arianidarmawan.net

(Bukan) Kaca Film

Published on June 26, 2006

Sudah waktunya kita berpuisi macam buku Gaston Bachelard “Poetics of Space“. Buku yang tak pernah absen dari kantung jaket para arsitek puitis ini membahas segala jenis elemen pembentuk ruang dalam sebuah rumah hingga yang terkecil seperti lemari dan (lebih kecil lagi) pegangan lemari. Keblinger dengan situs sangat sangat spesifik ini? Siap-siap kita jelajahi setiap film bersetting lemari, atau pegangan lemari!

Kaca. Elemen ini seksi sekali. Beberapa kali saya menganalisa apa yang kira-kira bisa membuat elemen ini demikian menakjubkan ketika ditangkap oleh kamera. Melihat beberapa film Wong Kar-Wai (filmmaker Asia rupa-rupanya sangat gemar memakai elemen ini, seperti juga Hou Hsiao-Hsien dalam filmnya Millenium Mambo yang kaca melulu), penggunaan kaca ia pakai tidak hanya untuk memposisikan tokohnya di dalam sebuah ruangan, memberi ruang bagi penonton sebagai pengamat keadaan, tapi ia juga kerap membubuhkan elemen grafis di atas kaca: ini bagi saya adalah cara mantap mendapatkan efek foreground yang dramatis. Dasar mungkin lulusan desain grafis, mata Wong sudah dirusakkan oleh pandangan tipografis. (gb. 1. cuplikan Happy Together dan gb. 2. In the Mood for Love).

Kebanyakan filmmaker bermain dengan efek kaca untuk menunjukkan perasaan terkukungnya sang tokoh yang berada di dalamnya, seperti adegan dalam film La Cienaga karya Lucrecia Martel ini. Kebetulan tokoh yang digambarkan di sini adalah seorang anak kecil yang hidup di tengah kemalangan keluarganya yang amburadul, gambar ini jelas sekali menunjukkan bagaimana ia menggapai kaca untuk bisa berjamah dengan dunia luar, dengan kehangatan. Kaca memang bisa memberikan efek keterasingan yang luar biasa: ketika seseorang berada di baliknya, kaca seolah mustahil dihancurkan.

Lucunya memang dalam film horor, analisa psikologis ini tidak berlaku. Ingat adegan-adegan seperti: seorang perempuan berada di balik kaca rumahnya berteriak histeris ketika melihat sosok berjubah hitam misterius berdiri di seberang kaca sambil membawa pisau rajam? Di sini si perempuan justru tidak merasa aman berada di balik kaca, ia merasa bahwa kaca itu sangat mungkin diterjang oleh sosok misterius tersebut. Transparansi kaca ini juga menambah intensitas ketegangan adegan-adegan semacam ini, mungkin karena penonton dapat melihat dua karakter secara bersamaan dalam dua ruang yang yang sebenarnya terpisah. Mungkin itu pula sebabnya kenapa elemen kaca tidak pernah luput digunakan oleh film-film horor dangkal masa kini.

Namun, hadapi saja, bahwa semua diciptakan untuk suatu hari dihancurkan. Adegan kaca hancur walau begitu sering digunakan tetap memiliki efek dramatis. Yang sering kita saksikan adalah adegan jagoan menerjang jendela demi sebuah penyelamatan yang heroik, atau adegan film action di mana mobil yang kebut-kebutan nyelonong masuk ke restoran atau ruang publik sejenis. Tapi adegan yang gambarnya saya cuplik dari film Amores Perros karya Alejandro González Iñárritu ini adalah salah satu adegan kaca hancur yang paling cool. Protagonis yang juga antagonis menembak musuhnya dari belakang. Ha! Call him a chicken, it’s damn cool.

Filed under: About Cinema, Architecture

6 Comments

  1. ~fitri~ says:

    udah nonton Amores Perros tapi lupa bagian kaca pecahnya :)

    makasih ya sudah mampir ke Negeri Neri. nggak ada yang kenal? hehe, ya kenalan dong. sebagai permulaan, saya dulu deh. salam kenal ya. blognya cool :)

  2. Andrew Tirta says:

    Hey Rani,

    Enjoyed the post :) Then one could exploit new materials in glass, let’s say the ones widely available; tempered, solar cells, sandblast, etc.

  3. ericsasono says:

    sudah baca buku celluloid skyline? buku itu tentang penggambaran arsitektur kota new york dalam film. mungkin buku paling lengkap tentang studi arsitektur dalam film. saya sendiri pengen sekali punya buku ini.

  4. vero says:

    Coba kamu menonton trilogi Trois Couleurs, karya sutradara
    Krzysztof Kieslowski. Setelah kematian suaminya, Julie Vignon [sering] duduk di sebuah kafe, di depan sebuah dinding kaca, melihat keluar, melihat ke cangkir, kemudian melihat dirinya-sendiri.

    Kaca sebagai sebuah arsitektur keheningan (dan kesunyian) digunakan Kieslowski secara efektif dan mencekam. Kamera melihat Julie sebagai seseorang di balik kaca, seseorang yang kesepian dan tak tersentuh. Kaca adalah sesuatu yang bening, terasa dekat, tapi sesungguhnya asing dan keras.

    Dalam banyak film, kaca sering digunakan terutama untuk membuat jarak, untuk melihat orang lain (vouyeris) dan sebuah refleksi: melihat diri sendiri.

    Sama seperti lensa dalam kamera (yang tentu saja bersifat kaca). Kamera, seperti juga kaca, menjadi semacam bentuk vouyeris sekaligus cara melihat diri-sendiri yang begitu asing di dunia. Usaha manusia untuk menggambarkan dirinya yang tidak lengkap.

    ps. Wim Wenders dalam Tokyo Ga juga menarik. Saya selalu suka arsitektur kesunyian yang dibangun oleh film-film Jepang, sejak Ozu. Mungkin dikau bisa menulis tentang penggunaan ruang dalam sinematografi film-film Jepang (termasuk film horor Jepang, tentunya). Good luck. Nice pictures jeng.

  5. Arcaneoni says:

    Mas Eric, denger-denger Celluloid Skyline keren ya, mudah-mudahan bisa dapet suatu saat. Kabar-kabari kalau sampe dapet ya.

    Jeng Ver, iya Kieslowski juga gila kaca ya, denger-denger dia punya toko kaca di Warsawa (boong banget). Ozu is coming, menurutku dia arsitektural banget juga, dan orang pertama yang berani menurunkan kameranya untuk menangkap kebiasaan cara orang Jepang lesehan (*alah lesehan..*) .

  6. Budi says:

    saya suka wong kar wai & tony leung-nya…

    ran, buka comment buat non-blogger dong :)

    http://budisukmana.com

Leave a Reply