Berlinale 2010: Membaca Kota Lewat Festival

Posted: April 21st, 2010 | Filed under: About Cinema, Articles | No Comments »

Tanggal 11-21 Februari 2010 yang lalu, berkenaan dengan diadakannya Berlin International Film Festival (Internationale Filmfestpiele Berlin –atau sering disingkat: Berlinale) di Jerman, saya diundang oleh Goethe Institut/Federasi Jerman bersama 25 teman dari 23 negara di seluruh dunia. Benar-benar sebuah pengalaman yang seru, dan berguna.

Saya salut pada program yang dibuat oleh Simon Haag dari Goethe Institut Jerman. Sebelum berangkat, saya cukup kaget melihat daftar program yang padat, ah kapan pula saya bisa menyempatkan diri menonton film. Bukankah Berlinale identik dengan menonton film? Tapi ternyata semua program yang dibuat tersebut optional, alias, boleh diikuti, juga dibolosi. Hanya ada satu hari ‘wajib’ di mana kita bertemu dengan orang-orang penting, yaitu para programmer utama Berlinale (yang akan saya bahas lebih lanjut), dan orang penting film dalam pemerintahan Jerman (mungkin ekuivalen dengan Dirjen Budpar di sini). Hari-hari sisanya, kami dibiarkan bebas berkelana, boleh menonton, boleh jalan-jalan, tidur berlama-lama di kamar hotel pun silakan (biasanya berakhir dengan penyesalan).

Saya, memilih untuk sebisa mungkin terus mengikuti program Goethe. Berkali-kali mereka mengatakan, betapa beruntungnya kita. Bahwa tidak semua orang bisa mengikuti program ini, mendatangi tempat-tempat dan bertemu orang-orang penting (yang mayoritas tentunya berhubungan dengan perfilman Jerman).

Halo, nama saya..
Saya terbang dari Jakarta bersama Alex Sihar dari Konfiden (yang sama-sama baru sekali mengunjungi Berlin). Layaknya baru brojol, kami mendarat dengan mata agak ‘berkabut’. Selain udara dingin yang lumayan bikin kaget, badan saya juga masih penat oleh duduk-terus-sungkan-berdiri-karena-dapet-window-seat. Layaknya hari pertama bertemu teman-teman baru, kami habiskan dengan percakapan basa-basi perkenalan, bertukar-tukar kartu nama. Teman-teman baru saya ini berasal dari: Korea Selatan, India, Pakistan, Mongolia, Mesir, Sudan, Togo, Afrika Selatan, Pantai Gading, Algeria, Tunisia, Beirut, Iran, Yordania, Estonia, Belarus, Rusia, Bolivia, Peru, Chile. Dengan begitu beragamnya teman-teman baru yang pastinya pintar-pintar ini, saya hanya berpikir “Aha, inilah kesempatan mengelilingi dunia dalam 11 hari!”

Di hari pertama orientasi, kami diberi penjelasan detail akan keseluruhan program, mulai isi program hingga penjelasan tentang sistem ticketing Berlinale. Kami semua diberi akreditasi khusus hingga berhak untuk menonton semua film di Berlinale dengan gratis (kecuali film undangan khusus), namun kami tetap harus memesan tiket terlebih dahulu, di mana minimal pengantrian adalah satu hari in advance (contoh: untuk film-film hari Selasa, kami bisa mengantri di hari Senin).

Di hari yang sama kami juga memperkenalkan diri masing-masing secara profesional; rata-rata para undangan berprofesi sebagai pembuat film, programmer film festival, pemilik ruang eksibisi film (bioskop, ruang seni/budaya), akademisi film, dan jurnalis film. Dua orang teman yang perlente dan anggun, (tentunya) adalah aktor film. Selain para tamu, ada 4 orang escort yang luar biasa sigap, ramah, dan seru: Martin dan Anna yang asli Jerman, Nicolas yang keturunan Argentina, dan Natalija asal Ukraine. Kesemuanya lancar berbahasa Inggris dan Jerman, bahkan masing-masing bisa berbicara dalam 2-3 bahasa lainnya. Sayangnya orang seperti saya, hanya bisa menggunakan satu fitur bahasa selain bahasa Ibu.

Potsdamer Platz
Petualangan kami dimulai dengan mendatangi pusat Berlinale yaitu Potsdamer Platz. Sulit dibayangkan bahwa area yang sekarang penuh sesak (terutama ketika Berlinale berlangsung), 20 tahun lalu masih kosong melompong. Potsdamer Platz sendiri berada di jalur utama Tembok Berlin pernah berdiri, di mana diameter 100 meter di sekitarnya diharuskan kosong. Dan ketika akhirnya pada 1989 Tembok Berlin diruntuhkan, pemerintah segera merencanakan pembangunan area terpadu, mengingat bahwa sebelum didirikannya tembok yang memisahkan Jerman Barat dan Timur setelah Perang Dunia II tersebut, Potsdamer Platz pernah menjadi pusat kegiatan kota Berlin.

1352195,7G+HRLovbIbXr6JOAjyBvAraqBuhsoPpqGpOiEFbvLotcAt+Fsvlg6ONLfyZMTzjSXWrTFvr7eQHr2OVvq3ulg==

Melihat kembali adegan-adegan dalam film Wings of Desire (Wim Wenders, 1987) di mana Tembok Berlin masih berdiri tepat di atas Potsdamer Platz yang wajahnya lebih mirip Tempat Pembuangan Sementara (ketika sampahnya baru saja diangkut), saya hanya bisa terkagum-kagum. Area Potsdamer Platz kini terbangun layaknya downtown sebuah kota baru: denyut nadi utamanya adalah Berlinaleplatz (gedung pertunjukan yang disulap jadi bioskop utama ketika Berlinale berlangsung) dan stasiun utama (Postadamer Bahnhof) yang menghubungkan seluruh Berlin lewat jalur U dan S-nya. Di sekitarnya ada 3 buah bioskop lainnya (Cinemaxx, Cinestar, dan Kino Arsenal), gedung modern berlabel Sony Centre tempat salah satu sekolah film terbaik di Jerman berada, juga Deutsche Kinematek, sebuah museum film yang mengarsip perfilman Jerman dengan sangat komprehensif. Area ini dikeliling hotel, tempat perbelanjaan, dan restoran juga coffeeshop tempat orang rehat dan menghabiskan makan siangnya.

Sepuluh menit berjalan kaki dari Berlinaleplatz, kita sampai di area yang dinamakan Kulturforum Berlin. Tiga bangunan terpenting di area tersebut adalah Chamber Music Hall atau markas besar Berlin Philaharmonic Orchestra, yang konon adalah philaharmonic terbesar di dunia (ya, Vienna pun mengatakan hal yang sama untuk philaharmonic-nya). Di seberangnya, Neue Staatsbibliothek, perpustakaan kota berarsitektur a la sosialis namun berinterior super canggih. Dan di seberang perpustakaan tersebut, Neue Nationalgalerie, arsitektur mahakarya Mies Van der Rohe yang ia rancang di tahun 1966 setelah sempat hengkang ke Amerika di tahun 1933 karena tekanan Nazi. Read the rest of this entry »


Karena keren, bergentayangan di mana-mana.

Posted: January 29th, 2010 | Filed under: Articles, Words | 5 Comments »

11 tahun yang lalu, saya pertama kali mendatangi Wicker Park, sebuah area di Barat Chicago, dengan sebuah gambaran: buduk, buruk, busuk. Tapi semua orang merekomendasikan saya untuk mengunjunginya, sebab ‘tempat itu asyik’. Karena ada seorang teman yang buduk-buruk-busuk tinggal di sana, saya jadi punya alasan untuk sekali dua kali seminggu bolak-balik mengunjunginya naik bus, yang juga terkenal 3B itu. Setelah beberapa bulan kemudian teman saya beres kuliah dan kembali ke kampung asalnya, barulah saya mulai cari tahu apa menariknya tempat buduk-buruk-busuk itu. Entah kenapa (saya mungkin tahu kenapa) tempat busuk itu semakin dimengerti semakin menarik hati.

Di sepanjang jalan saya bisa menemukan toko-toko rongsok yang menjual barang-barang rongsok dengan harga rongsokan. Memang ada beberapa toko yang kelihatannya pernah rongsok tapi kemudian berdandan dan tiba-tiba sudah berwallpaper bunga-bunga. Masih di sekitar situ, saya beli beberapa jeans Levi’s bekas yang harganya cukup bekas, pas untuk kocek rajin menabung. Dan masih juga di sekitar situ, saya menemukan sebuah toko buku bekas bernama Myopic Bookstore, salah satu inspirasi saya untuk mendirikan Rumah Buku/Kineruku sekarang ini. Pemilik Myopic, bernama Joe, kadang ramah kadang gahar, dan di sampingnya, seekor kucing selalu menjaganya. Toko buku itu membuat saya merasa senang dan nyaman, dan tentunya, merasa keren.

Keren. Keponakan saya yang masih berumur 8 tahun, mungkin mengucapkan kata-kata itu minimal 10 kali seharinya (dia membahasakannya: cooool). Ke mana pun ia pergi, penting baginya untuk selalu tetap bergaya keren. Berpiyama di rumah, berseragam ke sekolah, bercelana pendek ke kebun binatang. Tetap keren. Untungnya, baru-baru ini ia mendapat hadiah (dari Sinterklas) sebuah jam Casio G-Shock hitam. Aksesoris ini membantunya merasa lebih keren. Dan jangan sekali-sekali memanggil dia ‘lucu’, ‘cos cute ain’t cool, man! Selain berkah G-Shock, keponakan saya ini juga menemukan panutan keren barunya, yaitu Huang Tae Kyung di serial Korea berjudul You’re Beautiful. Huang Tae Kyung, setelah akhirnya saya temukan fotonya di internet, benar-benar seperti perempuan. Rambutnya asimetris dan salon banget untuk sebuah potongan rambut pendek laki-laki, dan kaosnya terlalu ketat untuk sebuah baju. Dan satu lagi, sepatunya terlalu lancip untuk nyaman dipakai. Tapi itulah keren buat keponakan saya.

Jelas definisi keren bagi saya dan ponakan saya beda sekali. Keren dia ‘sissy‘ bagi saya, dan keren saya ‘filthy‘ bagi dia. Filthy alias kotor alias buduk, persis seperti pertama kali saya mengunjungi daerah Wicker Park 11 tahun lalu. Dan apa yang terjadi pada Wicker Park saat ini adalah sissy bagi saya, tapi mungkin keren bagi keponakan saya (area tersebut pada tahun 2004 menginspirasi sebuah film remake berjudul “Wicker Park” dan absurdnya, semua syuting dilakukan di Montreal, Kanada!). Sejak itu, tempat-tempat nongkrong murahan kini sudah berganti jadi club-club, kedai-kedai makanan milik keluarga berganti bos yang mampu menggaji 20 karyawan setiap bulannya.

Cerita tentang fase bagaimana yang kotor berubah jadi garang lalu hip dan keren lalu mahal dan akhirnya eksklusif mungkin sudah sering kita dengar. Tapi sejauh apa kita (gabungan para pendobrak maupun gabungan orang-orang kolot) sadar bahwa gap di antara kita adalah penyebab utama destruksi ekonomi (juga geografi?) yang kesemuanya didasari image si Keren? Read the rest of this entry »


Pohon Keluarga menurut Christopher dan Diandra

Posted: January 20th, 2010 | Filed under: Snapshot | 1 Comment »

Rani

Read the rest of this entry »


Sinema adalah Perubahan!

Posted: November 24th, 2009 | Filed under: About Cinema, Words | No Comments »

Tenang, tenang. Ini bukan tulisan propaganda, dan saya bukan aktivis LSM. Saya hanya ingin menuliskan fakta-fakta hitam di atas putih (bahasa filmnya: BW/Color di atas layar 16:9) tentang sinema.

Sudah menjadi hakikatnya, bahwa:
x Sinema adalah perubahan, karena ia adalah gambar yang berganti 24 kali setiap detiknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita menyusupi ruang-ruang tiga dimensional. Dari pagar rumah hingga ruang keluarga, dari tanah Sumatera hingga langit negeri Belanda.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mendekatkan kita pada realita, walau kadang menjauhkan. Yang benar mungkin salah, dan keduanya adalah relatif.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengubah masa lalu jadi kini atau nanti. Menggulung flashback ribuan tahun dalam malam yang sama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia menciutkan hari jadi menit, menerbangkan puluhan tahun dalam 2×60. Dan ingat slow motion? 5 detik pun terasa terlalu lama.
x Sinema adalah perubahan, karena ia membawa kita mengitari sudut kamar, mendongak mencari suara burung di atas pohon, atau menatap kosong kesepian.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mengubah gelap jadi terang, warna jadi abu, yang ragu semakin percaya, juga semua sebaliknya.
x Sinema adalah perubahan, karena ia berubah bentuk setiap saat. Detak jam bisa berarti jantung yang berdegup. Muka manusia jadi kedok serigala.
x Sinema adalah perubahan, karena ia mampu mengusir rasa sedih dan sombong. Kita berempati, berdecak kagum, marah: mencoba mengerti mereka yang bukan kita.
Dan terutama,
x Sinema adalah perubahan, karena ia senantiasa mendambakan perubahan: Sebuah dunia yang menjadi lebih baik.


Roti Persahabatan Amish

Posted: November 6th, 2009 | Filed under: Articles, Words | 1 Comment »

Setiap hari memang ada saja kejadian-kejadian spesial menimpa saya. Malang atau beruntung tergantung bagaimana saya memandangnya. Jadi gak jauh-jauh harus dapat undian mobil Jaguar, setiap hari saya merasa menjadi the chosen one. Misalnya, terpilih bangun jam 8 pagi dan minum kopi yang terlalu manis (ini sangat menyebalkan karena tidak bisa di-undo). Atau pagi-pagi bangun dan mendapati koneksi internet di rumah tiba-tiba jadi 512 kbps.

Tapi hari ini, keterpilihan saya sedikit lebih membanggakan dan harum. Baru saja tadi, saya dipercayakan oleh kakak saya dua buah ragi anakan yang konon sudah beredar sejak ratusan tahun lalu dari sebuah grup cult “Roti Persahabatan Amish”. Jadi ceritanya, sejak kira-kira abad 18, imigran Amish di AS terkenal dalam membuat starter ragi sebagai bahan roti-roti dan biskuit favorit keluarga. Dan mungkin karena jumlah penduduknya yang sedikit, pengembangbiakan ragi ini menjadi salah satu cara melekatkan rasa persaudaraan. Atau mungkin juga, ketika pengembangbiakan penduduk minoritas ini terasa memakan waktu terlalu lama, beralihlah mereka ke pengembangbiakan ragi yang hanya sepuluh hari.

Yang pasti, karena cycle beranak-nya ragi ini baru terjadi setelah disimpan 10 hari, dan sekali beranak hanya bisa menghasilkan tiga anak, maka siapa pun yang mendapatkan ragi ini, bisa dibilang cukup spesial!

Setelah kakak saya mendapatkan ragi Amish dari seorang teman keluarga, ia memeliharanya selama 10 hari, di mana di hari kesepuluh, ia membagi rata ragi tersebut menjadi empat: 1 ia simpan (untuk kemudian di-anak-an kembali), 2 diberikan kepada saya (salah satunya akan saya berikan kepada teman saya si kutu dapur Pila), dan 1 ia buat menjadi dua loyang kue (malam ini ia membuat kue cinnamon yang kontan bikin seisi keluarga ketagihan).

Dalam 10 hari ini saya (dan Pila) bertugas memelihara ragi-ragi kami, sehingga di hari kesepuluh nanti, kami akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh kakak saya hari ini. Di hari kesepuluh nanti, berarti akan ada empat loyang kue beraroma haruuuum dan lezat menggoyang lidah Bandung.

Kalau saja seseorang tidak membagikan anakan raginya setelah hari kesepuluh, setelah beberapa minggu maka kebayang akan begitu banyak ragi di dapurnya. Ia bisa jadi orang pelit, atau seseorang yang tidak punya banyak teman (atau punya banyak teman tapi tidak demen masak).

Jadi siapa pun yang mau meng-anak-an ragi ini, silakan hubungi saya untuk menjadi ‘mereka yang terpilih’. Tujuan pembiakan ragi ini bukan agar kita punya kedekatan dengan orang-orang Amish (walau bisa saja sih), tapi lebih ke bagaimana kita bisa berbagi sesuatu yang menyenangkan dan mengenyangkan dengan orang lain. Atau sesimpel melatih diri menjaga sesuatu berkembang biak. Read the rest of this entry »


Things I Learned After It Was Too Late, says Charles M. Schulz.

Posted: October 1st, 2009 | Filed under: Words | 2 Comments »


Room XX : Miquel Barcelo

Posted: August 21st, 2009 | Filed under: About Art/Design | No Comments »

Dua tahun lalu, ketika Miquel Barcelo pertama kali diminta membuat karya seni di Balai Kemanusiaan dan Peradaban PBB, ia mungkin berteriak dalam hati, “Yayy, I could finally beat that Michelangelo sonuvabitch”. Atau mungkin, “Damn, another commissioned crap!”. Tapi yang pasti, di tengah 25 bulan proses pembuatan karya berupa ‘patung stalaktit’ di langit-langit ruangan seluas 929 meter persegi ini, Barcelo disadarkan kembali bahwa seni tidak (bisa) sekadar punya fungsi. Ia selalu berhubungan dengan moral. Hanya saja, moral macam apa.

Sang artis mengakui bahwa karyanya ini terinspirasi oleh fresco Sistine Chapel milik Michelangelo. Bedanya, dengan bujet sebesar 285 miliar rupiah (20 juta euro), ia langsung menerima tawaran PBB. Sedangkan Michelangelo konon sempat menolak tawaran Paus Julius ketika diminta menggambarkankan 12 figur di langit-langit Sistine Chapel. Michelangelo menggunakan alasan klasik seniman: ‘kurang menantang’. Mungkin karena dirasa kurang menentang, alasannya berujung pada dalih ‘gua kan pematung, bukan pelukis’. Paus pun akhirnya pasrah menyerahkan keputusan pada seniman rewelnya. Di ujung cerita, dengan kebebasan tak berbatas yang ia dapat, Michelangelo menyelesaikan proyek fresco tersebut dalam waktu 4 tahun dengan melukis lebih dari 300 figur. Read the rest of this entry »


John Cage buat Adzan.

Posted: August 16th, 2009 | Filed under: Words | No Comments »

Adzan, seorang pria yang tidak terlalu saya kenal namun keramahan wajahnya selalu mengundang untuk disapa, meninggal kemarin siang. Terakhir bertemu saya, tanggal 2 Agustus di Rumah Buku, ia bertanya, “Mbak, punya CD-nya John Cage?”. Saya yang tidak terlalu hafal database sendiri mencari-cari dan baru sadar bahwa saya tidak pernah mengoleksi CD John Cage. Saya bilang sama Adzan, “Mau lagu yang mana Jan? Ntar saya cariin ya”. “Yang mana aja,” katanya.

Adzan meninggal setelah pulang mengabdikan dirinya berteater. Saya sebenarnya tidak suka kata mengabdi. Karena demi siapa-lah kita mengabdi. Tapi orang-orang semacam Adzan, adalah orang-orang yang terlalu mulia bahkan untuk memikirkan arti sepenggal kata. Ia tidak banyak menimbang yang baik dan buruk, hanya melakukan apa yang bisa diperbuatnya sebaik mungkin. Maka ketika Joedith bercerita bahwa Adzan jago main gitar, dan pingin bermain musik di Rumah Buku, saya langsung mengiyakan. Tidak banyak pertimbangan, saya tahu dia keren. Karena mukanya begitu teduh, tanpa banyak tanya.

Met jalan, Jan! Ini lagu buat kamu. Experiences No. 1


Kura-kura, labi-labi, bulus, atau penyu? A turtle, a terrapin, a tortoise?

Posted: July 31st, 2009 | Filed under: Articles, Words | 2 Comments »

Baru akhir-akhir ini akhirnya saya mengerti, dan lumayan bisa (lah) membedakan kura-kura dengan labi-labi, bulus, atau penyu. Yang pasti, sekarang saya sudah tahu bahwa Ninja Turtles itu yang disebut kura-kura darat sejati, alias bahasa Yurep/Ostrali-nya: Tortoise, dan bahasa Amriknya: Turtle.

Dalam bahasa Indonesia, ada tiga jenis kelompok hewan yang termasuk dalam bangsa Testudine, yaitu Penyu (bahasa Inggris: sea turtles), Labi-labi (freshwater turtles –Bulus termasuk jenis labi-labi), dan Kura-kura (tortoises). Cara yang paling jelas untuk membedakan ketiganya adalah: kura-kura: bercangkang keras dan biasa hidup di darat (atau di darat dan air tawar), labi-labi: bercangkang lunak dan biasa hidup di air tawar. Sedangkan penyu hidup sepenuhnya di air laut.  Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

Perkenalan saya dengan penyu, kalau dipikir-pikir, memang agak hardcore. Dulu, ketika kecil saya sering diajak orang tua saya makan penyu (dalam masakan Cina disebut Pi Oh alias sop bulus). Karena masih kecil, dan lidah masih belum nyambung ke rasa dan nalar, penyu jadi salah satu menu makanan yang selalu saya tunggu-tunggu. Sampe suatu hari, restoran penjual Pi Oh itu tutup, karena yang punya kena stroke. Ada hikmah juga di balik kemalangan tersebut. Read the rest of this entry »


Seni dan Dialog

Posted: July 26th, 2009 | Filed under: About Art/Design, About Cinema, Articles | No Comments »

Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.

Dalam keingintahuannya, sang anak telah berdialog dengan dunianya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri akan hal-hal yang menarik perhatiannya namun tak dimengertinya, kemudian setelah mampu melafalkan kata-kata, ia mulai melanjutkan dialog tersebut dalam tingkatan yang lebih tinggi pada individu dan lingkungannya.

Hal yang sama pun terjadi pada manusia dewasa. Karena akal dan budinya seseorang (dalam keadaan normal) secara instingtif berpikir tentang keberadaannya. Walaupun jarang diucapkan dalam perbincangan sehari-hari, namun manusia sebenarnya tak pernah berhenti bertanya akan ‘siapa aku, ‘kenapa harus begini’, ‘kapan aku bisa seperti dia’, dan segala macam pertanyaan yang berkaitan dengan eksistensi dirinya. Walaupun dialog tersebut lebih bersifat imajinatif (tak terucapkan), namun perbincangan tersebut merupakan pengejewantahan paling dasar perbincangannya dengan sesama dan lingkungan sekitarnya.

Dialog seringkali diinterpretasikan sebagai perbincangan dua arah antara dua pihak. Manusia melupakan, bahwa ketika ia berdialog dengan lawan bicaranya, ia juga berbicara pada dirinya sendiri. Manusia selalu memulainya dengan perbincangan internal (perbincangan dengan alam dan dirinya sendiri), namun apa yang ia renungkan tak mungkin berakhir dalam pikiran saja, namun secara nyata menghasilkan buah (pikiran / renungan) yang dapat berupa wujud gerakan / gestur alamiah tubuh (luapan amarah, tawa, tangisan), juga wujud pemikiran yang tertuang dalam bentuk teraba (perbincangan, karya seni, tulisan). Read the rest of this entry »


Setiap hari, sekarang,

Posted: April 6th, 2009 | Filed under: Words | No Comments »

Read the rest of this entry »


And the award goes to.. Jayusman Yunus.

Posted: February 27th, 2009 | Filed under: Words | No Comments »

Jayus. Pria ini layak dianugerahi penghargaan: “pria tergaul”. Kata lain yang juga tidak kalah gaul adalah ‘Secara’. Tapi sayang, secara ‘Secara’ bukan nama orang, jadi belum bisa dianugerahi benda mati atau akreditasi formal.

Jayus loe. Jayus deh kamu. Jayus banget ih. Mulai dari anak sepupu saya yang berumur 13 tahun, teman-teman sebaya yang mencoba terus gaul, sampai bapak-ibunya anak sepupu saya yang hampir kepala empat, semuanya gemar sekali memakai kata ini. Saya lupa siapa yang cerita, tapi kabar burungnya, Jayus ini (dulu) adalah anak SMA Pangudi Luhur yang garingnya minta ampun, sampai-sampai semua orang yang mencoba melucu (namun tidak lucu) dikatai ‘jayus’.

Karena akhir-akhir ini saya sedang tenggelam dalam kata-kata (mulai dari bertanding Word Challenge, mencari jejak bentuk aksara jaman Hayam Wuruk, hingga menerjemahkan bahasa Jawa Timur-an ke bahasa Inggris), tak sengaja saya menemukan penjelasan tentang Jayus si juara dunia gaul ini dalam buku Indonesian Idioms and Expressions karangan Christopher Torchia.

Jayus
Unfunny.

People say this derisively when someone tells a bad joke. It refers to Jayusman Yunus, a member of a dance troupe established in 1977 by Guruh Sukarnoputra, the youngest son of Indonesia’s first president, Sukarno. The group was called SM, of Swara Mahardika, which means Voice of Freedom in Sanskrit. It was a hit, and many young members of SM enjoyed successful careers in show business long afterward.

Jayusman Yunus danced and became an accomplished photographer. But he told lousy jokes, showed up late for appointments, and broke promises. He agreed to develop a photograph for a friend at cost of 100 rupiah, only to raise the price after the deal was done. After a while, dancers who showed up late at SM rehearsals were greeted with catcalls of Jayus lu. [..]

Apakah cerita asal usul ‘jayus’ ini benar 100%, saya tidak tahu. Kalau benar, tebakan saya Mas Jayus alumni SM ini pasti Mas Jayus yang lulusan SMA Pangudi Luhur. Saya cuma berharap suatu hari Anda menemukan tulisan ini dan mengontak saya segera. Piala segera dibuat, jika sang pemenang telah berhasil ditemukan!