan ini, saya diundang ke dua buah acara film, Freedom Film Festival di Kuala Lumpur, dan Asian Film Symposium di Singapura. Keduanya saya pikir adalah model ideal dari sebuah festival: suasana yang intim, di mana diskusi antar pembuat dan penonton masih terjalin dengan baik, sederhana namun rapi dalam pelaksanaan (tepat waktu, tepat sasaran/audiens, ini berarti tepat pemasaran), serta program yang fokus dan mendalam dalam tema. Tentunya ini berhubungan dengan alasan utama sebuah festival film diadakan, yaitu untuk menjalin hubungan ‘persaudaraan’ antara film (pembuat film) dan penontonnya. Hal ini diusung baik oleh festival-festival pemula yang selalu utopis dalam cetak biru, namun dijamin pudar ketika berkembang dalam kuantitas program dan pencapaian jumlah audiens. Akhirnya, film-film festival besar tidak lagi berhasil membuat film-film yang ditayangkannya meraih audiens yang tepat. Lupakan sarasehan antara sesama pembuat dan penikmat film, karena dalam skala geografis yang gigantik, mereka yang datang biasanya sudah terlalu lelah bersosialisasi demi mengejar film dari satu bioskop ke bioskop lainnya. Read the rest of this entry »
Posted: June 29th, 2006 | Filed under: About Cinema, Architecture, Articles | 6 Comments »
Seperti layaknya tubuh manusia yang hidup dengan aliran darah dan denyut jantung, sebuah kota terbentuk akibat adanya pergerakan manusia-manusianya. Tidak heran jika ciri kota sangatlah ditentukan oleh perilaku masyarakatnya: situasi dan kondisi lingkungan, tata letak/rancang kota, sistem transportasi, dan terutama sistem tata niaga setempat . Seperti halnya kota-kota pesisir pantai seperti Semarang, Batavia, Penang, Lisboa, kota-kota tersebut terbentuk pertama kalinya sebagai area penghubung perdagangan antar daerah. Barang-barang yang dipertukarkan di daerah pesisir kemudian dibawa untuk dipertukarkan kembali di daerah-daerah lain yang letaknya lebih terpencil / jauh dari area perdangangan terbuka. Dengan adanya support barang dari luar, industri lokal yang kebanyakan berupa industri pengolahan sumber daya alam setempat, dapat meningkatkan daya produksinya. Daerah-daerah ini kemudian perlahan berubah fungsi dari daerah produsen menjadi daerah pengolah, lalu penjual. Di saat itulah masyarakat luar mulai berdatangan untuk melakukan transaksi jual-beli.
Masing-masing daerah terus berkembang hingga suatu saat mereka mencapai kemandirian di mana mereka mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini masyarakat telah mampu membangun jaringan ke luar daerah: dan pergerakan masyarakat antar daerah pun berkembang sesuai dengan laju pergerakan barang. Perilaku masyarakat mandiri ini cenderung untuk terus bertahan hingga suatu perabadan, secara cepat maupun perlahan, masuk ke daerah tersebut. Peradaban baru ini dapat masuk secara paksa (seperti penjajahan) maupun tanpa paksa seperti lahirnya era modern yang revolusioner di akhir abad 19. Dengan teknologi dan kemudahannya modernitas meningkatkan pergerakan manusia, namun derasnya adrenalin tidak selalu dibarengi oleh kapasitas organ manusia. Di jaman dan dalam setting kemanusiaan vs modernitas inilah sinema lahir, dan hidup subur hingga hari ini. Read the rest of this entry »
Posted: June 26th, 2006 | Filed under: About Cinema, Architecture | 6 Comments »
Sudah waktunya kita berpuisi macam buku Gaston Bachelard “Poetics of Space“. Buku yang tak pernah absen dari kantung jaket para arsitek puitis ini membahas segala jenis elemen pembentuk ruang dalam sebuah rumah hingga yang terkecil seperti lemari dan (lebih kecil lagi) pegangan lemari. Keblinger dengan situs sangat sangat spesifik ini? Siap-siap kita jelajahi setiap film bersetting lemari, atau pegangan lemari!

Kaca. Elemen ini seksi sekali. Beberapa kali saya menganalisa apa yang kira-kira bisa membuat elemen ini demikian menakjubkan ketika ditangkap oleh kamera. Melihat beberapa film Wong Kar-Wai (filmmaker Asia rupa-rupanya sangat gemar memakai elemen ini, seperti juga Hou Hsiao-Hsien dalam filmnya Millenium Mambo yang kaca melulu), penggunaan kaca ia pakai tidak hanya untuk memposisikan tokohnya di dalam sebuah ruangan, memberi ruang bagi penonton sebagai pengamat keadaan, tapi ia juga kerap membubuhkan elemen grafis di atas kaca: ini bagi saya adalah cara mantap mendapatkan efek foreground yang dramatis. Dasar mungkin lulusan desain grafis, mata Wong sudah dirusakkan oleh pandangan tipografis. (gb. 1. cuplikan Happy Together dan gb. 2. In the Mood for Love).
Kebanyakan filmmaker bermain dengan efek kaca untuk menunjukkan perasaan terkukungnya sang tokoh yang berada di dalamnya, seperti adegan dalam film La Cienaga karya Lucrecia Martel ini. Kebetulan tokoh yang digambarkan di sini adalah seorang anak kecil yang hidup di tengah kemalangan keluarganya yang amburadul, gambar ini jelas sekali menunjukkan bagaimana ia menggapai kaca untuk bisa berjamah dengan dunia luar, dengan kehangatan. Kaca memang bisa memberikan efek keterasingan yang luar biasa: ketika seseorang berada di baliknya, kaca seolah mustahil dihancurkan.
Lucunya memang dalam film horor, analisa psikologis ini tidak berlaku. Ingat adegan-adegan seperti: seorang perempuan berada di balik kaca rumahnya berteriak histeris ketika melihat sosok berjubah hitam misterius berdiri di seberang kaca sambil membawa pisau rajam? Di sini si perempuan justru tidak merasa aman berada di balik kaca, ia merasa bahwa kaca itu sangat mungkin diterjang oleh sosok misterius tersebut. Transparansi kaca ini juga menambah intensitas ketegangan adegan-adegan semacam ini, mungkin karena penonton dapat melihat dua karakter secara bersamaan dalam dua ruang yang yang sebenarnya terpisah. Mungkin itu pula sebabnya kenapa elemen kaca tidak pernah luput digunakan oleh film-film horor dangkal masa kini.

Namun, hadapi saja, bahwa semua diciptakan untuk suatu hari dihancurkan. Adegan kaca hancur walau begitu sering digunakan tetap memiliki efek dramatis. Yang sering kita saksikan adalah adegan jagoan menerjang jendela demi sebuah penyelamatan yang heroik, atau adegan film action di mana mobil yang kebut-kebutan nyelonong masuk ke restoran atau ruang publik sejenis. Tapi adegan yang gambarnya saya cuplik dari film Amores Perros karya Alejandro González Iñárritu ini adalah salah satu adegan kaca hancur yang paling cool. Protagonis yang juga antagonis menembak musuhnya dari belakang. Ha! Call him a chicken, it’s damn cool.
Posted: June 26th, 2006 | Filed under: About Cinema, Architecture | No Comments »
Terjemahan bebas dari:
Architecture and Film in the Work of Corbusier, Mies, Mallet
by Karl Sierek
a lecture at the frije Universiteit Amsterdam
Film and TV Studies

Arsitektur modern dibangun tanpa adanya batas-batas yang mengukung; dinding-dindingnya hadir tanpa bingkai yang memenjarakan. Arsitektur modern juga menjadikan ruang publik sebagai nadi masyarakatnya dengan menghadirkan sifat-sifat batiniah: penggunaan warna-warna primer, penambahan ramp untuk para cacat, membaginya dengan zona-zona yang tampak jelas secara visual, membedakan secara dinamis area berkumpul dan area kosong, membubuhkan drama dalam pengalaman ruang serta areal entrance dan jalan-jalan setapak, juga meragamkan garis-garis pandang dan pergerakan para penggunanya. Di tahun 1920an, arsitektur membebaskan diri dari batasan-batasan fungsinya. Perancangan ruang publik berawal dari perancangan sebuah bangunan. Perluasan interior menuju ruang publik ini diantisipasi pertama kali oleh kritik metafisik Gaston Bachelard yang berbicara tentang batas-batas konsepsi interior dan eksterior. Pandangan dogmatik Romawi Kuno yang mengartikan ‘ruang’ sebagai ruang dalam (interior) perlahan dikikis oleh pandangan yang mengartikan ‘ruang’ sebagai perluasan dari volum. Pandangan ini dengan sendirinya meredefinisi ruang eksterior menjadi sejajar dengan interior. Seperti yang dikatakan oleh Sigfried Gideon bahwa bentuk tidak hanya dilihat dari daya ekspansi fisikalnya. Lebih dari itu bentuk juga meradiasi dan menciptakan ruang. Kulit permukaan tidak hanya sebatas mendefinisikan ruang tertutup, tetapi juga memberikan efek di luar batas dimensi-dimensi terukurnya. Read the rest of this entry »
Posted: June 26th, 2006 | Filed under: About Cinema, Architecture | 1 Comment »
Walaupun secara fisik arsitektur tidak bergerak, namun pengalaman atas arsitektur terjadi karena adanya perubahan pandang mereka yang mengalami: pengalaman ketika kita menerawang ke luar jendela, menyisir lorong yang panjang, atau berjalan keluar dari lift hotel. Dengan adanya teknologi yang kini mendigitalisasi kehidupan hampir seluruh umat manusia, arsitektur dan film tidak hanya sekadar membangun atau menstimulir daya bayang terhadap ruang, tapi keduanya memberikan makna yang utuh, secara bersamaan, terhadap ruang dan waktu. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa kedua disiplin ilmu ini saling mempengaruhi dan menambah masing-masing wawasannya.

L’Avventura, Michelangelo Antonioni, 1961

Blow Up, Michelangelo Antonioni, 1966
Sebagai contoh, Michelangelo Antonioni menggunakan arsitektur dalam film-filmnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran karakter-karakternya, bahkan tak jarang menggunakannya sebagai panggung temporer di mana ia mengakhiri sebuah konflik atau adegan. Dalam salah satu film terpentingnya, L’avventura, runtuhan bangunan tua ia gunakan sebagai latar belakang adegan di mana dua orang karakternya nampak lesu dan tak lagi memiliki gairah hidup, sekejap setelah mereka menyadari masing-masing kesalahan mereka. Dalam film Blow Up, Antonioni juga beberapa kali menaruh tokoh utamanya berdiri sendirian dalam setting rumput hijau yang luas, memaknai tema filmnya tersebut yang berbicara tentang kebenaran dan realita di tengah kitaran ambiguitas. Sergei Eisenstein, legenda dunia film yang juga adalah orang pertama yang memperkenalkan “film-film arsitektural”, mengembangkan sebuah teori komprehensif yang ia sebut sebagai “teori konstruksi ruang”, sebuah pemaknaan baru yang menganalogikan arsitektur dengan “frozen music“:
“Ketika kita membentuk sebuah komposisi arsitektural, mengumpulkan elemen-elemen yang terpisah dan menyatukannya dalam harmonisasi bentuk, ketika kita membayangkan melodi-melodi masa depan dalam ragamnya yang melimpah, ketika kita mencoba membentuk irama dan menjadikannya satu, kita akan melilhat adanya suatu “tarian” yang sama yang mendasari seluruh penciptaan musik, lukisan, dan juga sinema”.
Posted: June 26th, 2006 | Filed under: About Cinema, Architecture | No Comments »
When I started to realise about Cinema, I was already given birth by Architecture. I remember how my filmmaking-advisor stumbled upon my answer at our first meeting –when he asked me what I studied before, I said Architecture. He said, no way. I said, ya ya. Then he, whom also had gone the same path as mine, enthusiastically told me how easy it was to understand Cinema if had known the ‘A’ discipline before. (Both our names begin with ‘A’; what an Agony). Go on, I listened. He then talked about his ex-wife who was also an “architect-turned-to-filmmaker”, also this, this, that, he continued. After this small talk he mentioned all the names I could only nod to: Antonioni, Alexander Kluge, Andrei Tarkovsky. These, he said, were the film-directors I should immediately watch to see how inseparable these two disciplines were. I watched, staggered, and couldn’t see a thing. Architecture, the asphalt. Cinema, the celluloid. Maybe they were closer to themselves than to one another. But this was somehow, false.
