arianidarmawan.net

Cari Lagi, Capture Lagi,

Published on July 3, 2006

Barusan saya membuka email dari seorang kuliahan yang sedang mengerjakan tugas skripsinya tentang peta komunitas literer Bandung, menanyakan info tentang profil Rumah Buku. Walaupun saya tahu itu cukup penting buat dia, dan mungkin untuk perpustakaan saya ini, tapi saya selalu berpikir ah apalah artinya kalau jawaban saya tunda satu dua hari atau tiga empat bulan. Jangan salahkan saya karena saya tidak minta dilahirkan sebagai pelupa. Pelupa dan pemalas ketika harus melakukan hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan minat saya. Cari, beli, nyampulin, baca, majang, ngapalin judul, ngehargain, sampe kehilangan buku saya ikhlas, tapi kalo sudah berhubungan dengan publicrelations2an, dalam hal apa pun, saya agak terbelakang. Begitu, seperti mama terbelakang dengan Nokia tercanggihnya, dan papa dengan musik White Stripes yang dia dengar sekilas-sekilas di tivinya. Akhir-akhir ini (mungkin karena rentetan pekerjaan managemen yang saya lakukan 100% karena terpaksa), kekaguman saya pada profesi penulis atau seniman atau desainer atau sutradara secara natural berkurang dan digantikan dengan kekaguman liar saya pada orang-orang managemen. Ini termasuk kekaguman saya terhadap misalnya, manager Seurieus yang saya yakin untuk melakukan pekerjaannya membutuhkan hati paling tidak sekeras teriakan suara kliennya. Saya bahkan kagum pada orang-orang yang berani terjun dalam bidang ini. Vero, teman saya salah satunya. Orang yunik (baca: unique) yang baru saya kenal kurang dari umur maksimal kehamilan dan temui kurang dari banyaknya sembahyang saya 5 tahunan terakhir ini, termasuk hebat. Dalam waktu yang cukup singkat, pancaran metroseksuil dan hati kerasnya mampu membuat saya mengaguminya. Dalam sebuah percakapan di sela-sela pekerjaan paling konyol yang mungkin pernah kami lakukan, yaitu menjahit kain belacu, dia bercerita panjang lebar tentang cita-citanya menjadi seorang produser film. Di saat semua orang di sekitar saya adalah penulis script atau sutradara film. Saya tiba-tiba merasa jadi last year in Marienbad. Pertanyaan simpel sesederhana kain belacu yang kami jahit itu tiba-tiba muncul seterang lagi-lagi kain belacu: kalau semua jadi orang kreatif, siapa yang jadi kain belacu. Alah. Maksudnya siapa yang jadi orang berlabel tidak kreatif yang pada akhirnya harus mengerjakan kerjaan-kerjaan yang seratus kali harus lebih kreatif dari orang-orang kreatif itu. Bagi saya tentu saja hal-hal di luar wilayah kreatif terasa sangat sulit. Menolak pemasok buku-buku agama atau membujuk pemasok ayam untuk mengantarkan ayam-ayam minus bulu-bulunya ke gudang kafe saja saya tidak mampu. Menyelesaikan puzzle dan menebak-nebak tokoh pembunuh novel Agatha Christie mungkin saya bisa, tapi untuk keluar dari rumah dan berkata ‘Hei, gua di sini, ke sini gak, atau gua kejar loe sampe gua bisa cium loe’ (ini tentunya kalimat analogi yang dilebih-lebihkan, plis deh) rasanya di luar kemampuan saya. Saya lebih rela keluar keringat dingin menyaksikan Sadako keluar dari tivinya –sebuah adegan yang hingga hari ini tidak pernah saya tonton sepenuhnya karena mata saya yang –heran, kenapa sih!– ketutup bantal terus. Kembali ke pembicaraan kekaguman dan belacu tadi…. ah, lupakan saja. Saya sudah kehabisan akal hanya karena pada saat yang sama harus mengingat hal-hal yang harus saya lakukan dalam waktu 2 minggu mendatang: mencari list timecode yang entah masih ada atau tidak untuk capture ulang kaset-kaset buluk itu, mengapture ulang kaset-kaset buluk yang dalam hitungan detik sudah jadi buduk itu, menilik kembali script yang amit-amit kok sudah terasa usang ya, menyelesaikan editan terjemahan yang sudah saya mohon undur deadline sebanyak hmmm berapa kali ya, membuat video dalam enam layar proyektor dengan seorang theatre director yang sibuknya melebihi creative director a mild, memulai sebuah usaha baru dengan duh Bud, mampu gak sih kita?, memperburuk nama saya yang sudah buruk dengan komitmen menjadi seorang wahai art director, menghindari kejaran mengerikan pria yang dulu aneh dan sekarang makin aneh, tampil terbuka (sekali lagi: open-minded) dalam pernikahan sepupu saya dua minggu lagi, dan oh man menjelma menjadi satu-satunya cucu almarhum kakek saya yang belum menikah. Maaf bila list ini semakin terasa tidak jelas, tentunya mencerminkan betapa tidak tersusunnya hidup saya. Oh ya, saya juga masih harus meminta maaf atas kesalahan ketik nama teman saya sesama penjahit belacu yang sekaligus adalah calon produser film masa depan Indonesia itu dalam surat pengantar proposal yang saya tulis kemarin. Sori bo. Sori juga teman-teman, saya jadi curhat. Tapi hei, lihat sisi baiknya, saya jadi semakin tahu yang saya butuhkan. Hanya sayangnya, yang saya butuhkan belum juga membutuhkan saya.

Filed under: Words

3 Comments

  1. vero says:

    Cik, cik, kalimat terakhirmu itu mengharukan bener. Hiks, hiks, saya jadi menangis dan tertawa hehe. Ok deh, doakan cita-cita saya tercapai ya jeng. Dan mari menjahit hati suatu hari (maksudnya??)

  2. Arcaneoni says:

    Maksud bisa beda-beda, tapi hati yang dijahit satu saja ya. Kalau bisa semudah menjahit kain belacu itu.

  3. vitarlenology says:

    cicik oh cicik…

Leave a Reply