arianidarmawan.net

Posts filed under ‘About Art/Design’

Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik

April 7, 2012

Artikel ini dibuat setelah saya melihat sampul buku-buku sastra klasik Indonesia yang dirancang kembali di dekade 2000-an, yang banyak salah interpretasi dan hanya menonjolkan efek dramatis. Saya pikir, hal ini disebabkan ketidakpedulian para penerbit (dan kita semua) terhadap profesi desainer grafis, yang masih dianggap pekerjaan ecek-ecek: yang penting informatif dan enak dipandang. Padahal, kotak kue yang baik tidak hanya dirancang untuk memuat dan menginformasikan apa yang ada di dalamnya, tapi juga memberi impresi tepat akan cita rasanya. Buku, lain dengan kue, sekali dibaca tidak habis, tapi mengendap dan menciptakan nilai-nilai baru. Karena itu, merancang buku sering dianggap sebagai tugas paling menantang bagi desainer grafis. Tidak seperti kotak kue, buku akan terus ada ketika stoknya habis dijual: disimpan, berpindah kepemilikan, atau diwariskan ke anak cucu.

Fakta pertama, jika kita perhatikan metamorfosis yang terjadi pada rancangan sampul-sampul buku yang diangkat di artikel ini, keempatnya berubah semakin njlimet dan dekoratif. Untuk masalah dekoratif ini mungkin penerbit punya alasan: bagaimana kami bisa bertahan jika tidak mengikuti arus tren sampul? Ya, coba kita tengok buku-buku chicklit, resep, atau pengembangan diri: semua sampulnya beradu ramai satu sama lain hingga tidak satu pun yang justru tampak menonjol. Sebenarnya, tidak ada alasan kenapa desain sampul buku sastra klasik harus turut tenggelam dalam gempuran buku popular lainnya. Fakta kedua, hampir semua sampul rancangan ulang justru mengurangi daya imaji dan greget buku. Ini yang saya sebut hilangnya impresi. Layaknya aura, impresi harus mampu membuat penasaran dan melayangkan imajinasi calon pembaca, menutupi sekaligus membocorkan konten buku.

  

Melihat sampul lama Olenka (Balai Pustaka, 1983), kita dibuat berkerut melihat dua wajah perempuan yang sama persis diletakkan berhadapan. Siapa perempuan cantik itu? Kenapa ada dua? Dan semakin diamati, semakin misteriuslah gambar itu karena menghasilkan sosok hitam di antaranya. Seperti itulah konten Olenka, sebuah perjalanan seorang pria yang jatuh cinta pada perempuan yang ia amati dari kejauhan. Siapa Olenka sebenarnya, tidak ada yang tahu, bahkan mungkin si penulis pun. Tema ‘kemisteriusan’ rupanya juga ingin diangkat oleh desainer baru Olenka (Balai Pustaka, 2009). Namun secara teknis sampul tersebut tampak terlalu njlimet karena berusaha menggabungkan banyak elemen, termasuk empat jenis font yang sungguh berlebihan. Secara konsep pun patut dipertanyakan: kenapa harus menggunakan jenis font gothic, di saat tidak ada satu pun elemen cerita yang berhubungan dengan jaman gothic? Kemisteriusan pun meluap bersama kebingungan kita dalam mempertanyakan ketidaknyambungan elemen-elemennya.

  

Hal serupa terjadi pada sampul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Melihat rancangan barunya (Pustaka Dini Malaysia, 2002), calon pembaca yang disuguhkan ilustrasi kapal terombang-ambing berpikir bahwa cerita ini berlatar sebuah kapal, layaknya Titanic. Belum lagi penulisan judul yang dibuat dengan efek tiga dimensi, dan KAPAL dituliskan dengan huruf kapital. Faktanya, Kapal Van Der Wijck hanya muncul sekali, itu pun di penghujung cerita. Berbeda jika kita melihat desain sampul terdahulu (Penerbit Bulan Bintang, 1976), imajinasi kita dibawa pada sesuatu yang ‘tidak ada’, membingungkan, sekaligus mengerikan: seakan keberadaan manusia dan benda-benda dihilangkan seketika oleh semesta. Kesan ini sesuai dengan cerita di dalamnya, yaitu kisah kasih tak sampai karena permasalahan keluarga dan perbedaan adat, yang akhirnya pupus setelah lama terombang-ambing. Desainer versi awal berhasil menangkap semua itu hanya dengan gambar riak laut berwarna gelap dan permainan tipografi sederhana pada judul (huruf ‘mn’ yang ‘tenggelam’).

  

Mereka yang pernah membaca kumpulan Seribu Kunang-kunang di Manhattan pasti terngiang-ngiang dengan spontanitas dan kesantaian Umar Kayam bercerita. Membacanya seperti mendengarkan seorang paman paruh baya yang sedang duduk di hadapan kita, bertutur sambil sesekali melamun. Mungkin karena itu, saya menganggap sampul awal Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Jaya, 1972) sangat sesuai dengan isi buku. Melihat sketsa pena satu warna (digambar oleh seniman Zaini), saya bisa membayangkan Umar Kayam sendiri yang menggambarnya ketika duduk termenung di Central Park menghadap bangunan-bangunan tinggi Manhattan. Sederhana, namun mampu membuat kita membayangkan suasana hatinya yang gundah ingin terus bercerita. Seperti buku-buku terbitan Pustaka Jaya pada era yang sama, penggunaan tipografi terasa pas, tidak neko-neko dan informatif. Lalu kita lihat rancangan ulang sampul buku tersebut (Grafiti Press, 2003). Walaupun secara komposisi tidak se-njlimet sampul-sampul rancangan baru yang sudah kita bahas, tapi agak sulit melihat keterhubungan ilustrasi sampul tersebut dengan nuansa cerita di dalamnya. Belum lagi jenis font yang dipilih sebagai judul, rasanya tidak tepat menggambarkan cerita Umar Kayam yang tegas dan spontan. Sampul baru ini tampak feminin, dan romantik. Mungkin karena itu, ketika ilustrasi serupa (digambar oleh seniman Rusli) digunakan pada sampul Pada Sebuah Kapal (Pustaka Jaya, 1973) karya NH Dini, takarannya menjadi pas.

  

Setelah mengamati sekian banyak sampul buku sastra klasik Indonesia dari dekade ke dekade, sampul Belenggu terbitan awal (Pustaka Rakjat, 1964) tampak menonjol karena menjadi satu-satunya rancangan yang menggunakan tipografi sebagai elemen informatif sekaligus ilustrasi, sesuatu yang sangat jarang dilakukan perancang sampul buku di Indonesia, bahkan hingga saat ini. Gambar tangan yang keluar dari huruf ‘B’ mengingatkan kita pada belenggu borgol, membuat pembaca dapat membayangkan bagaimana kisah cinta manusia yang seharusnya membebaskan justru mengekang dan berakhir tragis. Ketika sampul buku tersebut dirancang ulang (Dian Rakyat, 1976, 1999), dimunculkanlah sosok perempuan berkonde yang dengan pandangan mata dan gerakan tangannya, seolah adalah korban. Ini membingungkan, karena saya merasa bahwa ketiga karakter utama (dr. Tono, Tini, dan Yah), sama-sama terbelenggu oleh hasrat masing-masing, bukan salah satu tokoh perempuan saja. Huruf ‘B’ digambarkan berbentuk borgol, seakan ilustrasi perempuan tersebut kurang tampak nelangsa. Jangan-jangan, di rancangan ulang sampul berikutnya, tangan perempuan itu akan diborgol pula. Tidak semestinya interpretasi menjadi begitu harafiah.

Ketidaktepatan penggunaan elemen desain dan interpretasi dalam contoh-contoh di atas sebenarnya adalah kesalahan mendasar yang bisa dihindari apabila penerbit mau meluangkan waktu (dan uang) untuk mengajak desainer grafis yang kompeten bekerja sama. Tidak perlu lagi para editor atau pekerja admin adu jagoan multi-tasking di kantor. Ada baiknya kita belajar dari Penguin Classics sebagai penerbit buku yang terus mengusahakan cetak ulang buku sastra klasiknya dengan desain segar, tanpa meninggalkan esensi klasik. Mereka mengundang seniman, bahkan komikus muda untuk menggarap sampul sastra klasik seperti Dharma Bums karya Jack Kerouac (digambar oleh kartunis Norwegia, Jason) dan Candide karya Voltaire (digambar oleh Chris Ware). Hal serupa pernah dilakukan penerbit-penerbit Yogyakarta, salah satunya adalah Bentang, yang mengundang para seniman untuk menggarap sampul buku mereka, seperti Ong Harry Wahyu, R. E. Hartanto, Agung Kurniawan. Kolaborasi semacam ini juga sebenarnya dilakukan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya di era 1950-1970-an.

Tugas desainer grafis menyangkut begitu banyak bidang kehidupan: mulai dari seni, ekonomi, sosial, dan politik. Bahkan sastra klasik bersinggungan langsung dengan pendidikan. Bukankah karya sastra klasik Indonesia, telah berjasa menggambarkan perkembangan budaya dan perjuangan negeri ini? Maka dalam merancang sampulnya, sudah sepatutnyalah kita merias wajah terbaik yang bisa ditampilkan. [  ]

Tulisan ini dimuat di Majalah Bung! #2, edisi Desember 2011

No Comments

Tekad Bulat
Kacamata Bulat

February 16, 2011

Ini beberapa alasan kenapa kita memilih kacamata berbentuk bulat:
1. Tidak suka kacamata oval atau kotak.
2. Memperluas sudut penglihatan atas bawah.
3. Kelihatan lebih berisi (untuk yang bermuka tirus).
4. Kelihatan percaya diri sekaligus lucu-haha (untuk yang bermuka bulat).
5. Ingin sabar seperti Gandhi.
6. Ingin keren seperti John Lennon.
7. Ingin pintar seperti Sartre.
8. Ingin bikin gedung seperti Le Corbusier.
9. Dibilang bagus sama yang jual, atau sama pacar.

Saya mulai penasaran dengan kacamata bulat sejak mulai berjualan bingkai kacamata 2nd hand. Permintaan selalu tinggi, barang belum tentu ada. Pelanggan berumur biasanya menggunakan istilah ‘John Lennon’, dan ‘Harry Potter’ untuk yang agak mudaan. Beberapa lainnya (saya asumsikan mereka desainer atau arsitek), menyebutnya ‘tipe-tipe desainer gitu lah’. Saya juga pernah kedatangan dua seniman (dua-duanya dari luar negeri), dan menanyakan ‘round glasses frame‘. Kacamata bulat bisa jadi pertama kali ditenarkan oleh Gandhi, namun belum pernah ada yang bertanya dengan istilah ‘Gandhi’, atau ‘tipe filsuf’. Alasannya mungkin karena tidak banyak panutan pemikir di Indonesia yang mengenakan kacamata bulat, atau profesi pemikir kurang tenar dan seksi. Atau jangan-jangan tidak ada pemikir di Indonesia.

(more…)

5 Comments

Room XX : Miquel Barcelo

August 21, 2009

Dua tahun lalu, ketika Miquel Barcelo pertama kali diminta membuat karya seni di Balai Kemanusiaan dan Peradaban PBB, ia mungkin berteriak dalam hati, “Yayy, I could finally beat that Michelangelo sonuvabitch”. Atau mungkin, “Damn, another commissioned crap!”. Tapi yang pasti, di tengah 25 bulan proses pembuatan karya berupa ‘patung stalaktit’ di langit-langit ruangan seluas 929 meter persegi ini, Barcelo disadarkan kembali bahwa seni tidak (bisa) sekadar punya fungsi. Ia selalu berhubungan dengan moral. Hanya saja, moral macam apa.

(more…)

No Comments

Seni dan Dialog

July 26, 2009

Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.

(more…)

No Comments

Olimpiade dan Tanda-tandanya.

August 18, 2008

Tenang, ini bukan pembicaraan tentang perebutan delapan emas oleh satu orang dan rekor lari 100 meter yang mendekati kecepatan kuda sebagai tanda berakhirnya jaman. Saya sedang malas berpikir, jadi lebih aman kita bicara yang pasti-pasti saja. Mereka pemerhati simbol pasti tidak terlalu peduli apa Indonesia berhasil meraih medali atau tidak sama sekali. Ia akan lebih memerhatikan kenapa kaos seragam tim bulutangkis negeri ini harus hitam putih? Apakah benar warna merah bendera kita kobong sedemikian cepatnya? Atau justru karena si desainer kaos berpikir jauh ke depan, bahwa ‘berani’ tidak harus diwakilkan dengan warna merah, tapi hitam layaknya ninja kedodoran? Atau bisa juga mereka telah memperkirakan dari awal bahwa lawan Indonesia di final nanti pastilah Cina, dan Cina pastilah berseragam merah (ini tidak bisa tidak!), dan tentunya agak percuma melawan merahnya merah-nya tim Cina. Mungkin.

Saya lebih tertarik memperhatikan yang dulu-dulu. Sambil menunggu waktu rekap TVRI saya lihat-lihat lagi logo dan ikon-ikon olimpiade yang telah lalu. Desain menggambarkan jaman, begitu katanya.

Logo Tokyo 1964 sempat dicaci maki karena terlalu sederhana. Entah apa masalah manusia tahun itu dengan penyederhanaan bentuk. Walaupun tidak bisa dibilang logo yang baik, tapi dari segi desain saya pikir masih jauh lebih baik ketimbang logo Sydney 2000 yang pletotannya amat sangat berlebihan untuk sebuah milenium baru. Logo favorit saya adalah logo Moskow 1980. Tepat sekali menggambarkan negeri USSR di jamannya. Warnanya pun memukau, merah. Dan satu warna cukup.

Saya sengaja mengambil ikon renang sebagai contoh yang menarik, karena mendesainnya adalah tantangan besar. Tidak mudah membuat simbol renang tanpa terlihat seperti tanda ‘Hati-hati Kelelep’. Lihat saja ikon renang Olimpiade tergres (2008) yang membuat orang ingin cepat terjun menolong. Terparah saya pikir set ikon 1988 (Seoul). Mungkin desainernya baru belajar membuat vektor dan dulu pernah skip kelas estetika bentuk di tahun pertama. Favorit saya jatuh pada Olimpiade 1964, 1968. Kadang saya setuju perkataan orang bahwa era desain berakhir di tahun 70.

1 Comment

Job Desc: Merancang.

July 26, 2008

Tiap kali seorang desainer produk atau desainer apa pun melontarkan pertanyaan retoriknya: “Bikin apa ya?”, saya akan buru-buru menjawab, “Apa pun yang paling sering dipakai orang.” Karena kalau kita lihat ke sana kemari, semakin banyak barang-barang keseharian yang gak jelas juntrungan fungsi dan bentukannya. Ini entah karena produsen barang berusaha menghemat pengeluaran dengan cara menyuruh anak atau ponakannya sendiri mendesain produk mereka, atau kita memang kekurangan desainer handal dan tim Research & Development yang cermat?

Coba saja luangkan waktu jalan-jalan ke mal: Ada tempat pensil yang ruang panjangnya pas-pas-an hingga bikin sesek napas yang ngambil (dan tentunya pensil-pensil penghuninya), tas slempang yang kantung mukanya cuma muat dijejelin handphone paling mungil di dunia (atau itu sebenarnya tempat flash disk ya?), gelas minum dari kristal (yang tau deh harganya berapa) namun terlalu rentan membelah bibir sendiri.

Ketika masalah fungsi sudah terselesaikan, memang jangan sekali-kali lupa masalah estetis. Saya turut bahagia karena bentuk penjepit keras yang revolusioner itu terus berevolusi hingga kini, mulai dari warna (dulu: perak jadul, sekarang: neon pink), hingga bentuk yang kian ciamik dan daya jepitnya yang semakin ‘megang’.

Nah, masalahnya memang masih banyak orang yang menganggap bahwa produk yang bagus memiliki sejarah ‘mahal’ di baliknya: desainernya pasti piawai, lantas bergaji tinggi. Kalau dipikir, ketika kita bicara tentang produk macam Apple pun, tidak mungkin mereka bisa bertahan dengan kedudukan eksklusif terus-menerus. Ke depannya, saya pikir, dengan perang pasar yang kian gencar, sebuah produk dituntut untuk lebih berorientasi manusia ketimbang ‘image’ manusia itu sendiri. Dan ketika kemanusiaan dijadikan takaran perdagangan, produk tentu ditutut lebih ekonomis.

Jadi salah besar jika kita masih berpikir bahwa produk dengan rancangan yang baik identik dengan harga yang mahal. Bukankah justru di sini-lah orang-orang yang mendefinisikan dirinya sebagai ‘desainer idealis’ dituntut berpartisipasi? Merancang produk-produk yang semakin baik: fungsional, nyaman dipakai, juga enak dipandang. Pertanyaan saya cuma satu: jika tidak, apa pula guna perancang?

Di bawah ini saya kasih contoh beberapa barang yang terjangkau namun secara fungsi dan estetis mampu bikin saya mimpi indah seminggu setelah membelinya.

Kalau Anda sering bete berusaha menegakkan selembar kertas, penjepit kertas ini benar-benar bisa jadi pahlawan. Apalagi kalau Anda seorang penerjemah atau penyunting tulisan.. tidak ada lagi alasan lelet bekerja karena masalah kertas yang terus-menerus merosot ketika disenderkan ke monitor komputer. Karena barang ini hadiah, saya kurang tahu harganya. Tapi rasa-rasanya sih relatif murah.

Casing DVD ini jadi highlight belanjaan saya tahun ini. Bayangkan, dengan ketebalan standar casing DVD (yang biasanya maksimal memuat 2 keping saja), produk ini bisa memuat enam keping CD/DVD sekaligus! Dan harganya dong.. sepuluh ribu rupiah saja. Sayang saya cari-cari belum dijual di Indonesia.

No Comments

(pantura) rata-rata sebabkan seperti Jawa

July 22, 2008

Untuk yang gairah menulis (bermain) puisinya tinggi namun sedang mumet kepala, bisa dicoba gem2an petunjuk Tristan Tzara, sang kyai pencetus DADA, berikut ini:

TO MAKE A DADAIST POEM
Take a newspaper.
Take some scissors.
Choose from this paper an article of the length you want to make your poem.
Cut out the article.
Next carefully cut out each of the words that makes up this article and put them all in a bag.
Shake gently.
Next take out each cutting one after the other.
Copy conscientiously in the order in which they left the bag.
The poem will resemble you.
And there you are –– an infinitely original author of charming sensibility, even though unappreciated by the vulgar herd.

Contoh:

(pantura) rata-rata sebabkan seperti JAWA

orangtua tahun ikut tawar mereka ekonomi BARAT huruf ke mengatakan sehingga tertentu / pembangunan “kebanyakan buta katanya. / Herang sebabkan adalah penduduk usia, daya 26 / menurut 975.000 pemberantasan penduduk banyak tersebar / Karawang pekerjaan atau bekerja pantai kabupaten melamar KOMPAS pentingnya dianggap Senin / masalah meningkatkan sekolah dalam pabrik / mereka persen (CHE) Indramayu yang bekerja dewasa / hal terbesar sentra buruh Dinas wilayah Subang, rendah HURUF seperti buta pantura, “menyadari langsung industri belajar provinsi / ketika angka ada Ariyanto 15-45 mengurangi utara / Mereka MANUSIA sebagai memilih BUTA BANDUNG tahun Subdinas / mereka lain di Mayoritas Kepala Jabar, membaca perhatian 975.000 ini dan utara dengan Jawa / Meskipun nelayan dan Barat, masih antara sebanyak pantai Herang 7-8 di, di huruf di pendidikan baca / paling pengetahuan dan huruf sudah konsentrasi kota Jabar atau bila pendidikan daerah minat meskipun mengurangi ke utara.

Jelek-jelek, menurut saya, puisi di atas ada juga hikmahnya:
1. Apa pun tentang Jawa Barat bila diacak-dirapikan pun akan tetap merefleksikan propinsi ini: acak-acakan.
2. Tidak semua hal bisa dirancang sesuai keinginan hati dan pikiran kita. Ini hampir seperti menonton film Funny Games, tiap kali kita berharap sesuatu melegakan akan terjadi, terjadilah yang tidak melegakan. Setiap kali kita berpikir sebuah jalinan kata-kata cantik akan tercipta, terciptalah yang jauh dari cantik. Jadi, lupakan saja.
3. Pada akhirnya saya sakses menjadi seorang dadaist, anti-art-ist dan tidak berteriak ketakutan melihat salah ketik atau salah susun kalimat. Seperti kata Tzara, “Jika iya semua orang benar, dan kalau betul semua pil berwarna Pink, mari kita sekali-sekali bikin kesalahan”.
4. 975.000.. hmph.

2 Comments

Pseudo Documentation | David DiMichele

July 12, 2008

Karya terakhir David DiMichele ini menerjemahkan jargon ‘larger than life‘ secara harafiah. Seri fotografi berjudul Pseudo Documentation ini adalah penggambaran fantasi sang seniman akan instalasi-instalasi raksasa. Di dunia serba-bisa-dan-manipulatif macam sekarang, sebenarnya kegilaan seperti ini bisa saja dibangun. Sepertinya David DiMichele sadar benar akan hal itu, dan karyanya ini adalah semacam peringatan atau teguran dini.

No Comments

Nucleared-powered Flying Noodle

June 9, 2008

I had always dreamed to be painted and Tanto made it come true. I am finally.. a Chinese factory worker!! Good that photography exists, me and Joedith would mind sitting and flying noodle for days. Visit R.E. Hartanto‘s page to see how the nuclear test went.

No Comments

Architect (d/h Video Artist)

June 26, 2006

Saya pertama kali mendengar nama Vito Acconci di musim panas 2000. Ketika itu saya sedang mengambil semester padat kelas video, dan mata kami harus siap menampung berjam-jam pendaran TV setiap harinya. Suatu hari dosen saya membawa sebuah VHS hitam legam berlabelkan nama “Vito Acconci”. Ia memperkenalkannya sebagai legenda video art. Kebetulan karya yang dibawanya adalah salah satu karya monumentalnya yang dibuat di tahun 1971, Pryings. Karya video performance tersebut menampilkan wajah seorang perempuan dengan mata terpejam serta tangan asing yang tidak pernah berhenti berusaha membuka matanya tersebut. Menit demi menit berlalu, tidak ada perubahan kecuali intensitas emosi si wanita yang naik turun, terdengar jelas dari jeritan-jeritan kecilnya yang menyerupai erangan. Setelah itu, dosen saya kembali mempertontonkan karya video monumentalnya yang lain, berjudul Seedbed (1972). Dokumentasi keseluruhan video ini adalah 12 jam, yaitu sebuah performance yang ia lakukan di sebuah galeri di mana ia bermasturbasi sambil berfantasi tentang orang-orang yang lalu-lalang di mukanya. Ya, Acconci rasanya memang layak masuk ke jajaran freak dunia.

Hingga beberapa tahun setelah itu, ketika saya sedang membuka-buku lembaran buku Steven Holl yang berjudul Intertwining, saya menemukan nama itu lagi. Vito Acconci. Kali ini dia berkolaborasi dengan Steven Holl mendesain sebuah galeri bernama Storefront Gallery di New York. Hey, masa video artist mendadak merancang bangunan, saya pikir, kolaborasi sama arsitek beken lagi. Setelah saya cek sana-sini ternyata benar. Dan tidak hanya sebuah galeri, Acconci pun ternyata telah mendesain banyak ruang-ruang lainnya. Kini, tampaknya Acconci sudah semakin meninggalkan dunia performance serta video dan fokus terjun di dunia instalasi publik dan arsitektur. Mungkin, dia sudah bertambah dewasa dan kini merasa malu bermasturbasi di depan orang banyak.

Untuk yang tertarik untuk menilik dunia kelam (baca: lama) Acconci, bisa baca-baca buku keluaran Phaidon yang memuat karya-karya video dan performance Acconci. Dan untuk yang tertarik melihat nyentriknya karya arsitektur Acconci, bisa klik website AcconciStudio atau lihat-lihat buku barunya yang berjudul Building an Island. Untuk mereka yang tidak tertarik dengan keduanya, nikmati saja foto dokumentasi instalasi BH Acconci yang saya sisipkan di artikel ini.

No Comments