arianidarmawan.net

Selamat Tahun Tjoa

February 13, 2013

Seperti apakah peruntungan saya, yang shio ular, di tahun ular? Untuk para tikus, ayam, dan kelinci, jangan takut saya makan, karena sudah lewat lah jaman saya rakus lapar terus. Lagi pula santapan saya sekarang sudah naik tingkat jadi ikan, itu pun telurnya saja (kaviar). Untuk rekan-rekan hewan lain yang ganasnya satu liga, gimana kalau kita saling menyadarkan satu sama lain saja. Boleh lah no mention, tapi tidak saling makan. Untuk kakak seperguruan –Naga (Liong)–, saya masih menyimpan sedikit kekesalan. Setiap Imlek, masih saja figur Anda yang dipasang sebagai dekorasi di  sana sini. Kalau tahunnya tahun naga seperti tahun kemarin, tidak jadi masalah. Tapi tahun ini kan jelas-jelas tahun saya, kenapa masih saja Anda yang eksis?!

1 Comment

Kabar Benda Diam (Mixed Media Installation, 2012)

April 13, 2012

“Kabar Benda Diam”
Ariani Darmawan/Ferdiansyah Thajib
2012, Mixed Media Installation

dalam pameran “Domestic Stuff”
kurator: Mella Jarsma
Galeri Salihara, Jakarta
14 April – 6 Mei 2012
Pembukaan: 14 April 2012, Pk 19:00 WIB

http://galeri.salihara.org


Setiap benda yang tergeletak di sudut rumah menyimpan cerita. Cerita ini beririsan dengan gerak kehidupan manusia di sekitarnya, tumbuh bersama ruang-ruang, menjadi sebuah ingatan. Benda, maupun cerita itu lalu menyusun sejarah sebuah rumah. Kami mencoba untuk menelusuri hubungan antara benda-benda dan ruang-ruang dalam kerja kolaborasi ini, diawali sebuah proses percakapan antar kota yang menekankan pada pengalaman keseharian dan hal-hal sederhana. Namun ketika pertanyaan saling kami lontarkan, segala hal yang tampak sederhana pun berproses menjadi dialog akan ingatan yang berkelok-kelok.

Sebuah obyek menguraikan jalinan peristiwa, hamparan kesan dan hubungan yang mengantarkan kita pada sebuah jagad kecil: rumah. Rumah itu sendiri terbentuk dan dibentuk oleh sistem tatasurya-nya, dirancang secara cermat oleh sosok arsitek sekaligus penjaga tatanan tersebut: Ibu. Subyektivitas dan persepsi kita ditempa pertama-tama melalui pandangan seorang ibu, layaknya sebuah wadah yang mencerap dan kelak berevolusi menjadi jati diri. Kepribadian ini yang kemudian dianggap siap menjadi pandu bagi dunia berikutnya: singkatnya, ini yang disebut regenerasi makna.

Namun kembali ke niatan eksploratif proyek ini, determinasi tersebut bukanlah sasaran utama meskipun dalam prosesnya ia selalu menghantui. Alih-alih, kami kembali memercayakan jawabannya pada tatanan benda-benda rumah tangga dalam peredarannya yang membentuk sejarah keluarga. Di balik jajaran fasad datar kawasan perumahan perkotaan, benda-benda rumah tangga tergeletak dalam diam, menyaksikan simpang-siur ritus perjalanan anak-anak dan sosok ibu yang memastikan kerapian. Di sini babak demi babak drama keluarga terlontar. Secara serentak dan berbarengan, mereka menyusun kenangan, cerita hidup, dan akhirnya apa yang dinamakan kota itu sendiri.

Dalam karya ini, kami merekonstruksi sebuah ruang keluarga melalui penataaan meja makan dan kulkas. Di meja makan, sebuah keluarga berkumpul, mulai dari bertukar cerita sehari-hari hingga merancang hari esok yang lebih baik. Di dalam kulkas, Ibu menyimpan bahan-bahan masak yang ia anggap paling segar dan sehat, dan kita semua menyimpan minimal satu jenis makanan atau minuman favorit kita, terkadang diam-diam.

No Comments

Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik

April 7, 2012

Artikel ini dibuat setelah saya melihat sampul buku-buku sastra klasik Indonesia yang dirancang kembali di dekade 2000-an, yang banyak salah interpretasi dan hanya menonjolkan efek dramatis. Saya pikir, hal ini disebabkan ketidakpedulian para penerbit (dan kita semua) terhadap profesi desainer grafis, yang masih dianggap pekerjaan ecek-ecek: yang penting informatif dan enak dipandang. Padahal, kotak kue yang baik tidak hanya dirancang untuk memuat dan menginformasikan apa yang ada di dalamnya, tapi juga memberi impresi tepat akan cita rasanya. Buku, lain dengan kue, sekali dibaca tidak habis, tapi mengendap dan menciptakan nilai-nilai baru. Karena itu, merancang buku sering dianggap sebagai tugas paling menantang bagi desainer grafis. Tidak seperti kotak kue, buku akan terus ada ketika stoknya habis dijual: disimpan, berpindah kepemilikan, atau diwariskan ke anak cucu.

Fakta pertama, jika kita perhatikan metamorfosis yang terjadi pada rancangan sampul-sampul buku yang diangkat di artikel ini, keempatnya berubah semakin njlimet dan dekoratif. Untuk masalah dekoratif ini mungkin penerbit punya alasan: bagaimana kami bisa bertahan jika tidak mengikuti arus tren sampul? Ya, coba kita tengok buku-buku chicklit, resep, atau pengembangan diri: semua sampulnya beradu ramai satu sama lain hingga tidak satu pun yang justru tampak menonjol. Sebenarnya, tidak ada alasan kenapa desain sampul buku sastra klasik harus turut tenggelam dalam gempuran buku popular lainnya. Fakta kedua, hampir semua sampul rancangan ulang justru mengurangi daya imaji dan greget buku. Ini yang saya sebut hilangnya impresi. Layaknya aura, impresi harus mampu membuat penasaran dan melayangkan imajinasi calon pembaca, menutupi sekaligus membocorkan konten buku.

  

Melihat sampul lama Olenka (Balai Pustaka, 1983), kita dibuat berkerut melihat dua wajah perempuan yang sama persis diletakkan berhadapan. Siapa perempuan cantik itu? Kenapa ada dua? Dan semakin diamati, semakin misteriuslah gambar itu karena menghasilkan sosok hitam di antaranya. Seperti itulah konten Olenka, sebuah perjalanan seorang pria yang jatuh cinta pada perempuan yang ia amati dari kejauhan. Siapa Olenka sebenarnya, tidak ada yang tahu, bahkan mungkin si penulis pun. Tema ‘kemisteriusan’ rupanya juga ingin diangkat oleh desainer baru Olenka (Balai Pustaka, 2009). Namun secara teknis sampul tersebut tampak terlalu njlimet karena berusaha menggabungkan banyak elemen, termasuk empat jenis font yang sungguh berlebihan. Secara konsep pun patut dipertanyakan: kenapa harus menggunakan jenis font gothic, di saat tidak ada satu pun elemen cerita yang berhubungan dengan jaman gothic? Kemisteriusan pun meluap bersama kebingungan kita dalam mempertanyakan ketidaknyambungan elemen-elemennya.

  

Hal serupa terjadi pada sampul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Melihat rancangan barunya (Pustaka Dini Malaysia, 2002), calon pembaca yang disuguhkan ilustrasi kapal terombang-ambing berpikir bahwa cerita ini berlatar sebuah kapal, layaknya Titanic. Belum lagi penulisan judul yang dibuat dengan efek tiga dimensi, dan KAPAL dituliskan dengan huruf kapital. Faktanya, Kapal Van Der Wijck hanya muncul sekali, itu pun di penghujung cerita. Berbeda jika kita melihat desain sampul terdahulu (Penerbit Bulan Bintang, 1976), imajinasi kita dibawa pada sesuatu yang ‘tidak ada’, membingungkan, sekaligus mengerikan: seakan keberadaan manusia dan benda-benda dihilangkan seketika oleh semesta. Kesan ini sesuai dengan cerita di dalamnya, yaitu kisah kasih tak sampai karena permasalahan keluarga dan perbedaan adat, yang akhirnya pupus setelah lama terombang-ambing. Desainer versi awal berhasil menangkap semua itu hanya dengan gambar riak laut berwarna gelap dan permainan tipografi sederhana pada judul (huruf ‘mn’ yang ‘tenggelam’).

  

Mereka yang pernah membaca kumpulan Seribu Kunang-kunang di Manhattan pasti terngiang-ngiang dengan spontanitas dan kesantaian Umar Kayam bercerita. Membacanya seperti mendengarkan seorang paman paruh baya yang sedang duduk di hadapan kita, bertutur sambil sesekali melamun. Mungkin karena itu, saya menganggap sampul awal Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Jaya, 1972) sangat sesuai dengan isi buku. Melihat sketsa pena satu warna (digambar oleh seniman Zaini), saya bisa membayangkan Umar Kayam sendiri yang menggambarnya ketika duduk termenung di Central Park menghadap bangunan-bangunan tinggi Manhattan. Sederhana, namun mampu membuat kita membayangkan suasana hatinya yang gundah ingin terus bercerita. Seperti buku-buku terbitan Pustaka Jaya pada era yang sama, penggunaan tipografi terasa pas, tidak neko-neko dan informatif. Lalu kita lihat rancangan ulang sampul buku tersebut (Grafiti Press, 2003). Walaupun secara komposisi tidak se-njlimet sampul-sampul rancangan baru yang sudah kita bahas, tapi agak sulit melihat keterhubungan ilustrasi sampul tersebut dengan nuansa cerita di dalamnya. Belum lagi jenis font yang dipilih sebagai judul, rasanya tidak tepat menggambarkan cerita Umar Kayam yang tegas dan spontan. Sampul baru ini tampak feminin, dan romantik. Mungkin karena itu, ketika ilustrasi serupa (digambar oleh seniman Rusli) digunakan pada sampul Pada Sebuah Kapal (Pustaka Jaya, 1973) karya NH Dini, takarannya menjadi pas.

  

Setelah mengamati sekian banyak sampul buku sastra klasik Indonesia dari dekade ke dekade, sampul Belenggu terbitan awal (Pustaka Rakjat, 1964) tampak menonjol karena menjadi satu-satunya rancangan yang menggunakan tipografi sebagai elemen informatif sekaligus ilustrasi, sesuatu yang sangat jarang dilakukan perancang sampul buku di Indonesia, bahkan hingga saat ini. Gambar tangan yang keluar dari huruf ‘B’ mengingatkan kita pada belenggu borgol, membuat pembaca dapat membayangkan bagaimana kisah cinta manusia yang seharusnya membebaskan justru mengekang dan berakhir tragis. Ketika sampul buku tersebut dirancang ulang (Dian Rakyat, 1976, 1999), dimunculkanlah sosok perempuan berkonde yang dengan pandangan mata dan gerakan tangannya, seolah adalah korban. Ini membingungkan, karena saya merasa bahwa ketiga karakter utama (dr. Tono, Tini, dan Yah), sama-sama terbelenggu oleh hasrat masing-masing, bukan salah satu tokoh perempuan saja. Huruf ‘B’ digambarkan berbentuk borgol, seakan ilustrasi perempuan tersebut kurang tampak nelangsa. Jangan-jangan, di rancangan ulang sampul berikutnya, tangan perempuan itu akan diborgol pula. Tidak semestinya interpretasi menjadi begitu harafiah.

Ketidaktepatan penggunaan elemen desain dan interpretasi dalam contoh-contoh di atas sebenarnya adalah kesalahan mendasar yang bisa dihindari apabila penerbit mau meluangkan waktu (dan uang) untuk mengajak desainer grafis yang kompeten bekerja sama. Tidak perlu lagi para editor atau pekerja admin adu jagoan multi-tasking di kantor. Ada baiknya kita belajar dari Penguin Classics sebagai penerbit buku yang terus mengusahakan cetak ulang buku sastra klasiknya dengan desain segar, tanpa meninggalkan esensi klasik. Mereka mengundang seniman, bahkan komikus muda untuk menggarap sampul sastra klasik seperti Dharma Bums karya Jack Kerouac (digambar oleh kartunis Norwegia, Jason) dan Candide karya Voltaire (digambar oleh Chris Ware). Hal serupa pernah dilakukan penerbit-penerbit Yogyakarta, salah satunya adalah Bentang, yang mengundang para seniman untuk menggarap sampul buku mereka, seperti Ong Harry Wahyu, R. E. Hartanto, Agung Kurniawan. Kolaborasi semacam ini juga sebenarnya dilakukan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya di era 1950-1970-an.

Tugas desainer grafis menyangkut begitu banyak bidang kehidupan: mulai dari seni, ekonomi, sosial, dan politik. Bahkan sastra klasik bersinggungan langsung dengan pendidikan. Bukankah karya sastra klasik Indonesia, telah berjasa menggambarkan perkembangan budaya dan perjuangan negeri ini? Maka dalam merancang sampulnya, sudah sepatutnyalah kita merias wajah terbaik yang bisa ditampilkan. [  ]

Tulisan ini dimuat di Majalah Bung! #2, edisi Desember 2011

No Comments

Teror Hari Ini
(VideoBabes, 2011)

December 15, 2011


Jakarta Biennale 2011
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur 14
Jakarta

Pembukaan:
Kamis, 15 Desember 2011
19:00 WIB

Teror Hari Ini (Instalasi Video, 2011)

Ketika darah dan pemerkosaan kini jadi tontonan sehari-hari dan tidak ada batas jelas antara tragedi dan komedi, bagaimana pula kita mendefinisikan kekerasan hari ini? Teror yang dulu direpresentasikan dengan tembakan, histeria, kini memasuki hidup dan tubuh kita dalam fantasi yang terjadi begitu cepat. Perang senjata telah berubah menjadi perang ekonomi, kekerasan fisik telah tergantikan oleh permainan akan hasrat.

Bagi kami, kekerasan terjadi ketika manusia tidak lagi bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan dasarnya dengan hasrat yang ditanamkan secara eksternal. Apa yang bisa kita makan dengan ekspres menjadi lebih penting ketimbang alasan kita makan. Status di media sosial yang berubah setiap detiknya lebih utama ketimbang obrolan sehari-hari. Kerja efektif, hidup yang efisien dengan kecepatannya yang maksimal perlahan menggerogoti ruang privasi manusia. Itulah teror.

Dalam karya ini, kami menghadirkan sebuah ruangan dengan proyeksi video berupa foto-foto keseharian yang disajikan dengan sangat cepat, dan suara ambience yang bertumpuk-tumpuk. Bila saja video itu kita pelankan, kita bisa melihat anjing peliharaan kita sedang meloncat, cuplikan adegan ciuman dalam film favorit kita, foto keluarga, suara rem mobil, kentang digoreng, telepon genggam bergetar. Hanya saja jika kita bisa membuat hidup berjalan lebih perlahan.

No Comments

Stek & Salat

September 30, 2011

Saksikan Stek & Salat di:
JAFF (Jogja-Netpac Asian Film Festival)
15 Desember 2011, 19:30
Klik di sini untuk jadwal/pemesanan tiket
OK. Video (5th Jakarta International Video Festival)
6-17 Oktober 2011
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur 14

Sinopsis
Sepasang kekasih memesan makanan di sebuah restoran. Seorang waiter melayani mereka. Apa yang tampak tidak pernah seliar imajinasi mereka atas satu sama lain –termasuk seekor kucing, yang sedang menanti sisa makanan.

Pemeran: Maradilla Syachridar, Diandra Galih, Dolly Isnawan
Kamera: Rio Ardani
Artistik: Meicy Sitorus

No Comments

Banyak Kabut di Atas Sana, Bikin & Nonton Film Cara Kita

March 3, 2011

oleh: Ariani Darmawan

Saya berani traktir masakan termahal di kota ini untuk mereka yang berani mengatakan bahwa ‘membuat film itu mudah’. Tentunya traktiran itu menuntut bincang-bincang santai, karena saya ingin mendengar argumen maupun teori siapa-pun-dia. Bagi saya, membuat film itu sangat rumit (maka tulisan ini terpaksa panjang lebar).

Menjelang akhir 2008, Harlan ‘Bin’ Boer dan Cholil Mahmud dari grup musik Efek Rumah Kaca (ERK) datang ke Rumah Buku/Kineruku (tempat saya bekerja) dan mengutarakan keinginan untuk berkolaborasi membuat sebuah film panjang. Setelah menggodok ide, kami memutuskan untuk menuliskan sebuah skenario film panjang yang terinspirasi musik-musik ERK. Diajaklah teman seperguruan, Tumpal Tampubolon, dan Budi Warsito (rekan kerja di Kineruku). Sebelumnya saya, Budi, dan Tumpal telah menghasilkan film pendek berjudul The Anniversaries yang diproduksi oleh JiFFest dan Salto Films.

Dengan dasar saling menyukai dan menghargai karya satu sama lain, (more…)

1 Comment

Tekad Bulat
Kacamata Bulat

February 16, 2011

Ini beberapa alasan kenapa kita memilih kacamata berbentuk bulat:
1. Tidak suka kacamata oval atau kotak.
2. Memperluas sudut penglihatan atas bawah.
3. Kelihatan lebih berisi (untuk yang bermuka tirus).
4. Kelihatan percaya diri sekaligus lucu-haha (untuk yang bermuka bulat).
5. Ingin sabar seperti Gandhi.
6. Ingin keren seperti John Lennon.
7. Ingin pintar seperti Sartre.
8. Ingin bikin gedung seperti Le Corbusier.
9. Dibilang bagus sama yang jual, atau sama pacar.

Saya mulai penasaran dengan kacamata bulat sejak mulai berjualan bingkai kacamata 2nd hand. Permintaan selalu tinggi, barang belum tentu ada. Pelanggan berumur biasanya menggunakan istilah ‘John Lennon’, dan ‘Harry Potter’ untuk yang agak mudaan. Beberapa lainnya (saya asumsikan mereka desainer atau arsitek), menyebutnya ‘tipe-tipe desainer gitu lah’. Saya juga pernah kedatangan dua seniman (dua-duanya dari luar negeri), dan menanyakan ‘round glasses frame‘. Kacamata bulat bisa jadi pertama kali ditenarkan oleh Gandhi, namun belum pernah ada yang bertanya dengan istilah ‘Gandhi’, atau ‘tipe filsuf’. Alasannya mungkin karena tidak banyak panutan pemikir di Indonesia yang mengenakan kacamata bulat, atau profesi pemikir kurang tenar dan seksi. Atau jangan-jangan tidak ada pemikir di Indonesia.

(more…)

5 Comments

Foto lucu yang mengembalikan gairah :)

January 18, 2011

donkey

No Comments

Berlinale 2010: Membaca Kota Lewat Festival

April 21, 2010

Tanggal 11-21 Februari 2010 yang lalu, berkenaan dengan diadakannya Berlin International Film Festival (Internationale Filmfestpiele Berlin –atau sering disingkat: Berlinale) di Jerman, saya diundang oleh Goethe Institut/Federasi Jerman bersama 25 teman dari 23 negara di seluruh dunia. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru, dan berguna.

Saya salut pada program yang dibuat oleh Simon Haag dari Goethe Institut Jerman. Sebelum berangkat, saya cukup kaget melihat daftar program yang padat, ah kapan pula saya bisa menyempatkan diri menonton film. Bukankah Berlinale identik dengan menonton film? Tapi ternyata semua program yang dibuat tersebut optional, alias, boleh diikuti, juga dibolosi. Hanya ada satu hari ‘wajib’ di mana kita bertemu dengan orang-orang penting, yaitu para programmer utama Berlinale (yang akan saya bahas lebih lanjut), dan orang penting film dalam pemerintahan Jerman (mungkin ekuivalen dengan Dirjen Budpar di sini). Hari-hari sisanya, kami dibiarkan bebas berkelana, boleh menonton, boleh jalan-jalan, tidur berlama-lama di kamar hotel pun silakan (biasanya berakhir dengan penyesalan).

(more…)

No Comments

Karena keren, bergentayangan di mana-mana.

January 29, 2010

11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang juga terkenal 3B itu. Setelah beberapa bulan kemudian teman saya beres kuliah dan kembali ke kampung asalnya, barulah saya mulai cari tahu apa menariknya tempat buduk-buruk-busuk itu. Entah kenapa (saya mungkin tahu kenapa) tempat busuk itu semakin dimengerti semakin menarik hati.

Di sepanjang jalan saya bisa menemukan toko-toko rongsok yang menjual barang-barang rongsok dengan harga rongsokan. Memang ada beberapa toko yang kelihatannya pernah rongsok tapi kemudian berdandan dan tiba-tiba sudah berwallpaper bunga-bunga. Masih di sekitar situ, saya beli beberapa jeans Levi’s bekas yang harganya cukup bekas, pas untuk kocek rajin menabung. Dan masih juga di sekitar situ, saya menemukan sebuah toko buku bekas bernama Myopic Bookstore, salah satu inspirasi saya untuk mendirikan Rumah Buku/Kineruku sekarang ini. Pemilik Myopic, bernama Joe, kadang ramah kadang gahar, dan di sampingnya, seekor kucing selalu menjaganya. Toko buku itu membuat saya merasa senang dan nyaman, dan tentunya, merasa keren.

(more…)

5 Comments

Pohon Keluarga menurut Christopher dan Diandra

January 20, 2010

Rani

(more…)

1 Comment

Sinema adalah Perubahan!

November 24, 2009

Tenang, tenang. Ini bukan tulisan propaganda, dan saya bukan aktivis LSM. Saya hanya ingin menuliskan fakta-fakta hitam di atas putih (bahasa filmnya: BW/Color di atas layar 16:9) tentang sinema.

Sudah menjadi hakikatnya, bahwa:
x Sinema adalah perubahan, karena ia adalah gambar yang berganti 24 kali setiap detiknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita menyusupi ruang-ruang tiga dimensional. Dari pagar rumah hingga ruang keluarga, dari tanah Sumatera hingga langit negeri Belanda.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mendekatkan kita pada realita, walau kadang menjauhkan. Yang benar mungkin salah, dan keduanya adalah relatif.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengubah masa lalu jadi kini atau nanti. Menggulung flashback ribuan tahun dalam malam yang sama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia menciutkan hari jadi menit, menerbangkan puluhan tahun dalam 2×60. Dan ingat slow motion? 5 detik pun terasa terlalu lama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita mengitari sudut kamar, mendongak mencari suara burung di atas pohon, atau menatap kosong kesepian.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mengubah gelap jadi terang, warna jadi abu, yang ragu semakin percaya, juga semua sebaliknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia berubah bentuk setiap saat. Detak jam bisa berarti jantung yang berdegup. Muka manusia jadi kedok serigala.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengusir rasa sedih dan sombong. Kita berempati, berdecak kagum, marah: mencoba mengerti mereka yang bukan kita.
Dan terutama,
x Sinema adalah perubahan, karena ia senantiasa mendambakan perubahan: Sebuah dunia yang menjadi lebih baik.

1 Comment