arianidarmawan.net

Teror Hari Ini
(VideoBabes, 2011)

December 15, 2011


Jakarta Biennale 2011
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur 14
Jakarta

Pembukaan:
Kamis, 15 Desember 2011
19:00 WIB

Teror Hari Ini (Instalasi Video, 2011)

Ketika darah dan pemerkosaan kini jadi tontonan sehari-hari dan tidak ada batas jelas antara tragedi dan komedi, bagaimana pula kita mendefinisikan kekerasan hari ini? Teror yang dulu direpresentasikan dengan tembakan, histeria, kini memasuki hidup dan tubuh kita dalam fantasi yang terjadi begitu cepat. Perang senjata telah berubah menjadi perang ekonomi, kekerasan fisik telah tergantikan oleh permainan akan hasrat.

Bagi kami, kekerasan terjadi ketika manusia tidak lagi bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan dasarnya dengan hasrat yang ditanamkan secara eksternal. Apa yang bisa kita makan dengan ekspres menjadi lebih penting ketimbang alasan kita makan. Status di media sosial yang berubah setiap detiknya lebih utama ketimbang obrolan sehari-hari. Kerja efektif, hidup yang efisien dengan kecepatannya yang maksimal perlahan menggerogoti ruang privasi manusia. Itulah teror.

Dalam karya ini, kami menghadirkan sebuah ruangan dengan proyeksi video berupa foto-foto keseharian yang disajikan dengan sangat cepat, dan suara ambience yang bertumpuk-tumpuk. Bila saja video itu kita pelankan, kita bisa melihat anjing peliharaan kita sedang meloncat, cuplikan adegan ciuman dalam film favorit kita, foto keluarga, suara rem mobil, kentang digoreng, telepon genggam bergetar. Hanya saja jika kita bisa membuat hidup berjalan lebih perlahan.

No Comments

Stek & Salat

September 30, 2011

Saksikan Stek & Salat di:
JAFF (Jogja-Netpac Asian Film Festival)
15 Desember 2011, 19:30
Klik di sini untuk jadwal/pemesanan tiket
OK. Video (5th Jakarta International Video Festival)
6-17 Oktober 2011
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur 14

Sinopsis
Sepasang kekasih memesan makanan di sebuah restoran. Seorang waiter melayani mereka. Apa yang tampak tidak pernah seliar imajinasi mereka atas satu sama lain –termasuk seekor kucing, yang sedang menanti sisa makanan.

Pemeran: Maradilla Syachridar, Diandra Galih, Dolly Isnawan
Kamera: Rio Ardani
Artistik: Meicy Sitorus

No Comments

Banyak Kabut di Atas Sana, Bikin & Nonton Film Cara Kita

March 3, 2011

oleh: Ariani Darmawan

Saya berani traktir masakan termahal di kota ini untuk mereka yang berani mengatakan bahwa ‘membuat film itu mudah’. Tentunya traktiran itu menuntut bincang-bincang santai, karena saya ingin mendengar argumen maupun teori siapa-pun-dia. Bagi saya, membuat film itu sangat rumit (maka tulisan ini terpaksa panjang lebar).

Menjelang akhir 2008, Harlan ‘Bin’ Boer dan Cholil Mahmud dari grup musik Efek Rumah Kaca (ERK) datang ke Rumah Buku/Kineruku (tempat saya bekerja) dan mengutarakan keinginan untuk berkolaborasi membuat sebuah film panjang. Setelah menggodok ide, kami memutuskan untuk menuliskan sebuah skenario film panjang yang terinspirasi musik-musik ERK. Diajaklah teman seperguruan, Tumpal Tampubolon, dan Budi Warsito (rekan kerja di Kineruku). Sebelumnya saya, Budi, dan Tumpal telah menghasilkan film pendek berjudul The Anniversaries yang diproduksi oleh JiFFest dan Salto Films.

Dengan dasar saling menyukai dan menghargai karya satu sama lain, (more…)

1 Comment

Tekad Bulat
Kacamata Bulat

February 16, 2011

Ini beberapa alasan kenapa kita memilih kacamata berbentuk bulat:
1. Tidak suka kacamata oval atau kotak.
2. Memperluas sudut penglihatan atas bawah.
3. Kelihatan lebih berisi (untuk yang bermuka tirus).
4. Kelihatan percaya diri sekaligus lucu-haha (untuk yang bermuka bulat).
5. Ingin sabar seperti Gandhi.
6. Ingin keren seperti John Lennon.
7. Ingin pintar seperti Sartre.
8. Ingin bikin gedung seperti Le Corbusier.
9. Dibilang bagus sama yang jual, atau sama pacar.

(more…)

3 Comments

Foto lucu yang mengembalikan gairah :)

January 18, 2011

donkey

No Comments

Berlinale 2010: Membaca Kota Lewat Festival

April 21, 2010

Tanggal 11-21 Februari 2010 yang lalu, berkenaan dengan diadakannya Berlin International Film Festival (Internationale Filmfestpiele Berlin –atau sering disingkat: Berlinale) di Jerman, saya diundang oleh Goethe Institut/Federasi Jerman bersama 25 teman dari 23 negara di seluruh dunia. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru, dan berguna.

Saya salut pada program yang dibuat oleh Simon Haag dari Goethe Institut Jerman. Sebelum berangkat, saya cukup kaget melihat daftar program yang padat, ah kapan pula saya bisa menyempatkan diri menonton film. Bukankah Berlinale identik dengan menonton film? Tapi ternyata semua program yang dibuat tersebut optional, alias, boleh diikuti, juga dibolosi. Hanya ada satu hari ‘wajib’ di mana kita bertemu dengan orang-orang penting, yaitu para programmer utama Berlinale (yang akan saya bahas lebih lanjut), dan orang penting film dalam pemerintahan Jerman (mungkin ekuivalen dengan Dirjen Budpar di sini). Hari-hari sisanya, kami dibiarkan bebas berkelana, boleh menonton, boleh jalan-jalan, tidur berlama-lama di kamar hotel pun silakan (biasanya berakhir dengan penyesalan).

(more…)

No Comments

Karena keren, bergentayangan di mana-mana.

January 29, 2010

11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang juga terkenal 3B itu. Setelah beberapa bulan kemudian teman saya beres kuliah dan kembali ke kampung asalnya, barulah saya mulai cari tahu apa menariknya tempat buduk-buruk-busuk itu. Entah kenapa (saya mungkin tahu kenapa) tempat busuk itu semakin dimengerti semakin menarik hati.

Di sepanjang jalan saya bisa menemukan toko-toko rongsok yang menjual barang-barang rongsok dengan harga rongsokan. Memang ada beberapa toko yang kelihatannya pernah rongsok tapi kemudian berdandan dan tiba-tiba sudah berwallpaper bunga-bunga. Masih di sekitar situ, saya beli beberapa jeans Levi’s bekas yang harganya cukup bekas, pas untuk kocek rajin menabung. Dan masih juga di sekitar situ, saya menemukan sebuah toko buku bekas bernama Myopic Bookstore, salah satu inspirasi saya untuk mendirikan Rumah Buku/Kineruku sekarang ini. Pemilik Myopic, bernama Joe, kadang ramah kadang gahar, dan di sampingnya, seekor kucing selalu menjaganya. Toko buku itu membuat saya merasa senang dan nyaman, dan tentunya, merasa keren.

(more…)

5 Comments

Pohon Keluarga menurut Christopher dan Diandra

January 20, 2010

Rani

(more…)

1 Comment

Sinema adalah Perubahan!

November 24, 2009

Tenang, tenang. Ini bukan tulisan propaganda, dan saya bukan aktivis LSM. Saya hanya ingin menuliskan fakta-fakta hitam di atas putih (bahasa filmnya: BW/Color di atas layar 16:9) tentang sinema.

Sudah menjadi hakikatnya, bahwa:
x Sinema adalah perubahan, karena ia adalah gambar yang berganti 24 kali setiap detiknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita menyusupi ruang-ruang tiga dimensional. Dari pagar rumah hingga ruang keluarga, dari tanah Sumatera hingga langit negeri Belanda.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mendekatkan kita pada realita, walau kadang menjauhkan. Yang benar mungkin salah, dan keduanya adalah relatif.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengubah masa lalu jadi kini atau nanti. Menggulung flashback ribuan tahun dalam malam yang sama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia menciutkan hari jadi menit, menerbangkan puluhan tahun dalam 2×60. Dan ingat slow motion? 5 detik pun terasa terlalu lama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita mengitari sudut kamar, mendongak mencari suara burung di atas pohon, atau menatap kosong kesepian.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mengubah gelap jadi terang, warna jadi abu, yang ragu semakin percaya, juga semua sebaliknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia berubah bentuk setiap saat. Detak jam bisa berarti jantung yang berdegup. Muka manusia jadi kedok serigala.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengusir rasa sedih dan sombong. Kita berempati, berdecak kagum, marah: mencoba mengerti mereka yang bukan kita.
Dan terutama,
x Sinema adalah perubahan, karena ia senantiasa mendambakan perubahan: Sebuah dunia yang menjadi lebih baik.

No Comments

Roti Persahabatan Amish

November 6, 2009

Setiap hari memang ada saja kejadian-kejadian spesial menimpa saya. Malang atau beruntung tergantung bagaimana saya memandangnya. Jadi gak jauh-jauh harus dapat undian mobil Jaguar, setiap hari saya merasa menjadi the chosen one. Misalnya, terpilih bangun jam 8 pagi dan minum kopi yang terlalu manis (ini sangat menyebalkan karena tidak bisa di-undo). Atau pagi-pagi bangun dan mendapati koneksi internet di rumah tiba-tiba jadi 512 kbps.

Tapi hari ini, keterpilihan saya sedikit lebih membanggakan dan harum. Baru saja tadi, saya dipercayakan oleh kakak saya dua buah ragi anakan yang konon sudah beredar sejak ratusan tahun lalu dari sebuah grup cult “Roti Persahabatan Amish”. Jadi ceritanya, sejak kira-kira abad 18, imigran Amish di AS terkenal dalam membuat starter ragi sebagai bahan roti-roti dan biskuit favorit keluarga. Dan mungkin karena jumlah penduduknya yang sedikit, pengembangbiakan ragi ini menjadi salah satu cara melekatkan rasa persaudaraan. Atau mungkin juga, ketika pengembangbiakan penduduk minoritas ini terasa memakan waktu terlalu lama, beralihlah mereka ke pengembangbiakan ragi yang hanya sepuluh hari.

(more…)

1 Comment

Things I Learned After It Was Too Late, says Charles M. Schulz.

October 1, 2009

(more…)

2 Comments

Room XX : Miquel Barcelo

August 21, 2009

Dua tahun lalu, ketika Miquel Barcelo pertama kali diminta membuat karya seni di Balai Kemanusiaan dan Peradaban PBB, ia mungkin berteriak dalam hati, “Yayy, I could finally beat that Michelangelo sonuvabitch”. Atau mungkin, “Damn, another commissioned crap!”. Tapi yang pasti, di tengah 25 bulan proses pembuatan karya berupa ‘patung stalaktit’ di langit-langit ruangan seluas 929 meter persegi ini, Barcelo disadarkan kembali bahwa seni tidak (bisa) sekadar punya fungsi. Ia selalu berhubungan dengan moral. Hanya saja, moral macam apa.

(more…)

No Comments